My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 40 - Saling Mengenal


__ADS_3

Micheline mencoba menjelaskan lagi pada J bersaudara agar keduanya tidak lagi khawatir dan beristirahat dengan tenang. Sesuai permintaan Charlie. Keily menemani Jesslyn untuk tidur. Mereka menggunakan satu kamar yang sama.


"Kei," panggil Jesslyn.


"Ya, Kak? ada apa?" jawab Keily.


"Terima kasih, sudah mau membantu Kakek dan Jason."


Keily tersenyum, "Tidak masalah, Kak. Aku senang bisa membantu," jawab Keily.


"Aku juga ingin minta maaf, Kei. Karena menyelamatkan aku, Kakakmu jadi terluka."


Keily memegang tangan Jesslyn, "Tidak tidak perlu minta maaf, Kak. Bukankah bagus, jika Kakakku punya rasa ingin menolong. Aku percaya, Kak Charlie pasti juga sangat senang bisa menolong Kakak."


Jesslyn tersenyum, "Kau sangat baik, Kei. Aku menyukaimu, kau sangat manis dan imut," puji Jesslyn.


"Terima kasih, Kak. Kakak juga sangat baik dan cantik," puji Keily.


"Kau pintar memuji, ya. Kei, boleh aku bertanya lagi?" tanya Jesslyn.


Keily mengangguk, "Tentu saja boleh, Kak. Katakan, apa yang ingin Kakak tanyakak padaku."

__ADS_1


Jesslyn menatap Keily, "Aku ingin tahu lebih banyak tentang Kakakmu. Hm, maksduku... aku tertarik untuk lebih mengenal Kakakmu."


Keily sedikit bingung, "Apa yang ingin Kakak ketahui? misalnya kesukaan, hobby atau apa?"


"Aku tahu jika Kakakmu orang yang mudah emosi dan tidak banyak bicara. Saat membersihkan kandang kuda, emosinya begitu terlihat seaakan ingin merobohkan kandang. Mungkin karena dia merasa malu atau apalah itu, dia menahannya agar tidak meluapkan kekesalannya dihadapanku. Meski begitu, dia orang yang bertanggung jawab dalam pekerjaanya. Dia menyelesaikan semuanya pada akhirnya," jelas Jesslyn bercerita.


"Kak, maaf. Mungkin ini terdengar mustahil atau tidak bisa dipercaya. Namun, aku harapkan setelah mendengarku bercerita, Kakak tidak menjauhi Kakakku. Aku tidak ingin sosok hangat yang aku lihat tadi di rumah sakit menghilang. Selama ini dia memang selalu sibuk bekerja, karena terlalu sibuk sampai lupa waktu dan lupa diri. Sebagai Adik, aku selalu mengingatkan segalanya. Mulai dari makan, minum vitamin, sampai jangan tidur larut karena harus menjaga kesehatan. Kakak hanya menjawab, 'ya'. Entah dia melakukan atau tidak, aku tidak tahu. Kami tidak tinggal bersama semenjak aku lulus dari universitas dan bekerja. Sebelumnya, Kakaklah yang menanggung semua biayaku selama aku di univsrsitas, biaya makan, dan semuanya. Saat tinggal bersamanya, aku bisa mengawasi dan menjaganya. Sekarang tidak bisa lagi. Karena kami juga jarang bertemu jika kami sudah sibuk pada pekerjaan kami masing-masing."


"Begitu, ya? kakakmu orang yang sangat bertanggung jawab, rupanya. Sebagai Kakak, aku merasa malu. Aku belum bisa membahagiaakan Jason. Seperti Charlie membahagiakanmu."


"Apa Kaka Jesslyn tau? Kakakku dan Aku adalah seorang anak yatim piatu, kami dulu tinggal di panti asuhan. Namun, saat Kakak dewasa dan merasa mampu mencari penghasilan, ia meninggalkan panti dan mengajakku. Kakak bekerja keras mengumpulkan uang, saat itu kami hanya mampu menyewa sebuah apartemen kecil dengan hanya ada satu kamar tidur. Apartemen itu sempit jika untuk kami berdua. Tiga tahun kami bertahan dalam keadaan susah. Ah... mungkin lebih tepatnya, kami hidup pas-pasan. Saat itu aku masih duduk di bangku SMA. Saat aku lulus, tiba-tiba Kakak memberiku kejutan. Ia membawaku pindah ke apartemen yang bagus dengan dua kamar tidur. Aku senang, saat aku bertanya, Kakak hanya tersenyum dan berkata jika sekarang kami tidak perlu khawatir kekurangan lagi. Apapun yang aku inginkak akan terpenuhi. Kakak mengatakaan ia mendapatkan sebuah pekerjaan dengan upah yanh tinggi. Aku senang sekali, bersyukur Kakak bisa dapat pekerjaan dengan menghasilkan uang yang banyak. Akan tetapi..." tiba-tiba saja Keily berhenti bercerita. Ia menundukkan kepala dan menangis.


Keily mengusap wajahnya, "Setelah itu, aku sering melihat Kakak terluka. Kakak tidak setiap hari pulang, saat pulang selalu saja terluka. Pernah suatu saat, ia terluka tusuk dan aku menangis keras karena takut. Kakak pingsan dan aku bawa ke rumah sakit. Tidak hanya itu, Kakak juga pernah terluka tembak. Seakan aku hidup dalam medan perang, karena terus menerus melihat Kakak terluka. Karena aku sudah tidak tahan, aku akhirnya memberanikan diri mengikuti Kakak. Malam itu, aku diam-diam mengikuti Kakak pergi. Kakak pergi menuju sebuah temoat, ia seperti bertemu seseorang. Ada hal yang membuatku terkejut, Kakaku... dia... dia..." Keily menarik napas dalam lalu mengembuskan napas perlahan, "Dia menikam seseorang itu dan lalu pergi ke tempat lain. Di tempat lain itu, ia menerima upah. Seperti bayaran karena sudah melakukan suatu perintah."


Jesslyn kaget, "Kakakmu... pembunuh bayaran?" tanya Jesslyn melebarkan mata.


Keily menatap Jesslyn dan mengangguk, "Ya. Mungkin karena terlalu sering membunuh, ia menjadi seorang psikopat. Pernah suatu saat, ada seseorang yang menggangguku, Kakak langsung menyekap orang itu dan menggores punggungnya dengan pisau. Saat itu jika aku tidak hentikan. Mungkin orang itu akan disiksa sampai mati."


Jesslyn menutup mulutnya, "Tidak mungkin. Jangan-jangan saat ia mengambil pisau ingin menikam Calvin. Dia..." batin Jesslyn menerka-nerka.


"Apa Kakak akan menjauhi Kakakku? setelah tau kebusukan Kakak? maafkan aku lancang bicara seperti ini, Kak. Sebagai Adik, aku hanya ingin Kakakku hidup baik-baik sjaa dan bahagia. Aku tidak pernah melihat tatapan hangat seprrti dia melihat Kakak saat di rumah sakit. Aku bisa mdlihat, dia berubah menjadi pria hangat saat bersama Kakak. Karena itulah aku berani bercerita," jelas Keily.

__ADS_1


Jesslyn mengusap tangan Keily, "Aku paham maksudmu, Kei. Hanya saja, aku sedikit terkejut. Karena saat menyelamatkanku. Kakakmu sempat ingin melakukan sesuatu dengan pisau. Mungkin ingin menikam orang yang sudah mrmbawaku pergi. Aku menghentikannya begitu saja dan menarik tangannya. Aku tidak tahu jika hasrat membunuhnya begitu besar. Aku juga melihat ada kekecewaan di matanya. Sungguh, Aku tidak tahu jika ia punya kebiasan seperti itu. Apakah Kakakmu akan baik-baik saja, ya?" cemas Jesslyn.


Keily tersenyum, "Itulah, Kak. Ini yang namanya 'Keajaiban Cinta'. Seperti Kakak menyukai Kakak dan ia ingin meredam emosi juga kemarahannya jika dihadapan Kakak. Apa yang Kakak takutkan? semua pasti baik-baik saja."


Jesslyn menghela napas, "Bukan apa-apa. Hanya saja, aku khawatir. Bukankah orang akan membenci orang lain, jika keinginanya dihentikan atau dilarang saat melakukan sesuatu yang disukainya? kita akan dianggap penghalang?" ucap Jesslyn.


"Benar juga, tetapi Kakak tidak mungkin seperti itu. Tadi itu, Kakak begitu manis bicara pada Kak Jesslyn. Aku sampai terkejut, sampai berpikir apakah aku sedang bermimpi atau tidak. Karena Kak Cahrlie yang selama ini aku kenal, tidak seperti itu. Meski itu padaku," jelas Keily.


Wajah Jesslyn merona, Jesslyn merasa malu. Ia kembali terbayang adegan romantis saat ia dan Charlie ada di dalam ruang rawat. Itu kali pertama ia berciuman dengan seorang laki-laki. Charlie lah orang pertama yang mendapatkan ciumannya.


Melihat Jesslyn yang malu, Keily hanya tersenyum. Keily tahu jika pasti ada sesuatu antara Jesslyn dan Kakaknya. Hanya saja, Keily tidak ingin terlalu ikut campur. Merasa cukup senang dengan perubahan sikap dan cara bicara Charlie. Harapan Keily, ingin Kakaknya dan Jesslyn bisa terus bersama dan hidup bahagia.


"Kei, Aku mengantuk. Aku tidur dulu," kata Jesslyn.


"Tidurlah, Kak. Aku masih ingin ambil minum. Selamat tidur Kakak ipar, selamat bermimpi bertemu Kakak."


"Kei..." panggil Jesslyn merona, "Jangan menggodaku," kata Jesslyn.


Keily terkekeh, ia segera turun dari temoat tidur dan pergi meninggalkan kamar. Ia ingin mengambil mengambil air minum di dapur.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2