
Dua bulan kemudian, Clara mulai aktif sebagai mahasiswi baru. Menginjak kakiku di kampus jurusan yang aku ambil, hari itu merupakan yang kedua kalinya. Pertama kali aku megijak kakiku di fakultas yang aku pilih, aku memberikan berkas lengkapku dan meminta tanda tangan Ketua Prodi. Setelah aku mengetahui ruangan Ketua Prodi, aku langsung mengetuk pitu secara perlahan-lahan.
(tok-tok-tok).
"permisi Pak."
"Iya, silahkan masuk".
Akupun membuka pintu dengan begitu pelan dengan melangkahkan kakiku cukup berhati-hati. Saat itu aku tidak mengenakan hijab, akan tetapi pakaian yang aku kenakan sangatlah rapi dan sopan.
"Ada yang bisa di bantu?" (tanya Ketua Perodi).
"Iya pak, saya MABA (Mahasiswa/i Baru), dan saya mau mengumpulkan berkas saya yang lengkap. Katanya saya di suruh keruangan ini oleh bagian pengurus administrasi."
"Aku kira kamu bukan masiswi baru, karena pakaian yang kamu kenakan itu bukannya harus memakai seragam hitam putih sekarang ini. Hari inikan, bukannya hari terakhir kalian OSPEk?"
Aku saat itu sempat terdiam sekitar satu menit lamanya. Karena aku tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya aku mengatakan yang sebenarnya, bahwa aku tidak mengikuti kegiatan OSPEK sama sekali. Ketua Prodi terlihat cukup terkejut dengan penggakuanku, akupun berusaha bersikap tenang dan menyiapkan diri untuk menjawab kembali jika di tanya.
"Kenapa bisa begitu. Kamu tahu tidak?, teman kamu yang lainnya menggikuti OSPEK selama beberapa hari sampai hari ini. Dan mereka mengurus dan meminta tanda tangan bapak agar mereka ditetapkan sebagi MABA sejak kemaren, sampai hari inipun ada beberapa dari merek tetap mengantri. Sedangkan kamu, datang tanpak menunggu lama, tidak mungkin aku akan memberikan kamu persetujuan untuk menjadi MABA di fakultas ini."
Aku hanya terdiam, menundukkan kepalaku sebentar dan langsung menyadarkan diri mengangkat kepalaku lagi. Dengan sedikit percaya diri, aku menatap Ketua Prodi saat itu sambil mengatakan.
"Maaf saya sudah melakukan kesalahan di awal sebagai MABA yang tidak mengikuti kegiatan OSPEk yang sudah di tentukan. Karena ini merupakan hari terakhir, saya siap menerima konsekuensi yang Bapak akan berikan kepada saya."
"Kalau aku bilang kamu tidak bisa di terima di fakultas ini. Walaupun kamu masuk kampus ini dengan hasil tes yang kamu lalui, tapi karena kamu tidak mengikuti kegiatan perkenal di tahap awal yang sudah di tentukan dengan tidak mengikuti OSPEK, maka aku tidak bisa memberikan kamu persetujuan sebagai MABA di kampus fakultas ini."
"Apakah tidak ada cara untuk memberikan saya kesempatan pak?"
"Siapa nama kamu?"
__ADS_1
"Medi Clarista Pak."
"Ok, aku mau lihat berka-berkas kamu dulu, jika nilai waktu SMA kamu memuaskan, maka aku akan memberikan kelonggaran kepada kamu. Apakah kamu keberatan?. Coba kamu lihat di luar sana, yang seangkatan dengan dirimu masuk kampus ini, mereka sedang beristirhat sebentar dan akan melanjutkan kegiatan OSPEk_nya sampai nanti sore." ( Menujuk kearah luar jendela)
"Tidak pak, saya tidak keberatan sama sekali."
Tidak lama kemudian, setelah Ketua Prodi memeriksa nilai yang aku dapatkan saat aku duduk di bangku SMA, tiba-tiba dia tersenyum dan tertawa. Aku masih tidak mengerti, apa yang menjeabab beliau saat iptu tersenyum samapi tertawa mengarah kearahku. Aku berpikir, ada yang salah pada diriku.
"kenpa kamu diam?"
"tid....tidak pak. Kan bapak sedang menegcek nilai-nilai SMA."
"Nggak, maksudnya bapak, kenapa wajah kamu terlihat diam befitu. Bukannya dari awal kamu masuk ruangan ini terlihat sangat percaya diri?"
"Karena saya lagi menunggu keputusan dari bapak, Itu sebabnya saya diam Pak."
"Clara pak".
"Gini Clara, karena bapak melihat nilai kelulusan SMA kamu sangat memuaskan, bapak akan memberikan kamu persetujuan untuk menandatangi berkas yang harus Bapak tanda tangani. Tadi bapak hanya bercanda dan mengetes kamu. Walaupun kamu tidak mengikuti OSPEk, kali ini bapak maafkan, dan kamu harus buktikan harus rajin-rajin masuk kuliah ya."
"Iya pak."
"Ini bapak sudah tanda tangani, kamu sudah boleh pulang."
"Terimaksih pak."
Gelisa, itu yang aku rasakan. Karena aku tidak menegtahui apapun tentang menjadi anak kulihan, itu sebabnya aku percaya dengan candaan yang Ketua Prodi lontarkan padaku.
Hari dimana aku menginjakan kakiku yang kedua kalinya. Dimana hari itu, aku benar-benar akan duduk di kelas dan akan mendengar Dosen berbicara di depanku. Tidak semuda yang aku pikirkan, saat aku tiba di kampus, aku sendiri binggung harus melangkahkan kakiku ke arah mana. Karena aku sendiri tidak mengetahui kelasnya dimana. Beberapa menit kemudian, aku melihat seorang lelaki menegnakan tongkat sedang berdiri membaca sesuatu di papan pengumuman. Akupun mencoba mendekatinya dan berpura-pura berdiri tepat di sebelah kananya.
__ADS_1
Dari hari pertama aktif kuliah, aku sudah memantapkan untuk mengenakan hijab setiap ke kampus. Akan tetapi aku belum siap mengenakannya di hari biasanya, Lelaki itu menatpku, AKu berpikir, mungkin ada yang salah dengan pakaian yang aku kenakan saat itu. Aku mencoba bertanya-tanya, apa yang salah pada diriku, sehingga lelaki itu melihatku. Padal niat aku berdiri di di sampingya saat itu, agar aku bisa bertanya pada drinya, bukan malah membuat aku tidak nyaman dengan cara dia menatapku. Saat aku membaca pengumuman yang di tempelakan, akku melihat itu ternyata nama-nama mahasiswa baru. Ternyata mahasiswa yang seangktan denganku, di bagi menjadi dua kelas yaitu kelas A dan B. Akupun mulai membaca nama-nama di kelas A sambil aku gunakan jariku untuk mencarinamaku. Akupun menemukannya, ternyata aku masuk kelas A.
"Kamu MABA (Mahasiswa Baru) juga?" (sahut lelaki yang memakai tongkat itu).
"Apakah kamu bertanya kepadaku?"
"Iya, kan yang berdiri di sini cuman kita berdua."
"Oooo,maaf, Aku kira kamu tanya orang lain. Takutnya nanti aku salah duga. Iya, aku MABaa, Kamu sendiri?"
"Aku, Aku sebenarnya sudah daftar Tahun kemaren. Cuman karena terejadi sesuatu yang tidak aku duga dan yang tidak aku inginkan terjadi, akhirnya terpaksa aku harus menunda dan mendaftar ulang tahun ini."
"Owww begitu. Terus sekarang kamu masuk kelas A atau B?"
" Aku satu kelas sama kamu."
"Bagaimana kamu tahu aku masuk kelas A atau B?"
"Bukannya kamu baru saja mencari nama kamu, dan jari kamu terhenti di hurup M di kelas A?. hmmmm kenalin nama aku Rafa." (Rafa menyodorkan tangannya tepat di depanku sambil tersenyum).
"Clarista." (kaupun membalas senyum yang dia berikan dan menyodorkan tanganku).
Sejak Detik itu juga Rafa orang pertama yang aku kenal, dan sejak itu juga kita menjadi teman. kau merasa dia anak yang baik, jadi itu sebabnya aku tidak menolak saat dia memperkenalkan dirinya kepadaku.
"20 menit lagi kita baru bisa masuk kelas, karena yang masuk kuliah pagi belum keluar."
"Bagaimana kalau kita duduk di sana saja."( aku menunjukan kursi yang kosong yang tidak jauh dari ruang kelas tempat aku akan menerima pelajaran di hari pertamaku).
Aku dan Rafa mulai saling melemparkan pertanyaan, kitapun ternyata sama-sama anak kampung yang meratau mengejar pendidikan di kota. Itu sebabnya aku merasa nyambung dan nyaman saat berbicara dengannya, tanpak ada rasa canggung sama sekali. Sambil menunggu, Rafapun men cerikan prihal kecelakaan yang dia alami satu tahun sebelumnya, hingga dia harus mengunakan tongkat untuk berjalan. Dan itulah penyebab kenapa dia harus menunda study _nya di bangku kuliah satu tahun sebelumnya.
__ADS_1