My Love Story With 5 Men

My Love Story With 5 Men
Alasanku


__ADS_3

Ke esokan harinya, sesampai parkiran di kampus Aku berjalan sendirian menuju kelas. Tapi hari itu aku merasa ada yang berbeda, dia merasa ada yang mengikutinya. Aku tidak merasa takut sama sekali, aku merasa diriku akan aman karena aku sudah berada di lingkungan kampus. Lama-kelamaan aku merasa tidak nyaman, akhirnya aku memilih menghentikan langkanhku. Aku  segera membalikan badanku, aku melihat seorang lelaki juga terhentikan langkahnya tepat di depanku. ketika itu, aku belum mengeluarkan sepatah dua katapun, tetapi lelaki itu langsung meminta maaf pada diriku.


“Jangan bilang kamu mengikuti aku semenjak dari parkiran, iyakan?”


“jujur, aku memang mengikuti kamu semenjak dari parkiran tadi, sekali lagi kau minta maaf. Tapi aku tidak bermaksud jahat padamu, melainkan aku hanya ingin berkenalan dengan kamu secara langsung. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana cara menghentikan langkah kamu, karena aku sendiri binggung bagaimana awal akan memulai pembicaraan denganmu. Itu sebebnya, aku hanya mengikutimu.”


“Bukannya kamu salah satu dari ke empat lelaki kemaren itu?”


“Kamu benar. Kenalin, aku Ray dan aku mahsiswa semester tiga.” (Dia menyodorkan tangannya tepat di hadapanku).


Karena terlalu banyak orang yang melihat dengan situasi yang sedikit canggung, membuat aku merasa tidak nyaman, terlintas di pikirkanku, aku merasa orang akan menilai aku sombong jika menolak ajakan perkenalan Ray pikirku. akupun langsung membalas menyodorkan tangganku tepat di hadapannya, akhirnya Ray bisa berkenalan dengaku secara langsung saat itu. Tapi hanya sekedar berkenalan, karena setelah itu aku langsung meninggalkan Ray dengan sikap yang sopan.


Perkenal Ray secara langsung denganku, ternyata di ketahui oleh temannya Ray.


Saat pulang menuju parkir di kampus, aku melihat ada seseorang lelaki yang duduk di kendaraanku, dia terlihat duduk sangat santai, walaupun dia tahu bahwa aku sudah mendekati kendaraan yang dia duduki. tetapi lelaki itu seakan-akan berpura-pura tidak tahu apa-apa.


“Permisi.” (Sahutku)


“Iya, ada apa ya?”


Clara mengeluarkan kunci dari tas dan menunjuk kearah kendaraannya.

__ADS_1


“Oooohhh ini kendaraan kamu?” tanya lelaki itu.


“iya.”


Lelaki itu tidak langsung pergi begitu saja, dia mencoba mengajak diriku berkenalan


“Kamu clara ya?”


Aku hanya mengganggukan kepalanya,


“Boleh minta nomor ponselnya nggak?”


“Maaf, aku harus buruh-buruh.”


Banyak laki-laki yang mencoba mendekatiku semenjak satu bulan terakhir, tetapi tidak ada satu orangpun yang membuat aku merasa cocok. Bukannya aku terlalu pemilih, melainkan aku masih teroma dengan masa laluku yang pernah kandas di tengah jalan di saat aku sangat mencintai dan memilih seius menjalani suatu hubungan. Mempunyai masa lalu yang tidak menyenangkan, pasti di miliki oleh semua orang. Aku sendiri sebenarnya masih binggung dengan persaanku, apakah aku masi mencintai mantanku yang bernama Richy atau aku hanya memiliki rasa takut untuk membuka hati untuk laki-laki saat itu.


Aku mengenal yang namanya cinta saat aku duduk di bangku kelas 2 SMP, dan aku benar-benar memiliki seseorang pacar. Akan tetapi aku ditinggalkan begitu saja saat aku naik kelas 3 SMP. Lebih parahnya lagi, Tyo adalah mantan yang aku maksud, meninggalkan aku tanpa ada kata putus sama sekali, dan kalian sudah tahu bagaimana pacar pertamaku meninggalkanku. Itu merupakan pengalam pertama aku yang menyebabkan awal  membuat aku benci yang namanya cinta.


Tapi karena seiring berjalannya waktu, bersyukurnya, akhirnya aku  bisa move on dari Tyo, walaupun membutuhkan waktu yang lama.


Bangku SMA aku baru menemukan sosok laki-laki yang membuat hatiku benar-benar berdetak begitu cepat, dia mantanku yang bernama Richy. Aku menjalin hubungan bisa di bilang cukup lama, hampir tiga tahun lamanya. Tapi hubungan itu harus berakhir.

__ADS_1


Dulunya aku sempa menjalin suatu hubungan dengan lelaki setelah putus dari richy, yaitu lelaki yang aku maksud adalah lelaki ke empat yang merupakan mantan terakhirku, dan aku juga sudah menceritakan pengalaman aku dengan lelaki itu, akan tetapi hubungan cukup singkat. Dan kenyataanya perasaanku sendiri tidak bisa di bohongi. Padahal lelaki itu yang mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya denganku, tapi aku tidak merasa sedih sedikitpun. Itu sebabnya sampai saat ini aku tidak pernah tahu tentang bagaimana perasaan aku yang sebenarnya.


Satu minggu telah aku lewati, tidak ada kendala yang aku alami selama aku kuliah satu minggu itu.


Keadaan cukup berubah di minggu kedua, aku mulai merasa tidak nyaman dengan gangguan-gangguan senior lainnya yang terus meminta nomor ponselku. AKu tidak mengenal mereka, mereka bukan salah satu dari temannya Ray, tapi sepertinya mereka seangkatan dengan Ray.


Aku merasa mulai di kenal oleh orang yang berada di fakultasku, baik itu di kalangan senior maupun yang seangkatan denganku. Sebagian dari mereka mencari tahu identitasku, terutama asalku. Banyak  dari mereka yang tidak percaya bahwa aku hanya gadis yang berasal dari kampung yang menempuh pendidikan di kota. Mereka tidak pernah menyerah, walaupun aku tidak mengubris satupun dari mereka. Mereka mencari tahu tentangku dari  teman kelasku,yang mereka tahu dekat denganku. Aku mulai risi dengan situasi yang kau alami. Karena situasi seperti itu, embuat aku lebih mendekati diri dengan teman lelakiku yang sudah aku kenal selam satu minggu itu.


Ada sesuatu yang aneh aku rasakan, semenjak aku mendekati diri dengan teman lelakiku. Terutama, semenjak satu minggu itu, aku cukup dekat dengan Gunawan di bandingkan Aci, Rika,Rafa dan Tito, dia lebih perhatian kepadaku, tapi aku menganggap perhatian sperti itu, perhatian terhadap seorang teman ke teman dekatnya, Tapi banyak dari mereka yang mengira aku mempunyai hubungan yang special Gunawan. Akupun langsung menepik kabar itu, karena bagaimanapun, aku tahu Gunawan juga memiliki pacar dan mereka menjalin hubungan jarak jauh. Tidak hanya itu, dia juga menceritakan bahwa dia sudah menjalin hubungan sudah hampir empat tahun lamanya. Itu sebabnya, aku menepik isu-isu tentang hubunganku dengannya. Bagaimanpun aku perempuan yang pernah di sakiti dan di tinggalkan, dan aku tidak ingin itu terjadi pada hubungan Gunawan dengan pacarnya. Aku hanya ingin menjaga perasaan pihak wanitanya, walaupun pacarnya Gunawan tidak mengetahui itu, tapi aku tetap harus menjaga perasaan wanita lain.


Dua hari kemudian, Rafa memiliki teman dekat, dia tidak lain lelaki yang berada satu kelas dengku juga. Namanya Alif, Rafapun mencoba mengenalkan Alif ke padaku dan yang lainnya juga.


Ternyata, beberapa teman kelasku mengatakan bahwa aku perempuan yang cukup susah di dekatin, akupun  sontak kaget ketika mendengarngar kabar itu. Aku langsung berinisiatif membagi kartu namaku kepada sebagian teman kelasku saja, walaupun aku sendiri tidak mengetahu nama mereka. Akan tetapi untuk wajah yang asing, aku tidak membagikannya, karena aku tidak ingin nomor ponselku di ketahui oleh banyak orang. Aku hanya membagi sebanyak lima kartu namaku saja.


Tak di sangka, walaupun aku hanya membagi lima kartu nama saja kepada teman kelasku, ternyata itu membuat para seniorku mudah mendapatkan nomor ponselku. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, karena aku sendiri lupa memberitahukan agara mereka tidak memberikan nomor ponselku kepada orang lain tanpa seizinku.


Aku  tidak tahu harus marah atau tidak kepada seorang lelaki yang baru aja menghubungiku. Karena sebelumnya, aku sudah berkenalan secara langsung dengan lelaki itu, dia adalah Ray. Aku menerima panggilan masuk dengan nomor yang tidak aku kenal saat itu, awalnya aku menebak itu nomor salah satu teman kelasku yang aku berikan kartu namaku. Tenyata dugaanku salah, Karena aku sudah telanjur menerima panggilan masuk saat itu, aku mencoba tetap berbicara santai, walaupun lelaki itu memberitahuku secara langsung bahwa dia adalah Ray.


Aku meladeninya berbicara saat pertama kali dia menghubungiku, Aku merasa sedikit nyaman. Ray tidak terlalu muluk-muluk, sehingga aku tidak merasa bosan.


Sejak saat itulah, akibatnya Ray terus menguhubungiku hampir setiap hari. Srtelah satu minggu lamanya ereka menjalin komunikasi, aku secara htidak sadar tersenyum ketika Ray menghubungiku.

__ADS_1


Saat aku berpapasan dengan Ray di kampus, aku sudah tidak pernah memasang expresi yang cuek. Tapi tidak ada satu orangpun yang mengetahui bahwa dia dekat dengan seniornya itu. Karena aku hanya tetap memasang wajah yang cuek kepada orang lain, kecuali teman yang sudah dekat dengannya termaksud Ray. Begitu pula dengan ke tiga teman Ray. Karena sebelumnya, aku sudah mengatakan kepada Ray untuk bersikap netral saat bertemu dengannya dan meminta tiak ada satu orangpun yang tahu.


__ADS_2