My Love Story With 5 Men

My Love Story With 5 Men
Mengusikku


__ADS_3

Satu bulan mungkin bukan waktu yang lama. Akan tetapi satu bulan membuat seseorang sangat dengan percaya dirinya untuk menyatakan cinta terhadapku. Semuanya di luar dugaanku, aku merasa tidak percaya sedikitpun. Karena selama satu bulan ini, aku hanya mengangap lelaki itu sebagai temanku. Aku tidak tahu harus bersikap seperti bagaimana terhadapnya, aku benar-benar binggung. Aku bukannya binggung dengan jawaban yang akan aku berikan, melainkan aku binggung bagaimana memulai pembicaraanku untuk mengatak atau menolak cintanya. Aku tidak pernah berpikir bahwa Alif menyukaiku, karena selama ini, diantara, Tito, Gunawan, Alif da Rafa, Gunawanlah yang paling dekat denganku. Kadang perhatian yang Alif berikan, aku hanya menggapnya hal biasa, yaitu perhtian seseorang terhadap temannya. Ketika Alif mengatakan cinta, itu bukan yang aku inginkan, pengakuan tersebut membuat aku ingin meminta pendapat kepada orang lain. Tapi aku tidak mungkin menceritakan kepada Aci, Rika, Gunawan, Tito maupun Rafa. Bagaimanapun mereka semua juga cukup dengan Alif. Aku hanya tidak ingin, jika aku aku menceritkan kepada salah satu diantara mereka, malah yang ada membuat Alif malu. Aku hanya takut, mereka akan mengoda Alif. Karena itu pasti akan membuat kita malu, apalagi jika harus menolak cintanya.


Akhirnya aku memilih untuk memberikan Alif jawaban dengan cara membalas SMS yang dia kirimkan, AKu menolak Alif dengan cara yang cukup baik. Dan aku juga saat itu mengatakan kepadanya bahwa aku akan melupakan apa yang terjadi hari itu, dan aku menganggap itu tidak pernah terjadi.


 Aku tahu, mungkin balasan SMS yang aku berikan akan membuat Alif kecewa. Tapi aku sudah berusaha untuk meberikan jawaban yang cukup baik kepadanya, agar hubungan pertemananku dengan Alif tidak sia-sia selama menjalin hubungan pertemana satu bulan lamanya. Dan aku juga tidak ingin terjadi kecanggunggan satu sama lain.


Ke esokan harinya aku berangkat kuliah, hari itu aku diantar oleh kakak sepupuku. Tepat di tengah jalan, aku merasa sesuatu ada yang aneh. Aku merasa, goyangan dibelakang sangat terasa sekali, aku mencoba menghentikan kakak sepupuku. Sial, itu mungkin kata yang tepat. Yang benar saja, terjadi sesuatu pada ban belakang kendaraan kakak sepupuku,Terlihat sangat jelas, paku tertancap begitu tepat pada sasaran ban belaknagnya, untungnya sekitar itu ada bengkel. Aku dan kakak sepupuku langsung mendorong kendraan itu sampai bengkel.


Lima belas menit lagi waktu aku masuk kuliah, karena jarak bengkel dengan kampusku tidak terlalu cukup jauh. aku berusaha untuk mencari ojek di sekitar itu. Tapi aku tidak menemukan ojek satupun. aku berpikir, kenapa tidak aku berjalan kaki saja.


"Clara, ketemu ojeknya?"


"Aku tidak melihat ojek satupun di sekitar sini kak. sepertinya, aku jalan kaki saja deh."


"Kamu nggak apa-apa jalan kaki.?


"Nggak apa-apa kok kak, lagian juga kampus saya dekat dari sini."


"Atau kamu telpon taxi saja!!!"


Tiba-tiba terdengar sahutan yang memanggil namaku saat itu

__ADS_1


"Clara...."


Saat aku menoleh, ternyata itu Alif. Aku mencoba bersikap santai,


"Haaayyy, Alliif"


"Kamu ngapain disini, kamu nggak kuliah?"


"Dia siapa Clara?" (Sahut kakak sepupuku).


"Ooo,,, dia Alif, teman kelas saya kakak."


"Dan kenalin dia kakak sepupuku."


"Boleh donk kakak."


"Tidak merepotkan kan?"


"Ya nggak donk kak, lagian Clarakn teman kelas saya."


Tidak ada pilihan lain, aku langsung duduk tepat dibelakang Alif. Bersikap seperti biasanya, itu mungkin akan membuat aku dan Alif sedikit terasa canggung. Aku berusaha untuk mengajak dia berbicara dan aku tidak mengungkit masalah apa yang telah terjadi malam itu. Walaupun aku sangat menyadari, bahwa Alif sendiri terlihat sedikit canggung saat memulai pembicaraa denganku. Bagaimanapun, penolak terjadi belum ada 24 jam lamanya, jadi tidak heran atas kecanggungan yang terjadi antara aku dan dia.

__ADS_1


Tidak mudah menjadi teman, karena teman bisa menjadi sahabat dan bisa juga menjadi seorang kekasih.


Semenjak aku menolak Alif, aku tidak tahu bagaimana tentang perasaan dia sampai detik itu juga. Tapi aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Aku yakin, jika Alif menganggap aku sebagai teman dengan hati yang tulus, maka dia pasti akan mengerti atas penolakan yang aku berikan.


Tidaklah mudah bagiku saat itu langsung bersiap normal seperti biasanya kepada Alif, aku tidak ingin terlihat buruk dimatanya Alif, bagaimanapun dia adalah temanku. Itu sebabnya aku sangat berusaha untuk bersikap santai, agar Alif juga tidak merasa malu terhadapku.


Sesampai di kampus, dari parkiran aku berjalan bersamaan dengan Alif menuju kelas. Aku dan Alif mulai berbiacara seperti biasanya.


Kejadian yang tidak aku inginkan  terulang lagi, tepat saat aku melangkahkan kakiku menuju kelas, tiba-tiba aku melihat Ray, Cristan dan kedua teman lainnya.


"Kasihan ya, terutama teman laki-lakinya sudah seperti tukang ojek ganti-gantian ngatar jemput cewek yang hanya berasal dari kampung. nggak sayang tuuuu sama motornya, hahahahahahhahaha." (sahut Cristan).


Walaupun Cristan tidak menyebut nama, tapi saat itu aku merasa sindirin itu di tujunkan kepadaku. Bertindak untuk membalas perkataannya, aku tidak melakukannya. Satu perkataan keluar dari mulutku saja tidak keluar sama sekali, akan tetapi aku hanya menatap ke arah Cristan dengan tatapan yang cukup tajam.


Ray mencoba menghentikan  Alif untuk membuat sindirikan terhadapku, itu sebabnya Cristan langsung terdiam.


Penampilannya intelek, tapi mulutnya tidak ada bedanya seperti sampa, itu kata yang tepat untuk mengambarkan Cristan. Sebenarnya aku cukup merasa kasihan kepada Cristan, dia menganggu orang yang salah.


Dulu mungkin aku orang yang selalu mengalah dan mencoba untuk melakukan yang terbaik untuk orang di sekitarku, tapi dari dulu karakterku orang yang selalu bersikap cuek kepada orang yang tidak dekat kepadaku. Bahkan sudah satu bulan menjalani sebagai mahasiswi, aku tidak mengenal semua teman kelasku. Apalgi dengan orang yang mencoba mencari masalah denganku, mencoba menyidir diriku, aku lebih-lebih tidak akan perduli.


Seharusnya Cristan menyadari bahwa dirinya sudah kalah, mencari masalah dan berbicara kepada orang yang kurang peka, sama saja kalian sudah kalah dari awal. Karena, jika Cristan mencoba menyirdir diriku, dan aku itu tidak memperdulikannya, maka otomastis Cristan pasti kesal dengan sendirinya.  Salah atau benarnya Cristan, tapi jika aku tetap terus bersikap tak acuh, maka aku akan tetap jadi pemenangnya.

__ADS_1


Karena saat itu aku berpikir, jika seseorang terlihat masa bodoh dengan sindirian yang diberikan orang lain ditunjukan kepada siapapun itu, maka sakit hati akan terjadi kepada seseorang yang memberikan sindirian, bukan yang menerima sindirian. Itu sebabnya, aku selalu terlihat cukup tenang ketika siapapun yang mencoba mengusik kehidupanku.


__ADS_2