
My Mistake Wedding
Episod 19
Kekhawatiranmu membuatku merasa seperti ratu
Hanya hal yang sederhana bisa membuatku bahagia
Terimakasih telah memperhatikanku.
-Noura Zhafira-
﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉
Minggu ini adalah minggu ke 12 untuk kehamilan Noura. Kian hari, baik Noura maupun Noah menantikannya dengan bahagia.
Setiap ada waktu tidak pernah terlepas tangan Noah pada perut Noura. Ia tidak sabar untuk merasakan gerakan bayinya di dalam perut.
"Assalammualaikum sayang ku." Kata Noah saat membuka pintu.
"Waalaikum salam. Wah Noah pulang." Ujar Noura mencium tangan.
"Aroma apa ini, sangat wangi." Ujar Noah.
"Owh itu, ada seafood dikasih sama Bu Wati." Kata Noura.
"Seafood, emangnya kamu boleh makan seafood?" Tanya Noah sambil melepaskan kancing tangannya.
"Aku cari di internet tadi, sebaiknya di hindari. Tapi aku panaskan untuk kamu." Jawab Noura.
Noah pun berjalan menuju dapur. Ia mematikan kompor, karena seafoodnya sudah mendidih. Lalu Noah mengambil sendok dan mencicipinya.
"Wah ini enak sekali. Aku mau langsung makan." Ujar Noah sambil mengambil piring.
Noura melihat Noah yang semangat makan pun ikut senang. Ia berjalan ke dapur lalu duduk di kursi meja makan bersama Noah.
Noura tidak ikut makan, ia duduk menghadap Noah dan hanya memerhatikannya. Tapi diperhatikan seperti itu oleh Noura, membuat Noah menjadi tidak nyaman.
"Kalau mau makan, sana ambil piring." Kata Noah yang kesal.
"Suapin." Balas Noura yang manja.
"Ih kamu itu." Noah malah mencubit pipi Noura. Tapi setelah itu ia tetap menyuapi Noura nasi putih.
Setelah selesai makan, Noura membawakan tas Noah ke kamar. Noah langsung masuk ke kamar mandi dan mandi. Sedangkan Noura membereskan bekas makan tadi.
Hari telah berganti malam, Noura dan Noah tidur dengan nyenyak di satu ranjang. Seperti biasa, Noah mengelus-elus perut Noura.
Duh.. Aduh..
Suara pelan Noura terdengar Noah. Dan membuat Noah terbangun. Noura yang masih terpejam nampak sedang kesakitan. Sehingga Noah harus membangunkannya.
"Noura.. Noura kenapa sayang?" Tanya Noah.
__ADS_1
"Perut aku sakit banget. Sangat sakit, gimana ini Noah?" Keluh Noura.
Akhirnya Noah mengambilkan minyak zaitun lalu mengelus-elus perut Noura dari dalam bajunya. Tapi itu tidak memberikan efek apa-apa.
Noura terlihat masih kesakitan. Tanpa berlama-lama lagi, Noah langsung memakaikan Noura hijabnya. Kemudian Noah menuntun Noura berjalan.
Saat berjalan, Noah terkejut karena ada darah mengalir dari kaki Noura. Sepertinya Noura tidak menyadari bahwa ada darah mengalir keluar, ujar Noah di dalam hati.
Karena tidak tega melihat istri nya berjalan, Noah kemudian menggendong Noura lalu masuk ke mobil. Ini sudah tengah malam, tapi Noah akan berusaha semaksimal mungkin untuk membawa istri dan anaknya.
Dan mereka pun berangkat. Sepanjang perjalanan Noura memang tidak mengeluh. Tapi ekspresi nya seperti mengatakan bahwa ia sedang kesakitan. Noah pun semakin panik dibuatnya.
Sesampainya di rumah sakit, Noah langsung menuju ke IGD. Ia langsung mengambil kursi roda. Terlihat beberapa perawat langsung membawa Noura ke ruang tindakan.
Tidak lama seorang perawat keluar dari kamar tindakan, tempat Noura di periksa.
"Pak, sepertinya ada masalah dengan kandungan istri Bapak. Tapi dokter kandungan sudah pulang. Bapak harus menunggu sampai besok." Kata perawat itu.
"Bagaimana saya bisa menunggu sampai besok pagi jika istri saya sedang kesakitan. Tolong dihubungi segera dokternya. Akan saya bayar berapapun juga." Ujar Noah yang emosi.
"Maaf Pak, tapi itu sudah diluar jam kerja dokter. Saya tidak bisa melakukannya." Balas perawat itu.
"Ini rumah sakit kan. Bagaimana bisa sebuah rumah sakit membiarkan orang yang sedang sakit. Cepat hubungi dokternya sekarang!" Seru Noah.
"Maaf Pak mau bagaimanapun sudah seperti itu prosedurnya." Kata perawat itu lalu pergi meninggalkan Noah.
Aaarrhhh.
Noah yang tampak sangat kesal dengan pelayanan rumah sakit ini. Ia kemudian berjalan menuju ruang tindakan, tempat Noura diperiksa.
Melihat Noah yang kesal, Noura pun menggapai tangan Noah lalu memegangnya. Setelah tangan Noura menggenggam tangannya, Noah langsung tenang.
Kemudian Noah mendekati Noura. Ia mengelus kepala Noura. Noah tak tega melihat Noura dengan wajah yang pucat. Seketika itu juga Noah ingat bahwa Papanya mempunyai teman seorang dokter di rumah sakit.
Noah tersenyum dan membuat Noura menoleh ke arahnya. Lalu Noah mencium kening Noura lalu izin keluar sebentar.
Di luar Noah mengeluarkan ponselnya, lalu ia mencari kontak Papanya dan meneleponnya.
"Halo Pa, Noah tau ini sudah malam. Tapi Noah mau minta tolong, kalau tidak salah Papa ada temen seorang dokter di Rumah Sakit Medikta." Kata Noah dalam panggilan telepon.
"Iya ada, memangnya kenapa Noah?" Tanya Papa nya Noah.
"Tolong hubungi Pa, Noura pendarahan, dari tadi kesakitan, tapi di IGD sudah tidak ada dokter, jadi harus menunggu sampai besok, sedangkan Noura terus saja kesakitan." Jawab Noah.
"Ha? Dari kapan kamu di rumah sakit?" Tanya Papanya kembali.
"Dari 45 menit yang lalu Pa. Minta tolong Pa sekarang juga Pa." Pinta Noah.
"Baiklah, kamu tunggu saja. Papa dan Mama juga segera kesana." Ucap Papanya Noah.
"Baik Pa."
Kemudian panggilan telepon diakhiri. Noah kembali ke dalam ruangan. Terlihat Noura yang belum tidur dan masih memegang perutnya.
__ADS_1
"Masih sakit sayang?" Tanya Noah.
"Iya. Sakitnya tak bisa ku tahan Noah." Jawab Noura yanh terus memegang perutnya.
"Sabar ya, sebentar lagi dokter datang." Balas Noah.
"Aku takut anak kita kenapa-napa Noah, aku tidak ingin hal yang tidak diinginkan terjadi. Aku takut sekali." Kata Noura dengan suara sendu.
"Usstt. Jangan dipikirkan, jangan dikatakan. Kita pasrahkan semuanya ya. Setelah ini kita akan baik-baik saja." Ujar Noah sambil memeluk kepala Noura.
Sekarang Noura sudah tertidur. Tapi sesekali ia terbangun dan meringis kesakitan. Yang bisa dilakukan Noah saat Noura kesakitan cuman bisa menggenggam tangan Noura.
Sudah hampir 1 jam dari terakhir Noah menelepon Papanya. Tapi Papa ataupun dokter belum juga datang. Noah semakin kesal dan khawatir. Karena Noura terus menerus kesakitan.
"Aku mau menelepon sebentarnya." Kata Noah sambil bangkit dari tempat duduknya.
Tapi Noura mengcegatnya dengan memegang baju Noah. Noura memberikan wajah melas seperti sedang mengisyaratkan tidak ingin di tinggal. Noah menghela nafas kemudian kembali duduk.
"Halo, Papa dimana? Dokternya sudah bersama Papa?" Tanya Noah.
"Papa 5 menit lagi akan sampai, sekarang sedang memutar balik. Dokternya sudah berangkat sendiri. Kamu tunggu saja." Jawab Papanya.
"Iya masalahnya Noura terus kesakitan. Mana tega aku melihat istriku kesakitan." Ujar Noah.
"Iya ini Papa sedang tanya dimana. Kamu sabar dulu. Sudah dulu ya, Papa masih menyetir." Balas Papanya.
"Iya Pa hati-hati." Kata Noah.
Noura mendengar percakapan itu sedikit terharu. Noah mengucapkan hal yang indah, karena tak tega melihat istrinya kesakitan.
Noura jadi teringat sewaktu baru saja menikah. Bagaimana sifat Noah saat masih jadi pengantin baru. Malu-malu, cueknya, marah-marah tapi juga sifat manjanya. Semua itu Noura ingat dan membuat Noura tertawa.
"Hei. Kenapa tertawa?" Tanya Noah.
"Tidak ada, aku hanya mengingat sesuatu. Oiya Noah, apa kamu sudah siapkan nama untuk anak kita?" Tanya Noura.
"Nama? Tentu saja belum, kan kita belum tau dia laki-laki atau perempuan." Jawab Noah.
"Siapkan lah sekarang. Aku ingin mengelus perutku sambil memanggil namanya. Ungkap Noura."
"Kalau begitu, bagaimana dengan Azka untuk laki-laki atau Azkiya untuk perempuan." Kata Noah.
"Nama yang indah. Aku suka. Halo nak, Azka kalau kamu laki-laki. Atau Halo Azkiyah kalau kamu perempuan." Ujar Noura sambil berbicara dengan perutnya.
"Panggilan dari anak kita untuk kita siapa Noah?" Tanya Noura.
"Terserah kamu. Aku mengikuti saja." Jawab Noah.
"Bagaimana kalau Umi dan Abi saja?" Tanya Noura kembali.
"Iya boleh." Jawab Noah dengan tersenyum.
"Halo Azka atau Azkiyah. Ini Umi dan Abi. Sehat-sehat ya nak di dalam perut Umi." Kata Noura dengan semangat.
__ADS_1
Noura sudah berhenti meringgis. Noah sekarang lebih tenang dibandingkan yang tadi. Semoga saja tidak ada hal yang perlu di khawatirkan.