
Segelap-gelapnya malam, dimanapun cahaya tetap terlihat. Akan tetapi berbeda jika keadaan listrik padam, Tak ada cahaya sedikitpun yang masuk di ruang kamar tempat aku berada. Sesak, itu yang aku rasakan. Ku bukakan pintu kamar, lalu aku duduk merenungkan diri. Entah kenapa, setiap ku renungkan diri, ku menemukan diriku merasa lebih baik.
Aku berharap, seseorang menemukanku dalam kegelapan.
Tak lama kemudian, cahaya mulai terlihat. Semakin aku perhatikan, semakin terlihat jelas cahaya itu mendekatiku. Aku sangat bahagia, karena ada seseorang masuk dan menemukan aku di ruang yang gelap dengan membawa secercah cahaya. Keadaan yang aku rasakan malam itu benar-benar merasakan seperti lagi di dalam mimpi, yang tak mungkin cahaya itu bisa aku ngapai.
Cahaya yang dibawakannya itu menyoroti langkah kakinya kearahku, aku baru menyadari ternyata langkah kaki yang mengarah kearahku adalah Richy.
"Kenapa belum tidur?"
"Aku sudah mencobanya untuk memejamkan mataku, tapi selalu ada yang telintas di pikiranku."
"Lalu kenapa DD duduk di sudut ruangan ini?"
"Karena posisi sudut adalah posisi ternyaman untuk saat ini."
"Lalu kenapa membukakan pintu kamar, apakah DD akan tertidur dengan pintu kamar yang terbuka?. Bagaimana jika kamu ketiduran, terus orang akan masuk secara diam-diam."
__ADS_1
"Aku kepanasan kak, lagian aku belum bisa tidur. Kalaupun aku ketiduran, kan ada kakak dan teman-temannya tepat di sebelah kamar ini, kan kalian semua akan nonton bola nanti sampai subuh. Jadi, nggak mungkin ada orang berani nekat masuk kesini."
Beberapa menit kemudian, listrik belum juga menyala. Akupun mulai merasak mengantuk, akan tetapi aku tidak ingin membaringkan badanku, karena aku tidak suka dengan nyamuk yang menggerogoti kakiku. Aku mencoba tidur dalam posisi duduk dan menyederkan kepalaku kebelakang, tepat di dinding. Richy yang masih berada duduk tepat di sebelahku, dengan mudahnya dia menyodorkan bahunya, agar aku bisa meletakan kepalaku tepat di bahunya. Tanpa merasa sungkan sedikitpun, akupun tidak menolak. Aku berpikir semuanya akan baik-baik saja.
Sunyi dan hening, hanya suara napas yang bisa aku dengar saat itu. Seuntas kenangan tiba-tiba hadir dalam pikiranku. Keadaan saat itu membuat aku merasa begitu dekat, seolah-olah seseorang berbisik kepadaku dan berkata "Aku kembali."
Aku tidak tahu apakah yang aku lakukan itu wajar atau tidak. Aku tidak ingin berpikir terlalu jauh malam itu.
Ku pejamkan kedua mataku, namun aku merasa Richy sedang memandangku. Akan tetapi aku hanya bisa berpura-pura tertidur.
Tidak lama kemudian, setelah hampir satu jam lamanya aku harus berpura-pura tertidur, listrikpun menyala. Dengan begitu lembutnya, secara diam-diam Richy mencoba membaringkanku tepat disebelah Aci. Setelah Richy berhasil meletakkan tubuhku, perlahan-lahan dia meletakan bantal dengan begitu berhati-hati tepat di bawa kepalaku.
Ada satu hal yang membuat aku terkejut dan tidak pernah terpikirkan olehku, sehingga membuat aku langsung membukakan mataku setelah Richy baru saja mencium keningku. Kita berduapun tanpa sengaja saling bertatapan. Aku tidak tahu bagaimana harus bertindak, aku terdiam karena aku tidak ingin Aci yang berada tepat disebelahku terbangun.
Binggung dan resa, lalu ku menghela napas cukup panjang, Malam itu aku cukup kacau, aku merasa tidak bisa membereskan kekacauan yang telah terjadi. Antara Logika dan isi hatiku benar-benar bertolak belakang, Ketika aku berpikir, secara logika tindakan Richy tidak bisa di benarkan. Akan tetapi hatiku tidak bisa menyalahkan dia, bagaimana pun perasaanku terhadapnya sudah tak tertahan lagi.
Aku tidak bisa menyalahkan keadaan. Kesalahan yang kita buat, membuat diriku berpikir begitu keras malam itu. Aku tahu, aku tidak bisa melupakannya, tapi seharusnya aku berhenti untuk mencintainya.
__ADS_1
"Aku minta maaf, karena sudah lancang."
"Apa yang kakak pikirkan, sehingga berani melakukan hal seperti itu kepadaku?"
"Aku juga tidak tahu. Tapi ada satu hal yang aku tahu, jujur aku masih mencintai kamu."
"Apakah perasaan itu hadir saat kita bertemu malam ini?"
"Aku sudah mencintai kamu semenjak pertama aku mengatakan cinta kepada kamu, yaitu masa SMA. Perasaanku tidak pernah berubah."
"Jika tidak pernah berubah, lalu bagaimana kakak bisa memutuskan hubungan denganku dimasa lalu?"
"Saat itu aku benar-benar emosian, aku tidak bisa berpikir panjang panjang, sehingga membuat aku mengambil keputusan untuk mengakhri hubungan denganmu. Tapi bukan berarti aku ingin memutuskan hubungan selamanya. Dari dulu sebenarnya aku ingin meminta kamu kembali kepadaku, tapi kamu sendiri saat itu sudah memiliki pacar, padahal kita belum ada satu bulan lamanya putus."
"Lalu kenapa kakak lama datang kepadaku saat itu. Apakah kakak tahu apa yang aku alami selama itu?, aku tidak perlu menceritkan hal apa saja yang telah terjadi padaku saat kakak mengatakan putus dulunya kepadaku. Awalnya aku berpikir, kakak akan menghubungi aku dua atau tiga hari setelah memilih untuk mengakhiri hubungan dengaku. Tapi dua minggu lamanya kakak tidak pernah menghubungiku setelah kita putus. Aku benar-benar menunggu kabar dari kakak saat itu, tapi aku merasa penantianku sia-sia. Sehingga membuat aku memberanikan diri mengambil keputusan untuk menerima lelaki lain ketika itu. Apakah kakak tahu, saat aku menerima cinta lelaki lain untuk menjadi pacarku saat itu, aku merasa seperti wanita jahat yang mencoba melampiaskan rasa sakit hatiku kepada lelaki lain yang tidak melakukan kesalah sama sekali terhadapku."
Rasa sakit yang dulunya aku rasakan, aku harus menginggat kembali. Mungkin banyak orang berpikir, masa lalu kenapa harus di tangis jika sudah lama terlewati. Awal saat Richy memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengaku, aku menangis karena meras kecewa. Akan tetapi, malam itu aku menangis bukan karena kekecewaan, melainkan aku menyadari diriku bahwa tak sepenuhnya itu kesalahn Richy. Bagaimanapun aku sendiri belum bisa sepenuhnya mampu memahami orang lain.
__ADS_1