
S2 E11
Kesempurnaan cinta bisa didapat
Jika cinta bisa saling menyatu
Membentuk satu kesatuan
Membentuk ikatan yang tidak akan putus
Tetapi masalahnya
Membentuk cinta mungkin tidak akan semudah itu
-Noura Zhafira-
.......................................
.
.
Tok tok..
“Assalammualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Arsya bergegas menuruni tangga untuk membukakan pintu.
“Eh Arsya, Papa ada?”
__ADS_1
“Ada Pak.”
“Iya bilang ke Papa untuk datang ke lapangan ya.”
“Baik Pak, Arsya bilang ke Papa.”
Setelah itu Pak RT pergi meninggalkan rumah Noah. Suasana perumahan pagi itu sangat berbeda.
Karena hampir setiap rumah keluar untuk mengikuti kegiatan perlombaan yang diadakan oleh RT setempat.
Arsya berlari menuju ruang kerja Noah. Tampak Arsya sangat mengharapkan Noah mau ikut perlombaan.
“Papa, Pak RT menyuruh Papa datang ke lapangan, ayo kita kesana Pa,” ajak Arsya.
Noah menatap Arsya sambil menutup laptopnya. Arsya mengulumkn bibirnya karena ia sedikit takut pada Noah.
“Kamu mau Papa kesana?” tanya Noah.
“Ya sudah kita ke lapangan,” ucap Noah.
Arsya tersenyum lebar dan bersemangat ketika mendengar jawaban Noah. Ia langsung ke kamar untuk berganti pakaian.
Namun tidak bertahan lama, 2 jam kemudian Noah dan Arsya pulang dengan kondisi yabg tidak baik. Suasana suram canggung.
Awalnya Noah dan Arsya mengikuti perlombaan yang diadakan. Tetapi semua berubah saat ada salah seorang bapak yang bercanda.
Bapak itu mengatakan bahwa Arsya bukan anak Noah. Karena Arsya tidak ada kemiripian sama sekali dengan Noah.
Awal-awal Noah memakluminya. Tapi candaan itu tidak ada habisnya. Akhirnya Noah berbohong mengatakan bahwa ia ada janji dengan atasannya.
Sejujurnya Noah tidak nyaman dengan candaan para tetangga yang selalu mengatakan bahwa Arsya bukan anaknya.
__ADS_1
Walau memang mau dilihat dari bentuk fisik manapun, Arsya tidak mirip dengan Noah maupun Sarah. Jadi wajar orang selalu mengira Arsya bukan anak mereka.
Arsya yang tadinya bersemangat, ikut menjadi suram juga. Sarah melihat sekilas keadaan raut wajah suami dan anaknya, tapidia masih sibuk dengan urusan sosial medianya.
Arsya kembali masuk ke kamarnya, ia berdiam diri di depan cermin. Arsya membayangkan wajah Noah lalu Sarah, memang kedua orang tuanya tidak mirip dengannya.
Arsya menggeleng-gelengkan kepalanya, agar bayangan kedua orang tuanya menghilang dari pikirannya.
Kemudian ia membayangkan wajah Noura. Tapi ia juga merasa Noura tidak memiliki kemiripan apapun dengan dirinya.
Arsya memandangi rambutnya. Ia memegang rambutnya lalu berpikir, mungkin kalau rambutku tidak ada, aku mirip dengan Papa atau Mama.
Tanpa pikir panjang lagi, Arsya pergi mengambil gunting yang ada di lacinya. Ia menggunting sampai pendek rambut hitam dan lebatnya itu.
Sreekk..
Arsya terkejut karena pintu kamarnya tiba-tiba terbuka
Ternyata itu Noah yang masuk. Noah juga sedikit terkejut melihat Arsya sedang memegang gunting.
“Sedang apa kamu?” tanya Noah.
“Gunting rambut Pa, lupa kemarin disuruh pak guru untuk merapikan rambut,” jawab Arsya berbohong.
“Sini rambutnya Papa yang buang,” kata Noah sambil merapikan rambut yang telah dipotong.
Arsya tidak melarang Papanya merapikan rambutnya yang telah berjatuhan di lantai. Setelah terkumpul semuanya, Noah duduk bertumpu lutut.
“Pergilah mandi setelah memotong rambut,” ucap Noah.
Arsya pun mengangguk perkataan Noah. Setelah itu Noah keluar dari kamar Arsya dengan membawa sebungkus rambut Arsya.
__ADS_1
Arsya juga langsung mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa rambut di tubuhnya.