My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 94 - Kau Milikku Dan Aku Milikmu (2)


__ADS_3

Perhatian!


Dalam cerita mengandung unsur dewasa. Seperti 21+, kekerasan fisik, darah, kata- kata umpatan dan lain-lain. Diharapkan pembaca bijak dalam menanggapi isi bacaan. Terima kasih.


*****


Micheline*


Sepertinya aku sudah gila... aku, aku sangat menikmatinya! ah... rasanya ini pertama kalinya aku benar-benar berhasrat melakukannya dengan Hansel.


"Hhh..."


Aku merasakan sensasi berbeda. Ya, permainan Hansel yang begitu lembut, mampu membuat seluruh tubuhku bergetar. Entah ini getaran keberapa, kedua, ketiga? lupakan saja. Berapa kali pun, tetap saja terasa penuh kenikmatan.


"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya di sela-sela kegiatan panas kami.


Aku menggeleng, "Aku tidak apa-apa. Kenapa?" tanyaku balik.


"Katakan padaku, jika kau merasa tidak nyaman. Ok," jawabnya yang disusul oleh senyuman.


Aku menganggukkan kepalaku, "Yaaa... hhh... hhh..." jawabku tersentak-sentak.


Hansel memelukku erat, "Aku tidak bisa menahannya lebih laam, El. Bolehkah?" bisiknya padaku.


Aku mengusap rambutnya, "Lakukan saja. Bukankah kau selalu sangat liar? jangan ditahan," bisikku. Bisikkanmu mungkin membuatnya malu. Karena ia sempat menghentikan gerakannya.


Hansel melepas pelukannya. Ia mengubah posisinya berbaring di sampingku. Ia menatapku dan tersenyum nakal, tangannya menepuk pahanya sendiri seakan memberikan isyarat.


Apa ini? tidak salah lagi, ia memang laki-laki yang penuh niatan. Benar-benar, bukan Hansel jika ia tidak melakukannya.


Aku tau niatannya, ia ingin kami bertukar posisi. Tentu saja, hal itu tidak aku lewatkan. Akan kubuat dia mengerang-erang. Lihat saja!


"Aku ingin menikmatimu, Hans..." kataku yang sudah menempatkan posisiku.


"Hmm..." gumamnya sedikit panjang.


Tidak perlu menunggu lagi, aku pun memulai pergerakanku. Ya, aku bergerak sangat perlahan, lalu menambah lagi kecepatan gerakanku. Semakin lama semakin cepat, tetapi masih dalam batasannya. Aku tidak mau terlalu menggebu, aku ingin menikmatinya sampai aku benar-benar bisa membuat Hansel lemas.


"Hhhhh..."


"Mmhh..."


"Mhmmm..."


Tanpa sadar, aku sendiri yang meracau tidak karuan. Hansel yang berada tepat di bawahku, hanya tersenyum dan menatapku.


Hhhh... aku pasti memang sudah gila! aku tanpa sadar meracau sendiri. Aku merasa malu, saat kulirik Hansel hanya tersenyum dan menatapku. Ia seperti sedang menilaiku. Hahhh... lupakan saja! aku tidak peduli. Jika sudah gila ya gila saja, sekalian saja menuntaskannya.


*****


Micheline yang beraksi akhirnya mencapai pelepasannya. Ia pun ambruk dab menindih Hansel. Hal itu membuat Hansel terkekeh, Hansel mengubah posisi keduanya. Ia berbalik menindih Micheline.


Diciumnya kening Micheline, "Kemampuanmu luar biasa sayang. Kau membuatku terguncang," kata Hansel menggoda Micheline.


Wajah Micheline memerah, "Kau... kau jangan menggodaku lagi. Menyebalkan," gerutu Micheline memukul pelan bahu Hansel.

__ADS_1


Hansel tersenyum, "Aku mencintaimu..." bisiknya. Ia langsung mengecup pipi dan menggigit daun telinga Micheline. Digigit dan dihisapnya lembut, tanganya mulai bergrilya ke mana-mana. Sesuai apa yang ingin disentuhnya.


"Hh... Hans..." gumam Micheline.


Hansel tersenyum, ia sukses besar membuat perempuan yang dicintainya itu menggeliat seperti cacing. Sebenarnya, Hansel mencoba menahan diri sejak awal, tetapi kali ini ia tidak akan lagi menahan diri. Kemampuan bertahanya sudah melemah. Pergulatan panas kembali terjadi. Kali ini Hansel memegang kendali penuh atas Micheline. Melakukan serangan bertubi-tubi, sampai membuat Micheline lemas tak berdaya.


*****


Micheline dan Hansel selesai berolah raga panas. Karena merasa bosan, Micheline mengajak Hansel pergi untuk jalan-jalan. Hansel hanya bisa mengiyakan permintaan Micheline. Di saat kedunya telah bersiap dan hendak pergi, sesuatu terjadi. Ponsel Micheline berdering, ia mendapat panggilan telepon dari Charlie. Yang mengatakan ada keadaan darurat.


"Ya," jawab Micheline menerima panggilan.


"Michel... bisa kau ke kantor sekarang? sesuatu terjadi di sini," kata Charlie terlihat cemas.


"Sesuatu? maksudmu apa? coba jelaskan pelan-pelan," sahut Micheline.


"Hm... itu. Ada gosip yang menyebar di kantor. Jika kau dan Hansel... hah, bagaimana aku menjelaskan ini, ya. Aku tidak tahu mereka dengar rumor ini dari mana. Namun yang pasti karena rumor itu, beberapa klien kita juga membatalkan kontrak dan memilih membayar biaya ganti rugi." jelas Charlie.


Kening Micheline mengerut, "Seberapa parah situasinya?" tanya Micheline.


"Sudah ada lima klien kita yang meminta pembatalan kontrak. Dan mereka di sini menunggu persetujuanmu. Mereka mengatakan tidak akan pergi jika tidak membawa dokumen pembatalan kontrak. Aku sudah jelaskan sebisaku, bersabar sebisaku. Kalau saja bukan di kantor, mungkin sudah ku congkel mata mereka yang menatapku dengan tatapan mata penuh curiga itu. Huh, mengesalkan sekali." keluh Charlie.


"Aku akan datang, siapkan saja ruang pertemuannya. Dan, bawa mereka masuk, termasuk semua staf. Aku akan sekalian memberitahu pengumuman penting," kata Micheline.


"Pengumuman apa? kau tidak berencana menghancurkan bisnismu, kan?" tanya Charlie bingung.


"Apa kau gila? usahaku tidak mudah mendapatkan perusahaan itu. Aku tidak mungkin melakukan hal bodoh, Charlie. Sudahlah, lakukan saja apa yang aku minta. Aku akan berangkat sekarang," kata Micheline.


"Ok, sampai bertemu. Dan hati-hati di jalan," kata Charlie yang langsung mengakhiri panggilannya.


"Ada apa? apa yang membuatmu menghela napas?" tanya Hansel.


"Tikus-tikus taman kota," jawab Micheline. Yang langsung membuat Hansel mengernyitkan dahinya.


"Ti, tikus? tikus taman kota?" batin Hansel tidak mengerti.


"Apa tikus-tikus itu, berbuat kesalahan padamu?" tanya Hansel lagi. Meski ia tidak mengerti siapa tikus-tikus yang di maksud Micheline.


"Sebenarnya tidak. Yang mengganggu adalah orang yang melewati tempat mereka. Orang yang sengaja memberikan makanan enak pada mereka, berusaha meluluhkan hati dan pada akhirnya memanfaatkan mereka. Hah, sudahlah. Ayo kita pergi saja," ajak Micheline tidak ingin menunda lagi kepergiannya.


"Ya, sesuai keinginanmu." Jawab Hansel menurut.


Kedunya pun segera meninggalkan rumah dan masuk ke dalam mobil bersama-sama. Hansel yang mengemudi, langsung saja mengemudikan mobil yang ia tumpangi bersama Micheline pergi meninggalkan rumah.


*****


Di perjalanan, Micheline meminta Hansel berhenti disebuah toko bunga. Hansel menurut begitu saja. Setelah melihat ada toko bunga, ia menepikan dan menghentikan laju mobil. Micheline melepas sabuk pengamannya, bertanya sesuatu hal yang mengejutkan pada Hansel.


"Apa kau suka bunga, Hans?" tanya Micheline, lalu menatap Hansel.


"Apa? bunga? Hm... suka, aku suka bunga Mawar putih." jawab Hansel tanpa ragu.


"Kenapa suka dengan mawar putih?" tanya Micheline.


"Itu, mungkin karena dulu pengasuhku sering mengajakku ke taman saat aku merasa kesepian. Dan di taman itu hanya ada mawar putih yang bermekaran, yang kulihat. Jadi aku menyukainya," jawab Hansel menjelaskan.

__ADS_1


"Ok, tunggu di sini. Aku akan segera kembali," kata Micheline.


"Aku ikut," sahut Hansel.


"Tidak, Hans. Kau tetap tinggal," kata Micheline.


"Tapi..." kata-kata Hansel terpotong oleh Micheline.


"Menurutlah, sayang. Aku tidak lama," kata Micheline begitu manis. Michine pun langsung keluar dari dalam mobil, meninggalkan Hansel seorang diri yang ternganga karena terkejut.


"Sa, sayang? dia bisa mengucapkan kata itu? padaku?" gumam Hansel terheran-heran. Ia lalu tersenyum, "Apa ini mimpi? dia manis sekali," gumamnya lagi dengan wajah merona.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Micheline kembali dengan membawa buket bunga berukuran besar. Micheline membuka pintu mobil belakang dan langsung memasukan buket bunga yang dibawanya di sana. Ia segera menutup pintu mobil bagian belakang, dan bergegas membuka pintu mobil bagian depan. Ia segera masuk ke dalam mobil, lalu menutup kembali pintu mobil.


"Sudah?" tanya Hansel melihat ke arah belakang, ia melihat buket bunga yang tergeletak di bangku belakang. "Untuk apa itu?" tanya Hansel lagi.


"Kuberikan pada seseoranvg," jawab Micheline.


"Seseorang? siapa? perempuan atau laki-laki?" tanya Hansel.


"Hm... siapa, ya? sepertinya laki-laki. Dia laki-laki tampan yang mungkin saja bisa mencuri hatiku. Pesaingmu, mungkin." jawab Micheline, sengaja ingin menggodai Hansel.


Kening Hansel berkerut, "Baru tadi kau terkulai lemas di bawahku, dan sekarang kau ingin memberikan bunga apda pesaingku? apa kau sengaja membuatku mengamuk?" kesal Hansel membuang muka. "Hah, terserah saja. CEO maha berkuasa. Mungkin kau ingin mendirikan Harem di kediamanmu," gumam Hansel yang langsung mengemudikan mobil pergi meninggalkan parkiran toko bunga.


"Apa-apaan perempuan ini. Sedetik sayang sedetik berbeda. Dia sungguh pintar mempermainkan perasaanku. Beraninya inginengincar laki-laki lain. Lihat saja, aku akan membuang bunga itu nanti. Tidak ada yang boleh menjadi pesaingku," batin Hansel kesal.


Micheline tersenyum, "Dia kesal? lucu sekali," batin Micheline melirik arah Hansel.


"Hans..." panggil Micheline. Hansel hanya diam tidak menyahut.


"Hansel..." panggil Micheline lagi.


"Hans..."


"Hm," gumam Hansel menyahut.


Micheline tersenyum, "Manisnya, baru ini ada seseorang yang marah, tetapi terlihat manis. Kau pasti akan menyukai kejutan dariku, Hans. Pasti," batin Micheline.


...*****...


**Yuk, follow ig author


ig: dea_anggie


Jangan lupa like setiap episodenya ya..


Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..


Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..


Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..


Terima kasih semuanya...


Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..

__ADS_1


Salam hangat dari author~~🙂**


__ADS_2