My Mistake Wedding

My Mistake Wedding
S2 E28


__ADS_3

My Mistake Wedding S2 E28


Kehilangan seseorang sangat menyakitkan


Tapi seharusnya sebelum kehilangan


Kamu bisa menjaga seseorang itu


Agar tidak hilang begitu saja


Hingga kini kamu sadari bahwa


Yang telah hilang takkan pernah kembali


-Noura Zhafira-


....................................


.


.


"Iya jadi kabarnya, Noah baru mengetahui bahwa Arsya memang bukan anak kandungnya. Jadi Noah mengusir Arsya dan Sarah. Tapi tadi sore yang berlari keluar komplek itu hanya Arsya," jelas Avi Sena.


"Sekarang Sarah ada dimana?" tanya Noura.


"Aku tidak tahu. Rumah Noah sepi, lampunya padam seakan tak ada kehidupan," jawab Avi Sena.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Jika Arsya bersamaku, aku takut Sarah dan Noah akan menganggapku ikut campur urusan mereka," tanya Noura.


"Hmm. Vis, besok kamu temani Arsya di kantor, aku akan temui Noah," sambung Noura.


"Apa kamu yakin?" tanya Avi Sena meyakinkan.


"Aku rasa memang itu yang harus aku lakukan terlebih dahulu," jawab Noura.


"Baiklah kalau begitu, aku akan datang ke kantormu untuk menemani Arsya."


Lalu Avi Sena menutup teleponnya. Kini Noura sedang berpikir apakah yang akan ia katakan kepada Noah. Sebenarnya ia tidak mau berurusan lagi dengan kehidupan mereka, tapi karena Arsya datang kepadanya, mau tidak mau ia harus ikut berurusan juga.


Dengan keyakinan yang matang, Noura mencari kontak Noah. Dengan mengucapkan BasmAllah didalam hatinya, Noura menekan kontak Noah dan segera melakukan panggilan telepon.


Sementara itu, di kediamannya, tampak Noah yang sedang terduduk meringkuk bersandar di pinggiran ranjangnya. Dengan keadaan gelap dan pengap, ia menutup semua hordeng dan jendela, lampu di semua ruangan rumahnya.


Akhirnya Noah memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon dari Noura.


"Halo," kata Noah dengan suara sendu.


Noura terdiam sejenak, begitu mendengar suara sendu dari Noah. Ia merasa iba dan sedih mendengarnya. Namun Noura langsung sadar, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Noah, besok bisa kita bertemu? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan," tanya Noura.


Noah terdiam mendengar suara lembut Noura. Ia jadi teringat pada awal-awal saat ia masih menjadi suami Noura. Ia juga membayangkan, apa yang akan terjadi ia dan Noura masih bersama.


"Noah.. Halo.. Noah," panggil Noura dalam teleponnya.

__ADS_1


Noah menjadi tersadarkan. Ia langsung merespon panggilan dari Noura.


"Iya Noura, bisa besok kita bertemu," kata Noah.


"Baiklah, aku akan segera kirimkan waktu dan tempatnya," ucap Noura.


Noah hanya membalas perkataan Noura dengan sebuah gumam. Setelah itu, Noura menutup teleponnya. Saat Noura menutup teleponnya, Noah kembali meringkukkan tubuhnya.


Noah mendekapkan kepalanya dengan kedua kakinya. Dengan ruangan tanpa cahaya itu, tidak ada yang tahu bahwa ia telah meneteskan air mata.


Maafkan aku..


Maafkan aku..


Maafkan aku..


Itu lah perkataan yang Noah ucapkan bersamaan dengan mengalirnya air mata.


Entah itu sebuah air mata penyesalan atau air mata kesadaran. Noah telah kehilangan sebuah intan pertama yang cantik dan indah. Hanya demi sebongkah krikil yang ia temukan di jalanan.


Noah terus menangis sepanjang malam. Hingga larut, hingga ia tertidur. Tangisan yang membasahi tubuh dan kasurnya itu adalah bukti bahwa Noah memang bukan orang yang kuat.


Di waktu yang sama, Noura mendatangi kamar Arsya. Ia membuka sedikit pintu kamar Arsya. Ia melihat Arsya yang tertidur dengan wajah polosnya sebagai anak kecil.


Melihat Arsya, Noura menjadi tersentuh. Ia sadar bahwa ia juga membutuhkan buah hatinya sendiri, keluarganya sendiri. Saling memberi kasih dan cinta, memberi cerita suka dan duka.


Hanya ingin melihatnya sebentar, Noura segera menutup kembali pintu kamar Arsya. Ia kembali ke kamarnya dan bersiap untuk tidur. Sebelum tidur, Noura membuka galeri foto di ponselnya. Entah apa alasannya tapi ia cuman ingin melihat kembali foto pernikahannya dengan Noah.

__ADS_1


__ADS_2