
Siapapun bisa marah, karena marah itu sangatlah mudah. Kak Diki terus menghubungi aku, sebelumnya aku sudah memberitahukan dia bahwa aku tidak bisa melanjutkan pembicaraan dimalam itu. Dia mulai marah tidak jelas, bahkan dia mengatakan aku melalui SMS yang dia kirim dengan kata...
"Kamu terlalu penakut".
Aku merasa dia benar - benat tidak bisa mengerti kondisi aku malam itu. Aku memberanikan diri meminjam ponsel ibuku untuk membalas SMS kak Diki.
"Aku Clara, ini nomor ponsel ibuku. Terserah kakak mengatakan aku penakut, tapi sepertinya itu bukan kata yang baik untuk dikatakan kepacar sendiri. Aku akan menjelaskannya besok pagi atas sikap aku malam ini. Tapi aku harap kakak mengerti, aku tidak memiliki pulsa, jadi aku terpaksa meminjam ponsel ibuku. Jika kakak ingin membalas SMS ini, balas saja kenomorku"
"Baiklah besok aku akan mendengar penjelasan kamu".
Setelah aku mendapatkan balasan SMS dari Kak Diki, aku langsung menghapus SMS yang aku kirim sebelum aku menggembalikan ponsel ibuku.
Keesokan harinya, sekitar jam 8 pagi keadaan rumah sudah mulai sepi. Tinggal aku sendirian dirumah. Tepat sekali Kak Diki menghubungiku.
"Hallo" ( Seperti biasanya aku selalu mendengar suara teman kontarakannya yang berisik ).
"Sekarang aku sudah boleh berbicara dengan kamu?" ( Tanyanya ).
"Iya".
__ADS_1
"Apa bedanya malam dengan lagi, toh kamu sama - sama tetap dirumah saat mengangkat telpon dariku. Jadi kalau pagi kamu tidak takut didengar oleh orang tua kamu?. Atau tadi malam kamu sibuk keluar bersama teman kamu, jadi kamu tidak ingin aku mengganggumu?" ( Tanyanya lagi ).
"Kita belum lama pacaran, jadi tolong Jangan asal menuduh. Aku tidak seperti kebanyakan perempuan lain yang deberikan kebebas keluar dimalam hari oleh kedua orang tuanya" ( Jawabku ).
"Lalu??" ( Tanga kak Diki )
"Hahahahaha, Diki... Diki....., pagi - pagi sudah berantem sama pacarnya. Makanya Ki jangan pacaran sama anak kecil" ( Sahutan temannya, yang terdengar sangat jelas olehku ).
"Tolong kasih tahu teman Kakak, aku mungkin belum bisa bersifat dewasa. Perbedaan kita hanya tiga tahun. Walaupun aku orang dewasa ataupun anak kecil dimata teman kakak, tidak sepantasnya mereka mengatakan itu sampai harus aku mendengarnya" ( Sahutku )
"Kamu jangan ahlikan pembicaraan. Aku hanya butuh penjelasan tentang tadi malam!!" ( Sahut Kak Diki ).
"Kamu tahu mereka teman aku, mereka mengatakan itu hanya buat candain aku, bukan mengatakan itu kepada kamu. Dan masalah mantan aku, sebelum aku pacaran dengan dia, awalnya aku berteman dengannya. Tapi setelah aku putus, apakah salah aku menjalin hubungan pertemanan seperti keadaan diawal. Mereka itu teman aku, kamu meminta aku membenci mereka, aku tidak bisa".
"Aku tidak meminta kakak membenci mereka, aku hanya meminta agar kakak katakan kepada mereka bahwa cara mereka bercanda itu tidak baik. Apalagi pacar kakak sendiri mendengarnya".
"Aku kan sudah jelasin ke kamu, kalau mereka hanya bercanda. Kamu tidak harus masukin ke dalam hati kata - kata mereka. Lupakan kata - kata teman aku, kita kembali ke pembahasan awal!!".
"Sepertinya aku juga tidak perlu menjelaskan tentang kejadian tadi malam, alasan kenapa aku tidak ingin berbicara melalui telpon di malam hari. Karena tadi malam aku juga sudah menyelaskannya langsung".
__ADS_1
"Kamu kenapa sih jadi cetus seperti ini?. Kamu tahu tidak, sifat kamu sekarang ini seperti anak - anak. Teman - temanku benar, kalau kamu masih seperti anak kecil yang mudah marah tanpak jelas".
"Apa Kakak bilang, Anak kecil??. Lalu salahnya siapa yang suka dengan anak kecil?. kenapa kakak tidak kembali saja dengan mantan kakak, kan dia lebih dewasa dari pada aku".
"Aku tidak mau memperpanjang masalah. Aku capek berdebat dengan seseorang yang cara berpikir masih seperti anak kecil. Lebih baik hubungan kita break dulu. Aku ingin kamu introspeksi diri dengan sikap kamu yang ke kanak - kanakan!!".
"Apa kakak bilang, BREAK???. Apa itu Break??. Tidak ada istilah break dalam kehidupan aku. Jika kakak ingin sudahi hubungan ini, jangan setengah - setengah. Kalau mau putus, putus saja!!" Karen Aku bukan mainan yang bisa seenaknya kamu ajak break trus nanti balikan lagi".
"Ya sudah kalau kamu tidak mau break, kita putus!!".
"Ok tidak masalah buat aku".
Itu kata - kata terakhir yang aku ucapkan kepada Kak Diki. Aku tidak merasa sedih ataupun sakit hati karena dia memutuskan hubungan ini. Karena selama menjalin hubungan dengannya, aku tidak memiliki rasa cinta maupun menyukainnya sedikitpun. Aku merasa bebanku hilang ketika dia memilih meninggalkanku. Aku tidak perlu merasa berasalah lagi. Aku membiarkan dia yang mengatakan putus kepadaku, karena di awal aku salah, menerima dia menjadi pacarku.
Hubungku yang berakhir ini pertama aku ceritakan ke Tami melalui SMS. Aku tidak menyangka Tami mengatakan hal ini kepadaku...
"Aku bersyukur kamu sudah putus dengnya, karena dia bukan lelaki yang setia menuruku" ( balasan SMS dari Tami ).
"Jujur aku juga tidak mencintainya, tapi kenapa kamu mengatkan hal seperti itu kepadaku Tami?".
__ADS_1