
My Mistake Wedding
Episode 31
Aku akan belajar mulai hari ini
Aku akan menjadi wanita yang kuat
Bukan yang lemah dan bisa kau tindas
Bukan wanita yang hanya menunggu dibuang oleh suaminya
Aku tidak akan mungkin kalah dari kondisi ini
-Noura Zhafira-
﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉
.
.
Sebuah mobil taksi berhenti di depan rumah Noah. Turunlah Noura dari taksi itu dan membayar ongkos taksinya. Noura yang terdiam sejenak di depan rumah Noah sebelum masuk ke dalam rumah.
Noura menghela nafas panjang dan melihat ke arah atap rumah Noah. Ia sedang berpikir apakah ini keputusan yang tepat. Saat ini Noura tidak tahu apakah keputusannya ini benar atau salah.
"Noura?"
"Hai Vis, mau berangkat kerja?" tanyaku kepada Avi Sena yang menyapaku.
"Iya, kamu darimana?" tanya kembali.
"Dari rumah orang tuaku. Kalau begitu aku masuk dulu ya Vis," kataku sambil melangkah masuk.
"Memangnya kamu harus kembali lagi kesini ya Noura?" tanya Avi Sena.
"Vis?" Noura yang tidak mengerti dengan pertanyaan Avi Sena dan ekspresinya.
"Memangnya kamu perlu kesini lagi? Kamu tahu kan kalau kamu kesini, hanya akan melukai hatimu," tanya Avi Sena.
__ADS_1
"Iya kamu benar. Saat ini aku seperti akan masuk ke dalam kebun kaktus raksasa. Aku sudah tahu ini akan sakit, tapi aku tidak punya pilihan lain," jawab Noura.
"Tidak punya pilihan lain? Tentu saja ada Noura. Kamu bisa berhenti dari kondisi ini," kata Avi Sena.
"Iya aku bisa saja berhenti, tapi pasti tidak akan semudah mengatakannya," balas Noura sambil menghadap ke arah Avi Sena.
"Dia sudah memilih yang lain Noura. Kamu sudah tidak ada alasan untuk menahan rasa sakit," ujar Avi Sena.
"Oh bagus. Kamu sudah pulang, bukannya menyapa suamimu malah menyapa laki-laki lain terlebih dahulu," kata Noah yang tiba-tiba saja muncul.
"Noah, kamu mau berangkat kerja?" tanya Noura.
"Aku dan Sarah sudah terlambat bekerja. Oia minta tolong ada sedikit piring kotor di dalam dan juga aku tidak ingin melihat rumah berantakan saat pulang dari kerja nanti," jawab Noah sambil membuka pintu mobilnya.
Noura hanya bisa tercengang dan tidak bisa berkata-kata. Baru saja ia sampai, tapi Noah langsung memberikan perintah kepadanya.
Tidak lama setelah itu, Noah menjalankan mobilnya dan berangkat meninggalkan Noura dan Avi Sena yang masih di depan rumah.
"Bukankan kah itu kelewatan? Dia menyapa kamu hanya untuk memberitahukan piring kotor," protes Avi Sena.
"Ah sudahlah Vis. Aku masuk dulu ya," balas Noura yang berpamitan pada Avi Sena.
Sementara itu, Noura yang baru saja masuk ke dalam rumah, sedang kaget dengan keadaan rumahnya. Baru saja ditinggal selama tiga hari, keadaan rumah bukan lagi seperti rumah.
Ada banyak sekali debu di rumah itu, perabotan yang salah letak, piring kotor dimana-mana bahkan bekas memasak juga tidak bisa dibersihkan.
Noura menghela nafas dan mulai membereskan rumah yang sangat berantakan itu. Ia mulai dari menaruh barangnya di kamar kemudian ia membereskan yang lainnya.
Noura mengambil sapu dan pelnya tak lupa ia juga memakai masker dan sarung tangan karet, atribut Noura berperang melawan kekotoran pun telah siap.
Empat jam kemudian, berakhir sudah pekerjaan Noura dengan rumah ini. Semua peralatan yang kotor kini telah bersih. Yang tadinya debu-debu dimana-mana, kini telah menghilang. Semua lantai kini menjadi mengkilap.
Noura pun merebahkan tubuhnya di sofa. Karena kelelahan, ia meletakkan tangannya diatas kepala. Lalu Noura melihat kearah jam dinding. Jarum jam itu menunjukkan angka 11 yang artinya sebentar lagi jam makan siang.
Noura pun memaksakan tubuhnya untuk bangkit dari sofa dan pergi ke dapur. Ia membuka lemari es untuk melihat ada bahan makanan apa saja di rumah. Dan ternyata kosong, tidak ada bahan apa-apa di rumah.
"Jadi selama aku pergi mereka berdua selalu pesan makan?"
"Memangnya Sarah tidak bisa memasak? Atau mungkin karena Sarah tipe ibu hamil yang malas mengerjakan sesuatu. Kan terkadang ibu hamil begitu," kata Noura sendiri.
__ADS_1
Akhirnya Noura pergi mengambil hijab dan dompetnya. Ia berencana untuk membeli beberapa bahan makanan di tukang sayur yang ada didekat kompleknya.
Di hari yang sedikit panas, Noura berjalan keluar kompleknya. Ia sudah melihat tukang sayurnya dan beberapa orang yang berbelanja.
"Wah ada Bu Noura," sapa seorang Ibu.
"Iya Bu, sedang beli sayur apa Bu?" tanya Noura basa-basi.
Noura merasa sedikit canggung karena Ibu-ibu yang berbelanja ini tidak selesai-selesai belanjanya. Yang Noura takutkan adalah Ibu-ibu ini mulai membahas tentang kehidupan rumah tangganya.
"Ibu Noura mau belanja apa?" tanya tukang sayur.
"Saya mau beli sepaket sayur sop Bu, ayamnya sekilo dan telurnya 10 butir," jawa Noura.
"Sebentar ya Bu," balas tukang sayur itu.
Disaat tukang sayur yang tengah sibuk mengambilkan pesanan dari Noura. Ibu-ibu yang lain juga sibuk mendekati Noura.
"Ibu Noura yang sabar ya, pasti tidak enak ya di duain."
"Iya Bu, saya mah tidak tega dengan Ibu Noura."
"Kalau saya pasti sudah pinta pisah Bu."
"Iya Bu, yang kuat ya, yang sabar ya."
Ibu-ibu yanh sedang berbelanja itu memberi dukungan kepada Noura. Memang memberi dukungan, tapi Noura merasa tidak nyaman jika harus membahas kehidupan rumah tangganya di depan orang banyak.
***
Assalammualaikum. Salam sejahtera untuk kita semua.
Sebelumnya aku ingin berterimakasih untuk kamu yang sudah mampir dan meluangkan waktunya untuk membaca My Mistake Wedding.
Tetap dukung author ya dengan like, love, komen dan vote. Karena dengan begitu nyata feedback dari pembaca akan menambah semangat author untuk terus mengembangkan cerita My Mistake Wedding.
Dan juga silahkan mampir ke cerita pertama author judulnya, Hujan Dalam Kereta.
Silahkan tinggalkan jejak disana ya. Terimakasih..
__ADS_1