My Mistake Wedding

My Mistake Wedding
Debat


__ADS_3

Sebuah Pernikahan..


Bukan hanya tentang cinta


Tapi juga tentang ibadah bersama


Sebuah Pernikahan..


Bukan hanya tentang kata sah dan halal


Tapi juga tentang rasa menerima pasangan hingga tidak ada yang mengganjal


♥Noura Zhafira♥


﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉


Pagi yang cerah mendukung suasana hati Noura. Persiapan pesta resepsi pernikahan mereka akan dimulai hari ini. Mereka akan mengujungi beberapa tempat seharian.


Kringg..


"Halo, kamu sudah siap kan? Kita harus segera berangkat, aku tidak mau buang-buang waktu." Kata Noah di dalam telepon.


"Iya aku sudah siap." Balas Noura.


"Baiklah, aku jemput kamu di rumah, aku akan tiba 15 menit lagi." Ujar Noah sambil menutup teleponnya.


Hari ini mereka berencana untuk mencari gedung pernikahan. Tempat seperti apa yang cocok juga belum tahu. Seperti apa konsep pestanya. Belum sama sekali terbayangkan oleh Noura.


<10 menit kemudian>


Tinttt....


Bunyi klakson mobil.


Mendengar bunyi klakson mobil di depan rumah, membuat Noura sadar bahwa Noah telah sampai. Noura langsung keluar dan mengunci pintu.

__ADS_1


"Katanya 15 menit, bukankah ini belum sampai 15 menit." Kata Noura saat masuk ke mobil.


"Iya, lalu lintas sedang lancar, jadi aku bisa sampai lebih cepat." Jawab Noah sambil memutar stir mobil.


Di mobil mereka berdiskusi mengenai jumlah tamu yang akan diundang. Noah berencana mengundang 700 orang, lalu dikali 2 menjadi 1400 orang karena biasanya orang akan datang bersama pasangannya.


Noah hanya akan mengundang teman-teman terdekat saja. Ia juga berkata demikian kepada Noura. Karena sifat Noah yang tidak mau boros, apalagi ini hanya perayaan sederhana.


"Aku telah mendapatkan beberapa rekomendasi untuk gedung pernikahan, tolong kamu cari tahu alamat dari masing-masing gedungnya." Kata Noah.


"Baiklah, aku akan mencari tahu sekarang." Jawab Noura sambil mengambil ponsel milik Noah.


Setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tujuan pertama. Gedung pernikahan dengan konsep terbuka. Jadi tidak perlu menggunakan pendingin tambahan lagi.


"Aku tidak suka, aku mau yang ada pendinginannya, kalau seperti ini, kita bisa kepanasan." Kata Noah sambil kembali masuk ke dalam mobil.


Melihat respon Noah seperti tadi, Noura hanya bisa terdiam. Tapi Noura tidak putus asa, karena ini baru gedung pertama. Akhirnya Noura mengikuti Noah untuk masuk ke dalam mobil.


Roda mobil berhenti berputar. Noah memarkirkan mobilnya di pinggir gedung. Ini merupakan gedung kedua yang mereka datangi.


"Noah, aku sepertinya tidak nyaman dengan gedung ini, suasananya tidak menyenangkan." Kata Noura.


Di dalam gedung, Noah tampak melihat-lihat isi gedung, perlengkapan gedung dan kondisi gedung dari bagian dalam. Sementara Noura hanya berdiam diri mengikuti langkah Noah.


15 menit kemudian mereka pamit dan keluar gedung. Sampai di depan mobil, Noah kembali melihat ke arah gedung beberapa saat. Sedangkan Noura langsung masuk ke dalam mobil.


"Noah, aku benar-benar tidak suka gedung ini, suasananya dingin, aku tidak suka, gedung ini sangat tidak nyaman. Lagian untuk ukuran gedung segini, harga sewa 10 juta itu terlalu mahal, gedung ini pengap, kamar mandinya kotor."


"Jangan mengeluh seperti itu Noura, gedung itu sudah pas secara jarak, dekat dengan rumah orang tua ku dan tidak terlalu jauh dari rumah orang tuamu. Dan lihatlah ini adalah jalanan yang sering di lalui orang, jadi tamu kita akan mudah menemukan acara kita." Ujar Noah sambil menyetir.


"Bagaimana dengan harganya, itu kan terlalu mahal Noah." Balas Noura.


"Iya memang benar, harganya lebih mahal sedikit daripada harga sewa gedung pada umumnya. Tapi tidak masalah bagiku, aku bahkan sudah mengirimkan uang muka kepada pemilik gedung." Kata Noah.


"Apa?! Noah, kamu tidak tanya pendapatku dulu? Kenapa kamu langsung setuju dengan gedung ini." Jawab Noura dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Kamu kan istriku dan aku suamimu, sudah pasti kamu akan menuruti keputusanku. Kamu harus mengerti keputusanku ini adalah pertimbangan yang rasional. Dan juga untuk permasalahan yang kamu bilang tadi, mereka akan segera perbaikinya. Kan kita masih ada waktu 10 hari lagi." Jawab Noah dengan tegas.


Noura benar-benar dibuat tidak berdaya oleh Noah. Ia mengambil keputusan tanpa berunding terlebih dahulu dengan istrinya. Hal ini membuat Noura bersedih.


Setelah gedung, mereka akan pergi menemui WO (Wedding Organizer). Disana mereka akan menetapkan warna untuk dekorasi dan baju pengantin, konsep pesta, undangan dan sovenir.


"Ungu seperti ini bagus Noah, tampak anggun dan elegan." Ujar Noura sambil memperlihatkan contoh konsep dekorasi dan baju pengantin.


"Ungu, tidak Noura. Warna ini seperti cengderung ke wanita. Aku tidak mau memakai konsep warna ungu." Balas Noah.


"Bagaimana kalau merah. Merah ini warna yang sangat berani, aku sangat suka warna merah." Sambung Noah lagi.


"Aku bukan tipe pemberani Noah, aku tidak mau memakai warna merah." Balas Noura lagi.


"Lalu kamu mau yang seperti apa? Padahal aku sudah memikirkan warna yang paling cocok untuk keduanya." Kata Noah.


"Noah, tadi kamu kan sudah memilih gedung, sekarang biarkan aku yang memilih konsep dan warna nya seperti apa. Aku juga ingin pernikahan impianku menjadi bagian dari acara ini." Ujar Noura.


"Tidak tidak tidak, aku tidak yakin dengan keputusanmu Noura. Kamu selalu berpikir dengan emosional dan tidak rasional." Balas Noah.


"Hem. Maaf Bapak dan Ibu. Kalau boleh saya menyarankan warna ini sepertinya akan cocok dengan tema yang Bapak dan Ibu usungkan kepada kami." Kata pegawai WO.


Dan mereka pun setuju dengan saran dari pegawai WO. Menurut mereka, warna yang disarankan oleh pegawai WO itu memang warna yang cocok.


Namun, perdebatan mereka belum berhenti sampai disitu. Mereka lanjut untuk menentukan undangan dan sovenir yang pas. Terjadi lagi, antara Noah dan Noura. Lagi-lagi mereka tidak bisa menentukan jalan tengah diantara mereka.


Penyelesaian dari semua masalah mereka adalah saran dari pegawai WO. Jika tidak disarankan, mereka akan terus berdebat. Mereka terlihat seperti pasangan yang tidak mengenal satu sama lain.


Tetapi dari pihak WO pun memaklumi karena mereka baru beberapa minggu menikah. Sehingga belum begitu mengenal pasangannya.


Di perjalanan pulang, Noura dan Noah sama-sama berdiam. Suasana di dalam mobil pun terasa hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Karena lelah seharian melakukan persiapan.


Suasana yang hening itu pun terus terjadi hingga mereka sampai di rumah. Badan terlalu lelah untuk beraktivitas lebih. Tenaga telah terkuras habis oleh perbedatan mereka.


"Maaf Noah, aku terlalu lelah untuk memasak, jika kamu mau makan, ada makanan instan di laci makanan atau memesan food delivery. Aku duluan ke kamar." Kata Noura dengan nada yang sayuh.

__ADS_1


Noah menyadari bahwa Noura tidak hanya lelah secara fisik tetapi juga lelah secara mental. Noah juga mengerti beberapa dari yang dipersiapkan tadi, Noura hanya mengalah dan menurut. Bukan karena memang suka dengan konsepnya.


Setelah membersihkan badan dan mengganti pakaian, Noah memesan makanan melalui aplikasi. Ia menatap sendu ke arah istrinya yang sedang tidur. Dengan spontan, Noah mendekati Noura. Lalu Noah mengecup kening istrinya.


__ADS_2