My Mistake Wedding

My Mistake Wedding
Hari H


__ADS_3

Rasa yang indah menikah denganmu


Bahagia yang tak terukur


Bagaimana aku harus menyukurinya kepadaMu


Sehari menjadi raja dan ratu


Berjalan menuju singgahsana


- Noura Zhafira -


﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉


Hari yang ditunggu pun tiba. Hari dimana pesta resepsi pernikahan diselenggarakan. Semua orang sibuk mempersiapkan segala macam hal.


Pengantin, orang tua dan mertua pengantin didandani langsung di gedung pernikahan. Noura memakai makeup dengan tema peach natural. Sangat cocok dengan muka Noura yang imut.


Pada akhirnya mereka memakai warna yang disarankan pihak WO, yaitu warna silver. Warna yang kalem tetapi elegan dan menawan.


Noura memakai gaun dengan rok yang mengembang, hijab yang syar'i menutupi dada dan memakai sepatu hak tinggi. Sedangkan Noah memakai setelan jas formal, dengan bunga mawar putih di saku jas sebagai hiasan dan sepatu pantofel resmi.


Prosesi pesta resepsi akan segera dimulai. Noura dan Noah berjalan bak raja dan ratu. Berpegang tangan, jalan dengan ketukan yang diiringi dengan musik merdu. Semua orang berdiri untuk memberikan tepuk tangan.


Acara berlangsung selama berjam-jam. Tamu yang datang sesuai dengan perkiraan. Sapa, salam dan foto menjadi kegiatan yang harus dilakukan. Semua orang berjejer untuk bersalaman dan memberikan selamat kepada mempelai.


"Haa, aku tak sanggup berdiri lagi." Kata Noura sambil membaringkan badannya di kasur.


"Saya bantu melepaskan pakaiannya Bu." Kata seseorang dari tim makeup.


Noura langsung bangkit dari kasur dan menggangguk. Rasa pegal dan nyeri mendominasi di tubuhnya. Noura masih bersyukur karena masih ada yang membantu melepaskan pakaiannya.


Sekarang semua orang sedang berberes-beres. Keluarga Noura dan Noah tampak sedang makan dan berbincang-bincang. Tapi Noura dan Noah tidak ada disana. Sepertinya mereka sedang istirahat karena lelah.


Setelah sejam beristirahat, Noah mengajak Noura pulang ke rumah. Mereka juga berpamitan kepada orang tua dan mertua. Karena sesuatu mereka harus berpisah dahulu.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Noura jalan dengan tertatih-tatih. Noura mencoba berjalan ke arah tangga. Noah tahu bahwa Noura sedang menuju ke kamar.


Dengan sigap, Noah menggendong istrinya. Ia mengangkat Noura dan berjalan melewati tangga menuju ke kamar. Noura yang diangkat dan di gendong hanya bisa menahan senyum. Sebenarnya Ia sedang malu juga, tapi rasa capek mengalahkan semua nya.


Noah menurunkan Noura dipinggir ranjang. Seperti ritual tidak mereja lakukan malam ini. Noura kelihatan sangat letih. Lalu Noah duduk di samping Noura, Ia menaikan kaki Noura di atas pangkuannya. Kemudian Noah memijat kaki Noura.


"4 jam berdiri dengan sepatu hak tinggi tanpa jeda istirahat, pasti kamu sangat lelah." Kata Noah sambil memijat kaki Noura.


"Memangnya kamu tidak lelah juga?" Tanya Noura.


"Iya aku lelah juga, siapa yang tidak lelah setelah membuat acara seperti itu." Jawab Noah.


"Kalau begitu harusnya begini saja." Kata Noura sambil menarik tangan Noah. Noura menarik tangan Noah hingga Noah terbaring di sebelahnya.


Noura pun menggeser posisinya menghadap Noah. Ia tersenyum sambil menatap Noah. Lalu Noura mengusap dahi dan poni Noah. Hingga Ia terlelap, Noah masih bingung dengan sikap Noura. Tapi Noura tidur dengan menggenggam tangan Noah.


Keesokan harinya, Noura terbangun di atas sajadah. Ia hanya mengingat bahwa tadi sehabis sholat subuh berjamaah dengan Noah, Ia tertidur kembali.


Noura pun pergi ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan mencuci muka. Setelah itu Noura turun ke bawah. Ia melihat Noah sedang menyantap roti bakar dan minum teh hangat.


Noura berpikir bahwa Ia juga lapar. Ia berjalan ke arah Noah, untuk mengambil roti. Lalu Noura memanggang roti dan menyeduh lemontea bubuk.


"Aw." Kata Noura yang salah pegang panggangan. Noura terkejut mendengar perkataan Noah.


"Kita mau kemana? Kita akan pergi?" Tanya Noura bersemangat.


"Tangan kamu tidak apa-apa? Apa sakit? Ah ini merah, kamu tadi memegang panggangan yang panas." Ujar Noah.


"Noah, aku tidak apa-apa. Jadi kita mau pergi kemana? Jam berapa berangkatnya?" Tanya Noura kembali.


"Kita akan berlibur ke Bima. Pesawat kita siang ini jam 1, jadi masih ada waktu untuk bersiap-siap" Jawab Noah.


"Waw, baiklah aku akan bersiap-siap dari sekarang. Terimakasih muah." Kata Noura sambil mencium pipi Noah.


Noura sangat bersemangat, karena biasanya Noura hanya berada di rumah. Menghabiskan harinya hanya dengan kegiatan sebagai istri rumah tangga.

__ADS_1


Melihat Noura bersemangat, Noah tersenyum. Noah sadar jika akhir-akhir ini Ia sering marah kepada Noura. Ia juga sadar kalau Noura sering bosan karena terus-terusan di rumah. Tidak ada salahnya memberi hadiah sedikit.


Perjalanan pun dimulai. Sepanjang perjalanan dari rumah menuju bandara, Noura selalu tersenyum melihat keluar jendela.


Sesampainya di bandara, mereka segera melakukan check-in. Setelah itu mereka berjalan menuju ruang tunggu. Sebenarnya Noura sangat senang, tetapi Ia berusaha menutupinya. Meskipun begitu, Noah tetap tahu bahwa istrinya sangat senang.


Di pesawat, mereka dapat tempat duduk di nomor 14 A dan 14 B. Sesuai kertas boarding pass, Noah duduk di 14A dan Noura di 14 B.


Sekarang pesawat telah take off. Noah duduk di dekat jendela, Noura di tengah dan yang di samping Noura ada bapak-bapak.


Sebenarnya Noah tidak tenang, tapi kalau mau tukar posisi dengan Noura juga masih susah. Semoga saja tidak ada hal aneh yang terjadi.


Noah memejamkan matanya sejenak. Ketika Noah membuka matanya, Ia terkejut. Kepala Noura telah bersandar di bahu bapak-bapak itu. Entah sejak kapan, tapi mereka sama-sama tidur dan tidak menyadari.


Akhirnya Noah menarik tangan Noura. Kepala Noura juga ikut terangkat. Lalu Noah menyandarkan kepala Noura di bahunya. Dan Ia menahan kepala Noura dengan tangannya, Ia takut kepala Noura akan berpindah lagi.


"Noura bangun, pesawatnya telah mendarat." Kata Noah membangunkan Noura.


"Eh iya, haa aku tertidur di bahumu Noah, apa aku ada iler? Maafkan aku Noah." Kata Noura panik.


"Tidak apa-apa. Lain kali, biar aku saja yang duduk di tengah." Kata Noah.


Noura bahkan juga tidak sadar bahwa Ia terlebih dulu tertisur di bahu bapak-bapak itu. Rasanya Noah ingin marah, tapi entah mengapa Noah tidak tega.


Semua orang sibuk membuka bagasi. Tapi Noah tidak mau tergesah-gesah. Jadi Ia dan Noura masih santai di tempat duduk mereka. Ketika orang sudah mulai sepi karena sudah banyak yang turun.


Barulah Noah dan Noura menurunkan bagasi di cabin atas. Hanya sedikit bawaan mereka di cabin. Sisanya ada di bagasi bawah.


"Kita naik apa ke hotel Noah?" Tanya Noura.


"Aku sudah memesan taksi, Ia masih dalam perjalanan, tunggulah sebentar." Kata Noura.


Noura pun duduk di samping Noah. Sudah lewat 10 menit tapi taksi yang dipesan Noah belum juga sampai. Hingga Noura lelah, Ia menyandarkan kepalanya di bahu Noah lagi.


"Noura aku pegal karena di pesawat harus menahan kepalamu. Jangan bersandar lagi kepadaku." Kata Noah.

__ADS_1


"Baiklah." Jawab Noura.


Noura memindahkan kepalanya ke sandaran bangku. Tidak lama akhirnya taksi yang dipesan Noah sampai. Lalu mereka masuk ke dalam taksi dan pergi menuju hotel.


__ADS_2