
Setelah kepergian Ertha dan Luky, Ergy merasa gelisah. Ia tidak bisa makan dan memejamkan mata untuk tidur. Ia mencari ke mana-mana istri dan anaknya, tetali tidak membuahkan hasil. Ergy smpai pergi ke temoat yang biasa di datangi keduanya. Hasilnya tetap sama saja.
"Di mana Ertha dan Luky? Aku harus menemukan mereka. Bagaimana ini, apa mereka kabur dariku?" gumamnya.
Lamunan Ergy dibuyarkan Jack yang baru saja datang. Jack mendapat panggilan dari Ergy, ia segera datang menemui temannya itu setelah menerima panggilan.
"Ada apa, Ergy?" tanya Jack.
"Ini kacau! Ertha dan Luky menghilang," kata Ergy.
"Bagaimana bisa? apa kau sudah menghubungi mereka? ponsel mereka? atau teman-teman istri dan anakmu?" cecar Jack yang panik.
Ergy menganggukkan kepala, "Sudah semua. Ponsel istriku di rumah. Ponsel Ergy tidak aktif. Aku sudah berkeliling seharian ini mencai mereka dan mendatangi tempat-tempat yang biasanya mereka kunjungi. Namun tidak juga ketemu. Bagaimana ini, Jack? apa yang harus aku lakukan?" keluh Ergy putus asa.
"Kapan mereka menghilang?" tanya Jack lagi.
"Entahlah. Saat aku kembali dari pertemuan terkahir kita kemarin malam, Ertha sudah tidak ada di rumah. Ergy juga tidak pulang sampai pagi tadi. Aku sudah lapor polisi, tetapi polisi akan membantu jika sudah lewat dua puluh empat jam." jelas Ergy.
"Coba kau hubungi Matteo. Minta tolong padanya untuk membantumu. Bukankah kau dan dia sudah sepakat bekerja sama?" usul Jack.
"Apa dia bisa mencari orang hilang?" tanya Ergy lagi.
"Entahlah. Kau perlu mencobanya, kan?" jawab Jack, "Aku akan bantu sebisaku membantumu, Ergy."
Ergy menunduk sedih, "Apa mareka kabur, Jack? apa mereka pergi meninggalkanku?" ucap Ergy dengan suara lirih hampir tidak terdengar.
"Itu tidak mungkin. Bukankah Ertha sangat mencintaimu?" sahut Ergy.
"Itu mungkin saja. Beberapa hari terakhir, kami sering bertengkar hebat dan aku terus menerus menyalahkannya. Aku bahkan mendorongnya dan memakinya juga. Arghhh..." geram Ergy merem*s rambutnya sendiri, "Ini semua karena bocah tengik itu. Jika saja aku tidak menerima surat itu, aku tidak akan emosi dan bersikap kasar pada Ertha." kesalnya meluap.
Jack menepuk bahu Ergy, "Tenanglah. Bukankah soal Hansel sudah kita temukan solusinya? Matteo pasti akan membereskan anak itu," kata Jack mencoba menghibur Ergy.
"Ya. Aku betharap dia bisa diandalkan," ucap Ergy.
"Kau sudah mendapat kabar dari Matteo. Kapan kira-kira dia bisa menyelesaikan pekerjaannya?" tanya Jack.
"Belum, Jack. Seharian ini aku hanya fokus pada istri dan anakku." jawab Ergy.
"Ke mana, ya? Ertha dan Luky pergi?" batin Jack bertanya-tanya, "Jika melarikan diri seusai apa yang dikatakan Ergy. Pasti ada alasannya, kan? bukankah Ertha sangat mencintai Ergy? tidak mungkin hanya karena didorong dan dimaki langsung pergi begitu saja. Atau jangan, jangan, ada seseorang yang memberitahukannya sesuatu? ah... s*alan! aku jadi ikut tegang dan cemas" batinnya lagi.
__ADS_1
"Kau kenapa?" tanya Ergy melihata Jack yang terlihat setius betpikir.
Jack terkejut, "A-apa? kau memanggilku?" tanya Ergy.
"Kau terlihat serius berpikir. Apa memikirkan sesuatu?" tanya Ergy lagi.
"Oh, maaf. Sesaat aku melamun. Pikiranku terpecah pada pekerjaanku juga," jawab Jack beralasan.
"Maaf, Jack. Seharusnya aku tidak merepotkanmu. Kau apsti sangat sibuk," kata Ergy murung.
"Tidak, tidak, bukan seperti itu. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak masalah dengan ini. Kita kan teman, sudah seharusnya saling membantu. Yang terpenting saat ini adalah kita harus bisa mendapat informasi di mana istri dan anakmu berada," jelas Jack.
Ergy mengangguk. Ada perasaan tidak enak juga perasaan sedih kehilangan. Meski ia tahu benar dan pasti jika ia tidak terlalu mencintai istri dan anaknya, seperti ia mencintai dirinya sendiri. Namun, ia tidak bisa membiarkan dirinya dicampakkan begitu saja oleh orang terdekatnya.
*****
Hansel ada di kamarnya, ia tidak bisa tidur meski sudah berusaha memejamkan matanya. Ia mencoba mengubah posisi tidurnya, berbaring ke kiri dan ke kanan. Namun ia tidak tidak kunjung terlelap tidur.
"Ah... aku tidak bisa tidur. Aku keluar saja dulu mencari angin segar," kata Hansel yang segera bangun. Hansel langsung turun dari temoat tidurnya dan pergi keluar dari kamarnya.
Langkah kakinya pergi menuju dapur. Ia mengambil gelas lalu menuang air putih untuk diminumnya. Saat minum, ia teringat Micheline. Buru-buru dihabiskannya air putih di dalam gelas, ia meletakan gelas di meja dan melangkah pergi ingin melihat Micheline.
Hansel sudah ada di depan pintu kamar Micheline, diketuknya perlahan lalu dibukanya pintu kamar itu. Lampu kamar sudah padam, begitu juga lampu tidur. Itu tanda jika Micheline sudah terlelap tidur. Hansel masuk lalu segera menutup pintu, melangkah mendekati Micheline yang sudah terbaring tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur, mengusap lembut kepala Micheline. Ditatapnya cukup lama paras cantik Micheline.
Hansel segera berdiri, ia membenahi selimut Micheline. Ia pun langsung pergi setelah memastikan keadaan Micheline. Lega rasanya melihat orang yang disayanginya sudah terlelap tidur.
Hansel keluar dan menutup pintu kamar Micheline. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju belakang rumah. Di sana Hansel duduk di kursi, matanya melihat sekeliling. Ia melihat kamar kosong yang berada terpisah atap dari teras belakang. Kamar di mana Ertha dan Luky berada. Melihat kamar itu, membuat Hansel ingat akan ponsel Luky yang diberikan Micheline padanya. Ergy menyimpan posel itu di laci nakas di kamarnya. Ponsel itu juga dalam keadaan tidak aktif.
"Mereka juga pasti sudah tidur, kan?" batin Hansel.
Hansel teringat akan Ergy. Ia tidak tahu jika di lain tempat, Ergy sedang sibuk mencari keberadaan Ertha dan Luky, yang ternyata ada dekat dengannya. Hansel hanya tahu, Ergy pasti bingung karena merasa kesepian. Bagaimanapun, Ertha adalah seorang istri yang bisa menjadi penghibur bagi pamannya. Luky juga adalah anak kebanggan Pamannya.
Hansel menarik napasnya dalam lalu mengembuskan napasnya perlahan-lahan. "Kapan ini berakhir? aku sudah sangat lelah," batinnya.
Perlahan tubuh dan kepalanya bersandar kursi. Hansel sengaja merebahkan tubuhnya karena merasa nyaman dengan suasananya saat itu. Matanya terpejam, suara dedaunan yang tertiup angin samar-sama ia bisa dengar. Cukup lama Hansel berada dalam posisinya yang seperti itu. Tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu, seperti ada selimut yang langsung menghangatkan tubuhnya. Ada tangan yang mengusap kepala dan wajahnya dengan sangat lemnut. Matanya perlahan terbuka, Ia melihat paras cantik Micheline ada di hadapannya.
"Eline..." panggil Hansel.
"Ya. Ini aku. Kau sedang apa di sini?" tanya Micheline.
__ADS_1
"Tidak sedang apa-apa," jawab Hansel.
Hansel langsung berpindah posisi. Ia melihat selimut yang dipakaikan Micheline mrnutupi tubuhnya, lalu kembali menatap Micheline. Hansel membuka selimut itu, menarik tangan Micheline agar tubuh Micheline jatuh dalam pangkuannya. Diselimutinya tubuh Micheline dan tubuhnya agar hangat.
"Apa ini?" gumam Micheline.
"Aku sedang berbagi selimut denganmu. Agar kau juga merasa hangat," jawab Hansel.
Micheline menaikan kakinya, ia berpindah posisi miring dan langsug berbalik menghadap Hansel. Ia ingin bisa melihat wajah Hansel. Diusapnya wajah Hansel, lalu dipeluknya Hansel erat-erat.
"Kau belum tidur? apa kau terbangun?" tanya Micheline.
"Aku tidak bisa tidur. Jadi belum tidur. Daripada itu, kenapa kau bangun? apa kau juga tidak tidur tadi?" tanya Hansel balik bertanya.
"Aku tidur, tetapi aku terbangun saat merasakan sesuatu. Sepertinya ada yang menciumku tadi," gumam Micheline memejamkan mata dalam pelukan Hansel.
"Tidurlah. Bukankah kau sudah cukup lelah sepanjang hari ini," kata Hansel.
"Hm..." gumam Micheline, "Jangan berpindah posisi, aku snagat nyaman dengan posisi seperti ini." kata Micheline mengeratkan dekapannya.
"Kau nyaman. Aku yang tidak nyaman. Dan tolong jangan sering menggerakan tubuhmu. Kau tahu kan dibawah sana sudah mulai bereaksi," bisik Hansel, "Atau kau sengaja, ya? memancing birahiku, hm?" ucap Hansel menggigit lembut daun telinga Micheline.
"Hmm..." gumam Micheline lagi. Terserah saja, aku suka ya aku lakukan, "Apa jika begini juga bereaksi?" tanya Micheline yang sengaja menggerakan perlahan tubuhnya.
"Dasar nakal," bisik Hansel mencium pipi lalu mendekap erat tubuh Micheline.
Micheline menadahkan kepalanya, "Kau kenapa tidak bisa tidur?" tanya Micheline.
"Tidak mengantuk," jawab Hansel menatap Micheline.
"Mau tidur denganku? ah... maksudku berbagi tempat tidur denganku," tawar Micheline.
Hansel menggeleng, "Aku ingin bercinta denganmu saja," jawabnya.
"Aku menawarkan tidur bersama, bukan bercinta. Pikiranku perlu dibersihkan agar tidak kotor sepertinya," jawab Micheline.
"Tidur bersama lalu bercinta. Bagaimana jika seperti itu," goda Hansel.
"Kau ini, menyebalkan." gerutu Micheline.
__ADS_1
Hansel tertawa, diikuti Micheline. Keduanya saling bertatapan mata dalam satu sama lain. Dalam sekejap, bibir keduanya sudah saling bersentuhan. Hansel dan Micheline berciuman mesra.
...*****...