My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 48 - Aku Baik Baik Saja


__ADS_3

Hansel sampai di rumah Micheline. Ia berdiri di depan pintu utama rumah Micheline. Cukup lama Hansel berdiam diri di depan pintu itu. Ia terus memikirkan, apakah ia harus menemui Micheline dan bicara atau cukup puas dengan melihat keadaan Micheline sebelumnya.


"Bagaimana jika dia kesal nanti, ya? sampai mana batasanku mendesaknya?" gumam Hansel.


Hansel mengeluarkan ponselnya, ia langsung menghubungi Micheline. Beberapa kali Hansel dihubungi, tetapi panggilannya diabaikan. Hansel tidak menyerah, ia terus menghubungi Micheline sampai panggilannya diterima oleh Micheline.


"Kau mengabaikan panggilanku? aku tidak akan menyerah menghubungimu," batin Hansel menunggu panggilannya diterima oleh Micheline.


Setelah lama menunggu, panggilannya pun diterima. Ia segera meminta dibukakan pintu oleh Micheline. Memberitahukan jika ia sudah ada di rumah Micheline. Setelah berdebatan panjang dengan Micheline, sampai ia terpaksa mengancam Micheline dengan mendobrak pintu utama. Panggilannya diputus oleh Micheline. Ia tahu jika Micheline tidak akan mengabaikannya. Ia menunggu kedatangan Micheline.


*****


Micheline melangkah cepat berjalan menuju pintu utama rumahnya. Ia kesal sekali, Hansel membuatnya kesal sampai ingin naik darah rasanya. Micheline ingin sekali memukul Hansel, memberi pelajaran pada Hansel.


"Laki-laki ini, memang ingin aku pukul dan aku hempaskan ke lantai rupanya. Beraninya mengancam ingin mendobrak pintu rumahku," batin Micheline mulai emosi.


Langkah kakinya terhenti, ia sudah sampai di depan pintu utama rumahnya. Dibukanya kuncii dan pintu rumahnya. Ia melihat Hansel sedah berdiri di hadapanya. Micheline keluar dari dalam rumah hendak memarahi Hansel. Namun, tanpa diduga-duga, Hansel langsung memeluk erat Micheline.


"Apa kau baik-baik saja?" bisik Hansel lembut.


Micheline melebarkan mata mendengar pertanyaan Hansel yang menanyakan apakah dirinya dalam keadaan sehat atau tidak. Rasa marah dan kesal yang hampir meledak akhirmya meredam perlahan-pahan. Micheline mendengus, membuat Hansel tersenyum.


"Apa kau kesal padaku?" tanya Hansel mendengar dengusan Micheline.


"Lepaskan pelukanmu, aku tidak bisa bernapas dengan baik."


"Oh, maafkan aku. Aku terlalu senang dan khawatir juga padamu," jawab Hansel melepaskan pelukannya menatap Micheline.


Micheline membalas tatapan mata Hansel, "Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas dan khawatir berlebih seperti itu," ucap Micheline.


"Bohong!" batin Hansel.


"Ya... kau memang nampak baik-baik saja. Tetap saja, aku tidak tahu apa dan bagaimana dalamnya hatimu, kan? mulut bisa berbicara sebaliknya," kata Hansel seakan memberikan teguran pada Micheline untuk mau jujur dan bicara padanya.

__ADS_1


Micheline menghela napas kasar, "Apa tujuanmu datang, Hans? tidak mungkin hanya sekedar khawatir dan cemas, kan? katakan padaku, apa tujuanmu."


"Aku hanya cemas dan khawatir saja. Tidak ada maksud lain. Apa kau mencurigaiku memiliki tujuan tertentu padamu?" jawb Hansel bingung, karena ia sebenarnya hanya ingin memastikan keadaan Micheline saja.


"Kau sudah lihat aku baik-baik saja, kan Kau bisa pulang jika sekarang," kata Micheline.


"Hah? kau mengusirku?" sahut Hansel sedikit kesal, "Apa-apaan ini. Aku baru sampai kau sudah menyuruhku pulang," gerutu Hansel.


"Lalu?" sahut Micheline tidak sabar.


"Izinkan aku menemanimu malam ini. Hanya malam ini," kata Hansel.


"Tidak," tolak Micheline langsung tanpa banyak berpikir atau pertimbangan. Ia tidak ingin kekalutanny terlihat oleh Hansel.


"Lagi-lagi kau menolakku. Aku tidak apa-apa kau terus menolakku dalam perasaan cinta. Namun, izinkan aku berada di sisimu untuk melindungimu. Aku ingin menjadi sandaranmu," ungkap Hansel.


"Simpan rayuan dan kata-kata manismu, Hans. Itu tidak mempan padaku. Aku bukan perempuan yang akan terbuai oleh bujuk rayu laki-laki. Aku baik-baik saja. Tidak perlu perlindungan atau seseorang yang selalu ada untukku."


"Apa kau yakin? kau tidak butuh bantuanku?" tanya Hansel melangkah mendekati Micheline. Wajahnya dan Micheline sangat dekat.


Micheline memalingkan wajah menghindari tatapan Hansel, "Ya... aku yakin. Sangat-sangat yakin. Jadi, pergilah sekarang. Aku juga sangat lelah, ingin istirahat."


"Baiklah, jika kau menolakku. Bersiap saja gosip kita menghabiskan malam panas akan tersebar ke telinga semua staf. Aku akan membuat skandal denganmu, menyebarkan rumor tentang kita."


Micheline melebarkan mata, "Kau gila?" sentak Micheline yang langsung menarik krah kemeja Hansel dan menatap lekat mata Hansel.


Hansel tersenyum, "Kenapa? apa kau kesal?


"Kau sengaja membuatku kesal, huh?" gerutu Micheline.


"Tidak apa jika kau marah dan kesal lalu memukulku. Aku siap untuk itu. Lebih baik kau lampiaskan saja ketidaksenanganmu daripada kau pendam dalam hatimu. Luapkan, Eline. Tidak apa," kata Hansel berusaha membujuk Micheline agar mau meluapkan keluh kesah padanya.


Micheline diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia lalu melihat ke arah Hansel. Hansel juga melekatkan tatapannya pada Micheline.

__ADS_1


"Kau sungguh ingin ku hukum, ya?"


"Ya. Hukum aku jika itu membuat perasaanmu jauh lebih baik," jawab Hansel.


Michelin berbalik membelakangi Hansel, "Masuklah. Aku akan pikirkan hukuman apa yang pantas untukmu," kata Micheline yang langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Hansel mengikuti Micheline dengan segera.


*****


Micheline membawa Hansel masuk dalam ruang kerjanya. Ia mendudukan Hansel di kursi kerjanya. Ia segera mengambil setumpuk dokumen dan diletakan di atas meja di hadapan Hansel. Hansel terkejut, ia mengangkat sebelah alisnya menatap Micheline. Micheline membalas tatapan Hansel dengan tersenyum tipis.


"Selesaikan ini tanpa ada yang terlewat," kata Micheline.


"Semuanya?"


"Ya, semuanya. Ini hukumanmu karena terus keras kepala seperti batu."


"Hah, baguslah jika hanya setumpuk kertas. Aku mengira kau akan memberikan hukuman seperti apa padaku. Tenang saja, jika hanya ini aku akan selesaikan semuanya sesuai keinginanmu."


"Kau tidak merasa keberatan?"


Hansel menggeleng, "Tidak sama sekali," jawab Hansel.


"Baiklah jika seperti itu. Kau terlihat sangat menikmati hukumanmu, ya. Kerjakan sendiri, aku akan menunggumu di sofa. Jika kau sudah selesai kau panggil saja aku," jelas Micheline.


"Saya mengerti, Bu CEO. Silakan duduk dan menunggu," jawab Hansel.


Micheline mengangguk. Ia langsung pergi meninggalkan Hansel mendekati sofa ruang kerjanya. Ia langsung duduk menaikan dua kakinya ke atas sofa, memeluk bantalan sofa. Dari jarak yang cukup jauh ia mengamati Hansel yang sudah mulai melakukan pekerjaannya.


Hansel melirik Micheline, Micheline terus menatapnya, memperhatikannya bekerja. Hansel tersenyum tipis, ia merasa puas, setidaknya ia bisa dekat dengan Micheline. Meski pekerjaan yang akan ia kerjakan menggunung, ia tidak merasa keberatan. Hansel kembali menyibukan diri, ia fokus pada pekerjaanya.


Perlahan-lahan Hansel mulai mengerjakan tugasnya. Dengan teliti dan cermat ia mengerjakannya. Ia tidak mau ada kesalahan sedikitpun, tidak mau Micheline mengomel padanya. Meski ada beberapa yang ia tidak mengerti, ia tidak merasa terbebani. Ia bisa melihat dokumen lain sebagai acuanannya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2