
Micheline sudah masuk ke dalam mobil perempuan asing yang baru saja ditemuinya itu. Perempuan asing itu menatao Micheline dan tersenyum, mengusap kepala Micheline agar Micheline menjadi sedikit lebih tenang.
"Aku Vallery. Panggil saja Bibi Lery. Ya, kau bisa panggil aku seperti itu. Siapa namamu?" tanya Vallery.
"Eline... Micheline," jawab Micheline lirih.
Vallery tersenyum, "Nama yang cantik, secantik wajahmu. Kalau begitu, ayo kita berjabat tangan. Karena kita sudah saling memperkenalkan diri," kata Vallery.
Vallery mengulurkan tangan. Micheline menatap cukup lama tangan Vallery. Tidak lama, dijulurkannya tangannya menggapai tangan Vallery.
"Bibi... apa bisa menolongku? a-aku... aku... aku sangat takut," kata Micheline berkaca-kaca.
Vallery mengernyitkan dahi, "Sejak tadi gadis ini selalu bilang takut. Ada apa sebenarnya?" batin Vallery.
Vallery mengusap punggung Micheline, "Pelan-pelan bicara. Ada apa? apakah ada sesuatu? jangan takut, aku akan menolongmu jika ada sesuatu. Apa kau dimarahi Orang tuamu? atau..." kata-kata Vallery terpotong oleh Micheline.
"Antarkan aku ke rumah teman Kakek. Aku harus bertemu dengan Kakek Alex," sela Micheline.
Vallery menganggukkan kepala perlahan, "Baiklah-baiklah. Pertama-tama, apa kau tahu alamat rumahnya?" tanya Vallery.
Micheline mengangguk cepat, "Ya. Aku tahu," jawabnya.
"Ok, duduk dan santai saja. Bibi akan mengantarmu sampai ke tempat Kakek Alex," ucap Vallery mengemudikan mobilnya menuju alamat yang di tuju.
*****
Sesampainya di sebuah rumah yang diduga milik teman Kakeknya, bernama Alex. Micheline segera turun dari dalam mobil dan berlari menuju pintu utama lalu mengetuk pintu itu beberap kali.
Vallery mengikuti Micheline, ia juga turun dari mobilnya. Vallery berajalan mendekati Micheline, ia menasihati Micheline untuk tetap tenang.
"Tenanglah, El."
Vallery menekan bel rumah beberapa kali. Micheline mengikuti kemauan Vallery untuk tenang. Vellery merangkul Micheline, mengusap punggung Micheline.
"Apa kami datang di waktu yang salah?" batin Vallery.
__ADS_1
Setelah menunggu cukup lama, pintu akhirnya terbuka. Seorang pelayan menyapa dengan ramah. Pelayan itu menanyakan pada Vallery maksud kedatangannya bertamu. Vallery memperkenalkan diri, juga memperkenalkan Micheline, ia juga langsung meminta untuk langsung bertemu Tuan rumah.
"Hallo... Nyonya, Nona," sapa pelayan menatap Vallery dan Micheline, "Mohon maaf sebelumnya. Apakah Anda berdua memiliki keperluan?" tanyanya lagi.
"Hallo, saya Vallery dan ini adalah Micheline. Kami ingin bertemu dengan Tuan Anda. Apakah Anda berkenan mempersilakan saya masuk?" jawab Vallery memperkenalkan diri dan meminta izin bertemu sang empu rumah.
Pelayan mengangguk, "Tentu saja, Nyonya. Silakan masuk dan menunggu. Saya akan memanggilkan Tuan dan Nyinya besar. Silakan duduk," kata pelayan itu sangat ramah.
Micheline menatap Vallery, Vallery mengangguk dan tersenyum. Menggandeng tangan Micheline untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa, menunggu Tuan rumah datang. Sedangkan pelayan langsung berjalan pergi meninggalkan ruang tamu.
"Kau mengenal pemilik rumah ini?" Tanya Vallery pada Micheline.
Micheline mengangguk, "Kakek Alex adalah teman Kakek," jawabnya lirih.
Vallery langsung diam, ia mengamati sekitar rumah. Aneh rasanya, ia bertemu gadis asing yang tidak mau pulang ke rumah justru meminta diantar ke rumah orang lain.
Micheline harap-harap cemas. Ia mencengkram ujung roknya erat. Tangannya mulai berkeringat, ia memikirkan kondisi keluarganya yang sudah dihabisi oleh Pamannya sendiri. Micheline hanya menunduk, ia memikirkan apa yang ingin disampaikanny pada Alex. Bagaimana caranya bicara, apakah Alex akan percaya dan menolong atau sebaliknya.
Melihat Micheline yang gelisah, Vallery memegang tangan Micheline untuk menenangkan Micheline. Micheline manatap Vallery, Vallery tersenyum lalu membelai rambut Micheline.
Micheliner merasa terharu, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Bibi. Bibi sangat mengerti aku dan baik," jawab Micheline.
"Oh, sayang. Kau manis sekali," puji Vallery mencium kening Micheline lalu merangkul Micheline. Tangannya terus mengusap kepala Michrline dengan lembut.
"Tersenyumlah selalu. Semoga kebahagiaan selalu datang padamu," ucap Vallery mendoakan kebahagiaan Micheline.
Tidak lama, Alex dan istrinya datang menemui Vallery dan Micheline. Melihat Alex, Micheline langsung berdiri dan berlari memeluk Alex juga istri Alex.
"Kakek Alex, Nenek Rose..." panggil Micheline menangis tersedu. Micheline merangkul tangan kedua orang yang dioanggilnya itu.
"Eline..." panggil Rose.
"Sayang, Eline. Ada apa?" tanya Alex.
Micheline menangis sejadi-jadinya. Dia menceritakan semuanya, apa yang ia dengar dari dalam lemari sampai apa yang ia lihat di depan mata. Menceritakan juga bagaimana bisa ia meloloskan diri dari rumah sampai akhirnya bertemu Vallery yang menolongnya dan mengantarnya sampai ke rumah Alex.
__ADS_1
Vallery kaget, ia tidak menyangka ada hal seperti itu. Tidak hanya Vallery, Rose dab Alex pun snagat kaget. Tidak menyangka jika Alfonzo akan membunuh Papanya juga Kakaknya demi menguasai seluruh harta milik keluarga.
"... a-aku ta-takut," ucap Micheline terisak.
Alex menatap Rose, "Bawalah masuk Eline bersama Nyonya Vallery. Aku akan mengurus Alfonzo," kata Alex.
"Kau... apa yang akan kau lakukan, sayang?" tanya Rose.
"Apalagi? aku akan hubungi anak-anak kita untuk membantuku mengurus orang gila seperti Alfonzo. Bagaimana bisa dia sekejam itu sampai mmebunuh Papa, Kakak juga Kakak iparnya sendiri. Bahkan menergetkan keponakannya," geram Alex.
"Tuan, Nyonya, maaf sebelumnya jika saya lancang menyela. Apakah Anda butuh bantuan? Begini... kebetulan saya punta teman yang bisa diandalkan unguk menangani kasus seperti ini. Jika diperkenankan, saya akan meminta bantuannya."
Alex mengangguk, "Tentu saja boleh, Nyonya. Silakan..." jawab alex.
Vallery berdiri dari sofa, "Saya permisi sebentar ingin menelpon seseorang," kata Vallery yang langsung pergi sedikit menjauh dari Alex, Rose dan Micheline.
Rose mendekap dan mengusap punggung Michrline, "Malang sekali nasibmu, Nak."
"Aku tidak sangka. Anak itu sungguh-sungguh melakukan ini," gumam Alex.
Alex merasa sangat kecewa dengan apa yang diperbuat Alfonzo. Ia bertekad ingin menghukum berat Alfonzo, mmebuat Alfonzo menederita karena sudah menghilangkan nayawa sahabatnya juga kedua orang tua Micheline.
"Ayo ikut Nenek. Kita mandi, ganti baju dan makan. Kau pasti sangat takut, kan?" kata Rose.
Micheline mengangguk, "Ya," jawabnya lirih.
"Aku dan Eline masuk dulu. Kau berhati-hatilah, jangan lakukan hal yang merugikan diri sendiri. Ajak Nyinya Valerry masuk untuk minum teh bersama."
Rose menggandeng tangan Micheline, membawa Micheline masuk ke dalam. Rose mengusap kepala Micheline lembut. Ia membawa Micheline masuk dalam kamar tamu, ia mengajak pelayan untuk membantunya mengurus Micheline. Micheline diminta Rose untuk mandi. Karena Rose tidak punta anak perempuan ataupun cucu perempuan. Ia memakaikan pakaian lamanya untuk dipakai Micheline. Pelayan membawakan minuman dan makanan untuk Micheline.
Selesai mandi, Micheline berganti pakaian dan makan. Meski perutnya sangat lapar, ia tidak nafsu makan. Melihat Micheline yang hanya menatap makanan, membuat Rose bergerak. Disuapnya Micheline, meski terpaksa membuka mulut dan mengunyah makanan. Micheline berusaha tidak merepotkan Rose. Ditahannya air mata yang sudah mau tumpah, Micheline kembali teringat Kakek, Papa dan Mamanya. Dadanya sangat sesak sampai tidak bisa bernapas rasanya.
Air mata yang ditahan-tahan akhirnya jatuh juga. Micheline tidak kuasa menahan tangisnya. Ia memeluk Rose dan menangis dalam pelukan Rose. Rose meminta pelayan meringkas makanan dan meninggalkan minuman di meja. Pelayan berpamitan dan pergi meninggalkan kamar Rose. Rose mengeratkan dekapannya ke Micheline. Ia merasa samgat sedih mendengar isak tangis gadis cilik dipelukannya itu.
...*****...
__ADS_1