
Perhatian!
Dalam cerita mengandung unsur dewasa. Seperti 21+, kekerasan fisik, darah, kata- kata umpatan dan lain-lain. Diharapkan pembaca bijak dalam menanggapi isi bacaan. Terima kasih.
*****
Charlie mendekati Micheline, "Michel..." panggil Charlie. Charlie melihat beberapa orang tergeletak, "Kau baik-baik saja?" tanya Charlie membantu Micheline berdiri.
Micheline mengangguk, "Ya. Aku baik. Kau sendiri?" tanya Micheline menatap Charlie.
Charlie tersenyum, "Ya. Aku juga baik-baik saja. Ayo kita pergi, Vincent dan yang lainnya akan mengurus. Aku sudah dapatkan informasi lokai bar milik si brengs*k itu."
Micheline mengangguk lagi, " Ya. Ayo," jawab Micheline tanpa banyak bicara lagi.
"Biar aku yang mengemudi," kata Charlie.
Charlie dan Micheline langsung masuk dalam mobil bersamaan. Charlie menghidupka mesin mobil, ia langsung mengemudikan mobil untuk melesat pergi meninggalkan lokasi. Mereka bergegas menyelamatkan Jesslyn yang masih dalam bahaya.
*****
Di rumah sakit. Hansel menunggu di depan ruang IGD guna menunggu kabar dari dokter yang memeriksa keadaan Kakek J bersaudara. Keily sedang menemani Jason yang juga menjalani perawatan luka di ruang yang berbeda.
Keily merasa kasian melihat Jason yang babak belur. Ia teringat akan Charlie, Kakaknya. Charlie selalu pulang ke rumah dengan membawa luka. Luka lebam di wajah, atau lebab di perut karena dikeroyok. Tanpa sadar, Keily meneteskan air mata. Ia tidak ingin Kakaknya terluka, tetapi ia tidak bisa membantu apa-apa dan terus saja menjadi beban.
Jason mengusap ait mata Keily, "Kau menangis? ada apa?" tanya Jason ingin tahu apa yang dipikirkan Keily.
Keily menatap Jason, segera menyeka air matanya dan tersenyum. Keily berusaha menutupi kesedihannya dan berpura-pura tidak sedih dihadapan Jason.
"Tidak apa. Bagaimana lukamu? apa ini sakit?" tanya balik Keily memegang lengan Jason yang terluka.
Jason tersenyum, "Tidak sakit. Terima kasih sudah mau menemaniku," jawab Jason.
__ADS_1
Keily melebarkan senyuman, "Apa boleh buat. Kau menolak diobati. Jadi aku harus memaksamu," kata Keily mengingat kejadian sebelumnya, di mana ia menarik kasar lengan Jason dan memaksa Jason menjalani perawatan luka.
"Apa kit sudah boleh pergi? aku ingin melihat keadaan Kakek," kata Jason.
Keily menggelengkan kepalanya perlahan, "Kau harus istirahat minimal satu sampai dua jam, itu yang dokter katakan tadi. Untuk Kakekmu, sudah ada Kak Hansel yang menunggu. Aku sudah berpesan untuk segera memberi kabar jika dokter sudah keluar dari ruang IGD. Jangan cemas dan istirahatlah dengan baik, Ok."
Jason mencoba mencerna ucapan Keily. Meski ia merasa khawatir dan cemas akan kondisi Kakeknya. Ia juga harus menghargai niat baik Keily dan Hansel. Bagaimanapun, ia sudah mendapatkan bantuan dari kedua orang tersebut.
"Baiklah. Maaf merepotkanmu," kata Jason yang langsung berbaring untuk beristirahat.
"Tidurlah jika ingin tidur. Aku akan menjagamu," kata Keily lagi.
Jason menatap langit-langit ruang rawatnya, "Apa sudah ada kabar dari Kakakku? apa Nona dan Tuan Sekretaris berhasil menyelamatkan Kakak?" tanya Jason.
Keily memegang tangan Jason, "Kita doakan yang terbaik. Kakakku dan Kak Micheline adalah orang yang kuat, mereka akan membawa kembali Kakakmu, Jason. Jangan khawatir, ya. Aku tahu pasti perasaanmu sekarang. Karena aku juga punya seorang Kakak yang sangat aku sayangi. Aku tidak akan sanggup hidup jika sesuatu terjadi pada Kakakku satu-satunya. Meski menunggu itu mengesalkan, kita tetap harus menunggu, kan?" ucap Keily memberikan semangat pada Jason.
Jason menatap Keily, "Kakakmu sangat beruntung bisa mempunyai Adik sepertimu, Kei. Kau sangat baik dan sangat sayang padanya."
"Kakakku memang sangat baik. Hatinya sangat lembut dan perkataanya hangat. Meski ia tersinggungpun, ia tidak akan marah dan tetap tersenyum menerima perkataan yang menyakitkan hatinya. Aku sebaliknya, aku adalah orang yang seperti bom waktu. Bisa langsung meledak jika ada orang yang menyinggungku atau membuatku tidak nyaman."
Keily tertawa, "Ah, ini unik. Kau sama persis seperti Kakakku," kata Keily.
Jason merasa sedikit lega, meski masih khawatir dengan keadaan Kakek dan Kakaknya. Ia sudah merasa terhibur oleh Keily. Melihat senyuman hangat Keily, membuatnya melupakan sejenak kekacauan dalam hatinya.
*****
Jesslyn membuka matanya perlahan. Pandanganya buram, kepalanya terasa sangat berat. Ia tersentak kaget saat ia menggerkkan tangan, tangannya terikat dan ia sedang duduk di kursi. Mulutnya tersumpal sehingga ia tidak bisa bicara.
"Umh..."
"Hmmm..."
__ADS_1
"Mmmh..."
Jesslyn berusaha bersuara dan meronta. Ia ingin melepaskan diri dari ikatan yang mengikat tangannya. Pintu ruangan itu terbuka, seseorang masuk dan melihat arah Jesslyn. Begitu juga Jesslyn yang menatap ke arah pintu, membuat pandangan keduanya bertemu.
Jesslyn melebarkan mata, "Calvin..." batin Jesslyn marah. Jesslyn terus meronta ingin dilepaskan, "Hmmm... mmmmh..."
Calvin tesenyum melihat Jesslyn meronta dan menatap tajam ke arahnya. Ia berjalan cepat mendekati Jesslyn, ia membelai lembut wajah Jesslyn. Seketika itu Jesslyn memalingkan wajahnya seakan mengindari sentuhan Jesslyn. Wajah Jesslyn yang semula senang berubah menjadi kekesalan karena sikap Jesslyn.
Calvin menarik kasar rambut pirang Jesslyn, "Kau menolak sentuhanku, huh? kau seharusnya senang dan merasa betuntung. Dari sekian banyaknya perempuan yang mengelilingiku, aku memilihmu yang hanya seorang perempuan rendahan. Kau berani-beraninya bersikap seperti ini padaku," geram Calvin tidak suka sikap dingin Jesslyn padanya.
Jesslyn memejamkan mata, ia merasakan sakit saat rambutnya ditarik kasar. Ia hanya bisa meneteskan air matanya karena tidak berdaya. Ia membuka mata cepat, saat kain yang menyumpal mulutnya terbuka.
"Meski aku tidak menyukai sikapmu tadi. Aku bisa memaafkanmu. Ayo kita menikah Jesslyn," kata Calvin membelai wajah cantik Jesslyn.
"Lebih baik aku mati daripada harus menjadi istrimu. Kau seorang penjahat, Calvin. Aku tidak sudi," sentak Jesslyn tanpa ragu-ragu.
Plakkk...
Calvin menampar Jesslyn lalu mencengkram kuat dagu Jesslyn. Pandangan keduanya kembali bertemu. Jesslyn bisa merasakan kesalnya Calvin saat ia menolak permintaan Calvin. Sedangkan Calvin bisa melihat betapa bencinya Jesslyn padanya.
"Kau lebih memilih mati rupannya. Baiklah, jika kau tidak bisa diperlakukan halus, aku akan gunakan cara yang kasar."
Calvin menarik kasar kemeja Jesslyn, membuat kancing kemeja Jesslyn terlepas paksa dan berhamburan. Seketiaka, belaham dada dan pakaian dalam Jesslyn terlihat oleh Calvin. Jesslyn semakin kesal lalu memaki Calvin yang berusah melecehkannya.
"Brengs*k! apa yang kau lakuakan," sentak Jesslyn meronta-ronta.
"Hahaha..." tawa Calvin, Calvin membuka paksa kemeja Jesslyn menikmati pandangan yang indah dihadapannya, "Luar biasa. Kau ternyata tidak hanya cantik di wajah saja, ya. Di dalam sana, bahkan terlihat menggiurkan untuk dinikamati. Aku sudah tidak sabar lagi," kata Calvin dengan senyum penuh kepuasan.
"Jangan macam-macam kau! aku tidak sudi kau sentuh, lepaskan aku!" teriak Jesslyn.
Calvin meraba wajah Jesslyn lalu turun ke leher Jessyn. Lalu turun lagi dan hendak menyentuh dada Jesslyn. Namun, niatannya tidak tersampaikan karena pintu ruangan tiba-tiba saja dibuka oleh seseorang.
__ADS_1
...*****...