My Love Story With 5 Men

My Love Story With 5 Men
Belajar dari masa lalu


__ADS_3

Awal perselisihan terjadi saat itu, ada seorang lelaki anak SMA yang mendekati Tia. Awalnya aku tidak tahu, karena aku tidak pernah di kenalkan sama sekali dengan lelaki itu. Setelah tiga hari Tia menjalin hubungan statusnya bukan pendekatan lagi, melainkan mereka pacaran. Tiapun mulai mengenalkan sosok pacar barunya kepada ku, Rani, Putry dan Eny di sore  hari. Karena dari jam 02:00 siang sampai jam 05:00 sore, semua anak kelas 3 di sekolahku itu ada pelajaran tambahan dan kita semua harus mengikutinya. Saat sore itulah pacarnya Tia akan menyempatkan diri bertemu dengannya di sekolah. Ketika Tia memperkenalan pacarnya itu kepada Rani, Putry, eni dan diriku, kita semua welcome terhadap pacarnya Tia. Satu minggu kemudian, aku mulai mendapatkan titipan salam melalui teman sekolahnya, lelaki itu tidak lain satu kampung dengan pacarnya Tia. Aku saat itu cukup kaget dan tidak merasa tidak percaya, bahwa lelaki yang dia kenal satu minggu terakhir menitip salam kepadaku. Awalnya aku mengangap hanya candaan, karena lelaki itu baru saja jadian dengans sahabtku sendiri, yaitu Tia.


Satu hari kemudian, aku mendapatkan salam dari lelaki yang sama. Aku semakin binggung, sebenarnya ingin sekali menceritakan kepada sahabt-sahabatku kecuali Tia, tapi untuk menceritakan awal semua itu aku tidak tahu bagaimana caranya. Akhirnya aku memilih menyimpan sendirinya dan memilih menceritakan kepada ibuku. Sebenarnya ibuku tahu, saat aku masig duduk di bangku SMP tahu tentang sahabat-sahabatku, bahwa mereka mulai merasakan jatuh cinta dan berpacaran. Tapi Ibuku tidak pernah menceritakan kepada ayahku, karena ibuku benar-benar mengerti bagaimana anaknya. Tanpak sengaja,saat itu aku menceritkan di luar rumah,aku tidak menyadari, bahwa di rumahku saat itu kedatangan teman kakakku.


Akumempunyai satu saudara laki-laki, mereka dulu satu angkatan dengan Run yang tidak lain mantan pertamanya Rani. Ternyata teman kakakku saat itu  mendengar pembicaraanku saat aku mencoba menceritakan apa yang terjadi padaku. Lelaki yang  tidak lain teman kakaku itu, sebenarnya juga cukup dekat dengan ku dan ke empat sahabatku yang lainnya.


Ke eseokan harinya, keempat sahabatku itu mulai bersikap aneh. Selama lima  hari lamanya, mereka mulai tidak berbicara kepadaku, sikap mereka membuat aku benar-benar binggung. Pada akhirnya, Tia, Rani, Putry dan  Eni menghampiri kelasku saat jam istirahat. Saat itu aku masih berada didalam kelas, selama lima hari itu ke empat sahabatku sudah tidak pernah mengajakku ke kantin sekolah, itu sebabnya aku males keluar kelas saat jam istriraht, dan lebih memilih bermain di dalam kelas bersama teman kelansku.


“Clara di panggil sama sahabat kamu tuhhh.”


Ketika aku diberitahukan oleh salah satu teman kelasku, bahwa sahabatku itu mencari dirinku, aku sangat bahagia, awalnya aku mengira mereka akan menjemput aku untuk pergi bersama ke kantin. Ternyata dugaanku salah, mereka mencari ku dan tanpa basa-basi Tia langsung memarahiku.


“Maksud kamu apa, hhaaaa?, menceritakan ke semua orang bahwa pacarku suka sama kamu. Kamu benar-benar gila tahu nggak.”


“Kamu tahu dari mana bahwa pacar kamu menyukai aku, dan satu hal lagi aku tidak pernah menceritakan kepada siapapun. Aku hanya menceritakan kepada ibuku." (sahutku).


“Selama lima hari ini aku diam, aku sudah mengetahui itu bahwa kamu mencerikan itu kepada ibumu, kamu tidak perlu tahu siapa yang memberitahukan aku. Tapi karena kamu sudah kelewatan batas, kamu memberitahukan orang lain, itu buat aku sakit hati.”

__ADS_1


“Dengar penjelasanku dulu, beberapa hari ini aku ingin memberi tahukan kalian, tapi aku tidak tau harus memulainya dari mana. Ok, jika kamu tidak ingin memberitahukan aku siapa yang memberitahukan kamu bahwa pacar kamu sih Frans itu menitip salam melalui teman kelas kamu sendiri. Tapi aku tidak pernah mengubrisnya, dan satu hal lagi aku tidak pernah menceritakan pada siapapun selain ibu aku.”


“Apa kamu bilang?, kamu bilang frans nitip salam buat kamu melalui teman kelasku. Pintar sekali kamu bauat cerita, seakan-akan pacarku benar-benar menyukai kamu. Aku sudah tanya ke pacar aku, malahan dia sendiri lupa kamu yang mananya.”


“Kalau kamu tidak percaya, kamu tanya saja teman kelas kamu Rico, dia yang mengatakan semuanya.”


“Sudahlah Clara, ngaku saja. Lagian Tia sudah tanya ke pacarnya itu, dan sudah jelas kamu buat-buat cerita.” (sahut Rani).


“Sumpah Ran, aku sudah mengatakan yang sebenarnya.”


Semua orang menatap ke arahku, banyak orang yang terkejut melihat kejadian itu dan mereka merasa tidak percaya, Karena mereka aku dan sahabt-sahabatku sangat terkenal di sekolah dengan prestasi dan persahabatanku juga terkenal begitu kuat. Tidak ada satu orangpun dari ke tiga sahabatku yang berpihak kepadaku saat itu,membuat aku benar-benar merasa terpojok dan tidak adil dengan perlakuan sahabatku. Tapi banyak teman kelas ku dan dari kelas lain yang simpati kepadaku. Sehingga aku masih bisa fokus dengan ujian untuk kelulusannya empat bulan lagi.


Setelah aku meneirma kelulusan,banyak teman sekolahku langsung melakukan saling coret-coret seragam sekolah. Tapi berbeda denganku, aku lebih memilih langsung pulang ke rumah. Tepan setengah perjalan pulang, beberpa teman kelasku  mengendarai sepeda motor, mereka meemaksaku untuk ikut jalan-jalan bareng mereka. Akupun  tidak menolak ajakan teman-temanku.


Dua jam kemudian, aku di antar pulang oleh temanku. Sesampai di rumah, aku di beritahukan bahwa ke empat sahabatku itu mencari diriku


“Tapi hanya Rani dan Putry yang turun dari kendaraanya.” (sahut ibunya).

__ADS_1


“Lalu?”


“Katanya mereka ingin mengajak kamu jalan-jalan, tapi ibu bilang kamu sudah jalan-jalan berbocengan dengan teman kelas mu, lalu mereka langsung pergi.”


“oooooohhhhh”


Keadaan berubah setelah dua minggu menerima kelulusan, semua anak kelas tiga mengambil ijaza ke sekolah. Antrian cukup panjang, saat itulah Rani mencoba menghampiriku. Aku lebih terkejut Ketika Rani meminta maaf kepadaku. Tak lama kemudia Putry dan Eni juga menghampiriku, mereka memelukku dan menangis saat meminta maaf atas perlakuan mereka kepada ku selama empat bulan terakhir. Berbeda dengan Tia, dia tetap tidak ingin bebicara kepada ku, Putrypun mencoba memberi pengertian kepadaku, tidak hanya kepadaku, putry juga mengatakan apa yang dia kataka kepada Tia.


“Kamu harus sabar saja dengan sikap Tia yang cukup tidak mau mengalah. Diantara kalian berdua, kalian benar-benar orang yang sama-sama keras kepala, jadi aku mengerti jika diantra kalian tidak ada yang mau mengalah. Suatu saatkalian pasti akan baikan seperti dulu lagi”.


Setelah Rani, Putry dan Eni meminta maaf kepadaku, merekapun langung pergi menghampiri Tia. Walaupun saat itu aku belum bisa baikn dengan Tia, tapi aku sangat bersyukur karena aku sudah bisa baikan dengan ketiga sahabatku. Seperti kata Putry, aku yakin suatu saat nanti aku pasti akan baikan secepat mungkin dengan Tia. Walapun aku sendiri tetap tidak ingin meminta maaf duluan.


Saatnya membuka lembaran baru, pendaftaran untuk murid baru SMA sudah mulai dibuka. Saat tiba di depan SMA tempat aku akan mendaftarkan diri untuk sekolah, aku melihat banyak orang yang tidak aku kenal. Pada akhirnya aku melihat Putry, Eniy dan Tia. Tapi aku tidak menghampiri sahabatku ketika itu, karena aku tidak ingin Tia  merasa  tidak nyaman. Putry yang melihatku berdiri sendiri, mencoba menghampiriku dan mengajaku duduk  bersam Tia dan Eny, aku langsung menolak dan memberikan penjelasan kepada Putry.


Tidak lama kemudian Tia menghampiriku, dia mencoba menarik tanganku agar aku mau bergabungan dengan mereka. Saat itulah, Tia mencoba meminta maaf, walaupun terlihat sangat jelas bahwa sikap Tia cukup canggung ketika berbicara kepadaku, begitu juga sebaliknya. Akupun juga meminta maaf kepada Tia, sejak saat itulah hubunganku benar-benar membaik.


Sejak itulah aku mulai berhati-hati menceritakan sesuatu yang berkaitan dengan hidupku kepada orang lain. Aku juga ingin memiliki privasi,

__ADS_1


__ADS_2