
Aku cukup tekejut saat aku mendengar dia memanggil namaku. Meski sudah lama tidak bertemu dan berkomunikasi, aku selalu ingat dimana masa-masa sulitku dia selalu ada untuku. Mungkin bagi orang lain yang melihat sikap dia dulu terhadapku adalah sikap yang sewajarnya terhadap teman. Tapi aku sangat bersyukur bisa mengenal dia, lelaki itu adalah Die.
Die sosok lelaki yang membuat aku cukup nyaman pada saat masa SMA ku, aku merasa dia menghargai semua kelebihan dan kekurangan yang aku punya. Apalahgi aku hanya sebatas murid pindahan pada saat itu, yang tidak pernah terpikirkan olehku adalah bisa mendapatkan teman lelaki yang akan aku percayai.
Perubahan sikap seseorang yang dulunya pernah dekat dalam hidup kita pasti akan terjadi. Tapi aku tidak pernah lupa bagaimana Die yang dulunya. Mungkin saat pertemuanku hari itu, dia bukan Die yang dulu aku kenal lagi, tapi aku yakin dia tidak mungkin melupakan persahabatan kita yang dulunya cukup dekat menurutku, walaupun mungkin tidak menurut dia.
Entah apa yang aku rasakan saat itu, aku tidak tahu. Aku ingin dia kembali kedalam hidupku, tapi aku tidak tahu harus bagaimana untuk mengatakannya. Karena selama aku menjadi anak kuliahan, aku belum bisa menemukan sosok teman yang bisa aku berikan kepercayaan. Aku tahu, tidak mudah untuk kembali dimana sikap seseorang yang dulu pernah dekat denganku akan menerima aku begitu saja sebagai teman dekatnya lagi.
Di dunia ini, mungkin bukan hanya aku seorang yang pernah memiliki kisah dan kenangan pernah di lalui bersama seseorang sahabat yang tidak tahu apakah kedekatan kita itu benar-benar hanya sebatas sahabat atau sebatas di luar arti persahabatan.
Lambat laun ku sadari, bahwa aku benar-benar merindukan sosok Die yang dulunya selalu ada untuku sebagai sahabat. Aku sendiri tidak yakin, apakah perasaanku saat itu padanya hanya sebatas sahabat. Karena aku berpikir saat itu persahabatan hanya sebuah kata, tidak kurang tidak lebih. Akan tetapi, semenjak aku tidak pernah bertemu dan komunkasi denganya lagi, aku sadar akan satu hal, bahwa dalam hubungan persahabatan yang terpenting adalah maknanya.
Rindu akan sosok dia yang dulu yang selalu ada untuku, dulunya saat aku pindah sekolah, diantara kita berdua hanya sosok dua orang asing, lalu kita menjadi teman. Tidak pernah terpikirkan olehku, bahwa semenjak kita menginjak kaki di kota, kita berdua seperti dua orang asing lagi.
Saat dia memanggil namaku, aku binggung dengan apa yang aku rasakan. Sehingga aku hanya menjawab iya padanya saat itu.
"Kamu apa kabar?' (tanya Die).
"Alhamdulillah baik, Die sendiri apa kabar?"
"Alhamdulillah baik juga. Bagaimana kuliahnya?"
"Berjalan lancar. Die sendiri kuliah dimana?"
"Aku akan mendaftar kuliah tahun depan."
Akupun terdiam saat dia menjawabku. Aku berpikir aku sudah salah mengajukan pertanyaan seperti itu. Aku lupa bahwa saat aku menerima pengumuman kelulusan untuk tes masuk kuliah, aku sempat mendengar bahwa dia akan istirahat satu tahun dan akan melanjutkan kuliahnya tahun berikutnya. Aku kira kabar itu hanya gosip sesaat, ternyata apa yang aku dengar dulunya merupakan kebenarannya. Aku benar-benar merasa bodoh, kenapa aku harus mengajukan pertanyaan seperti itu. Aku berpikir telah mebuat Die saat itu tersinggung, aku tidak tahu harus berkata apalagi. Lebih bodohnya lagi, saat itu aku hanya menjawabnya dengan mengganggukan kepalaku.
Tidak lama kemudian Die mulai beranjak dari tempat duduknya bersama kedua temannya. Aku tidak bisa berpikir kata-kata apa yang cocok untuk aku katakan kepadanya.
__ADS_1
"Clara, aku pergi dulu ya, bye."'
"iyaaaa, hati-hati di jalan."
hanya itu kata-kata terakhir yang bisa aku ucapkan hari itu. Aku merasa bodoh, krn biasanya aku orang yg banyak bicara kepada orang yang aku kenal. Tak ada yang patut aku sesali, semuanya sudah terjadi. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Aku berjanji, jika aku bertemu denganya lagi, aku ingin berbicara banyak hal kepadanya. Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti hari itu.
Tiga hari lagi Rafa ulang tahun, sehingga membuat Aci kebinggungan untuk hadiah yang akan dia berikan.
Esok harinya, tepat dikampus Aci meminta aku untuk menemaninya mencarikan hadiah untuk di belikan untuk Rafa.
"Ok, jam berapa kamu ingin mencari hadiah untuk Rafa?"
"Kurang lebih jam 08:00 malam deh, nanti aku jemput kamu."
"Ok, aku tunggu jemputannya nanti malam."
Tepat pukul 07:45 Aci sudah tiba di kosku. aku tidak lupa memberitahukan ke pada kaka sepupuku,
"Kamu akan pulang jam berapa?"
"Clara malam ini nginap di kosan ku saja, bagaimana?" (sahut Aci).
"Ya sudah kalau begitu, aku akan menginap di kos kamu malam ini."
"Ya sudah kalau kamu akan nginap di kos teman kamu, hati-hati di jalan, jaga diri bai-baik!"
"Iya kak."
Aku dan Aci langsung menuju mall. Sesampai di mall, Aci sedikit kebinggungan akan melangkah kearah mana untuk mencari hadiah. Akhirnya satu persatupun kita memasuki tokoh yang ada di dalam mall tersebut, pada akhirnya Aci memilih untuk membelikan sepatu untuk diberikan untuk Rafa.
__ADS_1
Saat pulang, tidak lupa aku dan Aci mampir di tempat makan. Saat itu kita berdua benar-benar tidak menyadari bahwa jam sudah menunjukan pukul 09:55, itu artinya kosnya Aci akan segera tutup. kita berduapun langsung secepat mungkin menghabiskan makan malam saat itu.
Sesampai di kosnya Aci, ternyata gerbang kosnya sudah di gembok. Aku dan Acipun tidak bisa masuk. Akhirnya aku mengajak Aci ke tempatku. Sesampai dikos, pintu kosku tertutup dan kamar juga terlihat gelap. Aku mencoba mengetuk pintu kamar, tidak terdengar sahutan dari kakak sepupuku sama sekali. Akupun mencoba mencari kunci kamarku tempat biasa kakak sepupuku meninggalkannya. Ketika aku mengangkat pot bunga yang ada di depan kamarku, aku tidak menemukan kunci kosku. Akupun mencoba menghubungi kakak sepupuku, ternyata ponselnya tidak aktif, tidak lupa aku mencoba mengirimkan SMS kepada kakak sepupuku, aku berharap dia membaca SMS ku saat ponselnya di aktifkan.
Akupun mencoba mengajak Aci ke mini market cukup dekat dengan kosku dan buka 24 jam. Tidak lupa kita membeli cemilan sambil menunggu kaar dari kaka sepupuku. Kita berdua saat itu sangat binggu kemana lagi akan mencari tumpangan tempat tidur malam itu. Di kosan Rafapun tidak mungkin, karena di tempatnya di perbolehkan tinggal hanya laki-laki.Sedangkan teman yang lain, mereka saja menumpang di rumah keluarganya, jadi tidak mungkin kita akan menginap di tempat mereka.
Tidak lama kemudian, kakak sepupuku menghubungiku.
"Hallo kak, kakak dimana?"
"Kakak di tempat teman.Kenapa?"
"Kakak pulang jam berapa?"
'Kemungkinan kakak pulang besok siang, karena kakak ada di rumah teman."
"Rumah teman kakak dimana?
"Di LT"
"Ya sudah kalau begitu, berarti aku besok siang abru pulang ke ke kos. kan kunci kakak yang bawa."
"Iya."
Saat aku mengetahui kakak sepupuku ada di LT, aku mengurungkan niat untuk mengambil kunci kosku. Karena tidak mungkin aku bisa kesana malam itu, jaraknya sangat jauh dari temapatku, bisa saja memakan waktu 2 jam lebih dalam perjalanan. Apalagi malam itu jam sudah menunjukan pukul 10:45 malam.
"Maaf ya Clara, ini salah aku. Coba saja tadi aku nggak terlalu lama mencari hadiah untuk Rafa dan tidak mengajak kamu menginap malam ini di kosku, mungkin malam ini kita tidak akan diam di luar ini."
"Ini bukan salah kamu kok, lagian juga ini salah aku sih, yang tadinya minta makan di tempat, padahal kamu sendiri sudah bilang kita bungkus saja."
__ADS_1
Entahlah, mungkin malam itu malam yang apes untuk aku dan Aci. Untung saja minimarket itu buka 24 jam, jadi aku dan Aci bisa diam di situ setidaknya sampai besok pagi.