
Dibalutnya dengan perban luka Hansel oleh Micheline. Micheline mencium tangan Hansel yang terluka. Entah mengapa hatinya menjadi sakit dan napasnya terasa sesak. Tidak pernah ia merasakan rasa seperti itu sebelumnya. Meski melihat orang lain yang dekat denganya cidera termasuk Charlie sekalipun.
"Jangan seperti itu lagi, Hans." ucap Micheline lirih.
"Maaf, El. Aku terlalu kesal dan emosi tadi. Ucapannya langsung menusuk jantungku. Membuatku naik darah. Dia dengan mudah mengatakan jika dia bibiku. Pada kenyataanya, ia tidak layak disebut bibi." jelas Hansel.
Micheline menatap Hansel, "Ayo berbaring, dan tidur. Besok kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan lukamu. Ini hanya pertolongan pertama mencegah agar lukamu tidak infeksi." kata Micheline.
"Kau tidak akan ke mana-mana, kan?" tanya Hansel, tidak ingin Micheline pergi dari sisinya.
Micheline tersenyum, "Aku akan di sini menemanimu. Bukankah aku yang minta tidur denganmu?" jawab Michelinr mengusap lembut wajah Hansel.
Hansel menurut, ia pun berbaring. Micheline duduk di tepi tempat tidur, di samping Hansel. Dengan gerakan perlahan Micheline mengusap-usap rambut Hansel. Seperti sedang menidurkan Hansel.
"Pejamkan matamu dan tidur," kata Micheline.
"Kau tidak tidur?" tanya Hansel.
"Aku ingin memastikan sesuatu dulu. Aku akan menyusulmu tidur nanti. Percayalah, aku tidak akan ke mana-mana." kata Micheline meyakinkan.
Hansel tersenyum tipis sembari mengangguk. Ia memegang erat jemari Micheline yang mengusap rambutnya, lalu meletakannya di wajahnya sebagai alas tidur. Hansel seakan tidak ingin Micheline tiba-tiba pergi dan meninggalkannya seorang diri tertidur.
Setelah menunggu Hansel benar-benar terlelap, Micheline perlahan menarik tangannya dari genggaman Hansel. Ia menarik tinggi selimut sampai menutupi leher Hansel. Dibelainya dan dikecupnya pipi Hansel oleh Micheline.
"Aku pergi sebentar, ya. Aku akan segera kembali," bisik Micheline di telinga Hansel.
Micheline berdiri dan pergi meninggalkan kamar Hansel. Ia berjalan cepat menuju kamar kosong di mana ada Erth dan anaknya berada. Micheline ingin meluapkan emosinya pada Ertha. Kepalanya sudah mulai mendidih mengingat kejadian yang sebelumnya.
Langkah kaki Micheline terhenti. Kini ia berada di depan pintu kamar. Micheline menggenggam erat pegangan pintu, dan mendorong pintu itu dengan kasar. Hal itu tentu saja mengejutkan Ertha yang ada di dalam kamar. Micheline mengunci pintu kamar dari dalam, ia berjalan mendekati Ertha yang duduk di lantai bersandar dinding.
"Kau... kau siapa? mau apa?" tanya Ertha.
"Kau tidak perlu tau siapa aku. Jika aku katakan alasanku datang untuk memotong lidahmu, bagaimana?" kata Micheline dingin. Micheline ingin menakut-nakuti Ertha.
"Apa? memotong lidah? apa kau sudah gila?" sentak Ertha takut.
__ADS_1
"Aku memang gila. Tidak hanya memotong lidahmu. Aku juga ingin mencongkel dua bola matamu. Memotong satu per satu jari-jari tanganmu yang cantik itu." kata Micheline semakin gencar menakuti Ertha.
"Dasar psikopat gila!" maki Ertha pads Micheline.
"Hahahaha..." Micheline tertawa, "Biar aku tunjukan apa itu yang kau sebut psikopat," kata Micheline menatap tajam pada Ertha.
"Jangan, jangan mendekat! aku... aku... aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak bersalah. Jangan sakiti aku," racau Ertha kebingungan sekaligus ketakutan.
"Tau takut juga. Dasar perempuan jahat!" batin Micheline.
Micheline melihat cermin yang sedikit retak bernoda darah Hansel. Dirabanya noda darah di cermin dan di ciumnya tangan yang menyentuh darah itu.
"Apa kau tahu, betapa menderitanya dia? kau mengatakan jika kau adalah bibinya. Namun kau tidak peduli padanya. Apakah kau layak disebut bibi?" kata Micheline mengepalkan tangan.
"Itu bukan urusanmu. Aku tidak mengenalmu. Kau tidak perlu terlibat urusan keluarga kami," kata Ertha.
Micheline mengangguk, "Oh, begitu. Baiklah. Aku akan diam jika itu kemauanmu. Tetapi, sebelum mulutku diam, aku akan memberitahumu sesuatu rahasia yang menarik." kata Micheline berjongkok mendekati Ertha.
"Apa maumu?" kata Ertha.
Ertha melebarkan mata, "Ba-bagaimana bisa dia tahu?" batin Ertha kaget.
Melihat ekspresi tekejutnya Ertha mmebuat Micheline tersenyum puas. Ia berhasil mengejutkan Ertha dan membuat Ertha langsung bungkam.
"Kau pasti bingung, kan? dari mana aku dapatkan informasi ini," kata Micheline.
"Katakan apa maumu?" tanya Ertha lirih, ia melirik Luky yang masih terlelap tidur. Ia berharap Luky tidak mendengar ucapan Micheline.
"Mudah saja. Bekerjasamalah denganku. Aku yakin sekali suamimu bahkan Hansel tidak tahu soal ini, kan? Aku akan jamin rahasiamu aman." kata Micheline menjelaskan.
"Apa kau yakin dengan apa yang kau ucapkan?" tanya Ertha menyakinkan.
"Ya. Aku sangat yakin. Terserah saja kau percaya atau tidak. Itu bukan urusanku," kata Micheline.
Ertha diam sesaat lalu bersuara, "Baiklah. Aku setuju. Apa pun permintaanmu, dan apa pun yang kau mau akan aku penuhi." kata Ertha.
__ADS_1
Micheline kaget, "Hei, aku belum bicara apa-apa kau sudah mengatakan itu. Tidak masalah juga, bukan aku yang memaksamu melakukan semua yang ku mau. Kau sendir yang mengatakannya. Dan kau tidak boleh menarik kembali ucapanmu, Nyonya Feliks." kata Micheline menegaskan.
"Kenapa perasaanku tidak enak, ya? apa aku salah mengambil keputusan?" batin Ertha.
"Bagus sekali, bibi tua. Kau membuatku senang karena antusiasmu. Hahaha..." batin Micheline girang.
Ertha terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Ia bahkan sudah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya diucapkan. Ia tidak sadar, jika tindakannya sangat menguntungkan Micheline.
Micheline hanya ingin Ertha bekerjasama. Namun, Ertha justru mengatakan akan memenuhi semua permintaan dan kemauan Micheline. Sedangkan Micheline sebenarnya tidak menginginkan itu, dan hanya akan mengajukan dua syarat saja pada Ertha. Mendengar ucapan Ertha, Micheline pun setuju dan meminta Ertha untuk tidak menarik ucapannya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Ertha.
Micheline menggeleng, "Belum ada, dan belum aku pikirkan. Aku akan beritahu jika aku sudah memikirkannya. Sebagai tanda kdsepakatan kita, aku akan berbaik hati melepas ikatan tangan dan kakimu. Ikatan Anakmu kau sendiri yang lepaskan. Jangan coba-coba melarikan diri atau mencoba kabur dari sini. Bisa keluar dari rumah ini pun, kalian berdua tidak akan bisa lolos dari peluru pistolku yang akan menembus kepala kalian masing-masing." kata Micheline memperingatkan.
"Perempuan ini mengerikan sekali. Apa dia sungguh manusia? manusia tetapi dia memiliki sifat ibl*s!" batin Ertha.
"Ya. Aku mengerti. Aku akan diam dan akan membuat putraku juga diam sepertiku," kata Ertha.
Micheline dengan segera melapas tali yang mengikat tangan Ertha. Ia berdiri dan duduk di kursi, menyilangkan kaki kanan ke kaki kirinya lalu menatap Ertha yang langsung melepaskan ikatan kakinya. Micheline yakin Ertha tak berani macam-macam, karena Ertha adalah tipe perempuan yang akan mempertaruhkam segalanya demi menjaga nama baik. Meski itu dengan jalan yang tidak lurus sekalipun.
Sebelum mengenal Ergy, Ertha adalah seorang pekerja malam sekaligus perempuan pengibur di sebuah club malam. Pemilik club sangat mengagumi Ertha dan menjadikan Ertha wanita simpanannya. Bahkan Luky putranya adalah anak kandung pemilik club tempatnya bekerja dulu. Saat bertemu dan tidur dengan Ergy, Ertha sudah dalam keadaan mengandung. Melihat Ergy yang elbih tampan dan mapan, membuat hati Ertha goyah. Ertha menjebak Ergy mengatakan jika dirinya hamil buah cintanya dengan Ergy. Ergy yang pada saat itu menggilai Ertha pun, tidak tahu kebenarannya dan mengiyakan permintaan Ertha. Seprti itulah, sampai akhirnya Ergy bisa menebus Ertha. Ertha juga masih sesekali berhubungan dengan mantan bossnya. Sampai detik ini, di umur Luky yang sudah mencapai dua puluh enam tahun, Ergy samaa sekali tidak tahu kebenarannya. Ertha juga mempertahankan kebohongannya. Mengubur semua masa lalunya.
Micheline tahu itu semua berkat penyelidikannya. Tidak main-main, ia menghubungi tim penyelidik dari dunia gelap untuk bekerja padanya. Tidak percuma Micheline membayar mahal tim penyelidik yang selalu membantunya. Meski sudah mendapatkan harga istimewa, karena Micheline menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang dunia gelap. Tetap saja, bagi seorang biasa. Harga itu terbilang sangat mahal. Orang biasa tidak akan sanggup membayarnya.
"Baiklah. Aku akan pergi meninggalkan kalian berdua. Tidurlah dengan nyenyak. Bersyukurlah tempat ini sangat layak kau tempati, dibandingkan ruang kotor dan pengap." kata Micheline.
"Ya. Terima kasih untuk kebaikammu," kata Ertha.
Setelah memastikan semua aman, Micheline pun pergi meninggalkan Ertha dan Luky di dalam ruangan. Dikuncinya pintu kamar itu, dan dibawanya kunci itu sampai ke kamar tidur Hansel. Ia kembali ke kamar Hansel, menepati janjinya untuk menemani Hansel.
Micheline naik ke atas tempat tidur dan masuk dalam selimut. Ia berbaring di samping Hansel. Matanya lekat menatap wajah tampan Hansel, tangannya perlahan bergerak membelai wajah itu.
"Selamat tidur, Hans. Mimpi indah, " kata Micheline mencium lembut pipi Hansel. Micheline masuk dalam pelukan Hansel, ia memejamkan mata lalu terlelap tidur.
...*****...
__ADS_1