My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 46 - Mimpi Buruk (3)


__ADS_3

Micheline mengigau saat tidur. Ia memanggil-manggil Kakek, Papa dan Mamanya dalam tidurnya. Air mata menetes dari mata yang terpejam saat Micheline sedang tidur. Ia merasa sedih, merasa kesal juga marah. Perasaannya campur aduk tidak bisa lagi diungkapkan.


"Kakek... Papa... Mama..."


"Jangan, jangan, aku mohon jangan..."


"Jangan pergi..." teriak Micheline yang lalu membuka mata.


Micheline segera bangun dari posisi berbaring, "Apa itu tadi? bagaimana bisa aku memimpikan kejadian yang ingin aku lupakan?" batin Micheline merasa khawatir dan gelisah.


"Hah..." hela napas Micheline begitu berat, "Aku terlalu bamyak berpikir hal yang tidak penting rupanya," gumamnya menatap nakas yang terletak di sisi tempat tidurnya.


Ia mengambil gelas berisi air di nakas dan langsung meminum habis air dalam dengan sekali tegukan. Keringat bercucuran, jantung yang berdebar kencang, dan tubuh yang gemetaran. Setelah meletakan gelas kembali ke tempatnya, Micheline berusa mengatur napasnya yang terasa sesak. Micheline tersadar, dan melihat sekeliling. Ia berada di kamarnya.


"Kenapa aku ada di kamar? apa Hans yang menggendongku?" gumam Micheline.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Hansel melihat Micheline yang sudah bangun, segera ia masuk dalam kamar dan menutup kamar, lalu menghampiri Micheline yang masih ada di atas tempat tidur.


"Hei, kau sudah bangun?" sapa Hansel, duduk di samping Micheline.


"Kau membawaku ke kamar?" tanya Micheline.


"Kalau bukan aku, siapa lagi? aku tidak tega membangunkanmu," jawab Hansel. Hansel membelai wajah Micheline, "Kau tidak sehat? keringatmu banyak sekali," tanya Hansel mengusap keringat Micheline dengan tangan.


"Ya. Aku baik-baik saja. Hany tidak nyaman saja tadi, sekarang sudah tidak apa-apa."


"Apa kau yakin?" tanya Hansel menatap Micheline.


Micheline menatap Hansel, "Apa ada sesuatu? tidak ada alasan untukku tidak yakin, kan?" jawab Micheline.


"Kau terus memanggil Kakek, Papa dan Mama. Kau juga sesekali berteriak 'tidak'. Apa kau mimpi buruk?" tanya Hansel mencob mencari tahu.


Micheline kaget, "Tidak ada apa-apa, Hans. Mungkin aku hanya mimpi sesaat saja. Aku tidak sadar apa yang aku mimpikan."


"Masih tidak ingin membuka diri, ya. Baiklah, tidak apa-apa. Aku tidak boleh terburu-buru," batin Hansel.


"Baiklah jika seperti itu. Anggaplah kau memang hanya mengigau biasa," kata Hansel mengiyakan jawaban Micheline, "Jangan terlalu banyak berpikir. Kau tidak boleh sakit," kata Hansel tersenyum.


Micheline tersenyum tipis, "Aku mengerti. Terima kasih sudah peduli padaku. Kau sudah makan? aku lapar," kata Micheline memegang perutnya.

__ADS_1


Micheline hany beralasan, sebenarnya ia tidak lapar karena terus mengingat mimpi buruknya. Namun, ia tidak ingin Hansel terus mencemaskan dan khawatir padanya. Micheline ingin terlihat biasa-biasa saja di depan Hansel, atau siapa pun itu. Seperti yang sudah-sudah, ia merasa kelemahannya harus diswmbunyikan rapat-rapat.


"Ayo makan jika kau lapar. Aku akan buatkan sesuatu untukmu," ajak Hansel.


"Kau bisa membuat makanan?" tanya Micheline.


Hansel mengangguk, "Tentu saja. Aku akan buat spageti yang enak untukmu. Anggap saja ini balasan bubur yang kau masak waktu itu," kata Hansel meyakinkan agar Micheline tidak menolak keinginanya.


Micheline tersenyum, "Baiklah. Tunjukan kebolehanmu itu. Masak spageti yang enak untukku. Jika tidak..." kata-kata Micheline terpotong oleh Hansel.


"Jika tidak, kau boleh menghukumku apapun itu."


"Kau sendiri yang meminta, ya. Awas saja, jika nanti kau meminta keringanan hukuman," ucap Micheline.


"Tidak akan," jawab Hansel, "Ayo..." ajak Hansel mengulurkan tangan.


Micheline menyambut tangan Hansel. Keduanya turun dari tempat tidur, lalu keluar dari kamar. Mereka berjalan bergandengan menuju dapur.


"Apa aku boleh membantumu?" tanya Micheline.


"Kau duduk saja. Biar aku yang lakukan semuanya," jawab Hansel.


"Tapi, apa?" tanya Hansel.


"Aku tidak enak jika hanya berdiam diri, beri saja pekerjaan ringan padaku. Ok," bujuk Micheline.


Hansel menghela napas panjang, "Baiklah. Kau bisa memotong tomat, untuk campuran spagetinya. Karena aku paling suka buah tomat, jadi aku ingin mencampur spagetiky dengan tomat. Atau kau juga ingin mencanpur spagetimu dengan bahan lain?" tanya Hansel.


Micheline mengangguk, "Tentu saja aku juga ingin mencampur spagetiku dengan bahan lain. Mendengarmu bicara tomat, aku ingin juga mencobanya. Ayo, aku akan cuci tomat dan memotongnya."


Hansel sibuk mempersiapkan bahan, bumbu dan perlengkapan memasak. Micheline juga mengeluarkan bahan segar dari lemari pendingin. Micheline melirik arah Hansel, Hansel terlihat sibuk. Micheline pun mengenakan appron, lalu mencuci tomat dan meniriskan tomat di wadah.


"Syukurlah, Hansel tidak lagi terlihat cemas atau pun khawatir lagi seperti tadi. Aku tidak bisa menceritakan apa yang tidak ingin aku ingat. Itu sangat menyiksaku," batin Micheline.


Dengan segera Micheline mengambil pisau dan siap memotong tomat. Entah apa yang dipikirkan Micheline, saat ia memotong tomat, jarinya tanpa sengaja teriris dan berdarah. Micheline mendesis, Hansel yang mendengar langsung menghentikan aktivitasnya dan melihat keadaan Micheline.


"Ssshhh..." desis Micheline memencet jari tangannya.


"Ada apa?" tanya Hansel berbalik. Hansel terkejut melihat jari tangan Micheline berdarah, "Kau ini. Bagaimana bisa jarimu terluka seperti ini," omel Hansel segera menyalakan kran air dan mengguyur jari tangan Micheline yang berdarah.

__ADS_1


"Kau... kau kenapa memarahiku?" gumam Micheline.


"Di mana kotak obat?" tanya Hansel.


"Di laci, " jawab Micheline.


Hansel menggandeng tangan Micheline, mendudukan Micheline di kursi dan langsung sibuk mencari kotak obat. Setelah menemukan kotak obat, Hansel segera membukanya. Ia mengambil kapas dan obat, lalu mengoles obat dan menempel plaster pada jari Micheline.


"Sudah," ucap Hansel.


"Terima kasih, Hans."


"Duduk dan diamlah, biarkan aku yang menyelesaikan semuanya. Jangan buat aku gila karena terus mengkhawatirkanmu, Eline. Ok," tegas Hansel menatap Micheline.


"Kau memerintahku? aku lupa siapa aku?"


"Ini di rumah. Bukan kantor. Di kantor kau memang atasanku. Di sini tidak ada perbedaan seperti itu," jawab Hansel.


"Tetap saja. Mau di mana pun itu, aku tetap atasanmu."


"Kau bisa diam tidak?" kata Hansel.


"Sekarang kau menyuruhku diam? kau ini, apa-apaan. Dasar kau..." kata-kata Micheline terputus. Hansel langsung mencium bibir Micheline, membuat Micheline diam.


Micheline kaget, ia melebarkan matanya. Merasa Micheline sudah diam, Hansel melepas ciumanya. Ia mencium kening lalu hidung Micheline, juga memegang tangan Micheline.


"Aku mohon dengarkan aku. Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi," ucap Hansel mencium jari Micheline yang terluka.


Micheline merasa aneh, sikap Hansel berbeda dari biasanya. Meski ia tidak tahu pasti perasaan apa yang ia rasakan itu. Hansel yang selalu menurut dan melakukan apa saja yang ia perintahkan. Tiba-tiba berubah mrnjadi seseorang dominan. Tanpa rasa takut memerintah seorang Micheline yang merupakan CEO, juga atasan Hansel di kantor.


"Baiklah, lakukan saja apa maumu. Aku akan diam dan melihat," jawab Micheline.


Mendengar jawabam Micheline, Hansel tersenyum senang. Hansel segera berdiri dan kembali sibuk memasak. Micheline duduk diam mengamati setiap gerakan Hansel. Micheline menyentuh bibirnya, ia kembali tetingat ciumannya dengan Hansel. Micheline tersenyum tipis, ia merasa tidak bisa menolak juga tidak bisa menerima sepenuhnya ciuman yang Hansel berikan padanya.


"Berani sekali dia menciumku. Sudah memerintahku diam, tidak banyak bicara. Lalu ia mencuri ciumanku begitu saja," batin Micheline terus mengamati Hansel.


Micheline melihat jari tangannya yang terluka. Ia tidak memungkiri jika saat mengiris tomat, ia tidak fokus sepenuhnya pada pekerjaanya. Pikirannya teralihkan, masih terus mrmikirkan kejadian mimpi buruknya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2