
Keadaan dimana ketika sudah telanjur, membuat aku merasa tidak enak untuk langsung mematikan telpon dari Ray malam itu.
Ray yang biasanya berbicara cukup lembut dan manis padaku, tapi tidak untuk malam itu. aku tidak tahu kenapa dia bisa mengatakan hal yang sangat buruk kepadaku, membuat aku sedikit memanas.
Aku tidak ingin Aci terbangun karena suara berisikku yang mulai menaikan nada berbicaraku kepada Ray, sehingga aku memilih untuk berbicara di luar kamar.
Richy yang mendengarku membukakan pintu kamar, membuat dia seketika berdiri dan melihat kearahku. Akupun merespon Richy dengan bahasa tubuh yang artinya maaf. Maksud dari kata maafku saat itu, maaf karena sudah membuat Richy terkejut. Akupun mulai berbicara, ternyata saat aku berbicara melalui telpon dengan Ray, entah Richy diam-diam mendengarkanku atau tidak, akan tetapi tindakan Richy saat merampas ponsel dari tangaku, menegaskan bahwa dia telah mendengarku berbicara dengan Ray. Aku terkejut saat dia mengambil ponselku. Tidak hanya itu, dia juga sempat berbicara kepada Ray dan Richy mengulang perkataan yang aku katakan kepada Ray sebelumnya.
"Siapapun kamu, apakah kamu tidak dengar bahwa Clara meminta kamu untuk tidak menganggunya."
"Kamu siapa, tolong kembalikan ponsel itu kepada Clara."
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, yang pastinya berhenti untuk mengganggu Clara lagi."
"Sekali lagi aku katakan, berikan ponsel itu ke Clara!!"
"DD apakah kamu mau berbicara padanya, jika kamu ingin berbicara padanya, aku akan kembalikan ponsel ini ke kamu lagi."
"Aku akan berbicara padanya sebentar, setelah itu aku akan mengakhiri pembicaraanku."
"Clara sebenarnya kamu dimana sih, kenapa kamu bisa bersama seorang lelaki saat tengah malam begini?" (tanha Ray).
"Ceritanya panjang, aku juga lagi bersama Aci. Lagian juga aku tidak perlu menceritakan apa yang telah terjadi malam ini padaku, kakak kan bukan siapa-siapa aku. Aku harap berhenti untuk hubungi aku malam ini, karena aku ingin beristirahat."
__ADS_1
Memilih untuk mengakhiri pembicaraan adalah tindakan yang tepat menurutku.
Mencoba untuk tidak menggungkit tindakan yang Richy lakukan saat merampas ponsel dari tanganku malam itu, sengaja tidak aku lakukan. Karena bukan berarti putusnya suatu hubungan membuat persaanku yang dulunya pernah ada hilang begitu saja. Kenangan masa lalu menjadi satu alasan yang membuat aku terdiam atas tindakan yang Richy lalakukan.
Tapi bukan berarti juga aku menyetujui sikap maupun tindakan yang dia lakukan malam itu. Karena menurutku, tindakan yang dia lakukan seolah-olah kita masih mempunyai hubungan sebagimana layaknya pacar yang cemburu melihat pacarnya di usik oleh orang lain.
Aku sendiri tidak pungkiri, bahwa aku sebenarnya masih memiliki persaan padanya. Akan tetapi aku sendiri tidak tahu apa maksud dari tindakan dia malam itu. Jika aku berpikir Richy cemburu, itu tidak mungkin. Aku sangat yakin bahwa tindakan Richy itu, seperti layaknya kakak yang melindungi adiknya, yang dimana saat adiknya tidak suka di ganggu oleh seseorang.
"Tadi yang telpon DD itu siapa?"
"Dia kakak tingkat di kampusku."
"Apakah kalian mempunyai hubungan?, sehingga kalian terdengar seperti orang yang lagi marah-marahan."
"Maaf kak, aku mau istirahat."
"Kenapa kamu tidak jawab aku, apakah lelaki tadi itu pacar kamu?"
"Apakah aku harus menjawabnya?"
"Iya."
"Kenapa, apakah jawabanku begitu penting buat kakak?"
__ADS_1
"Jika tidak penting, sudah pasti aku membiarkan kamu langsung beristirahat. Tapi jika kamu benar-benar tidak ingin memberitahukanku, aku tidak punya pilihan lagi. Aku akan sabar menunggu?
"Maksud kakak menunggu, menunggu dalam hal apa ya?"
"Menunggu jawaban kamu."
Tidak ada kejelasan dan penjelasan yang jelas yang Richy berikan, membuat aku tidak ingin berarut-ratur timbal balik dalam memberikan pertanyaan dan jawaban. Aku tidak tahu jawaban seperti apa yang aku inginkan dari Richy, tapi malam itu menyadarkanku, aku seharusnya tidak boleh terlalu terbawa perasaan tentag sikap Richy malam itu kepadaku. Sejak malam itulah, aku memantapkan hatiku untuk menyerah terhadap persaanku.
Pikiranku mulai tidak karuan, Ray yang terus mencoba menghubungiku membuat aku tidak bisa berpikir panjang, sehingga aku mengangkat telpon darinya lagi. Aku tidak tahu apa yang Ray ingin bicarakan lagi padaku, aku hanya bisa menjawab setiap pertanyaan yang dia pertanyakan.
Richy yang sebelumnya terlihat posesif, dia hanya diam saat mendengar aku berbicara lagi melalui telpon tepat di luar kamar.
"Clara, tadi yang memotong pembicaraan kita itu siapa?"
"Aku akan jawab pertanyaan kakak malam ini, tapi setelah aku jawab pertanyaan kakak, kak Ray harus janji untuk tidak menghubungi aku selama satu minggu. Karena aku ingin menjernihkan pikiranku yang hampir setiap hari terasa hidup aku tidak nyaman dengan gangguan teman kakak."
"Aku janji. Dan aku juga dari kemaren ingin meminta maaf atas tindakan temanku selama ini, terutama sikap Cristan terhadapmu."
Akupun mulai menjelaskan siapa lelaki yang telah memotong pembicaraanku denganya. Ray terdengar cukup kaget ketika aku memberitahukan bahwa lelaki itu tidak lain adalah mantanku. Tidak hanya itu, aku juga memberitahukan bahwa aku malam itu harus berakhir tidur di kosnya. Aku tidak tahu penilain Ray terhadapku seperti apa, karena aku sendiri tidak menceritakan secara ditail bagaimana aku bisa berakhir di kos mantanku malam itu. Tiba-tiba saja ponselku langsung mati begitu saja, ternyata batre ponselku saat itu habis. Apapun yang Ray pikirkan aku tidak terlalu ambil pusing, dengan cara seperti itu aku berharap Ray menjauhiku.
Aku sadar Richy menatapku, tapi aku hanya berpura-pura tidak melihatnya dan segerah mungkin memasuki kamar.
Langsung mengecas ponsel, itu yang ingin aku lakukan saat masuk kamar. Aku sendiri benar-benar lupa, bahwa aku lagi tidak berada di kosku sendiri malam itu. Dengan percaya diri, aku mencoba memanggil Richy untuk meminjamkan cas, aku tidak perlu menunggu lama untuk Richy mengantarkan casnya kepadaku.
__ADS_1
Tepat saat Richy memberikan aku cas untuk ponselku, listrik tiba-tiba mati. Binggung dengan apa yang harus aku lakukan, Richypun meninggalkanku begitu saja setelah dia memberikan aku cas tersebut. Dalam keadaan yang sangat gelap, aku langsung menutup pintu kamar. Aku mencoba membaringkan tubuhku tepat sebalah Aci. Aci terlihat tertidur begitu pulas, akupun mencoba memejamkan mata, tetap saja aku tidak bisa tertidur.
Panas, suara nyamuk, membuat diriku tidak bisa tertidur. Ku bukakan mataku perlahan-lahan, terenyah-enya dalam pikiranku akan hal-hal yang menakutkan. Entah bagaimana pikiran ku sampai berpikir yang menyeramkan, padahal aku sendiri bukanlah orang yang takut jika menyangkut hal yang mistis. Tapi pikiranku tidak bisa tenang malam itu, mungkin karena itu pertama kalinya aku berada di tempat yang asing.