
S2 E5
Ternyata rumah itu pernah disinari cahaya yang hangat
Kini rumah itu hanya diguyur air hujan yang dingin
Dan terkadang rumah itu terasa seperti terbakar
Panas dan menyakitkan
-Noura Zhafira-
.............................................
.
.
"Arsya, Mama sama Papa mau pergi ke pesta pernikahan, kamu mau ikut?"
"Tidak Ma, Arsya ada tugas sekolah yang harus diselesaikan," jawab Arsya.
"Baiklah kalau begitu, Mama mau bersiap dulu."
Arsya hanya menganggukan kepalanya, lalu Sarah keluar dari kamar Arsya. Saat Mamanya keluar dari kamar, Arsya langsung berpindah duduk ke pinggir jendela kamarnya.
__ADS_1
Arsya hanya menatap ke luar, melihat banyak orang yang lalu lalang didepan rumahnya. Daripada bersama dengan orangtuanya, Arsya lebih nyaman disaat dirinya sendirian.
"Lebih cepat bisa tidak!"
"Sabar dong, namanya juga perempuan, perlu dandan!"
"Lama sekali hanya untuk memperlihatkan kepada orang lain, cepat selesaikan 5 menit lagi kita berangkat."
Terdengar suara Noah yang meninggi hingga ke kamar Arsya. Padahal saat itu masih pagi hari, tapi rasanya sudah kacau.
Arsya mendekapkan tubuhnya, ia juga menutup telinganya agar suara Papanya tidak terlalu terdengar olehnya.
Terlihat dari jendela kamar Arsya, Noah yang berjalan dengan cepat menuju mobilnya. Arsya hanya mengintip melalui celah kecil, agar Noah tidak menyadarinya.
Beberapa menit kemudian, Sarah keluar dari dalam rumahnya dan mereka pun berangkat.
Arsya sedang membayangkan, jika benar bahwa Noura adalah istri pertama Papanya. Apakah Noura juga pernah tinggal di rumah ini?
Langkah kaki Arsya terhenti di sebuah pintu. Yang Arsya tahu pintu ini adalah gudang, karena warna catnya diberi sama dengan warna dinding.
Sarah juga selalu mengatakan untuk tidak bermain di gudang. Jadi selama ini Arsya tidak pernah mendekati area gudang. Karena sering mendengar cerita menyeramkan tentang gudang dari teman-teman sekolahnya.
Tapi kali ini Arsya tidak memiliki pikiran tentang apapun. Ia hanya merasa bosan, jadi tanpa pikir panjang, Arsya membuka pintu gudang itu.
"Pintunya tidak terkunci?" tanya Arsya.
__ADS_1
Tidak ada yang aneh dari gudang. Selayaknya gudang pada umumnya. Gudang rumah ini penuh dengan barang dan debu.
"Daripada gudang, ini lebih terlihat seperti kamar tidur yang besar."
Arsya berniat untuk segera menutup gudang itu karena udaranya yang pengap dan penih debu. Namun pandangannya teralihkan ketika melihat sebuah cahaya matahari masuk ke dalam dan menyinari satu rak di sudut.
Akhirnya Arsya kembali masuk ke gudang, berjalan menuju rak yang disinari cahaya matahari itu. Arsya hanya melihat buku-buku lama yang tersusun didalam rak.
Arsya menarik beberapa buku karena tertarik dengan corak samping bukunya. Saat Arsya menarik buku itu, tiba-tiba terjatuh sebuah foto ke lantai.
Spontan Arsya langsung mengambil foto itu. Arsya sedikit panik karena mengira foto itu adalah foto yang penting.
Saat Arsya mengangkat foto itu, ia terkejut karena ternyat foto itu asalah foto pernikahan Noah dengan Noura.
"Apa ini benar Bu Noura?"
"Apa ini foto pernikahan Papa yang pertama?"
Dengan cepat Arsya mengembalikan foto itu ke tempatnya semula. Setelah itu ia menutup pintu gudang itu dan berjalan ke ruangan lain.
Arsya dengan pandangan kosong, tanpa sadar berjalan ke halaman rumahnya. Lalu Arsya diam terduduk dipinggir garasi mobil Papanya yang tak ada pagar.
Arsya duduk dengan posisi kaki yang ditekuk. Ia kembali mendekapkan kedua kakinya. Menyandarkan kepalanya ke lututnya.
"Lho Arsya ngapain duduk disini?"
__ADS_1
Terdengar suara laki-laki yang berbicarapadanya, Arsya pun mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orangnya.