My Love Story With 5 Men

My Love Story With 5 Men
Pertemuan pertama dengan pacar baruku


__ADS_3

Aku menangis, mungkin kamu tidak. Kamu pergi, aku selalu menunggu. Sekarang aku mempunyai niat tidak baik, apakah pantas aku menyalahkan kamu atas prilaku ku yang sekarang ini??.


Aku sudah beruasaha menjadi yang terbaik untukmu, tapi aku tidak pernah bilang bahwa aku juga tidak bisa jadi jahat kepada orang lain.


Pagi itu, aku membawa ponsel ke sekolah. Tepat setelah aku melaksanakan ujian praktek hari itu, ponselku berbunyi. Panggilan masuk dari nomor yang tak ku kenal, tapi aku tidak mengubrisnya. Karena aku males menunggu jemputan didepan sekolah, aku memilih berjalan kaki bersama Ai sampai di rumahnya.


Sempai dirumahnya Ai, ponselku berbunyi lagi. Aku meminta Ai untuk menggakat panggilan masuk diponselku dan mengaktifkn speaker ponselku.


"Hallo ini siapa ?" ( Sahut Ai ).


"Aku Diki adik dari temannya mba Nindy?".


Ketika aku mendengar dia mengatakan adik dari temannya Tante Nindy, Aku meminta ponselku di Ai dan aku melanjutkan pembicaraan saat itu.


"Ooo Maaf, tadi itu teman aku. Kamu siapa ya??" ( Sahutku ).


"Aku Diki, Aku tadi malam meminta nomor kamu di Mba Nindy, tante kamu. Mungkin tante kamu sudah menceritakan kenapa aku sampai meminta nomor kamu di dia. Maaf kalau aku lancang".


"Iya Tante Nindy tadi malam sudah menceritkan semuanya. Jadi kamu santai saja, tidak apa - apa kok".


"Tadi malam aku juga sudah menggikuti akun facebookmu, aku suka melihat semua foto kamu".


"Maaf aku tidak membuka facebook semenjak aku melaksanakan ujian praktek, jadi aku belum bisa menerima pertemanan kamu di facebook".


"Ya nggak apa - apa kok. Tapi aku telpon kamu, aku tidak mengganggukan??"


"Nggak kok, Aku juga baru selsai melaksanakan ujian praktek disekolahku untuk hari ini".


"Kamu tidak keberatankan kalau aku telpon kamu. Karena aku takut nanti ada yang marah lagi".


"Ada yang marah, maksudnya kamu itu pacar aku??. Santai saja, tidak akan ada yang berani marah padaku. Karena aku tidak punya pacar".


"Serius perempuan secantik kamu tidak punya pacar??".


"Iya aku seriuslah".


Suara klakson motor bunyi tepat didepan rumahnya Ai.


"Clara, jemputan kamu sudah datang tuh" ( Sahut Ai ).


"Kalau begitu nanti kita lanjut pembicaraan kita ya Diki" ( Aku langsung mematikan ponselku. Aku baru sadar dari tadi aku berbicara dengan Diki, aku hanya memanggil namanya. Jelas - jelas aku tahu kalau Diki itu jauh lebih dewasa dari pada aku. Biasanya aku memanggil orang yang baru aku kenal dan jika aku tahu dia lebih dewasa dari pada aku, aku pasti memanggilnya dengan sebutan kakak, tapi saat itu aku tidak melakukannya.

__ADS_1


Baru beberapa menit aku mematikan ponselku, Diki mengirimkan aku sebuah SMS. Semenjeka itu, dia terus menghubungiku. Akupun selalu meresponnya, walaupun sebenarnya aku muak berhubungan dengan laki - laki ketika itu.


Hanya butuh lima hari Diki mendekatiku. Dia langsung menyatakan perasaan bahwa dia menyukaiku dan dia juga menginginkan aku untuk menjadi pacarnya. Seperti rencanaku di awal, aku akan menerimanya. Walaupun aku tiadak ada rasa suka, apalgi memiliki rasa cinta untuknya. Tapi aku memilih mengambil resiko yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya, tanpak berpikir panjang aku langsung menerimanya. Kondisi ketika itu, itu merupakan hari terakhir aku melaksanakan ujian praktek. Akupun menceritakan semuanya kepada teman grupku, bahwa aku baru saja menerima seseorang menjadi pacarku. Mereka sempat tidak percaya, karena mereka tahu betapa aku sangat mencintai Kak Richy, dan bahkan satu hari sebelum hari itu, aku masih mengatakan kepada mereka bahwa aku belum bisa melupakan Kak Richy.


"Kamu bercanda ya??" ( Sahut Rya ).


"Aku serius".


"Tapi selama ini kita tidak pernah tahu ada laki - laki yang dekat denganmu, yang kita tahu hanya Die lelaki yang selalu bersama kamu akhir - akhir ini" ( Sahut Ai ).


"Kamu jadian sama Die?" ( Sahut Tami ).


"Bagaiman ceritanya aku pacaran sama Die. Aku saja tidak pernah tahu bagaimana perasaan Die terhadapku. Jadi sudah pasti bukan Die" ( Sahutku ).


"Lalu siapa lelaki itu dan dia orang mana?" ( Sahut Tami ).


"Aku juga belum pernah bertemu sekalipun dengan lelaki itu, aku hanya tahu namanya dan aku baru melihat fotonya saja sampai saat ini. Dia orang sini kok, dia anak kuliahan, dan dia kuliah di kota bogor. Kebetulan dia pulang liburan kesini".


"Terus kamu bagaimana ceritanya bisa kenal dia? ( Sahut Rya ).


"Kitakan baru selsai melaksanakan ujian praktek. Bagaimana kalau kita ke rumah kamu saja Rya, nanti sampai sana aku akan ceritakan ke kalian bagaiman awal aku bisa kenal dia" ( Sahutku ).


"Boleh juga tu, Tapi kita hanya berempat. Tapi nggak apa - apalah, soalnya Mai, Nita Dan Ratna sudah pulang duluan dari tadi" ( Sahut Rya ).


"Sekarang aku mau telpon Tante Yuli, Biar dia tahu kalau aku mau diam dirumahnya Rya sampai sore nanti. Kakek maupun Nenekku tidak akan keberatan selama aku mainnya dirumah kalian".


Tidak lama kemudian, kitapun sampai dirumahnya Rya. Akupun mulai menceritakan bagaimana awal aku kenal yang namanya Diki itu. Tapi ada satu hal yang tidak aku ceritkan ke mereka, aku tidak memberitahukan apa alasan aku menerima lelaki itu. Karena mereka pasti akan mengingatkan aku dan memberikan aku saran. Sedangkan keadaanku ketika itu, aku belum bisa menerima saran maupun masukan dari siapapun itu.


Seperti biasanya, kegilaan Tami dan aku kumat. Kebiasaan kita berdua, jika kita sudah bermain dirumahnya Rya, Kita selalu membuat kamarnya Rya berantakan. Kegilaan hari itu, tidak hanyak membuat kamarnya Rya berantakan, malah Rya tiba - tiba membokar lemarinya dan meminta aku dan Tami untuk mengenakan baju yang dia keluarkan dari lemarinya. Sedangkan Ai hanya tertawa melihat tingkah kita. Rya meminta kita memakai baju yang dia keluarkan, karena dia tahu aku dan Tami suka di foto ala - ala model. Dia ingin mengambil foto aku dan Tami di taman rumahnya dan diruang tamunya. Aku dan Tamipun tidak menolaknya sama sekali, Karena taman dirumahnya Rya sangat mendukung untuk dijadika latar tempat foto ala model. Kita benar - benar menikmati suasana saat itu, aku merasa bebas saat itu. Aku cukup bahagia dan melupakan rasa sakitku yang aku rasakan kurang lebih selama dua minggu ini.


Saat pengambil foto berakhir, tiba - tiba ponselku berbunyi.


"Clara ponsel kamu berbunyi" ( Sahut Ai ).


"Siapa??" ( Tanyaku ).


"Diki".


Aku langsung mengangkat telpon dari Diki, tapi karena aku sudah pacaran dengannya aku mulai memanggil dia dengan sebutan kakak.


"Iyaa hallo kak, ada apa?".

__ADS_1


"Kamu sibuk ya, sampai - sampai SMS dari ku beberpa menit yang lalu kamu belum membacanya juga, makanya kamu tidak membalas SMS dariku?".


"Maaf, aku lagi dirumah temanku. Ponselku aku cas dikamarnya, sedangkan aku lagi asik bermain ditaman rumah teman aku".


"Bagitu toh. Memangnya rumah teman kamu dimana?".


Akupun memberitahukan alamat rumah temanku...


"Donk aku juga lagi di dekat - dekat alamat rumah teman kamu saat ini. Aku boleh kesitu nggak??" ( Tanya Kak Diki ).


"Bukannya aku tidak perbolehkan, kita juga disini berempat, dan aku juga merasa tidak enak kalau kakak datang ke rumah teman aku".


"Mendung - mendung begini enaknya makan yang hangkat - hangat ya" ( Sahut Tami berbicara dengan Ai dan Rya ).


"Bagaimana aku antarkan kalian makanan yang hangat - hangat" ( Sahut Kak Diki yang mendengar perkataan Tami ).


"Waahhh boleh juga tu" ( Sahut Rya yang mendengar tawaran dari Kak Diki).


"Kalian menguping ya pembicaraan aku dengan Kak Diki?" ( Tanya kepada ketiga temanku ).


"Kita tidak menguping kok Clara, hanya saja kita tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu saja" ( Temanku tertawa kegirangan ).


"Ya udah, tunggu ya beberapa menit lagi aku sampai dirumah teman kamu" ( Kak Diki langsung mematikan telponnya ).


"Kalian apaan sih?. Dan kmu juga Rya, ini kan rumah kamu. Bagimana cerita kamu setuju juga" ( Sahutku ).


"Kamu kan sudah menerima dia jadi pacar kamu, masa kamu tidak pernah bertemu langsung dengan pacar kamu sendiri" ( Sahut Rya ).


"Aku mengerti. Tapi ni kan rumah kamu Rya, aku kan jadi nggak enak sama kamu. Bagaimana coba kalau orang tua kamu lihat?"


"Ahhh kamu seperti orang yang tidak kenal orang tuaku saja. Santai saja!!" ( Sahut Rya ).


"Lagian kita juga ingin donk lihat pacar baru kamu Clara " ( Sahut Ai dan Tami sambil mengoda aku ).


Beberapa menit kemudian, SMS masuk di ponselku...


"Aku sudah didepan rumah alamat yang kamu sebutkan tadi".


"Bagaimana ini....? dia sudah di depan rumah kamu Rya....." ( Aku mulai binggung dengan tindakan apa yang akan aku ambil ).


"Yaaa kamu temuilah, Kita lihat dari depan pintu saja. Kamu ajak masuk juga tidak apa - apa !!" ( Sahut Rya ).

__ADS_1


"Karena ini pertemuan pertama aku, salah satu diantara kalian harus menemani aku. Kalian tidak boleh menolak, aku memilih Tami".


__ADS_2