
Bel berbunyi, terlihat semua murid yang baru tiba di sekolah termasuk clara juga ikut berlari untuk meletakkan tas di dalam kelasnya. Clarapun langsun berlari ketengah lapangan dengan maksud segerah masuk kebarisan kelasnya. Akan tetapi, saa itu clara tidak melihat satu teman kelasnyapun berbaris. Ai yang melihatnya langsung memanggil - manggil nama clara.
"Kenapa kita semua didepan sini, bukankah kita seharusnya ikut membuat barisan bersebelahan dengan kelas lain?" (tanya clara).
"Hari ini kelas kita ditunjukan sebagai petugas upacara, tapi kita belum menentukan siapa saja yang akan menjadi petugas upacaranya."
"Kenapa bisa begitu si ai?. Saharusnyakan jauh - jauh hari ketua kelas sudah menentukan siapa saja yang akan menjadi petugas upacara, setelah itu seperti disekolahku sebelumnya mereka akan latihan di minggu sore."
"Ya begitulah. Malahan sudah sering hal seperti ini terjadi. Bukan hanya kelas kita, hampir semua kelas seperti ini. Karena sebelumnya, setiap kelas biasanya mempunyai petugas upacara yang sudah biasa menjadi petugas upacara. Sehingga mereka tidak perlu latihan lagi. Akan tetapiiii, karena hari ini salah satu teman kelas kita yang biasa menjadi petugas pengibar bendara berhalangan datang karena sakit. Nanti yang tidak menjadi petugas upacara sisanya akan bergabung dengan penyayi inti, itu sebabnya yang membuat kita semua beridi didepan sini. Sekalian kita akan mecoba untuk latihan bernyayi satu kali sebelum guru semuanya datang dan upacara dimulai." ( Sahut Ai ).
"Terus kalian semua sudah latihan. Berarti aku telat datang donk, aku jadi nggak enak sama teman kelas lainnya."
"Kamu tidak telat sama sekali, lagian kita tidak perlu untuk latihan kalau hanya menjadi penyayi inti. Cukup yang menjadi petugas pengibar bendara saja. Hanya saja petugas pengibar bendara mereka belum latihan sampai sekarang." (sahut Tami yang berada dibelakang ai dan clara ).
"Kenapa belum latihan, apa lagi yang di tunggu?"
"Karena perempuan di kelas kita tidak ada yang mau membawa bendera, karena diantara kita juga takut melakukan kesalahan saat penaikan bendera merah putih. Tidak mungkin sekali latihan kita langsung bisa, kecuali diantara kita sudah pernah melakukannya. Selama ini yang selalu menjadi petugas pengibar bendara yang mewakili kelas kita, tiga - tiganya perempuan." ( sahut ai kembali).
"Kalau begitu, kenapa tidak diganti oleh teman kita yang laki - laki saja menjadi petugas pengibaran bendaranya?".
"Kamu lihat sendiri jumlah laki - laki dikelas kita hanya ada tujuh orang. Dan sisanya tinggal tiga orang. Empat laki lainnya juga menjadi petugas upacara. Sedangkan tiga laki - laki yang tersisa, lihat saja teman perempuan kita yang menjadi petugas pengibaran bendera. Lagian mereka jauh lebih tinggi dibandingkan ketiga teman laki - laki kita yang tersisa dan mereka bertiga juga tidak mau karena mereka juga takut melakukan kesalahan." ( sahut tami ).
Terlihat guru sudah mulai datang dan beberapa sudah berbaris. Keributan kelas 2 IPA1 dimulai terdengar di barisan penyayi inti. Mereka saling melempar pertanyaan siapa, bagaimana dan bahkan saling menyebut satu sama lain untuk menjadi bagian petugas pegibaran bendera.
__ADS_1
Tiba - tiba ketua kelas 2 IPA1 yang menjadi pemimpin petugas upacara menghampiri semua teman kelasnya yang tersisa.
"Aku berharap kalian mau mencoba, aku yakin kalian pasti bisa. kalian sudah hampir dua tahun disekolah ini, dan kalian pasti meperhatikan setiap murid yang menjadi petugas pembawa bendera. Kita hanya butuh orang yang disebelah kanannya. Kalian hanya ikut perintah yang ditengah dan menarik bendera. Siapapun yang aku tunjuk kalian harus mau!!!" ( Sahut ketua kelas).
Clara hanya bisa beridiri diam krena hari itu merupakan upacara pertamanya di sekolah tersebut semenjak dirinya pindah. Clara yakin ketua kelas tidak mungkin akan menunjuknya, jadi dia tetap memilih diam tanpa mengeluar satu katapun meskipun ai dan tami sedikit berbisik.
Dugaan clara benar, ketua kelas tidak menunjuknya. Ketua kelas menujuk susi, akan tetapi susi tetap kekeh menolak menjadi petugas pengibaran bendera sama sekali. Bukannya susi tidak mau sama sekali, hanya saja rasa takut akan melakukan kesalahan lebih besar dibandingkan kemaunnya. Dia takut jika melakukan kesalahan, maka tidak hanya akan dikritik melainkan akan jadi bahan tawaan oleh murid lainya yang meyebabkan susi sedikit berdebat dengan ketua kelas.
Wali kelas 2 IPA1 yang melihat upacara belum dimulai dan mengetahui bahwa muridnyalah yang akan menjadi petugas upacara, beliau langsung menghampiri ksemua muris kelasnya. Wali kelaspun melemparkan pertanyaan ktentang apa yang terjadi sehingga upara belum di mulai juga. Ketua kelas memberikan penjelasan kepada wali kelasnya dan wali kelas langsung mencoba memecahkan permasalahan. Cara nemecahakan permasalahan yang di lakukan wali kelasnya itu tidak di duga oleh clara.
Wali kelas menatap ke arah clara, tak di sangka clara di pertanyakan tentang apa yang pernah dia lakukan di saat kelasnya menjadi petugas upacara di sekolahnya yang dulu. Awalnya clara menjelaskan bahwa murid yabg tidak menjadi petugas upacara tetap membuat barisan seperti biasanya, tidak seperti dia yang sekarang menjadi penyayi inti. Wali kelasnya kembali mempertanyakan tentang bagaimana di sekolahnya yang dulu untuk temannya yang menjadi petugas upacara, akan tetapi petugas berhalangan hadir. Clara dengan santai menjawab bahwa yang mengantikannya tetap teman kelasnya, akan tetapi jika tidak ada yang bisa menyanggupi, maka penggurus OSISlah yang akan mengantikannya.
Meskipun itu hanya pertanyaan yang tidak perlu berpikir untuk menjawabnya, melihat clara begitu lancar saat menjawab pertanyaan wali kelas sehingga wali kelas kembali bertanya untuk terakhir kalinya kepada clara.
Sedikit berbeda saat menjawab pertanyaan terakhir. Kali itu clara tidak langsung menjawab karena dia sedang berpikir tentang jawabannya. Meskipun sedikit berpikir, clara sendiri tidak bisa berbohong sehingga diapun mengatakan pernah.
"Kamu menjadi petugas upacar waktu kelas berapa, dan kamu bertugas sebagai apa." (tanya ketua).
"Aku sudah menjadi petugas upacara dari SD , SMP hingga di SMA sebelum aku pindah dan aku juga selalu menjadi petugas pengibar bendera."
Teman kelas clara yang sebelumnya sedikit berdebat, seketika mereka langsung melihat kearah clara di saat clara menjawab pertanyaan ketua kelasnya.
"Kamu dari tadi bertanya, mendengar cerita dan melihat kita kuatir dan sejak tadi kamu hanya terdiam. Kalau kita semua tahu dari tadi, kita tidak perlu kalang kabut seperti ini saling menyuruh satu sama lain. Astgaaaa Claaraaaaa." (terlihat senyum diwajah teman kelasnya).
__ADS_1
"Yaudah, sekarang kamu ibu pilih sebagai petugas pengibar bendera hari ini." ( sahut wali kelas ).
"Ta... tapi buuuu, saya belum pernah melakukan atau melihat petugas pengibaran bendera di sekolah ini. Ini Upacara pertama saya di sekolah ini." (sahut clara).
"Cara penaikan bendera semua sekolah sama saja caranya." ( Sahut wali kelas ).
"Saya tahu itu bu, cuman saat berjalan saya belum tahu dari mana terus kemana nantinya."
Clara sendiri menyadari, saharusnya pertanyaan seperri itu tidak perlu dia pertanyakan karena dia sendiri tahu hanya perlu mengikuti perintah orang yang berada di posisi tengah. Clara melakukan pertanyaan konyol seperti itu, karena clara sendiri juga ingin menolak. Hanya saja clara tidak tahu cara menolak perintah wali kelasnya, sehingga dia menimbulkan pertanyaan bodoh seperti itu.
"Kamu tinggal dengar dan ikuti perintah pembawa bendera yang berada di poaiai tengah saja." (Teman - teman kelasnya serempak memberikan penjelasan kepada clara).
Tidak ada pilihan lain, akhirnya clara dengan rela melakukan tugas tersebut. Ini bukan pertama kalinya clara menjadi petugas upacara sebagai pengibaran bendera dan hari itu juga merupakan minggu keduanya semenjak dirinya pindah ke sekolah teraebut. Clara tahu persis, siapapun yang menjadi petugas upacara sebagai pengibar bendera pasti akan menjadi bahan tontonan semua murid dan guru yang hadir di hari upacara dan hari ini akan terjadi padanya. Kekhawatiran akan melakukan kesalahan dan akan diperhatikan oleh semua murid disekolah membuat clara sedikit gugup. Mungkin jika clara sudah lama menjadi murid disekolah itu, reaksiklnya akan berbeda. Seperti di sekolah sebelumnya,clara tidak merasakan kekhawatiran ataupun merasa gugup sama sekali, melaikan rasa percaya diriku sangatlah tinggi.
Tak disangka, upacara hari itu berjalan dengan lancara. Hati clara akahirnya benar - benar bisa tenang karena tidak melakukan kesalahan.
"iiitttsss itttsss clara, ternyata kamu hebat. Tanpak latihan kamu bisa."
Teman - teman kelasnya memberi sanjungan kepada clara dan mereka selalu membuat clara bisa masuk kekehidupan mereka ketika mereka saling melempar candaan.
Sesampai dikelas clara tidak langsung masuk ke kelasnya, melainkan berdiri didepan kelasnya bersama beberapa teman yang lainnya yang juga menunggu guru datang.
"Kamu hebat juga."
__ADS_1
Mendengar pujian tersebut dia dapat kembali dari seseorang yang baru saja berjalan melewati tepat di hadapannya, clara hanya melototinya. Pujian itu dia dapat dari die, yang tak lain masih menbuat ckara kesal dibhari sebelumnya.