My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 36 - Bringas


__ADS_3

Perhatian!


Dalam cerita mengandung unsur dewasa. Seperti 21+, kekerasan fisik, darah, kata- kata umpatan dan lain-lain. Diharapkan pembaca bijak dalam menanggapi isi bacaan. Terima kasih.


*****


Malam harinya, Micheline mengajak Hansel, Charlie juga Keily untuk menginap di Villa miliknya. Sebagai hadiah karena sudah menyelesaikan tugas pelatihan pertama dengan baik, Micheline ingin mengajak semua pergi minum wine bersama. Mereka sudah siap berangkat menuju gudang anggur milik keluarga J bersaudara.


"Kita akan ke mana, Kak?" tanya Keily.


"Minum wine kwalitas terbaik di wilayah ini. Kau pasti suka," jawab Micheline.


"Kita ke Bar?" tanya Keily lagi.


Micheline menggeleng, "Tidak. Kita akan langsung ke gudang anggurnya. Menikmati manisnya wine langsung lebih menyenangkan dibandingkan kita menikmatinya di Bar. Ngomong-ngomong," Micheline melihat sekeliling, "Di mana J bersaudara, ya? bukankah mereka akan menjemput kita?" gumam Micheline.


"Mungkin saja mereka terlambat," sahut Charlie.


"Ya. Mungkin saja. Kita tunggu saja sebentar lagi," jawab Micheline.


Sekitar sepuluh menit lamanya mereka semua menunggu. Jesslyn dan Jason tidak kunjung datang. Perasaan Micheline tidak enak, ia merasakan tidak nyaman dalam hatinya. Benar saja, saat semua sibuk berdiskusi karena akan langsung pergi ke gudang anggur tanpa menunggu lagi, Jason datang dengan berlari tunggang langgang menemui Micheline.


"Nona, tolong Kakak dan Kakek."


Jason dengan wajah lebam babak belur dan beberapa luka di tangannya meminta pertolongan pada Micheline. Kakinya juga terlula, tetapi ia menahannya untuk bisa berlari meminta pertolongan.


"Jason..." panggil Micheline terkejut, "Ada apa?" tanya Micheline tanpa basa-basi lagi.


"To-tolong kami. Seseorang membawa Kakak pergi. Dan Kakek sedang tidak sadarkan diri. Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa, karena beberapa tetangga enggan untuk menolong kami. Mereka semua ketakutan karena diancam. Tolong Kakak," kata Jason sedih, ia merasa khawatir pada Kakak perempuan satu-satunya.


Micheline melebarkan mata, "Charlie, Kau ikut aku. Hansel dan Keily bantulah Jason. Bawa Kakek Jason ke rumah sakit," perintah Micheline.


"Kau tau ke mana Kakakmu dibawa? siapa yang membawa Jesslyn?" tanya Charlie.


Jason mengangguk, "Dia adalah keluarga pesaing bisnis anggur kami. sekaligus orang yang menyukai Kakak. Beberapa kali ia melamar Kakak, tetapi ditolak. Kali ini mereka menyerang dan memporak porandakan gudang juga rumah kami. Pasti Kakak dibawanya pergi ke rumahnya. "


"Aku tau siapa orang itu, Biar aku yang menyetir mobilnya. Jason, pergilah bersama Hansel dan Keily. Selamatkan Kakekmu lebih dulu. Jangan ke mana-mana dan tetaplah tunggu kabar dariku dan Charlie. Kau mengerti? Kalian juga mengerti?" tegas Micheline menyakinkan Jason, Hansel dan Keily.


"Tetapi, El. Apa kau akan baik-baik saja?" tanya Hansel mulai khawatir.

__ADS_1


"Aku akan mengerakkan orangku, Hans. Ini pelatihan keduamu, jaga dan lindungi Jason juga Keily."


"Kak, kalian berhati-hatilah. Jangan sampai terjadi sesuatu," kata Keily.


"Kau tidak perlu cemas. Jaga dirimu sendiri juga. Kau bisa lakukan itu untuk Kakakmu ini, kan?" Charlie berusaha menyakinkan Keily.


Keily mengangguk, "Ya. Aku pasti bisa," jawab Keily tersenyum.


Charlie mengusap kepala Keily dan menatap kearah Hansel, "Jaga dirimu juga, Hans. Waspada, karena kemungkinan mereka ada yang mengikuti Jason. Aku akan kirim beberapa orang membantu kalian juga," kata Charlie.


"Ya. Jaga dirimu, dan tolong jaga Micheline juga."


Charlie mengangguk. Micheline menatap Hansel, Keily lalu Jason. Lalu Micheline segera pergi bersama Charlie menuju tempat di mana kemungkinan Jesslyn berada.


*****


Micheline mengemudikan mobil menuju lokasi yang dituju. Charlie menghubungi orangnya untuk mencari informasi mengenai seseorang yang membawa Jesslyn.


"Kau yakin tahu lokasinya?" tanya Charlie sedikit ragu.


"Kau meragukanku?" tanya Micheline balik.


"Darimana kau tahu? apakah kau..." kata-kata Charlie terpotong oleh Micheline.


"Apa?" kaget Cahrlie menoleh kebelakang dan melihat sebuah mobil hitam misterius mengikuti mobil Micheline.


"Aku akan layani kalian bermain-main," gumam Micheline tersenyum dingin. Ia segera mempercepat laju mobilnya.


Charlie menghubungi Keily dan meminta Keily untuk siaga. Karena kemungkinan Jason diikuti sejak pergi dari kediamannya sampai ke Villa Micheline.


Micheline menghentikan mobilnya di tempat sepi di pinggir jalan. Charlie menatap Micheline, Melihat Micheline sedang mengikat rambut panjang yang sebelumnya tergerai. Cahrlie melijat kebelakang, mobil yang mengikuti mereka juga terlihat berhenti.


"Kau siap?" tanya Micheline.


Charlie mengangguk karena tahu maksud Micheline, "Ya," jawab Charlie singkat.


Micheline dan Charlie diam di dalam mobil, di tangan masing-masing sudah membawa senjata. Charlie dengan pistol dan Micheline dengan dua pisau belatinya. Mereka menunggu target menyerang mereka. Dan menunggu kesempatan menyerang balik.


"Mereka empat orang," kata Charlie. Melihat beberapa orang laki-laki bertubuh orang keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


"Kita bagi dua," jawab Micheline. Micheline melihat dari kaca spion mobilnya, "Tunggu, Charlie. Kau salah lihat, bukan empat melainkan delapan tikus. Kau lihat, ada lagi mobil lain di belakangnya."


"Sial! kenapa Vincent dan yang lain lama sekali," umpat Charlie melihat beberapa orang itu sudah semakin dekat dengan mobil yang ia tumpangi bersama Micheline.


"Mereka mendekat," kata Micheline semakin waspada. Matanya menatap tajam kaca spion mobil, "Satu... dua..." hitung Miceline. Micheline menghitung gerakan lawan dan gerakannya yang hendak menyerang, "Tiga..." Tepat dihitingan ketiga, Micheline dan Charlie langsung bersamaan membuka pintu sebelum orang-orang di luar mobil mengetuk kaca mobilnya.


Micheline memegang erat dua belatinya di tangan kiri dan Kanan. Ia langsung menendang seseorang yang ada paling dekat dengannya. Tanpa banyak mengulur waktu, Micheline langsung menyerang. Micheline mendekat dan langsung menusuk dibagian tepat dititik vital mereka. Di sisi lain, Charlie menyerang dari jarak jauh dan langsung menanamkan peluru pada tubuh lawan. Beberapa lawan juga mengeluarkan pistol dan membalas tembakan Charlie.


Dorr...


Sebuah tembakan melesat ke arah Micheline. Micheline menatik krah kemeja lawannya dan menjadikannya tameng untuk ditembus peluru dari musuh. Micheline berlari mendorong tubuh laki-laki yang masih dijadikannya tameng dan langsung mendorong agar ia bisa mendekati lawan yang lain. Dan ia pun berhasil mendekati seseorang yang melepaskan tembakan. Micheline langsung menyiku wajah seseorang itu dan menusuk tepat di perut.


"Nikmati kematianmu dengan indah," bisik Micheline memperdalam tusukannya.


Micheline tersenyum puas ia menatap lawannya yang berada tidak jauh dari seseorang yang ditusuknya. Dicabutnya pisau yang menghunus tadi dan dipamerkannya pisau itu di hadapan dua orang yang lainnya.


"Kau jal*ng! jangan coba-coba menghancurkan rencana Tuan kami. Kami tahu, kau teman dari Dokter cantik itu, kan?" kata seseorang tanpa rasa takut memanggil Micheline sebagai seorang perempuan rendahan.


Michelie mengertakan giginya, "Kau panggil aku apa? siapa?" tanya Micheline geram, mencengram kuat belati dan siap untuk dihunuskan.


"Ayo, kita serang bersama. Dia hanya perempuan jal*ng yang sedang beruntung saja, kan. Kita harus selesaikan ini dan kembali," kata seseorang pada temannya.


"Ya," jawab seseorang lain menanggapi ucapan temanya.


Keduanya berlari dan menyerang Micheline. Micheline juga berlari mendekati keduanya, posisinya sudah dekat dan dengan gerakan cepat memutar tubuhnya membelakangi kedua orang yang menyerangnya. Siku kiri Micheline langsung mendarat di wajah lawan yang berada kiri dan siku kananya langsung menyiku wajah lawan di sisi kanan. Micheline kembali berbalik dan langsung mengores dada keduanya secara bersamaan disaat gerakan mereka lengah karena wajah mereka sudah menjadi sasaran serangan Micheline.


"Aahh..." jerit seseorang memegang dadanya yang tergores. Sedangkan sesorang lainnya hanya diam dengan menahan rasa sakit.


Micheline menarik rambut seseorang yang berteriak, "Bagaimana rasanya? sangat sakit, kan?" bisik Micheline, "Nikmatilah kematian indahmu," kata Micheline yang langsung menggores leher seseorang tersebut.


Seseorang lain melebarkan mata, "To-tolong ampuni saya," katanya ketakutan.


Micheline mendekat dan jongkok di hadapan seseorang itu, "Kau ingin hidup?" tanya Micheline.


Seseorang itu mengangguk, "Ya, Nona. Saya masih ingin hidup," katanya merintih.


Jleb...


"Aaahhh..." teriak seseorang itu sangat keras saat pisau Micheline menusuk pahanya.

__ADS_1


Micheline mencabut dan kembali menusuk paha seseorang itu lagi. Ia melakukan beberapa kali sampai seseorang itu terkulai lemas. Melihat lawannya sudsah tidsk berdaya, Micheline pun tersenyum puas.


...*****...


__ADS_2