
Berpikir negatif adalah sifat yang dimiliki semua orang. Terkadang atau bahkan sering terjadi pada kita sendiri salah menilai akan sesuatu. Aku tidak tahu apakah salam ini aku salah menilai Kak Richy atau aku hanya kebawa emosi sesaat. Aku tidak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar diantara kita. Aku sadar sebelum aku putus dengannya, aku terus mengajukan pertanyaan tentang perempuan yang bernama Ovi. Kak Richy selalu mengatakan tidak mengenal perempuan itu. Mungkin disaat aku terus mengajukan pertanyaan, kondisi dia ketika itu sangatlah cape. Sehingga dia kesel sesaat, dan meminta mengakhiri hubungan denganku. Akan tetapi aku tidak menyerah begitu saja, hampir dua minggu lamanya aku menunggu kabar darinya, tapi dia sendiri tidak memberikan aku kabar sekalipun. Sehingga aku berpikir mungkin dia benar - benar sudah tidak menginginkan aku. Jadi apa salahku jika aku menjalin suatu hubungan dengan lelaki lain??. Bahkan dia menuduh aku bahwa akulah penyebab kita putus, karena dia berpikir aku sengaja mencari alasan menuduh dia berhubungan denga perempuan lain. Agar aku bisa menjalin hubungan dengan lelaki lain. Aku tidak mengerti apa yang terjadi antara aku dan Kak Richy, apakah selama ini hanya kesalah paham.
Semuanya sudah terjadi, tidak ada gunanya aku memikirkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Walaupun dia sudah menuduh aku, mulutku mampu mengatakan bahwa aku membencinya, tapi hati ku berkata tidak bisa membencinya, aku bahkan masih mencintainya. Didalam hatiku bertanya - tanya apakah kamu masih mencintaku??.
Aku hanya bisa berbicara pada sendiri....
"Kenapa kamu pergi??. Apakah kamu tidak tahu bahwa aku sangat mencintai kamu. Ketika kamu memutuskanku dan memilih pergi, sebenarnya disaat itu aku sangat membutuhkan kamu, tapi kamu malah meninggalkanku".
Aku dan Kak Diki selalu menjalin komunikasi. walaupun akhir - akhir ini aku tidak terlalu merespon setiap dia menelponku. Aku memang tidak mencintainya, tapi alasannya aku tidak meresponnya itu karena aku harus fokus dengn UAN ku, dan dia tahu itu. Dan aku juga menghindari telpon darinya, karena di saat dia telpon - telpon denganku, teman - temannya baik itu teman perempuan maupun laki - lakinya sering mendengar pembicaraan kita. Aku selalu dicandain oleh teman - teman dekatnya. Aku sering di kata - katain pacaran dengan anak SMA, dan kadang juga teman lelakinya ini merupakan teman kontrakannya sendiri. Mereka sering mengatakan bahwa mantannya Kak Diki selalu main kekontrakan mereka. Aku tidak merasa cemburu sedikitpun, bahkan mantannyapun pernah berkata dari jauh saat aku komunikasi dengan kak Diki, bahwa Diki masih menyukaiku. Kak Diki yang mendengar mantannya mengatakan itu kepadaku, dia hanya meminta mantannya diam Dan teman - teman Kak Diki yang lain tertawa. Hanya saja aku merasa teman - teman Kak Diki tidak menghargai aku, sehingga aku males menganggakat telpon dari Kak Diki.
Beberpa minggu kemudian, setelah UAN berakhir, Aku memilih pulang kerumahku berkumpul bersama orang tuaku, dan aku akan kembali sampai acara perpisahan untuk kelas 3 disekolahku.
Aku mungkin akan merindukan saat - saat bersama teman - teman sekolahku. Tapi aku tahu, kita akan terpisahakan sebentar lagi. Karena semuanya sudah pasti mentukan tujuan mereka setelah kelulusan nanti. Begitu juga denganku, aku memilih pulang kerumah, sekalian aku ingin membicarakan kelanjutan aku setelah kelulusanku.
Malam itu aku berkumpul dengan kedua orang tuaku. Aku memulai pembicaraan terlebih dahulu...
"Ayah, Ibu sebentar lagi aku bakalan menerima kelulusanku, aku ingin melanjutkan pendidikanku".
__ADS_1
"Kamu sudah pasti bakalan kuliah nak, tapi kita berdua sebagai orang tua belum tahu akan kuliahin kamu dimana" ( Sahut Ibuku ).
"Kalau boleh aku memilih sendiri, aku ingin kuliah di malang".
"Kenapa kamu ingin kuliah disana, kita tidak punya keluarga disana" ( Sahut Ibuku ).
"Tami akan kuliah disana, dan aku juga ingin disana. Karena kita berdua sudah berjanji akan kuliah bersama dimalang".
"Kalau kamu ingin kuliah, Ayah hanya mengizinkan kamu paling jauh hanya boleh di mataram. Kalau bisa kamu kuliah di sini saja. Biar kita tidak jauh dengan kamu nak. Ayah khawatir melepaskan kamu pergi jauh sendiri".
"Aku tidak mau kuliah disini, dan aku juga tidak mau kuliah di mataram". ( Aku punya alasan sendri kenapa aku tidak mau di kota mataram, Karena aku dulu pernah berjanji bersama Kak Richy akan kuliah berama di kota itu).
"Ibu bantu aku apa!!!, bujuk ayah agar dia mengizin kan aku kuliah di malang. Ibukan tahu aku sangat dekat Tami, Aku ingin bersama teman aku. Lagian Putry sahabat aku bakalan kuliah di malang juga" ( Merayu ibuku ).
"Ibu juga tidak mengizinkan kamu kuliah jauh - jauh nak. Kamu belum pernah pergi jauh sendrian, jadi ibu akan khawatir jika kamu kuliah jauh - jauh".
"Tapikan ada Tami dan pasti banyak teman laiinya juga kuliah di sana".
__ADS_1
"Kamu mau kamu kulaih disana, tapi kamu tega melihat kedua orang tua kamu tidak tenang dan khawatir tentang kamu disana. Kamu kuliah disini saja!!" ( Sahut ibuku ).
"Aku tidak mau kuliah disini. Dari pada kuliah disini, lebih baik aku kuliah di mataram. Tapi aku hanya mau ikut tes di universitas yang yang aku inginkan, jika aku tidak lulus tes. Maka aku memilih tidak kuliah. Karena hanya satu univeritas yang aku inginkan di mataram".
"Terserah kamu. Asalkan kamu jangan menyesal saja di kemudian hari karena hanya mendaftar di satu tempat" ( Sahut ibuku ).
"Iya iyaaaa" ( Sahutku sambil pasang wajah cemberut ).
Ponselku berbunyi kring - kring....
Aku mencoba merijeck panggilan masuk di ponselku. Aku tidak berani menggakat telpon dari Kak Diki, aku takut ayahku mendengar pembicaraanku. Kalau dia tahu aku berbicara dengan seseorang, yang ada keadaan semakin rumit. Bisa jadi aku bakalan disuruh kuliah disini. Agar tidak terjadi kesalah pahaman, aku memberitahukan Kak Diki dengan cara mengirimkan dia SMS. SMS yang aku kirim gagal, aku lupa kalau pulsaku habis. Kak Diki terus menghubungiku, aku tidak merespon panggilan darinya. Terus dan terus dia menghubungiku, akhirnya aku memberanikan diri mengangkat telpon darinya di luar rumah.
"Kak maaf aku tidak bisa berbicara lama dengan kakak, soalnya aku dirumah. Aku takut orang tuaku mendengar kalau aku berbicara dengan lelaki. Kalau orang tuaku bertanya dengan siapa aku berbicara, tidak mungkin aku bilang teman perempuan. Kalau aku bilang teman lelakiku, ibuku mengenal siapa saja teman lelaki yang dekat denganku. Ya sudah kalau gitu aku matikan telponnya ya kak"
Kak diki mulai memperlihat sikap aslinya, dia mulai dingin kepadaku. Dia mengirimkan aku SMS....
"Kamu itu sudah dewasa, kenapa kamu harus takut sih kamu berbicara dengan aku. Lagian kita juga tidak berbicara yang aneh - aneh".
__ADS_1
Aku binggung bagaimana cara menbalas SMSnya, karena aku sendiri tidak mempunyai pulsa. ahhh masa bodoh, lagian juga aku tidak benar - benar menyukainya, jadi buat apa aku takut kalau dia marah, pikirku.
Tapi setelah aku pikir - pikir, jika aku merasa masa bodoh kepadanya. Aku sama aja dengan orang yang tidak mempunyai perasaan apalagi menghargai orang lain. Itu bukan sifat aku. Tapi bagaimna lagi, Aku sendiri tidak memiliki pulsa buat membalas SMS darinya.