
Menapak di jalan yang sama denganmu
Menyusuri setiap bekas pijakanmu
Menggenggam hangatnya tanganmu
Menguatkan hati dan perasaan hanya untukmu
-Noura Zhafira-
﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉﹉
.
.
"Hei, Noura, Noura bangun." Kata Noah dengan suara yang lembut.
"Hei apa aku kesiangan lagi? Sudah jamberapa ini?" Tanya Noura dengan mata yang masih terpejam.
"Tidak kok, ini masih dini hari, subuh masih lumayan lama." Jawab Noah.
Lalu Noura mengampil Hp nya untuk mengecek jam. Dan menidurkan kepalanya lagi di bantal. Noah datang dan mengelus kepala Noura.
"Ayo kita bersiap, kita harus berangkat sekarang." Kata Noah.
Mendengarnya, Noura langsung bangkit dari tempat tidur. Mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi. Sedangkan Noah sudah berpakaian rapi. Jadi ia hanya membereskan barang-barang mereka.
Setelah semua barang dimasukkan ke dalam tas. Noura yang sudah siap dengan hijabnya. Noah yang sudah siap sepatunya. Kini sudah saatnya mereka berangkat.
Seperti biasa, sepanjang perjalanan Noura hanya bia tertidur di bahu Noah. Dan Noah juga tertidur dengan menutup mata dengan kedua tangannya.
Roda mobil berhenti di sebuah masjid karena sudah waktu nya untuk menunaikan sholat subuh. Semua orang turun dari mobil. Noah dan Noura juga ikut turun dan masuk ke dalam masjid. Mereka menunaikan sholat subuh berjamaah.
Selesai sholat, mereka melanjutkan perjalanannya. Tempat tujuan Noah idak jauh dari masjid. Tidak lama dari masjid, mobil berhenti di pinggi tebing.
Noah mengajak Noura turun dari mobil. Saat itu masih gelap, Noura tidak bisa melihat apa-apa. Noah mengenggam tangan Noura saat keluar dari mobil.
Sekarang mereka sedang berhadapan pada sebuah tebing tinggi. Sudah ada jalan setapak yang berjenjang, sehingga bisa dijadikan pijakan untuk ke atas tebing.
Noah dan Noura mulai menapak di jalan berjenjang itu. Mereka berjalan sambil berpegangan. Lumayan memakan waktu untuk bisa sampai ke atas bukit.
__ADS_1
"Noura, kita sudah sampai di atas. Sekarang kamu tutup mata dulu." Kata Noah.
"Kenapa tutup mata? Kamu ingin memberiku hadiah?" Tanya Noura.
"Iya, hadiah yang tidak pernah kamu dapati." Jawab Noah sambil tersenyum.
Sambil membalas senyuman dari Noah, Noura menuruti perkataan Noah untuk menutup mata.
Noah memegang kedua tangan Noura. Ia mengangkat kedua tangan Noura dan menggenggamnya. Mereka menunggu momentum yang pas.
Detik demi detik waktu terus berlalu, hingga waktu nya tiba.
"Noura buka lah matamu." Kata Noah perlahan.
Saat mendengar perkataan Noah untuk membuka mata, Noura langsung membuka matanya.
"MasyAllah!" Seru Noura melihat sinar matahari yang terbit.
Ini adalah waktu dan tempat yang paling tepat untuk melihat matahari terbit. Terlihat indah karena bukit ini adalah bukit yang tinggi.
Perlahan-lahan matahari mulai naik sedikit demi sedikit. Sinarnya menyusuri setiap celah yang ada di muka bumi. Rasa hangat menyelimuti tubuh Noah dan Noura.
"Aku mencintai kamu Noura." Kata Noah sambil mencium bibir Noura.
"Aku juga mencintaimu Noah." Balas Noura.
Mereka kini duduk dan sambil menyandarkan kepalanya. Sambil memandangi langit yang kian terang secara perlahan. Aroma khas dari embun.
"Ayo kita pergi membeli oleh-oleh Noura." Ajak Noah sambil membantu Noura berdiri.
Noura mengangguk. Mereka turun dari tebing secara hati-hati. Karena embun pagi, membuat jalan setapak yang mereka lewati tadi menjadi basah.
Setelah sepanjang siang berlalu, Noura dan Noah telah membeli cukup banyak oleh-oleh. Mereka telah check out dari hotel, jadi tujuan mereka selanjutnya adalah bandara.
"Noura kau benar tidak apa-apa?" Tanya Noah sambil memijat leher Noura.
"Hanya sedikit pusing." Kata Noura.
Mereka telah sampai di bandara, kini mereka di ruang tunggu. Dari tadi, Noura tidak berhenti muntah. Bahkan disaat masih di perjalanan. Kini di ruang tunggu pun begitu, hal ini membuat Noah khawatir.
Tidak hanya sampai disitu. Di pesawat pun, Noura tidak berhenti muntah. Semua penumpang melihat ke arah Noura dan Noah. Kondisi Noura semakin lemah, hingga membuat pramugari kerepotan karena harus bolak-balik.
__ADS_1
Setelah sekian lama Noura terus-terusan muntah. Akhirnya Noura tertidur juga di pundak Noah. Tadi Noura dipaksa minum obat anti mabuk. Harus minum banyak, tapi semakin banyak yang dimasukan, semakin banyak pula yang dimuntahkan.
Pesawat berhasil landing dengan aman dan nyaman. Saat turun dari pesawat, pramugari telah melaporkan mengenai kondisi Noura. Sehingga sudah ada tim medis yang sudah menunggu.
Noah juga tampak sangat khawatir, karena Noura terlihat semakin pucat. Tim medis telah membawa kursi roda untuk membantu Noura. Kemudian Noura dibawa ke ruang medis bandara.
"Pak, saran saya, bapak harus segera bawa istri bapak ke rumah sakit terdekat." Kata tim medis bandara.
"Apa separah itu Bu?" Tanya Noah.
"Ini hanya dugaan saya saja. Tapi saya tetap tidak ada kewenangan untuk memberikan penjelasan kepada Bapak. Bapak harus mendengarnya dari dokter yang ahli dibidangnya." Jawabnya.
"Baiklah."
Dengan terburu-buru Noah memesan taksi dibantu oleh petugas bandara juga. Tidak perlu menunggu lama, akhirnya taksi yang dipesan Noah tiba. Noah dan Noura berangkat menuju rumah sakit terdekat.
Di rumah sakit
"Pak, Bapak benar-benar tidak tahu ini?" Tanya dokter pada Noah.
"Tidak dokt, memangnya kenapa istri saya?" Tanya Noah balik.
"Istri Bapak sedang hamil 4 bulan kurang lebih." Jawab dokter.
"Serius ini dokter? Alhamdulillah. Noura kamu hamil ternyata." Kata Noah kegirangan.
"Pak, saya ingin menjelaskan sebelumnya. Bahwa segala sesuatu yang terjadi alam rahim hanyalah Tuhan yang tahu. Kita hanya bisa memperkirakannya dari gejala yang tampak. Dan berdasarkan gejala yang tampak kehamilan istri Bapak memasuki usia kandungan 4 minggu." Penjelasan dokter.
"Untuk makanan gimana dokt? Apa ada pantangan?" Tanya Noura.
"Makan saja yang makanan yang Ibu suka, asalkan makanan nya bergizi dan matang, harus matang ya. Terus juga saat tidur malam harus tepat jam 10 malam paling larut. Kasih waktu sejam untuk tidur siang." Kata dokter.
Setelah itu mereka pulang ke rumah. Betapa senang dan bahagianya Noah dan Noura saat tau Noura hamil. Noah sampai tidak bisa berhenti mencium pipi dan hidung Noura.
"Besok pagi, kita belanja kepeluan hamil ya, seperti susu, buah, roti dan lain-lain." Kata Noah.
"Iya." Balas Noura sambil tersenyum.
Entah ini karena senang atau karena lelah. Noah dan Noura belum membongkar isi tas mereka. Padahal ada beberapa oleh-oleh yang harus dipisahkan terlebih dahulu.
Mereka tidur dengan nyenyak. Tapi tangan Noah tidak bisa lepas dari perut Noura. Ia terus saja mengelus bahkan sampai ia tertidur.
__ADS_1