My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 10 - Masalah Besar


__ADS_3

Hari berganti hari, sudah sebulan lamanya Micheline menantikan kabar dari Frederick. Ia selalu gelisah, berharap apa yang diharapkan terwujud. Ia sangat menantikan kabar baik dari Frederick.


Sore itu setelah rapat bersama semua kepala bagian perusahaannya. Micheline mendapatkan sebuah kabar buruk yang membuatnya tidak senang. Ia tidak menyangka akan dibuat sangat marah dengan kabar yang dibawa Sekertarisnya, Charlie.


"Nona..." panggil Charlie terburu-buru mengejar Micheline yang baru saja meninggalkan ruang rapat.


Micheline menghentikan langkahnya, "Charlie..." sapa Micheline mengernyitkan dahinya melihat Sekertarisnya itu berlarian.


Tiba-tiba saja perasaan Micheline merasa tidak enak, "Ada apa? kenapa perasaanku tidak enak?" batin Mucheline menunggu apa yang hendak disampaikan oleh Charlie.


Charlie menatap Hansel lalu menatap Micheline "Bisa kita bicarakan di ruangan Anda? ini hal mendesak dan penting," kata Charlie.


Charlie mempersilakan Michrline berjalan krmbali. Micheline memenuhi permintaan Charlie dan berjalan menuju ruangannya. Di bekalang Mucheline ada Hansel dan Charlie yang mengikuti Micheline.


*****


Frederick marah besar, apa yang ia rencanakan gagal total. Ia tidak bisa menyelesaikan permintaan Micheline. Recana yang ia susun selama hampir sebulan dengan begitu mudah digagalkan. Bahkan Frederick menderita kerugian akibat pembatalan kerja sama dengan beberapa kliennya.


"Arghh... Sial! bagaimana bisa ini terjadi," kesalnya memporak porandakan dokumen di atas mejanya.


"Tuan, tenangkan diri Anda."


"Bagaimana aku bisa tenang? keterlaluan sekali mereka. Mereka aku anggap apa, hah?" sentak Frederick.


"Tuan, sepertinya Anda harus kembali bertemu dengan Nona Robert dan krmbali berdiskusi."


"Ya, kau benar juga. Perempuan itu juga licik, bisa-bisanya dia membocorkannya," jawab Frederick.


Frederick begitu marah. Ia tidak mengerti mengapa hal yang tidak terduga bisa terjadi. Itu semua di luar pemikirannya. Ia juga menilai jika Micheline sudah berkhianat padanya. Micheline telah melanggar kesepakatan yang sudah disepakati keduanya saat berada di restorant saat itu.


"Brengs*k! Perempuan gila itu berani mempermainkanku. Aku akan balas semunya berkali-kali lipat," batin Frederick geram merem*s tangannya sendiri.


Frederick yang kesal tidak mampu menahan amarahnya lagi. Seisi ruangan dibuatnya porak poranda. Frederick sangat sakit hati seakan-akan dadanya dihujam anak panah. Sakit, perih, kecewa. Sampai Frederick tidak mampu berkata-kata lagi untuk meluapkan emosi. Ia hanya bisa berteriak seperti orang gila sembari membuang semua bukunya yang tersusun di rak buku di ruang kerjanya.


*****

__ADS_1


Micheline duduk di sofa, Charlie berdiri di samping Micheline dan menyerahkan sebuah amplop cokelat pada Micheline. Micheline memandang amplop itu tanpa menyentuhnya, ia bahkan sempat bertanya pada Charlie apa isi amplop itu.


"Apa ini?" tanya Micheline menatap amplop di hadapannya.


"Silakan buka dan baca. Anda akan mengetahuinya," jawab Charlie membuat Micheline penasaran.


Micheline ragu sesaat, "Ok," jawabnya yang langsung menagambil amplop itu karena merasa penasaran isi dalam amplop tersebut.


Micheline membuka amplop dan mengeluarkan isinya. Ada beberapa lembar kertas yang bertuliskan laporan. Dengan seksama dan cermat, Micheline membacanya. Matanya yang bergerak perlahan ke kiri lalu ke kanan tiba-tiba saja terbelalak. Micheline membuka sedikit mulutnya karena shock. Dengan keras ia membanting dokumen dan langsung menggebrak meja.


"Sial!" umpat Micheline.


"Nona... Anda baik-baik saja?" tanya Charlie cemas.


"Bagaimana bisa baik-baik saja, Charlie. Kau tentu sudah baca isi amplop ini, kan? apa-apaan ini, hah? seseorang mencoba mempermainkanku rupanya," jawab Micheline geram.


"Jadi..." sahut Charlie.


"Jadi, apa? tentu aku akan gantung si tikus penyebab kekacauan ini. Bisa-bisanya semua kacau seperti ini, Argh..." kesal Micheline. Kali ini Micheline benar-benar dibuat kaget sekaligus geram.


Micheline berdiri dari duduknya, "Kau keluar dulu. Aku perlu waktu sendiri," tambah Micheline yang langsung berjalan mendekati meja kerjanya.


Micheline berdiri menatap fotonya. Ia terus berpikir dan berpikir. Ia mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang membelit pikirannya, isi kepalanya seperti benang kusut.


"Bagaimana bisa seperti ini? tidak ada yang tau soal rahasia Frederick kecuali aku. Karena aku secara pribadi menyelidikinya, bahkan aku mebgeluarkan uang yang cukup untuk bisa menyuap istri keduanya. Apa istrinya yang mengungkap semuanya dan melemparkan batu padaku? Tidak bisa seperti ini, aku harus segera temui Olivia. Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut," batin Micheline yang langsung mencari ponselnya untuk segera menghubungi seseorang bernama Olivia.


Panggilannya tersambung, namun belum diterima oleh Olivia. Micheline menggigit ujung ibu jari tangan kanannya karena panik. Ia penuh harap pada panggilannya. Panggilan tidak dijawab oleh Olivia, dan Micheline tidak diam begitu saja. Ia terus mencoba menghubungi Olivia. Sampai akhirnya panggilam Micheline diterima oleh Olivia.


"Hallo," jawab Olivia.


"Kau di mana? ayo bertemu," ajak Micheline.


"Aku tidak bisa, Micheline. Frederick datang dan marah-marah. Apa terjadi sesuatu?" tanya Olivia khawatir.


"Justru aku ingin membahas ini denganmu. Informasi yang kau berikan padaku bocor dan suamimu itu pasti sedang ingin membunuhku sekarang."

__ADS_1


"Apa?" kaget Olivia, "Apa kau bilang?" imbuhnya.


"Ya, seperti yang sudah aku katakan. Ada orang lain yang tahu dan menyebar informasi pribadi suamimu pada klien-kliennya. Dan pasti suamimu itu menganggap ini adalah perbuatanku. Aku hanya ingin memastikan, sepertinya kau memang tidak tahu apapun soal ini, Oliv. Maafkan aku terburu-buru menghubungimu," kata Micheline mulai pusing.


"Tidak apa-apa. Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Aku percaya padamu, kau adalah orang yang tepat janji. Aku akan coba mencari informasi untukmu di sini. Untuk sementara ini kita jangan dulu berhubungan. Kau mengerti maksudku, kan?" jelas Olivia.


"Ya. Aku mengerti," jawab Micheline. Yang langsung menutup panggilannya.


Micheline meletakan kembali pinseknya di atas meja kerjanya. Ia memijat lembut kepalanya yang sedikit pusing. Ia masih terus berpikir, apa yang sebenarnya terjadi.


*****


Charlie gelisah, ia terlihat tidak tenang. Rasa khawatirnya pada Micheline tidak bisa diabaikan begitu saja. Melihat Charlie yang gelisah, Hansel mendekat dan bertanya pada Charlie.


"Pak, Anda baik-baik saja?" tanya Hansel.


"Tidak, Hans. Tidak ada yang baik saat ini," jawab Charlie.


"Apa maksud, Anda?" tanya Hansel bingung tidak mengerti.


Charlie menatap Hansel, "Terjadi masalah besar. Kau ingat pertemuan terakhir kali dengan seseorang bernama Frederick Arron?"


Hansel mengingat lalu menganggukkan kepala, "Ya. Tentu saja ingat," jawab Hansel tanpa ragu.


"Ada hal yang seharusnya tidak diketahui menjadi konsumsi publik. Kau tau apa maksudnya, kan? Nona sedang dalam masalah besar jika ini tidak terselaikan. Frederick Arron pasti akan membalas apa yang membuatnya marah dan kesal," Jelas Charlie.


Deg... Deg... Deg... Jantung Hansel berdegup kencang. Ia tahu jelas maksud ucapan Charlie adalah infirmasi rahasia milik Frederick Arron yang ia pegang saat bersama Micheline di restorant. Meski amplop itu berisi dokumen rahasia yang penting. Namun, nyata Hansel tetap membuka dan membaca, bahkan sempat memfotonya untuk dijadikannya bahan laporan pada Alfonzo.


Merasa tidak enak hati, Hansel pun ikut gelisah. Ia menjadi sedikit gugup dan canggung. Melihat Hansel yang lamgsung diam, Charlie mengira Hansel sedikit takut. Charlie mencoba menenangkan Hansel.


"Kau takut, Hans? jangan takut, semua pasti akan baik-baik saja."


"I-iya, Pak. Maafkan saya yang tidak mengetahui situasi saat ini," jawab Hansel beralasan. Sejujurnya hatinya resah dan gelisah memikirkan apakah benar semua akan baik-baik saja atau akan terjadi hal besar sesuai ucapan Charlie.


"Aku akan mencari tahu lebih lanjut siapa orang yang sudah membocorkan informasi penting itu. Jika aku menangkapnya aku pasti akan langsung mematahkan tangan, kaki dan merobek mulutnya. Bila perlu aku akan mencongkel bola matanya keluar agar ia mati dengan bahagia," geram Charlie.

__ADS_1


Charlie yang seorang Psikopat membuat Hansel ternga-nga dengan ucapannya. Hansel langsung diam tidak berani bersuara bahkan tidak berani menatap Charlie. Ucapan yang menyeramkan, bagaimana tidak? Mematahkan tangan, kaki, merobek mulut bahkan sampai mencongkel bola mata manusia adalah sebuah perbuatan yang tidak manusiawi. Hansel tidak menduga, perkataan keji keluar begitu saja dari mulut seorang kepala sekertaris perusahaannya bekeja.


...*****...


__ADS_2