
Pergi dari hadapan Ray adalah kesabaran yang harus aku korbankan. Aku tidak ingin berarut-ratut dalam kegilaan tentang persaanku terhadapnya, aku sudah lelah dengan gangguan dari teman-temannya. Aku tidak ingin karena gangguan dari temannya Ray, sehingga membuat aku merasa seperti mempermainkan perasaan diri sendiri.
Hadapi masa depan yang tak tentu, membuat aku lebih kuat menghadapi semunya. Aku yakin, hatiku akan berlabu di tempat yang tepat suatu saat ini. Kini aku merasa lebih tenang ketika aku memberikan jawabanku kepada Ray.
Berbicara tentang cinta tidak hanya melibatkan tentang perasaan tapi juga melibatkan logika. Kadang hati mengatakan cinta, tapi sering pula logika menolak untuk mengatakan iya.
Masalah cinta maupun perasaan yang selama ini sulit aku rasakan tidak akan pernah ada akhirnya.
Terkadang sebagian orang mengikuti perasaan, tapi untuk berpikir secara logika kadang sebagian orang tidak terlalu memikirkannya, sehinga terjadilah terjalin ikatan sebagai pasangan. Tapi semenjak kejadian tentang aku yang dulunya selalu disakiti, membuat aku lebih mendahulukan logika dibandingan perasaanku. Perubahan seperti fase, mungkin itu yang sedang aku alami. Tidak ingin kehilangan jati diriku dan buta karena cinta, aku tidak ingin itu terjadi lagi, mendahulukan logika menurutku adalah pilihan yang tepat untuk saat itu.
Ketika di malam hari, tepat pukul 08:00 malam, aku bertemu dengan Gunawan di sebuah cafe. Pertemuanku saat itu bukan pertemuan yang tidak di sengaja, melainkan sudah di atur. Karena saat pulang kuliah aku sudah mengiyakan ajakan Gunawakan untuk makan malam hari itu. Malam itu merupakan pertama kalinya aku dan gunawan makan bersama di malam hari di sebuah cafe yang cukup mewah. Tidak ada rasa canggung atau kecurigaan sedikitpun tentang ajakan makan malam bersamanya malam itu, yang aku pikirkan hanya menikmati setiap moment yang terjadi padaku, itulah komitment hidupku untuk saat itu.
__ADS_1
Hubunganku dengan Gunawan bukanlah perkara yang rumit, hanya saja keadaan itu berubah menjadi rumit ketika Gunawakan membuat aku cukup terkejut dengan penggakuannya. Aku tidak ingin membuang banyak waktu untuk memberikan dia jawaban atas pengakuan cintanya terhadapku. Di saat dia menagatakan cinta, disaat itu juga aku mengatakan tidak dan malam itu rasanya ingin langsung pergi dari hadapannya. Tapi ketika aku berpikir masalah akan menjadi panjang jika aku langsung pergi dari hadapannya. Ku coba menenangkan diri malam itu, ku tarik napasku perlahan, setelah aku tenang aku mulai berbicara dengannya. Gunawan tidak terlihat seperti biasanya saat aku menolak cintanya. Aku cukup marah padanya, dia mengatakan cinta padaku, sementara aku tahu dia masih memiliki kekasih. Aku tidak mau tahu alsan yang dia berikan padaku, dia memliki perasaan terhadapku karena jarak dia dengan pacarnya berada di kota yang berbeda, sehingga Gunawan memiliki perasaan terhadapku karena kebiasaannya denganku yang sering bersama. Tetap tidak bisa aku terima, apapun alasannya tidak akan pernah aku benarkan dan aku juga tidak akan menyakiti perasaan wanita lain. Bagaimanapun aku juga hanya menganggap Gunawan tidak lebih dari kata seorang teman. Tidak ada sedikitpun perasaanku untuk Gunawan,sekali teman tetap akan menjadi teman dan tidak akan pernah menjadi lebih.
Gunawanpun sadar akan kesalahan yang dia lakukan, mengatakan cinta paaku sama saja dia sudah berhianat kepada pacarnya, walaupun aku tidak menerianya. Berniat saja itu sudah menghianati pasangan, apalagi sampai berharap untuk memilikinya.
"Gunawan aku harap kamu bisa merenungkan kesalahanmu. Aku anggap apa yang kamu katakan malam ini kepadaku, aku anggap tidak pernah aku dengar sama sekali. Aku tidak akn membenci kamu, asalkan kamu jangan samapai mengulangnya lagi baik itu kepadaku maupun kepada perempuan lain. Ingat kamu mengatakan cinta padaku atau kepada perempuan lain kamu sudah memiliki pacar jauh di bandungan sana. Apalagi kalian berdua sudah pcaran cukup lama."
"Aku tahu aku sudah memiliki pacar, aku sadari itu. Tapi selama aku mengenal dirimu. Aku merasa menemukan arkter perempuan yang sangat menarik menurutku. Mungkin banyak orang yang mengatakan dirimu itu perempuan yang cuek, tapi menerutku kamu orangnya sangat asik. Aku minta maaf jika aku malam ini sudah lancang mengatakn cinta padamu. Tapi setidaknya aku merasa tenang setelah mengatakan apa yang aku simpan selama dua bulan terakhir ini."
"Mana mungkin aku bisa membenci kamu. Aku terima keputusan yang kamu berikan padaku, aku tetap ingin berteman dengamu Clara.Terimaksih karena kamu tetap menganggapku teman."
kejadian malam itu membuat aku tidak takut untuk di benci oleh seseorang yang sudah aku anggap teman baik. Aku lebih baik di benci karena menolaknya, dari pada aku harus menerima lelaki yang aku sendiri tidak memiliki persaan sedikitpun padanya, apalagi aku haru menyakiti hati perempuan lain, lebih baik aku sendiri tanpa kekasih di sampingku.
__ADS_1
Ku raa aku membutuhkan jarak bersikap kepada teman lelakiku, yang aku takutkan, bagaimanapun aku memandang mereka hanya sebatas teman, tapi aku juga tida bisa melarang mereka jika menyukai diriku. Aku tahu setiap orang yeng memliki persaan, tidak bisa kita membencinya, bagaimanapun persaan susah untuk di kendalikan.
Berharap hari esok aku maupun Gunawan benar-benar bisa bersikap seperti biasanya. Memilih untuk tetap diam dan tidak menceritakan kepada siapapu tentang kejadian malam itu adalah pilihan terbaiku. Aku tidak ingin Gunawan merasa malu jika orang lain mengetahui apa yang sudah terjadi.
Sesampai di kos, ku lempar ponselku tepat diatas tempat tidur, akupun segera mengantikan pakian sekaligus membersikan wajah. Malam itu aku hanya tidur sendirian di kos, karena kakak sepupuku harus mengerjakan tugas kelompoknya yang akan dia presentasikan besok di kampusnya, sehinga fia harus menginap di tempat temannya.
Mataku belum bisa terpejam, karena malam itu malam pertama aku tidur di kos sendirian, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Menonton tv pun aku tidak sedang mood, tiba-tiba ponselku berbunyi.
Aku kebinggungan tempat meletakkan ponselku, saat ku menemukannya tiba-tiba panggilan masuk itu berakhir.
Mengecek ponsel, teryata panggilan masuk tersebut dari Adi. Dia menelponku lagi, akupun segerah mengangkatnya.
__ADS_1
Pembicaran malam itu bersama Adi membuat aku binggung. Aku awalnya cukup penasaran pada dirinya, akan tetapi aku berubah tidak ingin tahu siapa dirinya, tiba-tiba lagi aku penasaran, dan itu terus terjadi semenjak Adi menghubungiku. Jelas-jelas di kelas ku itu tidak ada lelaki yang termasuk kedalam karakteriaku. Tapi entah kenapa aku merasa Adi itu salah satu dari semua teman lelakiku hanya dia yang belum aku lihat. Entah kenapa akumerasa yakin sekali bahwa aku sebenarnya benar-benar belum pernah melihatnha. Hari itupun, walaupun aku sudah memperhatikan baik-baik lelaki yanga ada di kelas, kenapa aku merasa lelaki yang aku perhatikan tidak ada dia. Adi benar- benar lelaki misterius menurutku, atau aku saja yang terlalu berpikir terlalu jauh.