
Perhatian!
Dalam cerita mengandung unsur dewasa. Seperti 21+, kekerasan fisik, darah, kata- kata umpatan dan lain-lain. Diharapkan pembaca bijak dalam menanggapi isi bacaan. Terima kasih.
*****
Keesokan harinya. Hansel dan Micheline kembali bermain panas. Keduanya tidak terlihat kelelahan meski semalam sudah bertempur habis-habisan. Hansel sungguh-sungguh memakan habis Micheline tanpa tersisa. Micheline menyerah dan akhirnya hanya bisa pasrah menerima perlakuan manis Hansel yang membuatnya terus menjerit nikmat.
"hhh..."
"Mmm..."
Napas Micheline naik turun, saat Hansel menyudahi kegiatan olah raga paginya. Micheline memiringkan tubuhnya, namun pinggangnya terasa sakit dan ngilu. Micheline pun menjerit mengusap punggungnya.
"Ouch... sshhh..." desis Micheline mengusap punggungnya.
Hansel panik, "Kau baik-baik saja?" tanya Hansel membantu Micheline duduk.
"Ah... ini sakit, Hans. Bisa kau ambilkan aku kompres es di dapur?" kata Micheline meminta tolong.
"Ok, aku ambilkan." jawab Hansel yang serega turun dari tempat tidur dan mengenakan kimono handuk. Ia langsung berjalan keluar kamar menuju dapur.
"Hhh... sakit sekali. Gila aku sudah gila sampai seperti ini. Eline, kau sudah masuk dalam perangkap harimau. Bisa-bisanya aku terbuai sampai seperti ini," batin Micheline.
Meski begitu, Micheline tidak menyesal sudah menghabiskan malam panas dan pagi yang hangat bersama Hansel. Ia hanya sangat menyayangkan dirinya yang tidak bisa mengendalikan diri dari nafsu sesatnya.
"Jika seperti ini bagaimana aku akan ke kantor, ya?" gumam Micheline.
"Kau akan ke kantor?" tanya Hansel yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Ya. Tentu saja harus ke kantor. Bukankah hari ini ada rapat?" jawab Micheline.
Hansel mendekat ke tempat tidur dan duduk di tepi tempat tidur. "Ayo tengkurap. Aku akan mengompres pinggangmu," kata Hansel.
Micheline mengangguk, ia segera berpindah posisi terngkurap. Hansel mengusap lembut pinggng Micheline dan memijat-mijat lembut pinggang Micheline. Setelah selesai memijat, barulah Hansel meletakan kompres es di pinggang Micheline.
"Nyaman sekali," ungkap Micheline menikmati pijitan dan kompres es yang ada di pinggangnya.
"Maaf," ucap Hansel.
"Maaf? untuk apa? kau melakukan sesuatu di belakangku?" tanya Micheline menerka sesuatu terjadi.
"Maaf sudah membuatmu seperti ini. Aku terlalu bersemangat," kata Hansel.
__ADS_1
"Oh... ya, tidak apa-apa. Aku bisa tahu jelas betapa hebat permainanmu."
Wajah Hansel memerah. Ia malu jika harus mengingat kejadian panas antara dirinya dan Micheline. Mengingat setiap sentuhan dan gerakan-gerakan liar yang erotis juga suara erangan yang memenuhi seluruh ruangan.
"Charlie akan membawamu menemui Tuan Waller. Kau bicara saja keluhanmu padanya. Aku juga suda ingatkan dia membantumu mulai dari awal sampai akhir nantinya. Kau dengar, Hans?" kata Micheline.
Micheline tidak mendengar jawaban, "Kau dengar, Hans? Hans..." panggil Micheline.
"Hansel..."
"Sedang apa laki-laki liar ini? apa dia pergi mandi?" batin Micheline.
Karena penasaran Micheline pun memaksakan diri bangunn, ia melihat Hansel duduk termenung melamunkan sesuatu. Micheline terlihat kesal, ia bicara panjang lebar namun dibaikan Hansel yang sibuk melamun.
Micheline mengejutkan Hansel, "Kau melamunkan apa? aku bicara padamu, bukan pada dinding."
"Ah, a-ada apa?" kaget Hansel.
"Lupakan saja. Kau sangat menyebalkan. Kau bersamaku sedangkan pikiranmu entah ke mana-mana," gerutu Micheline.
Hansel melebarkan mata, "Itu... kau salah paham. Aku tidak memikirkan hal lain. Aku hanya memikirkanmu, memikirkan kita berdua." jawab Hansel.
"Memikirkanku? kau dan aku? kita berdua?" gumam Micheline, "Ah... jangan-jangan. Kau memikirkan..." kata Micheline melebarkan mata.
"Laki-laki ini sungguh berpikir jauh, ya. Bagaimana bisa dia merancanakan sesuatu yang buruk padaku," batin Micheline kesal.
"Malu sekali. Bagaimana bisa Micheline tahu isi pikiranku? apakah terbaca dengan jelas di wajahku?" batin Hansel.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Saling menduga dan menerka-nerka sesuai isi kepala mereka. Ponsel Micheline berdering, ia mendapatkan panggilan dari Charlie. Micheline menerima panggilan Charlie dan berbincang. Di telepon, Charlie mengatakan jika ponsel Hansel tidak bisa dihubungi. Meminta Micheline untuk mencoba menghubungi Hansel, mengingat Charlie akan mempertemukan Hansel dengan seseorang bernama Marco Waller. Selesai mengabari, Charlie mengakhiri panggilannya. Micheline meletakam ponselnya di atas tempat tidur dan menyampaikan pesan Charlie pada Hansel.
"Di mana ponselmu?" tanya Micheline.
"Di saku jas. Sepertinya tertinggal di ruang tengah semalam. Ada apa? apa ada sesuatu?" tanya Hansel.
"Charlie mengeluh, ponselmu tidak bisa dihubungi. Aku diminta mebghubungimu dan menyampaikan jika pertemuanya sudah ditentukan. Nanti di jam makan siang," jelas Micheline.
Hansel mengangguk, "Ah... iya, aku mengerti. Bukankah nanti kita bisa bertemu di kantor? kenapa dia sibuk sekali mencariku," gumam Hansel.
"Dia tidak ke kantor hari ini. Maka dari itu, dia akan langsung ke tempat pertemuan nanti siang. Apa kau lupa, dia kan sedang bersama Jesslyn dari semalam. Dia membantu Jesslyn yang katanya sangat sibuk hari ini, jadi meminta izin libur."
"Oh... aku tidak tahu itu. Atau mungkin saat kau bicara, pikiranku fokus ke hal lainnya. Maaf," kata Hansel.
"Selalu kata 'maaf' yang kau lempar. Mau sampai kapan kau minta maaf, huh?" jawab Micheline kesal, "Sudahlah, aku sudah merasa lebih baik dari tadi. Mungkin lebih nyaman lagi jika aku segera mandi."
__ADS_1
Micheline turun dari tempat tidur, dengan sedikit terhuyung ia berjalan menuju kamar mandi. Micheline masih meraba-raba pinggangnya yang terasa sedikit nyeri.
"Apa aku perlu menggendongmu? apa kita mandi bersama saja?" celetuk Hansel memberikan penawaran.
Mendengar tawaran Hansel, bukan perasaan senang dirasa Micheline melainkan rasa sakit. Karena ia sudah menerka Hansel tidak akan hanya diam mandi di kamar mandi bersamanya.
"Aku tidak akan termakan rayuan harimau liar sepertimu, huh. Menyebalkan," gerutu Micheline kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti.
Hansel tersenyum, "Kenapa dia jadi setakut itu? apa aku sungguh seliar itu? aku rasa tidak, aku masih bisa lebih liar lagi, sayang." batin Hansel.
Micheline langsung mandi, Hansel juga bergeges mandi di kamar mandi lain yang ada di rumah Micheline. Hansel merasa sudah cukup ia menggoda dan bermain bersama Micheline. Tidak ingin menyakiti Micheline lebih lagi.
*****
Micheline dan Hansel sudah berpakaian rapi dan sudah ada di meja makan untuk sarapan bersama. Setelah sarapan, mereka bersiap untuk segera berangkat ke kantor.
"Hans..." panggil Micheline.
"Ya?" jawab Hansel mendekati Micheline.
"Aku melupakan sesuatu. Ambilkan berkas dokumen yang ada di atas meja kerjaku. Aku harus bawa itu ke kantor," perintah Micheline pada Hansel.
"Ok. Tunggulah di mobil." kata Hansel.
"Ya," jawab Micheline.
Hansel pergi menuju ruang kerja Micheline untuk mengambil berkas dokumen. Sedangkan Micheline berjalan perlahan meninggalkan meja makan dan keluar dari rumah. Micheline malangkah mendekati mobilnya, lalu masuk ke dalam mobil. Ia menunggu Hansel yanh masih belum terlihat batang hidungnya.
Beberapa saat kemudian. Hansel terlihat keluar dari dalam rumah dengan membawa sebuah berkas dokumen yang diminta Micheline. Ia segers berjalan mendekati mobil, lalu masuk dalam mobil dan memberikan berkas dokumen pada Micheline.
"Apa ini?" tanya Hansel menyerahkan berkas dokumen pada Micheline.
Micheline menerima dan membuka berkas itu, "Ya. Terima kasih," jawab Micheline tidak lupa memberikan senyuman cantiknya pada Hansel.
"Sama-sama. Kalau begitu, kita langsung saja berangkat. Tidak ada lagi yang tertinggal, kan?" tanya Hansel lagi memastikan.
Micheline menggeleng, "Tidak ada. Ayo, kita berangkat. Kau, hati-hati mengemudinya." pinta Micheline.
"Sesuai keinginan Anda, Bu CEO sexy." jawab Hansel.
Entah mengapa Micheline merasa aneh jika Hansel menyematkan kata 'sexy' di saat memanggilnya. Namun, Micheline tidak terlalu memperdulikannya. Yang terpenting adalah, ia tahu jika Hansel tidak punya niatan buruk padanya. Dan mau untuj berkerja padanya. Apapun panggilan Hansel padanya, ia tidak mempermasalahkannya.
...*****...
__ADS_1