
Terlalu asik melempar pertanyaan satu sama lain, aku dan Rafa tidak menyadari bahwa mahasiswa yang masuk reguler pagi sudah keluar kelas sekitar sepuluh menit lamanya. Ketika aku dan Rafa baru menyadari itu, kita berdua ketika itu langsung bergegas menuju kelas. Kakiku terhentikan ketika tiba di depan pintu kelas, sebagian kelas tempat duduk telah terisi, akupun mulai melihat-lihat tempat kursi tempay aku duduki. Rafa yang melihat aku hanya berdiri saja, dan dia tahu bahwa aku tidak mengena; satu orangpun di kelaas itu. Karena saat pembicaraan sebelumnya, aku menceritakan bahwa aku tidak mengikuti OSPEK, sehingga aku tidak mengenal siapapun di dalam kelas.
"Clara, ayoo masuk!!" (sahut Rafa).
"Aku binggung mau duduk seleah mana."
"Kamu duduk di sebelah ku aja,nggak apa-apa kok, tapi kalau kamu mau sih."
Akupun mengikuti langkah Rafa dan benar, aku memilih duduk tepat disebelahnya saat itu. Aku mersa sebagian mereka menatap ke arahku dan Rafa. Aku mengerti kenapa mereka menatap aku dan Rafa, mungkin mereka tidak pernah melihat kita saat OSPEK, karena aku dan Rafa sama-sama tidak mengikuti kegiatan OSPEK seharipun.
Tiba-tiba dua orang perempuan membalikan badanya, tatapan mereka tepat di depanku.
"Hay, maaf sebelumnya kalau aku lancang. Kalian tidak salah masuk kelaskan, soalnya saat OSPEK aku tidak melihat kalian berdua. dan saat kalian masuk barusan, terutama kamu, terlihat sedikit binggung." (sahut salah satu perempuan itu sambil menunjuk ku).
"Ini kelas A kan untuk MABA?, kalau itu benar, berarti kita berdua tidak salah masuk kelas." (Sahutku).
"Iiiiyaaa..., Benar sih ini kelas A untuk MABA. Tapi Kenapa aku tidak melihat kalian pas OSPEK ya?"
"Iya, aku juga tidak melihat kalian." ( sahut perempuan yang satunya lagi).
"Iya, aku ngerti maksud kalian berdua. Kita berdua tidak menggikuti kegiatan OSEPEK." (jawabku).
"Oooooowww,,, pantasan. Ooo Ya, kenalin nama aku Aci.'
"Aku Rika."
"Aku Clara, dan dia Rafa."
"Kalau boleh Tau kalian hubungannya apa, saudra, sepupu, pacarakah atau.........." (Tanya Aci).
__ADS_1
"Kalian sepertinya salah sangkah. Aku dan Rafa sama seperti kalian. Aku baru kenal dia sekatr dua puluh menit yang lalu." (memotong pembicaraan Aci).
"Sorry-sorry aku kira kalian diantar seperti yang aku katakan barusan. soalnya kalian terlihat begitu akrab satu sama lain."
"iya, nggap apa-apa kok."
Tidak lama kemudian Dosen yang akan mengajar di hari pertama kelasku ada dua mata pelajaran. Karena itu merupakan hari pertma, jadi Dosen yang mengajar hari itu, tidak terlalu serius, karena Dosenku saat itu memberikan sedikit pesan, kesan dan sedikit cerita, tidak lupa Dosen yang mengajar hari itu, mencoba mengenal nama satu persatu MABA yang ada di kelasku. Lucunya, selama kurang lebih empat jam di kampus, aku hanya mengenal empat orang saja di hari pertama kuliah, yaitu, Rafa, Aci, Rika dan satu teman baru yang di kenal namanya Tito.
Kesokan harinya, seperti di hari pertama situasi yang aku sedikit sama sperti hari pertama. Bedanya hanya Dosennya yang berbeda dan aku mulai dekat dengan teman yang aku kenal sebelumnya. Sambil menunggu Dosen datang di jam pertama, Aku, Aci, Rika dan Rafa menyempatkan diri berbicara untuk mengenal lebih dekat lagi satu sama lain dan tidak lupa kita saling tukar nomor ponsel saat itu. Tidak lama kemudian Tito tiba dan masuk kelas. Tapi dia tidak sendiri, melainkan dia bersama seorang teman yang dia ajak masuk kelas.
"Oiii." ( Rafa memanggil Tito).
Tito langsung menghampiri kita dan meperkenalkan lelaki yang saat itun bersamanya.
"Dia siapa?" (tanya Aci).
"dia teman kelas kelas kita juga, namanya Gunawan. Dia aslinya dari bandung, karena dia baru nyampe dari bandung kemaren, jadi di hari pertama dia tidak bisa hadir."
Aku bukannya tidak mau mengenal yang lainya, hanya saja, aku memliki sifat yang sedikit cuek dan tidak pernah mau berkenalan denagn orang pertama kali, kalau bukan orang yang mencoba mengajak aku kenalan. Tapitidak semua tu, tergantung siapa dan bagaimana orang itu. Aku melakukan hal seperti itu, karena idak pingin memilki teman yang fage alias bertopeng dua.
Pada hari ketiga menjadi mahasiswi, aku mulai di dekati oleh salah satu senior di kampusnya. Dia namanya Ray, dia memiliki tujuh teman dan mereka semua berada di satu jurusan yang sama. Perkenalan mereka tidak pernah terpikirkan olehku, bagaimanapun aku sendiri awalnya tidak mengetahui bahwa senior yang biasa Aci dan Rika bicarakan itu adalah Ray. Aku tidak mengenal Ray karena aku sendiri tidak mengikuti kegiatan OSPEK saharipun .
Seperti dua hari sebelumnya, dari tempat parkir aku berjalan sendirian menuju kelas. Sebelum aku sampai depan kelas, aku melihat ada empat laki-laki yang tidak ku kenal sedang duduk di kursi Panjang yang kebetulan diletakan di depan kelas yang akan aku tuju. Yang membuat aku sedikit binggung, aku melihat teman kelasku itu menyapa ke empat laki-laki itu, terlihat begitu jelas sikap mereka yang sopan dengan sedikit menundukan kepalanya. Aku sendiri tidak tahu kenapa teman kelasnya itu bersikap formal. Berbeda dengan diriku, Ketika aku mulai melewati ke empat laki-laki itu, Aku tidak melirik sedikitpun kepada ke empat laki-laki itu. Dengan percaya dirinya, aku terus berjalan menuju kelas. Selama tiga hari itu,
Sambil menungu Dosen, terlihat perempuan yang brada satu teman kelas denganku sedang asik berbicara, Aku tiak perduli dengan bahan pembicaraan teman kelasku saat itu. Tiba-tiba beberapa teman kelas ku berbicara, bahwa dia sedang melihat salah satu dari ke empat lelaki yang tadinya duduk di depan kelas sempat menegok sebenatr ke dalan kelas. Aku mulai merasa terganggu dengan bahan pembicaraan teman kelasku, karena aku yang tidak terlalu suka mendengar pembicaran yang tidak penting. Tidak lama kemudian, mereka semua mulai menghentikan pembicaraannya ketika Dosen yang mengajar hari itu tiba di kelas.
Dua jam kemudian, jam pertama mata kuliah hari itu berakhir.
Waktu tiga puluh menit lagi untuk menunggu Dosen yang mengajar untuk mata pelajaran kedua. Sambil menunggu, aku, Rika, Aci dan Rafa memilih duduk tepat di bawah pohon yang daunnya cukup rimba tepat didepan kelas. Tidak lama kemudian, tanpa sengaja aku melihat ke empat laki-laki yang aku lihat sebelumnya, mereka terlihat seperti baru keluar dari kelasnya. Aku langsung mengahlikan tatapanku dan melanjutkan pemberbicaraanku dengan teman-temanku. Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil nama Aci, ternyata itu salah satu dari ke empat laki-laki itu. Dengan cekat Aci langsung menghampiri lelaki yang memanggil dirinya.Tidak lama kemudian, Aci langsung Kembali ke tempat semula dia duduk bersamaku dan yang lainya.
__ADS_1
“Clara,,,,,emmmmmm.”
“Ada apa Aci?”
“Emmm sebenarnya, salah satu dari mereka yang bernama Ray meminta nomor ponsel kamu. Tapi aku
bilang, aku harus minta persetujuan kamu dulu. Soalnyakan kamu pernah bilang, jika ada orang lain meminta nomor ponsel kamu diantara kita, kita harus meminta izin dulu kepada kamu. Kamu izinkan aku
berikan nomor kamu ke mereka nggak?"
“Bukannya aku pelit Ci, cuman aku tidak menggenal mereka. Jadi aku tidak mengizinkan kamu memberikannya kepada mereka.”
Acipun memberikan tanda silang dengan kedua tangannya sambal
mengeleng-gelengkan kepalanya ke arah ke empat laki-laki itu. Aku sendiri
tidak tahu yang mana yang namanya Ray, dan aku baru mengetahui bahwa
mereka adalah seniorku.
“Clara…”
“Eeemmm.” (Sahutku).
“Tadi pas mereka bicara sama aku, mereka bilang kaget saat melihat kamu tadi sebelim masuk kelas.
Karena sebelumnya mereka tidak pernah melihat kamu saat OSPEK sama sekali. Mereka juga bertanya siapa nama kamu, dan aku memberitahukan kepada mereka. Sepertinya mereka salah satu dari mereka menyukai kamu.” (tegas Aci).
Setelah aku mendengar perkataan aci, aku memilih tidak memperpanjang untuk mendengar Aci menceritakan tetang seniornya itu. Bagaimapun aku merasa itu suatu hal yang wajar jika laki-laki melihat perempuan, tapi aku
__ADS_1
memperlihatkan bahwa diriku tidak semuda itu mereka dekati. Sekalipun yang mendekati diriku itu para senior yang di kagaumi oleh junior dikampusku, bukan berarti mereka dengan mudahnya mendapatkan apa yang mereka inginkan.