
S2 E12
Bukan hanya segelintir hati yang terluka.
Bukan hanya secumput rasa yang tersakiti.
Tapi ini sudah menjadi lubang yang besar.
Yang mungkin sudah tidak bisa diperbaiki lagi.
-Noura Zhafira-
............................
.
.
“Assalammualaikum,” ucap Avi Sena sambil membuka pintu rumah Jihan.
“Waalaikum salam, sekarang rumah gue udah berasa kaya rumah lu ya,” kata Jihan.
Avi Sena melirik Jihan dengan tatapan sombong, sambil memberikan sesuatu di tangannya.
“Wah apa ini?” tanya Jihan yang penasaran.
“Yang kotak itu titipan Mama lu, yang bungkus biru itu oleh-oleh gue dinas kemarin,” jawab Avi Sena sambil duduk di sofa depan tv rumah Jihan.
“Rama mana Han? Gue mau pinjam kaset PS dia,” tanya Avi Sena sambil memakan kripik yang ada di meja.
“Suami gue sedang bekerja, terbang kesana kemari,” jawab Jihan sambil membuka bungkusan dari Avi Sena.
“Eh Han, gimana sih sebenarnya rasanya udah menikah? Rumah tangga itu harusnya seperti apa?” tanya Avi Sena dengan serius.
__ADS_1
“Avi Sena, sepupu gue yang paling ribet ini bertanya tentang pernikahan?!” kata Jihan yang terkejut.
“Han, gue serius. Gue cuman tidak mengerti, kenapa Noura yang sudah 7 tahun sendiri tidak menikah lagi.”
“Jadi ini tentang Noura? Lu sendiri kenapa belum menikah?”
Jihan yang datang membawa buah dan minuman sebagai cemilan tambahan untuk mereka.
“Lu belum bisa move on dari Noura ya? Kalau begitu lu aja yang nikahi dia.”
“Tidak semudah itu Jihan. Sepertinya dia jadi trauma Han karena pernikahannya dengan Noah.”
“Tapi lu masih ada perasaan ke Noura?”
“Sepertinya, rasanya gue ingin bilang ke Noura kalau gue beda sama Noah, gue tidak akan memperlakukan dia sama seperti Noah kemarin.”
“Coba aja bilang ke Noura. Gue rasa kalau lu tulus, Noura juga pasti akan luluh.”
“Dulu pas sekolah, kenapa putus sama Noura?” tanya Jihan sambil mengambil cemilan.
“Kalau lu serius, lu langsung aja bilang, kalau bisa lu langsung izin ke Bapaknya Noura. Karena setahu gue Noura itu sangat menuruti Bapaknya.”
“Tapi kalau gitu, seperti hubungan yang dipaksakan.”
“Ya sudah berarti lu bilang saat ada Noura juga. Lu perhatikan ekspresi Noura, walaupun seperti terpaksa berarti lu hentikan.”
“Akan gue coba.”
“Kapan? Emangnya cuti lu masih panjang?”
“Tunggu mental gue siap. Cuti gue habis 2 hari lagi.”
Jihan menganggukan perkataan Avi Sena. Tidak mudah bagi seorang wanita yang hatinya telah tersakiti untuk bisa menerima cinta baru.
__ADS_1
Sementara itu di waktu yang sama, tampak Noah sedang duduk bersandar di kursi kerjanya.
Noah tampak sedang brrpikir keras. Ia menggunakan jarinya untuk bertopang dagu. Memutarkan kursi kerjanya ke kiri dan ke kanan.
Tok..tok
Bunyi ketukan pintu
“Masuk.”
“Bapak memanggil saya?”
“Iya Rani, saya dengar Kakak kamu kerja di rumah sakit, di bagian apa?”
“Bagian administrasi Pak, ada apa ya Pak?”
“Bisa kamu minta tolong kepada Kakak kamu untuk mendaftarkan saya uji tes DNA.”
“Baik Pak, akan saya usahakan.”
“Terimakasih kamu bisa keluar.”
Noah menyuruh asistennya untuk keluar dari ruangannya. Tapi asistennya masih berdiri tepat di depan Noah dan membuatnya bingung.
“Ada yang mau kamu tanyakan?”
“Pak, mengenai isu kerugian perusahaan, apa benar nantinya perusahaan kita akan ada PHK besar-besaran?”
“Kata siapa seperti itu?”
“Banyak karyawan yang membicarakan itu dan sebagian besar mereka takut terkena PHK.”
“Jika itu benar, itu bukan urusan kamu. Berdoa saja semoga itu hanya isu yang cepat berlalu.”
__ADS_1
“Baik pak.”
Bukan hanya masalah di sekitar rumah tanggaku saja yabg kini terjadi, tapi isu di kantor pun ikut memanas, semoga saja yang tidak diharapkan tidak terjadi, gumam Noah di dalam hatinya.