
Ketika aku mengetahui bahwa kakak sepupuku sebentar lagi akan keluar, segerah mungkin aku menghubungi Aci. Aku sudah pasti akan merasakan kesepian setelah kakak sepupku pergi, saat itu aku juga tidak tahu harus melakukan apapun. Apalgi aku tidak tahu sampai berapa jam akan harus diam sendirian di kos tanpak ada aktivitas sama sekali, aku sendiri tidak menanyakan kepada kakak sepupuku jam berapa dia akan pulang. Menghubungi Aci adalah pilhan yang tepat. Tidak ada respon panggilan pertama, aku berpikir saat itu mungkin mereka sudah pergi dan lagi dalam perjalanan.
Lagi tidak mood untuk ngapa-ngapain, agar aku tidak merasa kesepian aku mencoba menyalakan tv, tapi aku sendiri tidak menontonnya.
Bebeberapa menit kemudian, terdengar suara seserang yang memanggil-mangil namaku, tapi aku sempat berpikir pendengarku salah, sehingga aku tidak menghiraukan panggilan tersebut. . Karena tempat aku ngekos cukup ramai dengan suara-suara berisik yang tidak jelas, sehingga aku sengaja menambah volume tv agar aku tidak mendengar suara dari luar.
Tok-tok-tok...
Suara seseorang mengetuk pintu kamarku, akupun mencoba mengecilkan suara tv,
"Ahhh apakah cuman perasaanku saja, aku mendengar suara seseorang memngetuk pintuku?" (Berbicara sendiri).
"(Tok-tok-tok-tok), Claraaaaa".
Akupun langsung membuka pintu saat aku mendengar seseorang mengetuk sambil memanggil namaku. aku melihat Rafa, Aci , Rika dan satu lagi perempuan yang tidak aku kenal sama sekali.
"EEeeeeee lama banget sih buka pintunya, dari tadi kita teriak-teriak memanggil-manggil nama kamu. sampai tetangga kamu keluar tu."
"Aku dengar kok, hanya saja aku mengira diriku salah dengar. Barusan aku hubungi kamu, kamu tidak mengangkat telpon dariku."
"Aku tadi lagi di jalan, nggak dengar ponselku berbunyi."
"Aku kira kamu jadi kepantai, terus aku berpikir kamu lagi dalam perjalanan kepantai gitu. Ternyata kamu dalam perjalanan mau ketempatku toh, hehehhee."
"Kamu ikut kepantai nggak?"
"Tadi aku hubungi kamu itu mau kasih tahu kalau aku berubah pikiran, aku mau ikut kepantai bareng kalian."
"Ya sudah kalau gitu kamu ganti baju sana!!!"
"Tapi aku boncengan sama siapa donk, nggak mungkinkan kita boncengan tiga."
"Aku sudah hubungi Gunawan, dia sudah di jalan mau kesini."
"Ya sudah kalau gitu ke kamar mandi dulu, tenang saja aku nggak akan mandi kok, cuman cuci muka saja."
__ADS_1
"Ya sudah cepatan, nggak usa banyak omongannya deh."
Tanpa terasa waktu begitu cepat berputar, jam sudah menunjukan pukul 04:00, Gunawanpun tiba di kosku, Kitapun langsung berangkat menuju pantai.
Saat tiba di pantai, aku merasa cuaca sedikit tidak mendukung. Sekitar setelah satu jam lamanya aku dan kelima temanku bermain di pantai, cuaca semakin terlihat tidak bersahabat. Awan yang awalnya terlihat biru, mulai tidak terlihat karena di tutupi oleh cuaca yang mulai mendung, suasana pantai pun mulai mengelap, angin berhembus semakin kencang.
Keadaanku yang awalnya masih terasa kurang sehat, mulai merasa sedikit kedinginanan. Aku dan kelima temankupun mencoba berteduh di tempat warung yang kosong yang berada tepat di tepi pantai saat hujan turun.
Empat menit kemudian, hujan semakin deras. Gunawan yang melihatku mulai mengigil, mencoba mendekatiku. Diapun meminta Aci untuk menyentuh dahiku, dari situlah mereka semua mengetahui bahw aku sedikit demam. aku mulai mengeluh kesakitan di bagian bawah lengan yang sebelumnya bernanah karena tertusuk jarum. Teman-temanku mulai panik, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, karena cuaca saat itu semakin memburuk. Tiba-tiba ponselku berbunyi, tanpak bertanya aku meminta tolong kepada Rika untuk mengambil dan menganggat panggilan masuk di ponselku.
"Hallo, Clara."
"Maaf ini bukan Clara, aku temannya Clara Rika."
"Maaf ini siapa ya?"
wajar saja Rika tidak tahu bahwa yang menghubungiku itu adalah Adi, karena aku sendiri tidak menyimpan nomor ponselnya.
"Aku Adi. Ngomong-ngomong kalian diamana sekarang, kok aku merasa mendengar suara angin dan hujan cukup jelas begitu sih."
'Iya kita lagi dipantai, dan kita sedikit binggung mau ngapain. Kita terperangkap disini, kita mau pulang, tapi hujan semakin deras."
Rikapun memberitahukan kepada Adi bahwa keadaanku saat itu sedkit membuat mereka cemas, dan memberitahukan bahwa aku sedikit deman, serta mengigil kesakitan karena luka yanga ada di lengannya. Aku tidak tahu seperti apa nada adi saat beribcara dengan Rika saat itu, tapi aku mendengar Rika memberitahukan Adi nama pantai tempat kita berada saat itu. Setelah itu, Rika memberitahukan aku bahwa Adi menutup telponnya langsung saat dia memberitahukan lokasi tempat kita berada.
Beberapa menit kemudian, ponselku berbunyi lagi tanda panggilan masuk. Rika yang walnya memegang ponselku, memberitahukan bahwa nomor yang menghubungi sebelumnya itu menghubungiku lagi, saat itu juga aku yang langsung menerima telpon dari Adi.
"Hallo, Rika."
"Ini bukan Rika, ini aku, Clara."
"kamu dimana?"
"Bukannya Rika sudah memberitahukan kamu bahwa aku lagi di pantai."
"Maksudnya aku, Kamu dimananya. Soalnya aku sudah tiba di tempat lokasi pantai yang Rika beritahukan sebelumnya."
__ADS_1
"Apa, seriusan kamu di pantai temapt Rika beritahukan tadi."
"Iya seriusan."
"Kamu kesini pakai apa?"
"Iyaaa, pakai motor."
"Hujan-hujan begini?"
"Iyaaa Clara. Lebih baik nanti saja deh kamu bertanyanya, sekarang kamu dimana?, soalnya aku tidak melihat kalian."
Aku sedikit terkejut dan merasa tidak percaya bahwa Adi datang menemuiku. Aku langsung berdiri dan melihat sekelilingku, aku tak melihat seseorangpun yang mirip dengan Adi berada di pantai tempat aku berada.
"Clara, kamu kan lagi sakit, kamu duduk deh!!!. Setelah hujan redah, kita akan langsung pulang." (Sahut Aci).
"Entar dulu, aku cari seseorang."
"Emangnya kamu cari siapa sih?" ( Sahut Rika).
"Katanya Adi di sini. Tadi ps kamu berbicara dengan Adi, kamu benarkan, kasih tahu nama pantai yang benar?"
"Iya benar kok. Tapi masa kesini, soalnya dia tidak memberitahukan aku bahwa dia akan kemari."
"Entahlah aku juga tidak tahu."
"Bukannya itu Adi ya?" (sahut Rafa).
"Oooo iya itu benaran Dia." (sahut yang lainnya).
Saat teman-temanku mencoba melambaikan tangan sambil memanggil Adi, aku hanya terdiam melihat dia basa kuyup tanpak memakai jas hujan sama sekali.
Aku benar-benar tidak bisa menebak sepert apa Adi yang sebenarnya, aku hanya tahu dia lelaki yang sedikit berbicara. Karena aku sendiri, belum mengenal dia terlalu lama. Saat aku melihat dia hari itu, aku sedikit menyadari bahwa tidakan yang dia lakukan sesuatu semacam pembuktian, entah tebakkanku benar atau tidaknya, aku yakin Adi mendekatiku karena dia tertarik denganku. Aku yang teralu percaya diri atau terlalu kepedean, sehingga aku berpikir seperti itu.
Selama aku menjalin komunikasi dengan Adi, aku tidak pernah sekalipun menanyakan tentang maksud dia yang sering menghubungiku. Ada rasa ingin bertanya sperti itu, tapi saat berbicara denganya,niat iingin bertanya sperti itu hilang begitu saja. Rasa percaya diriku ingin bertanaya seperti itu benar-benar hilang begitu saja, aku juga tidak menegerti. Karena seumur hidup, baru kali itu aku di dekati oleh seseorang lelaki yang karakternya tidak bisa aku tebak sama sekali.
__ADS_1