
Pesta telah usai, Micheline dan Hansel pun pergi. Mereka sudah ada dalam perjalanan pulang menuju rumah Micheline. Hansel terlihat gelisah, tentu saja Micheline tahu penyebab kegelisahan Hansel.
"Kau sudah bicara dengan Pamanmu?" tanya Micheline tiba-tiba.
"Dari mana kau tahu?" tanya balik Hansel.
"Aku tidak buta. Aku melihatnya menguntitmu tadi saat kau ke pergi cuci tangan ke kamar mandi. Aku yakin dia sudah memprivokasimu di sana," kata Micheline dengan sagat yakin.
"Menyebalkan sekali orang itu!" kesal Hsnsel, "Aku sudah menahan diriku untuk tidak kasar padanya. Namun, dia tidak bisa diberi hati," imbuhnya.
Micheline tertawa, "Hahaha..." Micheline menepuk bahu Hansel, "Kau itu memang sangat lugu, Hans. Kau kira orang licik sepertinya bisa menerima kebaikan hati? tidak, Hans! semakin kau berbaik hati, semakin sakit rasa yang akan kau terima."
"Kau benar, aku sangat kesal tadi. Ingin rasanya aku membenturkan kepalanya ke dinding. Jika saja dia bukan Pamanku, aku pasti sudah membuatnya tidak bisa bicara."
"Jadi... kau tidak ingin cerita padaku? apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Micheline ingin tahu.
"Eline..." panggil Hansel.
"Ya... ada apa?" jawab Micheline.
"Bantu aku. Bantu aku mencari pengacara yang bisa diandalkan," kata Hansel penuh harap.
"Ah... kau berubah pikiran, ya? bukankah sebelumnya kau akan merelakan semua milikmu? kenapa sekarang berubah pikiran?" sahut Micheline.
"Awalnya memang begitu. Setelah aku pikirkan, aku tidak mau terus-terusan direndahkan olehnya. Dia terlalu menyombongkan diri dengan sesuatu yang bukan miliknya. Bukan kah itu mengesalkan?" jawab Hansel.
"Aku sudah siapkan semuanya, Hans. Termasuk semua bukti kejahatan Pamanmu itu. Aku tidak ingin terlalu ikut campur urusan pribadimu. Kau bisa berdiskusi sendiri besok dengan Tuan Waller. Dia pengacara yang sudah terkenal di pasar gelap." jelas Micheline.
"Kau... kau sudah siapkan semuanya?" tanya Hansel kaget. Ia tidak menyangka Micheline sudah mempersiapkan semuanya.
Micheline mengangguk, "Ya. Aku sudah menyiapkan untuk berjaga-jaga. Dan kali ini memang dibutuhkan, kan? persiapanku tidak sia-sia kalau begitu. Semoga saja masalahmu cepat selesai, Hans."
"Terima kasih, Eline. Aku tidak tahu lagi harus bicara apa dan harus membalasmu seperti apa. Aku banyak berhutang padamu," ucap Hansel.
__ADS_1
"Beri aku satu imbalan jika kau merasa berhutang padaku," kata Micheline.
"Apa yang kau minta?" tanya Hansel.
"Kesetiaanmu," jawab Micheline.
Hansel mengernyitkan dahi, "Kesetiaan? kau ingin aku setia seperti apa lagi? aku masih kurang setia, begitu?" jawab Hansel bingung.
"Bukan itu, Hans. Kesetiaan yang aku maksud adalah, kau mau dengan tulus dan kesungguhan hati mengabdi padaku. Bekerja untukku," jelas Micheline.
"Tentu saja. Aku akan sepenuh hati mengabdi padamu. Jangankan kesetian, semuanya akan kuberikan hanya untukmu, Eline." jawab Hansel bersungguh-sungguh.
"Berlebihan sekali. Kau jangan terlalu mencintaiku atau pun menyayangiku, Hans. Jika aku tidak bisa membalas perasaanmu, kau sendiri yang akan kecewa. Sudah aku katakan berkali-kali, bukan?" kata Micheline menegaskan.
Mendengar kata-kata Micheline, Hansel menepikan mobil dan menghentikan lajunya. Ia lalu menatap Micheline tanpa bicara apa-apa. Micheline bingung, kenapa Hansel bersikap seperti anak-anak lagi.
"Ada apa? ini belum sampai rumah," kata Micheline memecaj kesunyian.
"Kenapa?" ulang Micheline semakin bingung.
"Kenapa, Eline? kenapa kau selalu mendorongku menjauhimu? Kau selalu mengatakan seolah-olah kau tak akan bisa mencintaiku. Apa aku sebegitu buruknya untukmu? aku memang tidak sepdan denganmu. Dibandingkan denganmu yang memiliki kedudukan dan kekuasaan, aku hanyalah semut yang bisa sewaktu-waktu terinjak. Satu hal yang perlu kau tahu, Eline. Aku mencintaimu dan menyayangimu, bukan melihatmu dari sudut pandang yang semua orang bisa lihat dengan jelas."
Micheline menunduk, sungguh sesak rasanya. Ia tidak mebgira perkataanya akan menyulut emosi Hansel. Ia mengatakan itu bukan untuk mencela atau merendahkan, Hans. Ia hanya tidak ingin Hans nantinya kecewa jika ia tidak atau belum bisa sepenuh hati mencintai Hans, seperti Hans mencintainya. Bukan kah itu seperti cinta yang bertepik sebelah tangan? dalam menjalin sebuah hubungan, ia ingin keduanya sama-sama saling membantu, saling bekerjasama. Bukan hanya satu pihak yang rela berkorban dan memberi, sedangkan satu pihak lagi hanya menunggu dan merima.
"Hans..." panggil Micheline, "Apa kau sangat mencintaiku? apa kau sangat menyayangiku? jika seperti itu, boleh kah aku bertanya padamu? seberapa mampu kau bertahan di sisiku? seberapa kuat kau bisa terus berada di sampingku? kau bisa jamin itu semua?" cecar Micheline.
"Apa? apa maksudmu? kenapa kau mencecarku seperti itu?" tanya balik Hansel tidak mengerti.
Micheline menadahkan kepala lalu menatap Hansel, "Satu hal yang harus kau tahu juga, Hans. Menjadi kekasihku atau pendampingku, tidak semudah yang kau pikirkan. Kau harus siap bertaruh nyawa. Apa kau siap? apa kau tidak sayang pada nyawamu sendiri?" kata Micheline dengan nada suara dingin. Hansel diam berpikir, ia masih bingung dengan semua perkataan Micheline dan berusaha mencerna semuanya.
"Kau diam? itu artinya kau tidak bisa memastikannya, kan? mudah saja bicara 'aku mencintaimu, aku menyayangimu', tetapi setelah bersama dan menghadapi badai tiba-tiba saja pergi menghilang." keluh Micheline.
"Jika memang diharuskan seperti itu, tentu aku siap. Karena aku sudah membulatkan tekadku. Karena itu, Eline. Aku mohon... buka hatimu walaupun hanya secelah." jawab Hansel menatap Micheline dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
Micheline melebarkan mata, matanya terasa panas dan berkaca-kaca. Tiba-tiba ada perasaan aneh yang hinggap di dadanya dan ia bisa merasakan rasa sedih juga perasaan haru. Air mata yang tidak diundang datangnya pun berlinangan. Micheline tidak peenah menangis di hadapan siapa pun sebelumnya. Ini pertama kalinya ia menangis di hadpaan seseorang. Bagi Micheline, menangis adalah sebuah kelemahan yang tidak sepatutnya ditunjukkan pada siapa-siapa.
"Hah, kenapa aku menangis?" bantin Micheline ingin menyeka air matanya. Namun, Hansel lebih dulu menyekanya.
"Kau menangis? apa aku menyakitimu? maafkan aku, Eline. Jangan menangis, ya." kata Hansel sembari menyeka lembut air mata Micheline. Hansel merasa bersalah karena Micheline menangis.
Micheline menggeleng, "Bukan salahmu, Hans. Air mata s*alan ini saja yang tiba-tiba keluar. Maaf, aku tidak bermaksud seperti ini." jawab Micheline dengan suara lirih.
Hansel memeluk Micheline, "Menangis bukan kesalahan, Eline. Jika kau ingin menangis, kenapa harus kau tahan? luapkan saja, aku bersedia meminjamkan tempat untukmu menangis diam-diam." kata Hansel menghibur.
Tangisan Micheline semakin pecah. Ini kali pertama ia menangis tersedu-sedu di hadapan seseorang. Bahkan di hadapan Charlie yang sudah bertahun-tahun mengenal pun, Micheline tidak pernah sekali pun menangis. Ia hanya akan menangis di tempat tersembunyi, di tempat yang hanya ada dirinya seorang.
Tangan Micheline mencengkaram erat jas Hansel. Hansel mengusap kepala juga punggung Micheline. Sejujurnya ia tidak menyangka jika seorang Micheline yang suka bicara pedas dan bersikap angkuh juga seenaknya bisa menangis seperti anak kecil dalam pelukannya.
Setelah puas menangis, Micheline melepas pelukan dan menyeka air matanya sendiri. Hansel mengeluarkan sapu tangan iya membantu Micheline mengusap air mata Micheline. Hansel melihat mata Micheline sembab, di rabanya wajah Micheline lalu di kecupnya kedua kelopak mata Micheline dengan lembut.
"Lihat matamu. Karena menangis jadi sembab, kan." kata Hansel.
Micheline hanya diam, Hansel tersenyum karena Micheline tidak memprotes ia menciumnya. Hansel mendekatkan wajahnya ke wajah Micheline, Micheline hanya melebarkan mata tanpa bicara. Hansel mengusap tengkuk leher Micheline dengan tangan kanannya, lalu mencium bibir Micheline lembut. Satu tangan Hansel merangkul pinggang Micheline agar semakin dekat dengannya.
Mata Micheline yang semula terbuka, kini memejam. Micheline merasakan ciuman Hansel. Sesaat ia merasakan sesuatu dalam rongga dadanya. Ya, jantungnya berdetak tidak beraturan. Ia berdebar karena ciuman Hansel yang terasa berbeda.
"Apa ini? aku berdebar?" batin Micheline.
Merasa Micheline tidak melawan atau pun menolak ciumannya. Hansel semakin dalam dan lihai memberikan sensasi. Disapunya bersih tepian bibir Micheline bagian atas sampai bawah, Hansel juga setengah menggigit bibir ranum Micheline.
Cukup lama berjuang, Hansel mendapatkan balasan. Micheline mengalungkan dua tangannya keleher Hansel. Ia membalas ciuman Hansel, membuat Hansel bergairah. Hansel memberanikan diri menggrilyakan tangannya, mengusap paha Micheline dari luar.
"Perempuan ini, sekalinya beraksi bisa membuatku terbuai seperti ini. Aku tidak akan melepaskanmu, Eline. Kau harus menjadi milikku," batin Hansel.
Entah sudah berapa lama keduanya saling berciuman. Hansel yang sudah sangat bergairah melepaskan ciuman Micheline dan langsung kembali melajukan laju mobil untuk kembali ke rumah Micheline.
...*****...
__ADS_1