
Disaat keadaan cuaca yang seperti itu, tidak pernah ada seseorang yang melakukan hal seperti yang di lakukan Adi untuku. Aku binggung harus bagaimana terhadapnya, sebagaimana dia membuat aku sedikit merasa tidak enakan. Tidak hanya itu, tindakan dia hari itu membuat aku semakin bingung, karena aku sendiri merasa mulai menyukainya, entah itu hanya persaaan sesaat atau persaan aku yang mulai timbul untuknya.
Aku tidak berniat sedikitpun membuat dia jatuh cinta kepadaku, karena aku tidak ingin lellaki seperti dia jatuh cinta kepada perempuan seperti aku yang aku sendri tidak mengetahui bagaimana perasaan aku sebenarnya. Aku takut, persaan yang mulai ada saat itu hanya sesaat. Aku tidak ingin membuat lelaki yang sudah sedikit berkorban untukku, tiba-tiba aku membuat dia kecewa karena sifat keegoisan yang aku miliki.
Ketika dia tiba dipantai saat itu, dia langsung memberikan aku vitamin dan minuman serta tisu untuk mengelap badan aku yang sedikit basah. Sedangkan dia sendiri sudah basa di sekujur seluruh pakaiannya. Teman-temanku yang berada bersamaku saat itu, terlihat sangat jelas dari tatapan mereka terhadapku sedikit binggung dengan apa yang Adi lakukan. Aku tetap diam dan terus mendengar apa yang dikatakan Adi terhadapku. Hari itu aku tidak perduli apa yang teman-tema aku pikirkan, bagaimanapun aku juga tidak bisa menyembunyikan selamanya bahwa yang sebenarnya aku dan Adi sering menjalin komunikasih.
"Semua pakaian kamu basa begini, aku minta maaf."
"Minta maaf untuk apa, aku basa begini kan bukan karena kamu."
"Tapi kamu nggak akan basa seperti sekarang ini kalau kamu tidak kesini. Demi mengatar vitamin, kamu rela-relain menerjang hujan. Bagaimana kalau kamu yang sakit gara-gara kamu kehujanan hari ini?. lihat saja, semua pakaian kamu basa kuyup begitu, kalau kamu sampai sakit, aku akan merasa bersalah."
"Ini kemauan aku sendiri. Lebih baik nggak usah di pikirkan dan di ungkit-unkit lagi, yang penting kesehatan kamu yang sekarang. Kamu tenang, aku akan baik-baik saja kok."
"Alhamdulillah hujan sudah mulai meredah, bagaimana kalau kita pulang saja sekarang. Soalnya takutnya nanti kita hujannya tiba-tiba deras dan kita pasti akan terperangkap disini." (sahut Aci).
"Iya kamu ada beneran juga, kita pulang sekarang saja." (sahut gunawan).
"Ya sudah kalau gitu,
Adi,,, kamu antar Clara pulang ya." (sahut Aci).
"Jangan aku deh, soalnya kalian sendiri aku basa kuyup begini. Alagkah lebih baiknya dia pulang bersama kalian saja, soalnya aku takut Clara basa dijalan karena pakaian yang mengenai dia saat berboncenga nanti."
__ADS_1
"Iya, ada benarnya apa yang dikatakan Adi, biar Clara tetap sama aku saja. Lagian rumah aku dan kosnya Clarakan searah." (sahut Gunawan).
Akhirnya saat itu aku tetap berboncengan dengan Gunawan. Saat dalam perjalan pulang, aku mencoba mengajak Gunawan berbicara, sikap Gunawan tidak pernah berubah terhadapku, dia semakin memperlihatkan sikap kelembutannya dihadapanku. Dalam perjalanan pulang, Gunawan yang hampir tidak pernah mengajukan pertanyaan tentang kehidupan keperibadian aku, tiba-tiba hari itu dia cukup banyak bertanya tentang prihal sikaf Adi terhadapku hari itu. Aku tidak menyukai orang yang mulai bertanya tentang kehidupan aku yang aku sendiri ingin menjadikan itu privasi dalam kehidupan aku. Karena aku tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan-pertanyaan Gunawan, aku hanya bisa berakting dengan cara berpura-pura mengeluh kesakitan, padahal aku tidak terlalu kesakitan hanya saja sedikit kedinginan sehingga aku mengigil tepat dibelakangnya.
Tidak lama kemudian, aku tiba di kosan. Gunawan yang melihat kamarku dari luar sangat gelap, itu sebabnyadiabertanya kenapa kamarku lampunya elum dinyalakan. Akupun memberitahukan dia, bahwa tidak ada siapapun di kamarku.
"Lalu kakak sepupu kamu kemana?"
"Dia lagi keacara temannya. Ngak tahu sih jam berapa dia akan pulang."
"Terus, kamu sakit begini. Siapa yang akan menemani kamu."
"Yang pastinya nggak adalah."
"Kamu tenang saja, lagian aku juga cuman deman. Aku langsung istirhata juga bakalan membaik kok. Jadi kamu tenang saja."
"seriusan kamu bisa mengatasi sendiri?"
"Iyaaa, lgian juga bukan anak kecil. Aku bisa ngurus diri sendiri kok."
"Ya sudah klau begitu, aku langsung balik ya. Kalau ada apa, nggak usah sungkan-sungkan hubungi aku."
"Uuuummm, iya."
__ADS_1
Tepat pukul 09:00 malam kakak sepupuku pulang. Aku yang ketiduran sejak pulang dari pantai, sedikit lama membukakan pintu untuknya.
Dia yang melihatku wajahku sedikit memerah dan bibirku terlihat sedikit pucat, saat itu kakak sepupuku juga menyadari bahwa aku kebangunan karena kepulangan dia. Malam itu dia langsung bertanya, ada apa denganku. Akupun memberitahukannya bahwa diriku sedikit demam.
"Kamu tadi sudah tidur ya ,terus kamu sudah minum obat belum?"
"Iya, aku tidur dari tadi sebelum magrib itu. aku sudah minum obat kok, dan sekarang demamku sudah mulai meredah."
"Aku minta maaf sudah membangunkan kamu."
"Nggak apa-apa kok kak, lagian aku juga lapar."
Untungnya kakak sepupuku malam itu membawa beberpa makanan dan cemilan, sehinga aku tidak perlu repot-repot untuk keluar mencari makan.
Sambil makanpun aku sambil menonton tv, tidak lupa aku mengecek ponselku yang sebelumnya aku cas.
Ada beberpa SMS masuk, kebanyakannya dari Adi dan Gunawan. Isi SMS yang mereka kirim berbeda, akan tetapi inti SMS yang mereka kirim sama saja, sama-sama menanyakan keadaan aku. Aku sendiri memilih untuk tidak membalas salah satupun SMS dari mereka.
Keesokan hari, aku tetap masuk kuliah seperti biasanya. Aku masih sedikit merasa lemas, akan tetapi aku merasa tubuh aku semakin lemas jika aku berbaring terus di kosku. Memilih masuk kuliah membuat tubuhku sedikit merasa nyaman, lebih baik bergerak di bandingkan harus terus berbaring seharian di kamar.
Ada sesuatu kejadian di kampus yang dimana aku sendiri tidak menduganya, Cristan yang merupakan temannya Ray, yang terus mengusik aku. Tiba dia mendekati aku saat dia melihat aku berjalan menuju kelas, dia sedikit aneh, dia tidak seperti biasanya. Berbicara manis, itu pertama kalinya dia bersikap sepeerti itu terhadapku. Aku yang sudah telanjut cukup membencinya, membuat aku sedikit ilfeel terhadapnya. Aku mencoba menhindarinya, dia malah terus melontarkan senyumannya terhadapku.
Tidak hanya itu, hari itu aku juga merasa seseorang memperhatikan aku. Dia lelaki yang tidak lain yang sebelumnya memberitahukan aku tentang taruhan yang di lakukan oleh Cristan dan teman-temannya. Lelaki itu seangkatan denganku, hanya saja dia mahasiswa kelas B. Sampai saat itupun aku belum mengetahui siapa nama lelaki itu. Dia selalu menatapku setiap aku berjalan menuju kelas. Itu tidak setiap hari dia lakukan, tapi diam-diam aku juga sering memperhtikan seseorang ketika aku merasa seseorang itu aneh. Karena semenjak dia memebritahukan aku tentang taruhan seniorku, dia sudah tidak pernah menghubungiku lagi. Dan itu hanya terjadi dua kali saja, Akn tetapi semenjak saaat itu aku merasa sedikit aneh tentang lelaki itu. Itu sebabnya, setiap aku berjalan menuju kelas, kadang aku melihat dia duduk santai dan terus menatap kearahku.
__ADS_1
Aku belum merasa risi, kerena aku belum tahu pasti apakah yang aku duga itu benar atau tidak bahwa dia sudah memperhatikan aku selama ini. Aku takutnya salah menduga, yang adanati aku malu sendiri. Jadi lebih baik aku diamkan saja, sampai dia benar-benar bertindak. Jika dugaanku tidak salah, pasti lamabat laun dia akan bertindak.