
Kejadian yang tak pernah di terduga olehku, aku mendapatkan perlakuan yang kurang meneyenangkan saat tiba di kampus. Ketikat aku dan Gunawan dalam perjalanan menuju kelas, langkahku tiba-tiba terhentikan oleh seseorang, entah dia ingin mencari masalah atau hanya ingin cari muka terhadapku, dia tidak lain adalah Cristan. Cristan yang awalnya bangga dengan keberaniannya yang mencoba menghalangi jalanku, seketika dia berubah menajdi kesal, karena saat itu aku tidak memperdulikannya dan terus berjalan.
"Tidak heran sih, jika seseorang junior yang berasal dari kampung berprilaku tidak sopan kepada seniornya, padahal orang itu tahu bahwa seniornya mencoba ingin berbicara padanya." (Sahut Cristan).
Mencoba untuk tidak terptopokasi dengan sahutan Cristan, aku mencoba tetap terus melangkah dan berpura-pura tidak mendengarkannya. Cristan semakin menjadi-jadi, dia semakin meninggikan nada berbicaranya. Tidak hanya itu, Cristan juga memperjelaskan bahwa kata-kata yang dia keluarkan itu di tunjukan kepada ku. Tanpa beban sama sekali, terdengar sangat jelas sekali Cristan meneybut namaku.
Aku yang awalnya tidak terpropokasi dengan perkataan awalnya, membuat aku berubah dalam hitungan detik. Tidak hanya diriku yang terkejut dengan keberanian Cristan menjebut namaku, karena saat itu bukan hanya aku yang mendengar perkataanya, melainkan orang yang berada diskitarku. Seketika langkahku terhenti, dan aku berbalik arah melangkah ke arah Cristan dengan cukup percaya diri tanpak takut maupun ragu sedikitpun.
"Junior yang berasal dari kampung, yang tidak punya sopan satun, yang kakak maksud itu aku?"
"Menurut kamu?"
Aku melangkahkan kakiku untuk lebih dekat lagi untuk memberanikan diri mencoba berdiri tepat di sebelahnya dan aku mencoba mengeluarkan perkataan dengan cara membisikannya.
__ADS_1
"Kalau kakak mau cari perahtian dariku, alangkah lebih baiknya, perkataan yang akan di keluarkan untukku, tolong di pikirkan terlebih dahulu. aku takut saja kakak menyesal di kemudian hari. Aku akui diriku memang berasal dari kampung, Tapi hati-hati, aku takutnya yang ada kakak berakhir menyukai aku, kan kasihan di kakaknya."
Seketika Cristan terdiam atas keberanian yang aku lakukan. Bagaimana tidak, aku sangat menyadari, bahwa jarak bibirku dengan telingga Cristan telihat cukup dekat.
Saat aku membalikan arah tubuhku, aku melihat Ray tiba-tiba berdiri tepat di belakangku.
"Clara, kamu ngapain?" ( Tanya Ray).
Tanpak menjawab pertanyaan Ray, aku hanya melihat kearah Cristan dan tersenyum licik kepadanya. Lalau aku langsung meninggalkan tempat itu. Senyum yang aku lemparkan, bukan akhir dari segala permasalahan antar diriku dan Cristan. Melainkan, itu awal pertarungan aku dengan Cristan.
Aku tidak akan membiarkan mereka sebegai seniorku dengan mudahnya menyelsaikan pemainan ini. Yang aku inginkan agar mereka tahu, bahwa permainan yang mereka ambil adalah mainan yang salah dan tidak akan pantas untuk mereka memenangkannya, apalagi untuk memilikinya.
"Kamu baik-baik sajakan?" (tanya Gunawan).
__ADS_1
"Ummmmm, aku baik-baik saja kok."
Banyak mahasiswa yang lalu-lalang saat itu, saat ku langkahkan kakiku masuk kelas, aku merasa sebagian dari teman kelasku sedang memperhatikaku. aku tidak perduli.
Alif, Aci, Rika, Rafa dan Tito yang mendengar bahwa aku dan Cristan baru saja ada pertengkaran kecil, membuat mereka berlima langsung menghampiriku tepat duduk di sebelah dan di depanku. Aku tidak ingin menggungkitnya, karena aku tidak ingin terjadi keributan di kelas semakin menjadi-jadi untuk gosip yang akan di buat oleh teman kelas lainnya.
Memang sulit untuk menghadapi masalah, apalgi masalah yang kita hadapi itu dengan seseorang yang hampir setiap hari bertemu. Untungnya aku tidak menganggap masalah yang aku hadapi dengan para seniorku itu sebagai beban atau masalah besar, melainkan aku menganggapnya hanya sebuah permainan yang mungkin akan lama untuk bisa di selsakani. Aku juga mengangap itu ujian untuk aku menjadi pribadi menjadi lebih dewasa. Berusaha tidak merisaukan sesuatu yang tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku di hari- hari berikutnya, tidak membuatku lemah, melainkan memberikan dorongan pada diriku sendiri untuk menjadi lebih kuat.
Aku tidak ingin kelemahanku, di pergunakan oleh orang lain, terutama orang yang mencoba mendekatiku. Kisah cintaku yang dulunya kelammembuat aku sedikit troma, sehingga membuat aku sangat berhati-hati. Yang dulunya aku tidak terlalu posesif, aku mulai mengubah diriku menjadi pribadi yang sangat posesif.
Satu bulan telah aku lewati, tidak pernah terpikirkan olehku bahwa perselisihan antara aku dan Cristan itu tetap terus berlanjut. Namun hubunganku dengan Ray semakin merenggang semenjak terungkapnya masalah kejadian terahuan itu. Aku tidak terlalu merespon panggilan atapun SMS dari Ray seperti dulu lag. Walaupun begitu, sikap Ray terhadapku, aku tidak merasakan dia berubah. Dia terus berusaha mendekatiku, Kadang aku merasa diriku tampak masih labil, sehinga sesekali aku kadang merespon saat Ray mencoba menghubungiku.
Kesepian, itulah yang kadang aku rasakan. Walaupun aku mempunyai teman, tapi aku memilih untuk tidak terlalu terbuka. Karena tidak hanya tentang permasalahan cinta yang cukup rumit yang pernah aku alami, melainkan aku juga pernah ada perselisihan dengan sahabt-sahabtku di masa aku masih kelas 3 SMP.
__ADS_1
Kenangan di masa kelas 3 SMP tidak mudah aku lewati, karena empat bulan terakhir aku berselisi paham dengan ke empat sahabatku. Sampai akhir aku terima kelulusanpun tetap tidak bersama sahabat-sahabatku. Selama empat bulan itu, aku tidak pernah saling tegur sapa ataupun sejum satu sama lain ketika berpapasan, apalagi untuk berbicara itu tidak mungkin.