
"Katakan Noah! Katakan bahwa kamu mencintaiku!" seru Sarah.
Sarah yang menempelkan pisau pada urat nadi tangannya, sambil memaksakan Noah untuk mengatakan cinta padanya.
Sarah seperti orang yang sedang mengancam. Bagaikan anak kecil yang akan menangis jika tidak dibelikan es krim.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Noura.
"Jika Noah tidak mencintaiku, lebih baik aku mati saja!" seru Sarah lagi.
"Kalau memang begitu, matilah," balas Noura.
"Tapi jangan mati di kantorku. Aku tidak mau ada hal kotor di kantorku, jika mau mati, diluar saja," sambung Noura sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Kamu lihatkan Noah, Noura memang tidak punya hati, sok suci, sok jadi pahlawan sekarang!" teriak Sarah kembali.
"Sarah berhenti menjadi seperti anak kecil! Kamu itu telah dewasa, kamu pikir jika kamu mati, aku akan bersedih, tidak!" balas Noah.
"Aku telah kehilangan anakku dan sekarang suamiku pun tidak lagi bersamaku," kini kata-kata Sarah diselingi tangisannya.
"Dengar Sarah! Aku tidak bermaksud mengambil anakmu, kamu yang justru ingin membunuhnya. Bagaimana bisa kamu menyebut dirimu adalah ibunya," ucap Noura.
"Arsya itu masih kecil, yang ia inginkan hanya kasih sayang dari kedua orang tuanya, kepedulian, pengakuan dan waktu. Tapi Arsya telah kehilangan semua itu. Kamu pikir diusia Arsya yang masih kecil itu, dia harus merasakan hal itu?! Di usia yang masih kecil itu, seharusnya kamu tahu apa yang Arsya butuhkan, apa yang harus ia dapatkan dan apa yang harus ia miliki!"
"Aku menjadi donatur tetap sebuah sekolah asrama. Kamu jangan khawatir karena Arsya akan tinggal disana. Di sekolah itu, ada banyak anak yang juga ditelantarkan oleh orang tuanya. Jadi aku bukan hanya jadi wali bagi Arsya, tapi aku juga jadi wali bagi anak-anak yang tidak diinginkan oleh ibunya, seperti kamu!"
"Jangan bergerak!" terdengar suara berat.
Noura menoleh ke arah yang datang, ternyata polisi telah datang. Disusul oleh beberapa petugas medis. Noura langsung mengarahkan petugas medis kepada Avi Sena yang sedang terluka.
__ADS_1
Sarah yang melihat polisi menjadi panik. Ia malah jadi menyayat urat nadinya. Yang tadi hanya untuk mengancam, kini malah benar terjadi.
"Sarah, bodoh sekali kamu!" seru Noah.
Petugas medis dan Polisi langsung mengamankan Sarah dan pisau sebagai barang buktinya. Tangan Sarah terus mengeluarkan darah.
"Kamu sudah tidak peduli padaku, lebih baik aku mati saja!" seru Sarah.
"Ayo ikut kami!" seru polisi sambil membawa Sarah.
"Lepaskan! Lebih baik aku mati saja!"
"Lepaskan!"
Petugas dari kepolisian pergi membawa Sarah yang masih histeris. Avi Sena juga dibawa oleh petugas medis untuk diberikan tindakan. Sedangkan Noah masih terdiam di tempat.
"Apa anda suaminya? Jika iya mari ikut kami untuk memberikan keterangan," pinta petugas kepolisian.
"Noura, aku minta maaf untuk semuanya," kata Noah dengan suara pelan.
"Aku maafkan, tapi tolong jangan pernah terlihat lagi olehku," balas Noura.
Noah kembali menganggukkan kepalanya. Ia berjalan kembali sesuai arahan kepolisian. Noura melihat punggung Noah pergi berjalan keluar ruangan. Tapi sebelum Noah keluar, Noura memanggil Noah lagi.
"Noah," panggil Noura.
Noah membalikkan badannya ketika mendengar suara Noura memanggil namanya.
"Mungkin kesalahanku dulu memilih menikah denganmu," kata Noura dengan suara pelan.
__ADS_1
"Dan mungkin kesalahanku juga karena tidak memilihmu," balas Noah.
Lalu Noah benar-benar pergi meninggalkan ruangan Noura, kantor Noura. Sedangkan Noura mengambil tas dan memanggil supirnya. Ia bermaksud untuk pergi ke rumah sakit, menyusul Avi Sena.
-Tamat-
Pernikahan bukan hanya sekedar bermain-main saja.
Pernikahan bukan hanya sekedar sama-sama suka.
Pernikahan bukanlah sebuah kompetisi secepat-cepatan.
Jika telah memutuskan untuk menikah
Maka itulah jalan hidupmu
Jika terdapat masalah dalam pernikahanmu
Berbicaralah bersama-sama
Cari jalan keluar bersama
Cari solusi bersama
Komunikasi adalah kunci dari sebuah pernikahan
Maka jadikanlah pasanganmu adalah orang satu-satunya dalam cintamu.
__ADS_1
Fay Rizky-