My Mistake Wedding

My Mistake Wedding
S2 E24


__ADS_3

My Mistake Wedding S2 E24


Kebutaanmu saat cinta yang datang


Bahkan kamu tidak tahu bahwa cinta itu palsu


Saat cinta itu pecah menjadi kecewa


Kamu baru sadar bahwa ternyata kamu salah


-Noura Zhafira-


..................................


.


.


"Sarah. Mulai hari ini, kamu tidak usah pulang ke rumah ini lagi!" bentak Noah.


Sarah yang sedang memasang sepatu hak tingginya pun menjadi bingung. Noah yang tiba-tiba membentaknya, mengatakan tidak perlu kembali ke rumah mereka lagi.


"Kamu kenapa? Kalau kamu melarang, kamu kan bisa bilang dengan kalimat yang jelas," kata Sarah.


"Aku bilang, kamu tidak usah kembali ke rumah ini lagi. Pergi kamu dari sini!" bentak Noah semakin keras.


"Noah ada apa?! Kamu tiba-tiba begini," tanya Sarah dengan nada tinggi juga.


"Aku udah tahu semuanya. Fakta dan semua kebohongan kamu," jawab Noah sambil membalik badannya.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Aku tidak pernah berbohong," tanya Sarah sambil bangkit dari duduknya.


"Tidak pernah berbohong! Aku sudah tahu bahwa Arsya bukan anakku!" bentak Noah sambil memegang pundak Sarah.


Sarah terkejut. Matanya terbelangak, mulutnya terbuka tanpa sadar airmatanya pun ikut mengalir.


"Noah, Dengarkan aku," kata Sarah memohon.


"Dengarkan apa? Kamu ingin aku dengarkan apa? Tentang wajah Arsya yang ternyata lebih mirip ke Daniel?!" bentak Noah sekali lagi.


"Noah, darimana kamu tahu tentang dia?" tanya Sarah sambil menangis.


"Jadi alasan kamu mendekatiku, karena Daniel bunuh diri dan tidak terima atas kehamilan kamu! Kamu menjadikanku sebagai Ayah palsu bagi dia, yang bahkan dia bukan anakku!" bentak Noah.


Ttaasss..


Byuurr..


"Aku bukan anak Papa?"


Noah dan Sarah langsung menoleh ke arah sumber suara. Tampak Arsya yang baru saja pulang, berdiri dengan bungkus ikan ****** yang telah hancur di lantai.


"Arsya!" seru Sarah.


Hati Arsya langsung tersentak. Melihat Papanya yang terus membentak Mamanya dan mengatakan kata-kata yang tidak pernah terpikirkan oleh dirinya.


"Kalau aku bukan anak Papa, jadi aku anak siapa Ma?" tanya Arsya yang mulai menahan tangis.


"Arsya cepat masuk ke kamar!" bentak Sarah.

__ADS_1


"Tidak! Kamu tidak usah ke kamar lagi. Mulai hari ini kamu dan Mamamu harus keluar dari rumah ini," seru Noah.


"Noah tidak perlu harus seperti ini. Kita bisa bicarakan hal ini secara baik-baik," kata Sarah menenangkan.


"Tidak! Bicarakan baik-baik kamu bilang?! Kamu yang membuatku melepaskan Noura, wanita baik-baik," bentak Noah.


Noah terduduk di kursi karena dorongan emosinya yang kuat. Melihat suasana yang semakin tidak nyaman, Arsya berjalan mundur perlahan, sembari membuka pintu.


Dengan cepat Arsya berlari keluar dari rumah Noah. Sambil menangis, langkah kakinya sama cepatnya dengan air mata yang terus keluar.


"Arsya!" teriak Sarah dari dalam rumah.


Sementara itu, suasana Noah dan Sarah masih suram. Noah yang terduduk di sofa dengan tubuh yang membungkuk dan tangan yang menumpu wajahnya.


"Aku tidak percaya, apa yang telah kamu perbuat padaku. Aku pilih kamu daripada Noura, karena aku pikir kamu adalah yang terbaik. Tapi apa? Aku sudah salah, kamu ternyata lebih buruk dari yang pernah ada."


Noah mengambil amplop yang berisikan hasil tes DNAnya. Lalu Noah melemparkan amplop itu tepat di depan Sarah.


"Kalau Daniel saja mati karena anak itu, lalu kenapa kamu tidak ikuti saja dia?!" teriak Daniel didepan wajah Sarah.


"Kenapa kamu malah datang kepadaku dan malah me..ni..pu..ku," tanya Noah dengan nada yang terputus-putus sambil menangis.


"Noah maafkan aku, ini memang sebuah kesalahan tapi aku tidak punya pilihan," kata Sarah sambil memegang kerah baju Noah.


"Sekarang kamu juga tidak punya pilihan lagi. Cepat kamu keluar dari rumah ini. Aku sudah muak, aku sudah tidak tahan lagi," kata Noah sambil menepis tangan Sarah.


Noah menarik tangan Sarah hingga membuat Sarah terjatuh. Kemudian Noah menyeret Sarah ke arah pintu keluar.


"Noah! Dengarkan aku dulu," kata Sarah sambil menangis.

__ADS_1


Noah terus menyeret Sarah hingga keluar pintu. Lalu ia menutup pintu dengan begitu keras. Tidak peduli dengan Sarah yang telah menangis dan tetangga yang melihat.


__ADS_2