
S2 E9
Kesempatan yang diberikan untuk kedua kalinya, mungkin tidak akan sama dengan sebelumnya.
Tidak semua orang berani mengambil kesempatan kedua.
Tapi mungkin beberapa orang bisa belajar dalam mengatasi disaat kesempatan kedua.
-Noura Zhafira-
........................................
.
.
“Arsya! Bagaimana kamu bisa kenal Arsya?” tanya Noura.
“Noura, sebenarnya Arsya adalah tetanggaku,” jawab Avi Sena.
“Oh iya berarti..” perkataan Noura yang terputus karena ia menyadari sesuatu.
Hah..
Noura yang terkejut secara spontan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Tetangga bagian mana?” tanya Noura memastikan.
“Persis samping rumah,” jawab Avi Sena.
Mendengar jawaban dari Avi Sena, membuat terdiam. Mata berkaca-kaca, tanpa sadar kaki Noura melangkah menuju Arsya.
Noura memeluk Arsya dengan erat. Arsya pun ikut terbawa suasana. Air mata mengalir di pipi Arsya.
Setelah beberapa saat, Noura melepas pelukannya. Noura mendudukan Arsya di kursi sofa yang ada di ruangannya.
Noura pergi berjalan ke arah meja kerjanya. Ternyata Noura mengambil sesuatu yang ada di dalam tasnya.
Sebuah gajah kecil yang lucu keluar dari dalam tas Noura. Lalu Noura kembali berjalan menuju Arsya.
“Ini adalah hadiah dari Ibu untuk kelahiran kamu. Tadinya Ibu ingin meletakkannya di kamar kamu. Tapi maaf ibu tidak ada keberanian untuk itu, jadi ibu mengambilnya kembali. Setiap hari gajah ini selalu ada di dalam tas Ibu, tanpa alasan khusus, hanya saja Ibu merasa dia paling nyaman berada di dalam tas.”
“Benarkah aku boleh?” tanya Arsya.
“Tentu saja, ini memang milikmu dari awal,” jawab Noura.
Arsya begitu senang saat mendapatkan hadiah kecil dari Noura. Karena Arsya jarang mendapatkan hadiah dari kedua orang tuanya.
“Oh iya, sekarang di taman bunga ada bagian play ground nya, ayo kita kesana,” ajak Noura.
Arsya menganggukkan kepalanya dan langsung bangkit dari duduknya dengan begitu semangat.
__ADS_1
Arsya keluar dari ruangan Noura dengan begitu semangat. Kemudian disusul oleh Avi Sena dan terakhir Noura yang mengunci ruangannya.
Arsya menunggu di depan dengan senyuman yang sumeringah. Lalu disaat Noura dan Avi Sena tiba, tangan Arsya langsung menggandeng tangan keduanya.
Avi Sena dan Noura sedikit terkejut dengan sikap Arsya. Tapi mereka berdua tidak melepaskan gandengan tangan Arsya, malah memberikan senyuman kepada Arsya.
Sesampainya di area bermain anak di taman, Arsya begitu senang. Arsya dapat melakukan semua yang belum pernah ia lakukan bersama kedua orang tuanya.
Arsya, Avi Sena dan Noura bermain wahana yang santai hingga yang ekstrim. Namun tidak terlihat wajah yang ketakutan dari Arsya, ia justru terlihat senang.
Terakhir Noura mengajak mereka menaiki kincir raksasa. Dari atas, mereka semua bisa melihat betapa luas dan indahnya taman bunga yang dimiliki Noura.
Setelah turun, Arsya meminta izin untuk bermain sekali lagi. Namun Avi Sena dan Noura tidak menemaninya karena kelelahan.
Arsya merasa tidak keberatan jika ia harus naik sendiri wahana yang ia inginkan. Tampak ceria berseri yang bersinar dari wajahnya Arsya.
Saat Arsya sedang asik menikmati wahana sendirian, Avi Sena duduk di bangku taman bersama Noura. Mereka duduk sambil memerhatikan Arsya.
“Noura, aku boleh tanya sesuatu?” tanya Avi Sena.
“Iya tentu saja,” jawab Noura.
“7 tahun sudah, tapi mengapa kamu tidak menikah lagi?” tanya Avi Sena.
“Aku sudah pernah gagal sebelumnya, tidak mudah bagiku untuk memulai lembaran baru dalam pernikahan. Aku masih nyaman seperti ini. Aku juga tidak bisa membayangkan, bagaimana jika nanti aku menikah, suami ku tidak mengizinkan aku bekerja lagi, lalu aku harus apa?”
__ADS_1
“Aku belum ada pikiran untuk menikah lagi. Mungkin karena aku juga sedikit takut. Bagaimana jika aku tidak bisa memberikan keturunan, lalu suamiku kembali menikah, apa aku bisa menerima semua itu. Mungkin tidak.”