My Love Story With 5 Men

My Love Story With 5 Men
Memaklumi


__ADS_3

Aku belajar untuk mampu mengendalika kemarahanku. Bukannya aku tidak ingin mengatasi masalahku dengannya, hanya saja aku sendiri tidak mampu mengatasi masalah perasaanku, apalgi memahi penyebab Die marah terhadapku. Karena selama ini setiap dia marah, dia tidak pernah menjelaskan secara rinci apa penyebab dia seperti itu. Bukannya aku tidak peka terhadap sikap dia selama ini kepadaku, tapi dia sendiri tidak pernah mengungkapkan perasaan dia yang sebenarnya. Aku takut dugaanku salah salama ini, sehingga aku tidak bisa meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang aku pikirkan selama ini benar.


Beberapa menit kemudian buspun tiba. Kita semua menaiki bus satu persatu. Dalam perjalanan menuju pantai, perasaanku gelisa. Aku berpikir ingin menghentikan bus itu, dan tidak jadi ingin ikut ke serta kepantai. Tapi aku sendiri tidak tahu cara bertindak untuk menghentikan bus. Mau tidak mau aku tetap melanjutkan perjalananku. Aku punya beberapa teman selama ikut BIMBEL, aku cukup dekat dengan mereka.


Sesampai dipantai, aku melihat Die. Aku berusaha untuk menyapanya. Tapi dia tetap menghindariku. Aku tidak menyerah begitu saja, aku mencoba lebih mendekati diri kepadanya. Sebelum acara dimulai, panita yang mengurus peserta BIMBEL memberi arahan tentang pelatiran permainan yang akan kita lakukan, akupun mencoba duduk tepat di sampingnya Die. Aku tidak menduga bahwa dia benar - benar akan menghindariku. Dia berpindah tempat duduk, semua orang melihat ke arahku. Aku merasa malu atas sikapnya Die terhadapku, karena aku tifak menduga dia akan melakukan itu didepan semua teman BIMBEL. Aku mencoba menahan air mataku.


Setelah pemberi arahan dimulai, aku mencoba menghampiri Kak Jho.


"Kak aku mau pulang" ( Sahutku ).


"Loh kenapa?".


"( Aku tidak bisa menahan air mataku, akhirnya aku hanya menangis didepan Kak Jho. Kak Jho menarik tanganku berbicara tidak jauh dari semua yang lainnya ).


"Kamu kenapa menangis, apakah kamu sakit?? ( Tanya Kak Jho, Dia terlihat kaget saat melihatku mengeluarkan air mata ).

__ADS_1


"( Akupun menceritakan semuanya )".


"Kamu tenang dulu, mungkin Die lagi tidak ingin diganggu. Claraaaa hapus air mata kamu, nanti teman - teman yang lain lihat kamu lagi. Sabar - sabar ya, kan masih banyak teman kamu yang lainnya yang cukup dekat denganmu selama ikut BIMBEL. Kamu bisa bicara dengan mereka. Anggap saja Die tidak ikut, jadi kamu bisa tenang atas sikap dia yang seperti sekarang ini" ( Masukan dari Kak Jho ).


Ketika aku mendengar masukan dan saran dari Kak Jho, aku mencoba bersikap natural. Dan akupun bersikap seperti Die bersikap terhadapku. Aku mulai tidak menperdulikan dia, karena aku sadar masalah bukalah yang bisa kita atasi dengan kemarahan, melainkan disikapi dengan sabar.


Harapan aku untuk baikan dengannya, tidak lagi aku pikirkan saat ini. Aku juga ingin menikmati kebahgiaan yang teman lain rasakan hari ini. Memilih untuk jauh darinya hari ini dan memilih diam, karena aku tidak ingin masalahku denganya semakin rumit. Karena dari awal aku tidak tahu permasalhannya apa.


Aku melihat Kak Jho mendekati Die, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Yang pastinya aku melihat tatapan mereka mengarah kepadaku, tapi bisa jadi pikiranku juga salah. Aku mencoba tidak memperdulikannya, dan menikmati susana saat ini bersama teman - teman yang lain.


Tapi saat ini aku benar - benar kembali bersikap cuek kepada orang dan mencoba tidak memperdulikan mereka. Tapi mereka semakin menjadi - jadi. Aku hampir saja mengeluarkan kata - kata kasar, tapi untungnya Kak Jho menghampiriku dan meminta mereka untuk tidak mengangguku.


"Sebenarnya aku tidak tahu ada orang yang mengganggu kamu. Tapi barusan Die meminta aku untuk menghampiri kamu, karena dia merasa dua lelaki barusan sedang mengganggu kamu. Ternyata dugaan dia benar" ( Sahut Kak Jho ).


"Sampaikan ucapan terimakasihku untuk dia. Bilang padanya, lain kali tidak usah repot - repot bantu aku, karena aku sendiri bisa mengatasinya. Tapi bagaimanapun, kakak juga sudah membantu aku, aku ucapkan terimkasih".

__ADS_1


"Iya. Kalau boleh tahu, kenapa kamu belum pulang juga?".


"Aku lagi tunggu jemputan kak".


"Dari pada kamu lama menunggu, bagaimana kalau aku anterin kamu. Lagian kos kamukan tidak terlalu jauh dari sini".


"Terimkasih kak atas tawarannya. Tapi tidak usah repot - repot kak, palingan jemputanku sebentar lagi tiba".


"Seriusan tidak mau di antar?".


"Nggak usa kak. Nah... itu jemputan ku sudah datang" ( Aku menunjuk ke arah Tante Vivi ).


Entah apa yang Die pikirkan, sampai dia masih memperhatikanku, padahal dia sendiri mencoba menghindariku. Sepertinya dia sendiri ingin berbicara denganku, tapi karena suatu alasan, mungkin karena dia merasa malu, gengsi , merasa tidak pantasa atau bisa jadi karena yang lainnya, sehingga dia meminta Kak Jho untuk membantuku. Tapi itu hanya pikiranku saja. Bagaimanapun aku masih belum tahu peyebab yang sebenarnya tentang apa yang telah terjadi hari dengan Die.


Sesampai di kos aku mencoba menenangkan pikiranku. Aku memilih tidak menghubungi Die sama sekali. Alangkah lebih baiknya, kalau aku tidak menghubungi dia lebih dulu. Karena aku takut, jika aku menghubungi dia lebih dulu, yang ada aku di cuekin, lebih baik aku diamkan saja.

__ADS_1


Aku sudah terbiasa merasakan keadaan seperti sekarang ini. Terbiasa diabaikan oleh orang yang pernah dekat dengaku, sehingga aku bisa memaklumi jika itu terjadi lagi terhadapku. Aku akan baik - baik saja.


__ADS_2