
S2 E7
Hidup indah jika kita bisa menerima kenyataan
Bahkan disaat kenyataan itu sama sekali tidak berpihak padamu
Tapi pertanyaannya adalah
Apakah kamu bisa menerima kenyataan itu dengan mudah?
Apakah kamu akan menjadi terlihat lemah jika kamu dengan mudah menerima kenyataan itu
Jawabannya entahlah
-Noura Zhafira-
...........................................
.
.
"Kamu dari mana?" tanya Noah pada Arsya.
"Dari rumah Om Avis," jawab Arsya singkat.
"Kamu jangan selalu kesana, Papa tidak suka," kata Noah dengan sinis.
__ADS_1
"Iya Pa," ucap Arsya sambil berjalan perlahan menuju kamarnya.
Di dalam kamarnya, Arsya terdiam sambil duduk dibelakang pintunya. Ia sedang memikirkan tentang fakta yang telah terjadi dalam kehidupan keluarganya.
Arsya menatap ke arah ponselnya yang ada di atas tempat tidurnya. Lalu Arsya berjalan untuk mengambil ponselnya. Ia hendak mengirimkan pesan kepada Avi Sena.
Om, akhir pekan ini apa Om ada waktu kosong? Jika ada, Om mau tidak menemani Arsya ke taman bunga Bu Noura? Tapi jangan bilang ke Papa.
Isi pesan Arsya kepada Avi Sena. Tidak lama kemudian Avi Sena membalas pesan Arsya.
Baiklah, kamu bisa tunggu Om jam 10 di pos satpam. Surat dari Pak RT sudah diberikan ke Papa?
Mendengar jawaban dari Avi Sena, membuat Arsya kembali tersenyum semangat. Dan juga ia tersadarkan bahwa ia belum memberikan surat yang dititipkan Avi Sena kepada Papanya.
Terimakasih Om. Suratnya akan Arsya berikan sekarang.
Terlihat Noah sedang duduk bersantai sambil menonton televisi. Arsya yang sedikit malu-malu datang menghampirinya untuk memberikan surat.
"Pa tadi ada titipan surat dari Pak RT," kata Arsya sambil memberikan surat itu kepada Noah.
Noah pun mengambilnya dan langsung membuka surat itu. Ternyata surat itu berisikan undangan perlombaan antara ayah dan anak yang dimaksudkan untuk memperingati hari ayah sedunia.
"Memangnya hari ayah sedunia itu kapan?" tanya Noah.
"Tidak tahu Pa, memangnya kenapa?" tanya Arsya kembali.
"Surat undangan dari Pak RT untuk mengikuti perlombaan ayah dan anak. Seperti orang kurang kerjaan saja," jawab Noah.
__ADS_1
"Memangnya Papa tidak mau ikut?" tanya Arsya kembali.
"Papa banyak kerjaan kantor, Papa tidak ada waktu untuk hal yang seperti ini," jawab Noah.
"Tapi Arsya ini ikut," ucap Arsya memelas.
"Papa yang tidak bisa, kamu seharusnya bisa mengerti keadaan Papa!" bentak Noah.
Mendengar sedikit bentakan dari Papa membuat Arsya sedikit sedih dan takut. Tapi mata Arsya seperti sedang menahan air mata.
Tanpa berkata-kata lagi, Arsya kembali ke kamarnya. Ia menangis kencang di dalam bantalnya. Padahal yang ia inginkan hanya waktu bersama Papanya.
Arsya membayangkan jika nantinya perlombaan itu diadakan, ia hanya bisa menontonnya dari pinggir lapangan. Atau bahkan ia tidak berani untuk keluar dari rumah.
Tapi Arsya juga membayangkan jika Papanya adalah seseorang yang berbeda. Papa yang mau ikut berlomba bersamanya. Papa yang mau memperjuangkan kemenangan kecil untuk anaknya.
Tapi ia kembali lagi kepada kenyataan bahwa Papanya bukanlah orang yang seperti itu. Arsya hanya bisa menangis.
"Kenapa Papaku berbeda?!"
"Kenapa Papaku tidak seperti Papa yang lain?!"
"Kenapa Papaku tidak sayang kepadaku!?"
Arsya yang menangis pelan, kini hanya bisa memukul bantal untuk mengeluarkan emosinya.
"Aku hanya ingin bahagia dengan kedua orang tuaku."
__ADS_1