
Lama saling diam dalam posisi berpelukan. Hansel melonggarkan dekapannya. Micheline bisa mendengarkan degup jantung Hansel yang berdetak kencang. Ia juga merasakan lembutnya belaian Hansel yang mengusap-usap kepalanya.
"Siapa yang memukulmu?" tanya Micheline.
"Charlie," jawab Hansel.
"Hah?" kaget Micheline yang langsung menatap Hansel, "Apa alasannya dia memukulmu?" tanya Micheline lagi.
"Apalagi. Tentu karena tau motifku mendekatimu dan masuk diperusahaan. Dia begitu setia padamu sampai mengancam ingin meregang nyawaku. Luar biasa, kan?" jawab Hansel tersenyum kaku.
"Aku bisa gila jika seperti ini, Hans. Apa ini semua," keluh Micheline mengusap-usap dahinya.
Hansel memegang wajah Mucheline agar Micheline melihatnya. Pandangan kedua pasang mata itupun mau tidak mau bertemu satu sama lain. Dibelainya lembut wajah Micheline oleh Hansel.
"Aku akan akhiri semuanya. Aku akan bicara terus terang pada Alfonzo dan akan mendukungmu sepenuhnya. Aku berjanji akan setia kepadamu," ucap Hansel.
Mucheline mengengkat sebelah alisnya, "Tunggu, Hans. Sebaiknya kau tidak bicara apa-apa dulu pada Pak tua itu. Sebentar, biar aku duduk dengan nyaman. Lepaskan dulu tangamu," pinta Micheline agar Hansel tidak menahanya dalam pelukan.
Micheline berdiri dan berpidah duduk. Ia kembali duduk di samping Hansel. Dengan tatapan mata yang lekat, Micheline manatap Hansel.
"Coba kau ceritakan semuanya. Dari awal sampai akhir. Aku ingin penjelasan detai dan terperinci. Apa saja yang lakukan dan apa saja yang kau dapatkan saat bekerja dengan Alfonzo. Semuanya," jelas Micheline menekankan kata-katanya.
Hansel mengambil napas dalam lalu menghembuskan kasar, "Baiklah. Aku akan ceritakan. Dengar baik-baik ceritaku," jawab Hansel.
Hansel lalu bercerita dari awal ia bertermu Alfonzo dan menjalain kerjasama dengan Alfonzo. Bagaimana ia selalu melaporkan setiap kejadian Micheline bertemu dengan siapa, sampai apa yang dibahas di dalam pertemuan tersebut. Semua diceritakan Hansel tanpa kurang satupun. Hansel menegaskan, jika itu semata-mata karena pekerjaan. Tidak ada alasan lain selain itu. Ia juga mengatakan jika ia tidak sepenuhnya berpihak pada Alfonzo, baginya bekerja di bawah bimbingan Micheline adalah sesuatu hal yang menyenangkan.
__ADS_1
Micheline diam menyimak cerita Hansel. Ia terkadang mebgerutkan dahinya. Terkadang juga merasa geram sendiri, bahakan sampai kesal karena mendengar cerita dari Hansel. Ia tidak menyangka jika Hansel begitu rapi bekerja. Tidak mengira akan dibohodohi oleh Asistennya sendiri. Ia percaya jika Hansel adalah orang yang jujur. Oleh karena itu ia selalu mengajaknya ke manapun ia pergi dengan tujuan pekerjaan. Entah itu bertemu klien, rekan bisnis, investor dan masih banyak yang lainnya.
Tidak segan pula Micheline mengumbar isi dokomen rahasia pada Hansel. Yang seharusnya tidak boleh diberitahukan kepada siapapun. Micheline begitu mengandalkan Hansel. Dengan sikapnya yang cepat tanggap dan cekatan itu. Selalu bisa membantu Micheline. Ia tidak merasa aneh saat beberapa kali menemui kesulitan dalam pekerjaannya. Ia mengira itu hal yang wajar karena dalam pekerjaan tidak semua hal berjalan lancar. Pasti ada masa susah, dan senangnya.
"Laki-laki ini sungguh pandai berakting rupanya. Saat bersamaku dia menyimak semuanya dan tiba saatnya akan melapor pada Alfonzo. Luar biasa," batin Micheline tersenyum dingin. Micheline kesal karena merasa tertipu oleh kepolosan Hasel.
"... begitulah. Sampai kejadian terakhir," jelas Hansel, selesai menceritakan semuanya.
"Ah, kau memang luar biasa jika seperti itu. Kau bekerja dengan sangat baik," puji Micheline yang sebenarnya sangat merasa kesal.
"maafkan aku," ucap Hansel merasa sedih mendengar pujian Micheline.
"Maafmu tidak bisa merubah apapun, Hans. Maafmu juga tidak bisa memutar waktu kembali, kan?" jawab Micheline menatap Hansel.
"Sejujurnya aku ragu, tetapi aku tidak punya pilihan karena aku sudah ada kesepakatan kontrak kerja dengan Alfonzo. Aku, mau tidak mau harus melaporkan semuanya. Secara mendetail," jawab Hansel.
Micheline menghela napas kasar, "Aku tidak menyangka, Hans. Pernyataan ini, akan keluar dari mulutmu. sungguh," ucap, "Aku sangat kecewa padamu. Kenapa kau baru katakan sekarang? karena kau sudah dipukuli Charlie, baru kau mengakuinya. Benar begitu?" tanya Micheline.
Hansel menggeleng, "Bukan begitu, Eline. Aku sebenernya ingin jujur sudah sejak kejadian perselisiahnmu dengan Frederick. Sampai seseorang yang tertangkap itu. Namun, aku tidak punya cukup keebranian untuk bicara. Aku jadi seseorang yang pengecut karena pada akhirnya hanya bisa diam dan meredam. Sungguh aku minta maaf. Aku menyesal," ungkap Hansel penuh penyesalan.
"Bersyukurlah Charlie masih berbaik hati mengampuni nayawamu. Jika tidak, kau akan berakhir sama seperti orang yang kau lihat saat itu. Tidak, tidak, sekarang bukan waktu yang tepat membicarakan itu. Ayo kita kembali ke topik pembicaraan kita. Setelah ini kau mau bagaimana? apa kau berniat melarikan diri dariku juga?" tanya Micheline.
Hansel melebarkan mata, "Aku sudah bersalah padamu. Aku akan menerima semua hukuman yang kau berikan. Sebelum itu, aku harus menemui Alfonzo dan memutus hubunganku dengannya. Aku tidak mau menjadi informannya lagi," jelas Hansel.
"Tidak, tidak. Kau tidak ku izinkan bertemu Alfonzo. Apa kau tahu seberapa liciknya Pak tua itu, hah? kau ini bodoh atau memang tidak memahinya?" sentak Micheline.
__ADS_1
"Apa maksudmu? aku tidak mengerti," jawab Hansel.
"Kau menemuinya. Kau berterus terang padanya tentang apa yang terjadi. Kau ingin hubungan kerjasama antara kau dan dia berakhir, kau kira dia akan melepaskanmu begitu saja? aku rasa baru sampai depan pintunya, peluru pisyolnya akan menembus jantungmu. Apa itu yang kau inginkan? kau ingin menyerahkan nyawamu begitu saja?" kesal Micheline.
"Apa? bagaimana mungkin seperti itu. Alfonzo dan Luiso tidak pernah kasar padaku saat bertemu. Mereka selalu baik padaku," kata Hansel lagi mengutarakan apa yang ia rasakan.
"Itu karena mereka sangat-sangat mengharapkan informasi besar darimu, Hans. Bisa saja, suatu saat nanti kau akan diminta membunuhku diam-diam. Itu bukan hal yang tidak mungkin. Terlebih, dia itu orang yang sangat membenciku. Dendamnya tidak akan sirna jika aku tidak lenyap," kata Micheline tersenyum masam.
"Boleh aku tau kenapa? saat mereka membicarakanmu, aku bisa melihat betapa mereka tidak suka padamu. Seakan-akan kau telah menorehkan luka yang dalam pada kedua orang itu," jelas Hansel menceritakan pengamatannya mengenai Alfonzo dan Luiso.
"Ah, itu. Aku dituduh membunuh Istri dan anaknya. Ya, siapa yang akan tahan melihat Istri dan Anak tunggalnya meninggal disaat bersamaan. Bukan aku penyebab mereka meninggal, tetapi aku sampai dituntut dan dilaporkan pada polisi. Sampai penyelidikan selesai dan aku dinyatakan tidak bersalahpun, Pak tua itu tetap mengataiku pembunuh. Lucu, kan?" kata Micheline menceritakan sebab pertikaiannya dengan Pamannya.
"Karena itu juga kau membencinya?" tanya Hansel.
"Bagaimana, ya. Aku awalnya tidak membencinya. Tetapi, saat aku mendengar suatu pengakuan mengejutkan darinya. Dari situlah aku mulai membencinya. Hubungan kami yang dulu baik, mulai retak dan bercela sekarang. Sangat disesalkan," kata Micheline merasa kecewa.
"Maaf, aku lancang bertanya. Aku tidak bermaksud mengungkit kejadian masa lalumu, El. Maafkan aku," ucap Hansel.
Micheline tersenyum, "Maaf, maaf, dan maaf. Kenapa kau selalu saja minta maaf, Hans. Tidak ada yang bisa kau katakan selain maaf?" tanya Micheline sedikit bosan mendengar kata maaf.
"Aku salah, aku harus minta maaf. Dan kau, bisakah kau memaafkanku?" tanya Balik Hansel.
Micheline berpikir sesaat mengenai pertanyaan Hansel. Pasalnya, ia tidak pernah memaafkan orang-orang yang menyakitinya atau mengkhianatinya. Ia akan selalu membalas berkali-kali lipat, rasa sakit yang ia terima.
...*****...
__ADS_1