My Love Story With 5 Men

My Love Story With 5 Men
Menolak untuk mengatakan malu


__ADS_3

Semenjak kejadian hari itu di kampus, untuk pertama kalinya aku mengenal wajahnya, meskipun aku sedikit merasa malu sehingga membuat aku berusaha untuk  mencoba menghindar.


Aku yang di kenal sedikit cuek dan masa bodoh dari awal masuk kuliah dan entah kenapa hari itu pertama kalinya aku bersikap malu seperti itu kepada seseorang.


Sudah tiga bulan lebih dan hari itu aku baru menyadari bahwa ada satu lelaki yang tak lain teman kelasku berpenampilan berbeda dari semua teman lelaki yang berada satu kelas denganku. Pertama kali aku melihatnya, aku belum memiliki perasaan suka, akan tetapi aku cukup kagum padanya. Dia juga bukan Karakteria yang aku cari, tapi entah kenapa aku suka melihatnya terutama dengan penampilannya.


Mungkin sulit untuk aku maupun dia mengatakan "HAI" hari itu, sehingga membuat aku dan dia tidak ada yang menyapa satu sama lain. Dengan merasa percaya diri, akupun berpura-pura belum mengenal seperti apa wajah lelaki yang bernama Adi. Tapi, sepertinya tingkahku sedikit terlalu jelas bahwa aku sedang berpura-pura. Aku dan Adipun hanya saling memandang satu sama lain kerika kita memasuki kelas, tidak ada respon ataupun tingkah kita yang berlebihan diantara aq maupu Adi.


Jam pulang kuliah hari itu berakhir, entah apa yang Rafa pikirkan, sehinga dia mengajak aku dan ke lima teman yang lainya nongkrong di sebuah Cafe yang cukup dekat dengan kampus. Rafa yang mengajak aku dan yang lainnya, itu berarti dia yang akan membayar makanan yang akan aku dan kelima teman lainnya pesan.


Tiba di Cafe, sambil menunggu makanan yang sudah di pesan sebelumnya.  Entah ada gerangan apa yang merasuki Tito, sehingga tiba-tiba dia mempertanyakan sesuatu hal yang tak pernah terpikirkan olehku bahwa dia akan menanyakan prihal hubunganku dengan Gunawan. Saat dia mengawali pembicaraan, aku awalnya berpikir mungkin dia hanya mencari bahan pembicraan hari iyu. Semaki Tito berbicara, malah ria berahli bertanya tentang seperti apa hubunganku yang sebenarnya dengan Gunawan. Tito menanyakan pertanyaan seperti itu bukan tanpa alasan, melainkan mungkin karena Tito yang selama ini melihat aku cukup dekat dengan Gunawan. Bagaimanpun Gunawan adalah teman dekatnya Tito, apalagi Tito juga tahu bahwa Gunawan selalu melakukan apapun ketika Clara meminta tolong padanya.


"Hubunganku dengan Gunawan sama seperti hubunganku dengan kalian, hanya sebata teman tidak lebh dari itu."


Alif yang sebelumnya pernah mengatakan cinta padaku, dia mengambil kesempatan untuk mencoba mengoda diriku saat yang lainnya juga ikut-ikutan mencirca aku dengan pertanyaan yang tidak jauh prihal tentang kedekatanku dengan Gunawan. Godaan yang di lemparkan oleh Alif, membuat yang lainnya lebih beraksi dan memilih mengahlikan godaannya kepada Alif dan diriku. Keisangan teman-temanku hari itu yang mencoba mencocokan aku dengan Gunawan dan alif, munhkin menurut merek itu suatu candaan, Tapi bagiku candaan seperti itu membuat aku sedikit risi. Terpancar di wajah Alif bahwa dia terlihat senang ketika semua teman hari itu mencoba menjodohkan dia denganku. Berbeda dengan reaksiku, yang memaksakan diri untuk tersenyum. Gunawan yang melihat ekpresi wajahku terlihat cukup serius ketika yang lainnya mencoba mengodaku, dia mencoba mengahlikan pembicaraan dengan berpura-pura bertanya.


"Rafa, aku juga boleh pesan dessert nggak?"


"Iya kamu pesan apa yang kamu mau Gun."

__ADS_1


"Benaran nihhh nggak apa-apa?"


"Santai saja."


"Aci, pacar kamu lagi dapat jackpot sepertinya tu."


"Bisa jadi." (sahut Aci).


Pengahlian pembicaraan tidak berhenti begitu saja. Akan tetapi, setidaknya Godaan itu sedikit berkurang.


Aku orang yang sedikit tidak menyukai candaan seperti apa yang mereka lakukan hari itu, Aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berpura-pura seakan-akan aku menerima candaan merek semua.


Keeseokan harinya, seperti biasanya aku sudah berada di kampus tepat pukul jam 02:00 siang.


Terlihat sangat jelas sikap hari itu, sepertinya Ray menaydari bahwa aku menghindarinya.


"Clara, tunggu!!!"


Langkahku terhenti seketika, aku menyadari bahwa yang memanggil namaku itu Ray, jika aku terus berjalan, mungkin suatu saat nanti jika aku bertemu degannya lagi, aku bisa saja lebih canggung. Itu sebabnya aku langsung menghentikan langkahku ketika Ray memanggil namaku.

__ADS_1


Menatapnya saja aku tidak sanggup hari itu, entah kenapa aku sedikit canggung padanya setelah aku menolak cintanya, dan penolakan itu juga Ray sudah tidak pernah menghubungiki, itu bisa jadi penyebab terbesar yang membuat aku bersikap tidak seperti biasanya.


"Kenapa kamu iba-tiba berjalan lebih cepat saat kamu melihat aku?"


"Masa si kak, aku merasa aku berjalan seperti biasanya kok."


"Oooo begitu ya. atu hanya penglihatanku saja yang salah ya. Karena biasanya aku kalau lihat kamu jalan itu santai banget, tapi hari ini tidak seperti biasanya."


"Aaaaaahhhhh itu hanya perasaan kakak saja."


"Aku kira kamu menghindari aku atau malu sama aku."


"Minghindar?, Malu?, Iya nggak mungkinlah kak. Lagian juga kenapa saya harus malu si sama kakak."


Setiap aku mencoba menjawab Ray, aku mencoba sesekali berpura-pura sambil  tersenyum saat berbicara padanya. Agar apa yang aku katakan tidak terlalu terlihat bahwa apa yang di katakan Ray itu benar.


"Kelas kamu di gedung B juga?"


"um-um." ( sambil mengganggukan kepalaku).

__ADS_1


Hari itupun aku melangkahkan kaki bersama Ray menuju gedung B. Tepat didepan gedung B aku berpisah dengannya, karena kelasku berada di lantai dua, sedangkan Ray kelasnya berada dilantai satu. Berharap senyum yang Ray lemparkan saat aku menuju lantai dua bertanda baik untuku, bagaimanapun aku berharap hubunganku tetap baik-baik saja dengannya, walaupun hanya sebatas senior dan junior. Bagaimanapun aku sempat memiliki perasaann padanya, dan yang membuat persaanku menghilang bukan karena sikap dia melainkan sikap teman-temannya. walupun aku tidak sedikit kurang menyukai sikap teman-temanya padaku, bukan berarti aku membenci dirinya. Selama aku mengenal dia, dia lelaki yang cukup baik padaku, jadi tidak ada salahnya aku berharap senyumnya hari itu pertanda baik, bahwa dia tidak membenci diriku. Aku sangat menyadari Ray pasti kecewa kepadaku, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi perasaanya lagi. Aku hanya berharap, dia bisa menemukan perempuan yang lebih baik dariku dan bisa di terima oleh teman-temannya.


Aku yakin, dengan gangguan teman-temanya terhadapku selama itu,  ada hikma yang akan aku dapatkan. entah itu kapan waktunya, aku hanya bisa besabar untuk menunggu hari itu tiba.


__ADS_2