
Micheline memberikan makan malam untuk Ertha dan Luky. ia menayakan keadaan Ertha juga anaknya. Apakah baik-baik saja atau ada keluhan. Tidak hanya itu, ia memberitahukan jika keduanya membutuhkan sesuatu. Segera memberitahukan dan tidak perlu sungkan.
"Kabarmu baik? bagaimana dengan putramu?" tanya Micheline. ia menatap Luky yang duduk di atas tempat tidur tanpa mempedulikannya.
"Kami baik. Terima kasih kau sudah mau memperhatikan kami," kata Ertha.
Tidak perlu berterima kasih. Bukan karena kasihan atau karena rasa bersalah. Ini karena kau dan aku sama-sama butuh makan dan kebutuhan untuk menyambung hidup. Anggap saja ini penginapan. Meski hatimu sesak berads di sini, itu lebih baik daripada kau hidup di pinggir jalan." jelas Micheline.
"Ya. Kau sangat benar," sahut Ertha.
"Perempuan ini. Memang sangat sulit mendekatinya dan membujuknya. Harinya begitu keras, pemikirannya begitu sulit dimengerti." batin Ertha.
"Oh, ya... orangku mengatakan, jika Ergy mencarimu. Polisi pun ikut serta membantu pencarian kalian. Apa kau sudah siap jika aku mengharuskanmu melawan suamimu sendiri? ah... jangan terlalu dipikirkan. Ini hanya pemikiran sesaatku saja," kata Micheline.
"Aku tidak tahu, kenapa kau begitu membenci suamiku, Nona. Bisa kau jelaskan apa alasannya?" tanya Ertha.
"Apa, ya? aku hanya tidak suka saja padanya. Bukankah kau tahu, apa saja yang suamimu lakukan semasa hidupnya? sebagai istri sekaligus orang terdekat, tidak mungkin kan kau tidak tahu." kata Micheline lagi tersenyum tipis.
"Apa lagi maksud perempuan ini? dia sungguh perempuan licik yang suka memojokkan orang lain, ya. Mengesalkan juga," batin Ertha.
"Entahlah, aku tidak mengerti maksudmu. Yang ku tahu, siamiku orang yang gila kerja. Itu saja. Terlepas dari itu semua, aku tidak tahu apa-apa." jawab tegas Ertha. Ia tidak ingin didesak lagi oleh Micheline.
Micheline tertawa, "Hahaha..." ia pun bertepuk tangan sembari tersenyum.
Prokkk... prokkk... prokkk...
"Bagus sekali. Memang cocok kau menjadi istri dari Ergy. Angktingmu sungguh luar biasa, Nyonya. Sepertinya kau sudsh lupa. Aku adalah orang yang bisa membeli segala bentuk informasi yang aku inginkan. Serapat apapun kau menutup mulut, aku pasti akan tahu semuanya." kata Mucheline memberitahu Ertha.
Ertha hanya diam saja. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi. Sepertinya, sepandai-pandainya ia bersilat lidah. Tidak akan bisa menyembunyikan apa pun dari Micheline.
"Cukup sudah berbincangan kita hari ini. Aku masih harus mengurus sesuatu. Kau bisa makan dan pergi tidur. Siapa tahu kan, esok akan ada kabar bahagia, atau pun sebaliknya. Yah, berdoa saja yang terbaik untuk keluarga kalian." kata Micheline. Ia segera berbalik dan pergi meninggalkan kamar.
Micheline mengunci pintu kamar Ertha. Di depan pintu kamar, ada Hansel yang menunggunya. Melihat Hansel tersenyum padanya, membuat Micheline merasa senang. Meski sempat dibuat kesal oleh Ertha. Micheline mencoba menahan diri.
"Lama sekali," keluh Hansel mengulurkan tangan kepada Micheline.
Micheline menggapai tangan Hansel dengan senyuman, "Jika lelah. Kenapa kau tidak masuk kamar lebih dulu?" tanya Micheline.
__ADS_1
"Kau kan tahu. Aku tidak akan bisa terpejam tanpamu di sisiku," jawab Hansel.
"Kau semakin mahir bicara, ya. Tidak kusangka kau mulutmu semakin manis," ejek Micheline.
"Oh, ya. Ada yang ingin aku sampaikan padamu, El." kata Hansel.
"Apa itu?" tanya Micheline.
"Ayo ke kamar dulu. Aku akan ceritakan," sahut Hansel.
Micheline mengangguk. Keduanya pergi berjalan bersama menuju kamar tidur Micheline. Hansel ingin menyampaikan sesuatu yang penting terkait Alfonzo. Alfonzo yang sudah lama tidak menghubunginya, tiba-tiba ingin bertemu dengan Hansel di rumah pribadi Alfonzo. Ia ragu, apakah harus menerima atau menolak permintaan Alfonzo.
Keduanya masuk dalam kamar. Hansel menutup pintu dan menyusul Micheline yang sudah hampir sampai di temoat tidur. Micheline segera naik ke tempat tidur, ia memeluk erat bantalnya. Ia menunggu Hansel yang masih berjalan mendekat ke arahnya. Hansel pun menyusul Micheline. Naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Micheline.
"Bicaralah. Ada apa?" ucap Micheline mempersilakan Hansel untuk bicara.
"Ini soal pamanmu, El. Tadi, saat kau bilang akan mengatar makan malam. Pamanmu menghubungiku. Ia menyakan kabarku, dan ingin bertemu denganku di rumah pribadinya. Bagaimana menurutmu? apakah aku harus menemuinya atau tidak?" begitulah Hansel memberitahu apa yang dipikirkannya. Ia tidak mau menyembunyikan apa pun lagi pada Micheline.
"Ah... begitu. Bagaimana dengan hatimu? apakah kau takut? apa kau meraskan sesuatu saat bicara dengannya di telepon tadi? kau juga harus peka, Hansel." kata Micheline. Ia mulai mencecar Hansel.
"Aku ragu, El. Entah mengapa perasaanku tidak nyaman saat menerima panggilan darinya. Aku hanya merasa khawatir, kalau-kalau dia menyuruhku mengusikmu lagi. Aku tidak akan lakukan jika dia memintaku melakukan itu." kata Hansel.
"Saranku, temui saja dulu. Dengarkan saja apa yang ingin dia sampikan padamu. Kau tidak perlu khawatir apa-apa. Jika dia bertanya tentangku, kau jawab saja. Bukankah kau tahu segalanya tentangku? sampaikan apa yang ingin dia tahu. Intinya, buat dia kembali percaya sepenuhnya padamu. Ambil hatinya, Hansel. Jika kau bisa mengambil hatinya, akan mudah bagimu untuk menguasai dan mengendalikannya. Kau paham ucapanku?" jelas Micheline.
Hansel menganggukkan kepalanya perlahan, "Ya. Aku paham. Aku akan mencobanya," jawab Hansel.
"Soal pamanku, tidak perlu kau cemaskan. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita bisa mengambil alih dan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu. Bagaimana caranya kita menghadapi Pamanmu." kata Micheline menjelaskan.
"Ya. Terima kasih sudah membantuku mengambil keputusan. Ayo tidur, ini sudah malam." ajak Hansel.
Micheline menganggukkan kepala, "Ya," jawab singkat Micheline.
Micheline berbaring, disusul oleh Hansel. Hansel memeluk Micheline lalu mencium kening Micheline dengan lembut. Mengucapkan selamat malam dan selamat tidur, pada perempuan yang disayanginya.
"Selamat malam, sayang. Selamat tidur. Mimpi indah," kata Hansel.
"Ya, selamat istirahat. Mimpi indah juga, Hans." jawab Micheline membenamakan wajahnya dalam pelukan Hansel. Keduanya terlelap tidur bersama.
__ADS_1
*****
Ertha dan Luky tidak menyentuh makan malam mereka sedikit pun. Meraka larut dalam pemikiran masing-masing. Luky teramat kesal saat ia harus mendegar Micheline memojokkan Mamanya dengan arogan. Ingin rasanya menghampiri dan menarik rambut perempuan yang tidak sopan pada Mamanya, tetapi ia sadar akan posisinya.
"Apa dari awal bicara pada Mama, perempuan gila tadi mengonggong seperti itu?" kata Luky bertanya memecah keheningan.
"Ya, seperti itulah. Dia memang tahu segalanya, karena itu dia menekankan semua perkataanya pada Mama." kata Ertha menjelaskan.
"aku sangat kesal, Ma. Dia sangat sombong dan Arogan," kata Luky, "Tadi dia mengatakan apa? Papa sedang mencari kita?" tanyanya lagi.
"Sepertinya begitu," jawab Ertha.
"Apa Papa bisa temukan kita, Ma? andaikan Papa tahu jika kita ada di sini. Papa pasti akan langsung datang mencari kita," kata Luky.
"Entahlah, Nak. Kita tidak tahu seberapa dalam orang itu mencintai juga menyayangi kita. Hanya kita sendiri yang tahu. Mama pun tidak tahu, apakah kita masih berharga di mata Papamu atau tidak." jawab Ertha.
"Mama pasti kecewa pada Papa. Papa tidak sebaik Mama memperlakukan Papa." sahut Luky.
Ertha hanya tersenyum, ia tahu benar memang dari awal ia lah yang bersalah. Mungkin saja, Ergy hanya cinta sesaat padanya, ia lah yang lebih dulu memikatnya erat dengan adanya Luky dalam kandungannya. Saat itu, Ertha terlalu berambisi memiliki Ergy. Menganggap dengan kecantikan dan kemolekan tubuh, ia bisa mendapatkan cinta dari seorang Ergy. Pada akhirnya, Ergy memang menikahinya. Memberikan apa yang ia mau, tetapi tidak dengan hati dab cintanya. Rasa suka, sayang dan cinta Ergy seakan musnah seiring berjalannya waktu.
...*****...
**Yuk, follow ig author
ig: dea_anggie
Jangan lupa like setiap episodenya ya..
Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..
Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..
Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..
Terima kasih semuanya...
Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..
__ADS_1
Salam hangat dari author~~🙂**