
Micheline*
Aku bermimpi, aku terdorong oleh sesorang saat aku hendak memberi isyarat pad Jesslyn. Aku pun terjatuh dan berguling menuruni anak tangga dengan begitu cepat. Setelah itu aki hanya merasa sakit dan pandangan mataku langsung kabur, perlan-lahan semakin gelap dan entah apa yang terjadi.
Kubuka mataku perlahan. Mataku terasa berat, tetapi aku memaksakannya untuk terus berkedip. Pandanganku berkabut, aku hanya melihat secara samar-samar ada cahaya terang. Begitulah sampai akhirnya pandanganku mulai terlihat. Sesuatu yang kulihat pertama kali adalah langit-langit dan dinding dengan warn senada.
Ini di mana? pikirku sembari terus menyelisik sekitar. Kulihat lagi, ada televisi ada set sofa dan meja tidak jauh dari tempatku berbaring. Indra penciumku mencium sesuatu yang terasa familiar. Ya, ini seperti bau obat-obatan.
Apa yang terjadi? di mana ini? pikiranku terus memikirkan itu. Aku tidak tahu aku di mana dan kenapa. Aku pun berusaha bergerak sedikit, tetapi yang terjadi justru aku merasakan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhku. Terutama dibagian perutku.
"Ouchhh... shhh..." desisku merasakan sakit.
Tiba-tiba saja aku mendengar suara langkah kaki. Aku memalingkan wajah, dan melihat Hansel. Hansel yang melihatku membuka mata segera berlari mendekat dan memanggil namaku.
"Eline..." panggilnya, "Kau akhirnya bangun, sayang. Tunggu... aku panggilkan dokter dulu." katanya dan langsung terburu-buru berlari meninggalkanku lagi.
Aku tidak mengerti arti ucapannya. Kepalaku juga terasa sakit dan berat, membuatku malas berpikir. Rasanya sungguh sakit, kucoba menggerakan kakiku pun rasanya juga sama saja.
Sakit sekali... sakit! sampai aku ingin menjerit dan mengerang karena rasa sakit disekujur tubuhku. Semuanya terasa nyeri dan tidak nyaman saat digerakkan.
Aku teringat akan apa yang kumimpikan tadi. Aku lalu berpikir, kembali mengingat hal apa yang terjadi. Seketika mataku terbelalak. Aku ingat semuanya, aku ingat jika pada saat aku di rumah kosong, aku sedang dalam misi menyergap Ergy, bersama Hansel, Charlie, Jesslyn dan Matteo. Juga orang-orangku pun ada di sana. Saat aku melihat Hansel dan Ergy berdebat, aku hendak meminta bantuan Jesslyn. Oleh karena itu aku kembali berjalan mendekati pembatas lantai dua yang terhubung dengan pembatas peganganan tangga. Aku melihat sekeliling mencari keberadaan Jesslyn, aku pun sudah akan mengangkat tanganku. Namun, aku meraskan tubuhku seperti tertabrak dan aku seperti terdorong ke tangga. Aku pun menjerit, merasakan aku berguling-guling.
Perutku... Aku ingat aku sedang mengandung. Jika posisiku terjatuh berguling bagaiman dengan nasib janin yang kukandung. Seketika pikiranku mulai kacau.
Pintu terbuka, Hansel membawa dokter dan seorang perawat. Perawat langsung memeriksa infusku, ia terlihat sibuk. Dokter juga memeriksa detak jantung, denyut nadi dan melebarkan mataku.
"Apa yang anda rasakan, Nona?" tanya dokter padaku.
"Pusing, sakit..." jawabku. Itulah yang memang aku rasakan sekarang.
"Ada bagian yang terasa lebih sakit dari bagian lainnya? kami akan segera memeriksanya dan melakukan mengecekan ulang," kata dokter lagi.
"Perut... perutku sakit, bahu juga. Tidak, semuanya sakit. Tidak ada satu bagian pun yang tidak sakit, dok." jawabku melemas. Aku berusaha bicara panjang untuk mengatakan apa yang aku rasakan. Agar dokter segera menannganinya.
"Baik, Nona. Kami akan melakukan pemeriksaan ulang." jawabnya.
__ADS_1
"Bagimana anakku?" tanyaku langsung saat teringat kembali akan janinku.
Dokter langsung menatap Hansel. Hansel langsung membuang muka dan terlihat murung. Perasaanku tidak enak, firasatku buruk. Jangan, jangan...
Apa aku keguguran? tidak, tidak, tidak mungkin. Aku tidak mau. Aku...
"Maaf, Nona. Kami tidak bisa menyelamatkannya. Anda mengalami pendarahan serius. Kami sudah berusaha, tetapi Tuhan berkendak lain." kata dokter dengan memasang ekspresi sedih.
Jantungku seakan berhenti berdetak. Dadaku terasa sesak sehingga membuatku sulit bernapas. Mulut diam membisu, tidak bisa bicara apa-apa. Air mataku begitu saja keluar, berlinang membasahi kedua pipiku. Kuusap perutku dan kucengkram pakaianku sendiri. Tubuhku mulai gemetar.
Anakku... kupanggil anaku yang telah tiada. Aku merasa bodoh, aku sangat bodoh. Aku bodoh tidak bisa menjaga anakku sendiri.
"Nona, anda perlu banyak istirahat untuk memulihkan keadaan tubuh anda. Saya permisi dulu, ada yang harus saya pastikan lagi. Silakan panggil kami, saat anda membutuhkan sesuatu." kata Dokter. "Permisi," pamitnya.
"Ya, dok. Terima kasih," jawab Hansel.
Kulihat dokter dan perawat itu pergi, aku segera memalingkan wajahku. Aku hanya diam menatap langit-langit. Air mataku terus berderai. Aku tidak menduga akan kehilangan anakku yang bahkan belum kulihat rupanya. Apakah dia perempuan atau laki-laki. Hatiku sedih, dadaku terasa sesak, membuatku kesulitan bernapas.
Aku merasakan Hansel mengusap kepalaku, lalu wajahku. Ia menyeka air mataku. Hansel duduk disampingku, memegang tanganku dan mencium tanganku. Aku meraskan sesuatu menetes di tanganku, ini air mata? pikirku lagi.
"Maafkan aku, El. Maaf..." kata Hansel terisak. Ia tidak menampakan wajahnya padaku. Ia membenamkan wajahnya di tanganku.
"Kau tidak bersalah, Hans. Akulah yang salah. Maafkan aku, Hans. Maafkan aku..." kataku menangis keras. Air mataku kembali bercucuran. Aku terisak sampai napasku naik turun.
Hansel mencoba menenangkanku, "Tidak, El. Jangan menangis seperti ini. Salahku tidak melindungimu juga anak kita dengan baik. Aku menyesal membiarkanmu ikut terlibat. Seharusnya kau duduk dan diam saja bersembunyi. Aku tidak memikirkan ini semua. Aku sangat bodoh," geram Hansel pada dirinya sendiri.
Hansel memelukku, aku pun kembali menangis dalam pelukannya. Kukatakan semua pada Hansel, kuungkapkan semua keluhanku juga kekecewaanku.
"Anakku..." ucapku memanggil calon anakku sembari menangis. kueratkan pelukkanku pada Hansel. "Aku bahkan belum menyentuhnya, Hans. Bagaimana ini? bagaimana?" lagi-lagi aku terisak.
"Tenangkan, El. Kuatkan hatimu menerima semua ini. Mungkin saja, kita mang belum berjodoh dengannya. Bersabarlah," kata Hansel mengusap dan menepuk pelan punggungku.
Ya, apa yang dikatakan Hansel ada benarnya. Kita memang belum berjodoh. Entah mengapa aku sangat sedih. Baru saja aku menerimanya, ia sudah pergi meninggalkanku seperti ini.
Yang aku bayangkan sebelumnya, saat ia lahir. Aku akan bisa menyentuhnya, memeluknya juga melihat tubuh mungkilnya. Aku penasaran dengan rupanya, ingin mendnegar suara tawa dan tangisannya. Ingin membesarkannya, mencurahkan kasih sayangku padanya. Namun, sekarang semuanya hanya tinggal kenangan.
__ADS_1
Harapan dan impianku pupus. Meski aku enggan, aku tidak membencinya. Aku sudah bertekad untuk mulai menerimanya, menyayanginya juga mencintainya. Aku akan merawatnya hingga ia tumbuh besar dan dewasa.
Aku tidak bisa menahannya. Ini sakit! hatiku seperti tersayat pisau saat harus mengenang semuanya.
Hansel melepas pelukannya. Dikecupnya keningku, lalu hidungku. Ia mengusap-usap pipiku. Bisa kulihat matanya sembab dan merah. Aku mengulurkan tanganku meski terasa sakit, tetapi ku tahan semua itu demi bisa menyentuh wajah Hansel.
"Kau tidak tidur? ada kantung mata di bawah matamu," kataku pelan.
"Bagaimana bisa aku terlelap tidur. Saat kau terbaring tidak sadarkan diri selama berhari-hari. Aku terus-terusan khawatir. Hatiku gelisah, pikiranku kacau. Aku tidak bisa berpikir jernih." ungkap Hansel.
Mendengarnya, aku merasa tidak tega. Bisa terbayangkan olehku. Bagaimana raut wajah dan ekspresinya. Kasian sekali Hansel. Selain aku, ia juga salah satu orang yang bersedih atas kejadjan itu. Bagaimana tidak sedih, calon anak yang didambakannya tiba-tiba pergi menghilang.
"Maafkan aku membuatmu gelisah, Hans." kataku.
Hansel menggelengkan kepala, "Tidak apa, El. Aku sangat bersyukur, karena kau akhirnya bisa bangun dan membuka matamu." katanya lagi.
"Cepat sembuh. Kau harus segera pulih, El." ucap Hansel memegang tanganku dan mengusapnya perlahan.
Aku hanya mengangguk, aku tidak bisa bicara lagi. Semuanya ini seperti mimpi yang sangat buruk bagiku. Aku ingin memejamkan mataku, berharap aku bisa langsung bangun dari mimpi ini.
...*****...
**Yuk, follow ig author
ig: dea_anggie
Jangan lupa like setiap episodenya ya..
Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..
Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..
Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..
Terima kasih semuanya...
__ADS_1
Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..
Salam hangat dari author~~🙂**