My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 18 - Meragukan


__ADS_3

Hansel sampai di Caffe. Ia memandang luar tempat itu sebentar, lalu masuk ke dalamnya. Hansel menantikan pertemuan dengan Luiso untuk membicarakan tentang misinya.


Langkah kakinya perlahan mendekati seseorang yang sudah duduk dengan secangkir kopi di atas meja di hadapannya. Hansel langsung duduk dan menyapa Luiso.


"Maaf saya terlambat," kata Hansel.


Luiso menatap Hansel, "Tidak apa-apa. Aku juga baru datang," jawab Luiso tersenyum tipis.


"Ada apa Anda memanggil saya malam-malam seperti ini?" tanya Hansel.


"Santai dulu. Pesanlah kopi," ucap Luiso memanggil seorang pelayan.


Hansel tidak mau banyak berdebat. Ia langsung memesan coklat panas saat seorang pelayan membawakan buku menu. Pelayan segera mencatat pesanan Hansel dan pergi meninggalkan meja. Hansel menatap Luiso yang sedang menikmati kopinya.


"Anda datang sendiri?" tanya Hansel melihat sekeliling, seakan mencari sesuatu.


Luiso meletakan cangkir kopinya, "Ya. Aku sendiri. Apa kau berharap aku dengan orang lain?" tanya Luiso.


"Bukan seperti itu. Bukankah Anda selalu bersama Tuan Alfonzo?" tanya Hansel.


"Tidak. Beliau sedanh sakit dan tidak ku perbolehkan ke luar dari rumah. Apa ada sesuatu? beberapa hari ini kau sulit dihubungi," kata Luiso ingin tahu.


"Sedikit ada hal mendesak di kantor. Aku sibuk," jawab Hansel beralasan.


Sejujurnya Hansel bingung karena ingin mengakhiri misinya memata-matai Micheline. Namun, di sisi lain tidak bisa mengabaikan permintaan Alfonzo begitu saja. Karena berkat Alfonzo Hansel bisa bekerja dan menghasilka uangnya sendiri. Hati dan pikirannya kembali bergulat. Hatinya memilih usai, namun pikirannya memilih tetap bertahan karena tidak ingin kehilangan semua yang baru diraihnya.


"Kau sudah dengar sesuatu? seorang pesuruhku mati di tangan Sekretaris Micheline. Kau harus berhati-hati pada Charlie. Dia seorang psikopat gila yang bisa saja membunuhmu jika kau menyinggungnya," kata Luiso memperingatkan Hansel.


Hansel kaget, "I-iya, Tuan. Saya akan berhati-hati," gagap Hansel.


Luiso mengira gagapnya Hansel karena ketakukan akan cerita darinya mengenai Charlie. Yang sebenarnya, Hansel telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kejamnya Charlie menyiksa seseorang sampai mengerang kesakitan dan memohon ampunan.


Sampai sekarang masih bisa diingat jelas jeritan juga teriakan-teriakan yang menyayat hati. Bagaimana suara erangan yang seakan menjadi akhir dari segalanya. Hansel tentu saja tidak ingin melibatkan diri dengan Charlie. Tidak ingin terikat suatu hubungan apapun dengan Charlie.


"Tuan, apa boleh saya bertanya?" tanya Hansel pada Luiso.


"Ya. Katakan saja, ada apa?" tanya Luiso.


"Apakah Anda mengenal lebih dalam tentang Tuan Charlie? maaf saya lancang bertanya. Saya hanya penasaran saja seperti apa orang itu," kata Hansel memancing pembicaraan.

__ADS_1


"Apa selama ini dia selalu bersikap baik dan wajar?" tanya Luiso lagi.


Hansel mengernyitkan dahi, "Wajar? dia orang yang giat dan terampil. Semua yang dilakukan terlihat mengagumkan. Tentu saja sebagai kepala Sekretaris dia harus punya kharisma, kan? tidak ada tindakan mencurigakan apapun darinya. Dia juga adalah orang kepercayaan Micheline," jelas Hansel.


"Charlie dulu bukan siapa-siapa jika dia tidak ditemukan oleh Micheline. Wajahnya memang tampan, tetapi apa gunanya itu jika dia seorang yang miskin. Dia juga memiliki seorang adik, tanpa adanya orangtua. Dia sungguh beruntung dipelihara oleh Micheline."


Mendengar cerita Luiso, Hansel menjadi kesal. Hansel tidak suka dengan ucapan Luiso yang mengatakan, jika Charlie adalah perliharaan Micheline. Hansel jadi ingat, Micheline dulunya sering memuji-muji Charlie di hadapannya. Saat ia masih baru pertama kali masuk di perusahaan.


"Apakah dia sudah lama bekerja bersama Micheline?" tanya Hansel ingin tahu.


Luiso mengangguk, "Cukup lama. Lebih dari lima tahun," jawab Luiso. Luiso menatap Hansel, "Semenjak ada Charlie mendampingi Micheline. Tuan menjadi sangat sulit mengincar Micheline. Selama kurun waktu itu Charlie mampun membuat pertahanan bagi Micheline. Mengesalkan, bukan?" keluh Luiso.


Hansel merasa lega karena ternyata Charlie sangat bisa diandalkan untuk melindungi Micheline. Ia memahami, mengapa Charlie selalu meluap dan emosi saat ada orang yang mengganggu atau mengincar Micheline.


"Ambil ini," kata Luiso memberikan amplop cokelat berisi semjumlah uang pada Hansel.


"Apa ini, Tuan?" tanya Hansel bingung karena tidak mengerti maksud dari Luiso.


"Ini bonus yang diberikan Tuan kepadamu. Meski kali ini Tuan gagal memecah belah antara Micheline dan Frederick. Namun, berkatmu semua terkendali. Selalu laporkan apapun pergerakan Micheline pada kami. Kami sangat membutuhkan informasimu," jelas Luiso.


Hansel hanya memandangi amplop cokelat di hadapannya tanpa menyentuhnya. Ia ragu, apakah harus ia menerima uang pemberian Alfonzo? bukankah ia bertekad ingin mengakhiri semuanya? Hansel hanya bisa diam terpaku saat itu.


"Saya tidak bisa menerima ini, Tuan. Saya sudah mendapatkan uang saya sendiri," jawab Hansel. Hansel memilih menolak uang pemberian Alfonzo yang dititipkan pada Luiso.


"Kenapa? apa kau ingin sesuatu yang lain? katakan saja," jawab Luiso terkejut. Ini pertama kalinya ada seseorang yang menolak diberikan uang.


Hansel tersenyum, "Tidak ada apapun yang saya inginkan, Tuan. Terima kasih karena sudah membantu saya. Saya menerima niat baik Anda, tetapi saya tidak bisa menerima pemberian Anda ini. Maafkan saya," tolak Hansel begitu halus membuat Luiso tidak bisa berkata-kata lagi.


"Baiklah jika itu kemauanmu. Aku akan sampaikan hal ini pada Tuan nanti. Jika kau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku."


"Ya," jawab Hansel.


Ponsel Hansel terus berdering sejak tadi. Hansel mengabaikan panggilan di ponselnya tanpa melihat siapa orang yang menghubunginya. Luiso sampai heran, namun enggan untuk menegur Hansel karena itu bukan hal penting baginya.


*****


Charlie mencoba menghubungi Hansel. Panggilan pertamanya diabaikan oleh Hansel. Charlie menghubungi Hansel lagi dan lagi-lagi tidak diangkat oleh Hansel. Hansel terlihat serius berbicara dengan Luiso. Membuat Charlie kesal dan emosi. Charlie menahan amarahnya, ia mencoba kembali menghubungi Hansel dan akhirnya diterima oleh Hansel.


"Ya, Pak Kepala Sekretaris. Ada apa?" tanya Hansel dengan suara pelan.

__ADS_1


Charlie berusaha menahan emosi, "Hans, kau di mana? aku sudah di depan apartmenmu. Aku diminta oleh Bu CEO mengambil dokumen bahan rapat untuk besok. Beliau mengatkan dokumen itu terselip ditumpukan dokumen yang kau bawa pulang."


"Anda di apartemen saya?" tanya Hansel kaget.


"Iya. Kenapa? apa kau sedang berada di luar?" tanya Cherlie berpura-pura.


"Ya. Saya sedang membeli sesuatu. Apakah Anda mau nenunggu? saya akan segera kembali pulang," jawab Hansel.


"Oh, begitu rupanya. Apa mau aku jemput? di mana lokasimu?" tawar Charlie.


"Tidak perlu, Pak. Saya akan kembali pulang sekarang," jawab Hansel.


"Ok. Aku tunggu," jawab Charlie yang langsung mengakhiri panggilannya.


Charlie teramat kesal. Ia meletakan ponselnya di bangku yang ada di sampingnya. Ia memukul setir kemudi lalu mengumpat.


"Sial!" umpat Charlie mengemudikan Mobilnya meninggalkan parkiran. Charlie segera bergegas menuju apartemen Hansel.


*****


Charlie sampai di parkiran di samping apartemen Hansel tinggal. Charlie menunggu di dalam mobil, ia masih memikirkan apa yang dilihatnya sebelumnya. Tidak lama kemudian, dari spion mobilnya, Charlie melihat Hansel yang berlari mendekati mobilnya.


Melihat itu, Charlie langsung keluar dari dalam mobil. Ia bersandar di mobilnya menunggu Hansel yang mendekatinya. Dengab napas terengah-enggah, Hansel berlari menghampiri Charlie. Hansel pun langsung meminta maaf pda Charlie.


"Maafkan saya, Pak. Saya membuat anda menunggu," kata Hansel.


Charlie mengangguk, "Tidak apa. Kau dari mana? tanya Charlie masih berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Baru membeli kopi," jawab Hansel.


"Minum kopi tidak mengajakku? kau tega sekali," goda Charlie tersenyum. Charlie mencoba mengalihkan pikirannya agar tidak terpancing emosi.


"Lain waktu mari kita minum kopi bersama, Pak. Saya akan mentraktir Anda. Bersama Bu CEO juga," jawab Hansel.


"Ya. Boleh saja," jawab Charlie. Charlie melihat sekitar, "Kau tinggal di sini? ah, aku hampir lupa tujuanku ke sini. Tolong ambilkan berkas dokumen bahan rapat besok. Bu CEO akan mempelajarinya malam ini," kata Charlie.


"Ya. Saya akan segera ambilkan," jawab Hansel yang langsung pergi meninggalkan Charlie seorang diri.


Selepas kepergian Hansel. Yang awalnya wajah Charlie tersenyum, kini berubah menjadi wajah yang kaku dingin dengan tatapan mata yang tajam. Charlie menjadi ragu akan keberadaan Hansel di sekitaran Micheline. Ragu, apakah Hansel adalah kawan atau lawan?

__ADS_1


...*****...


__ADS_2