My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 62 - Pergerakan Micheline (2)


__ADS_3

Marco sudah dalam perjalanan. Ia melanjukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tetap waspada dan berhati-hati. Meminta dua rekannya terus mengawasi Ertha juga Luky. Saat hendak pergi, Marco sudah mengabari Micheline. Melaporkan, jika misinya sukses dan berjalan lancar tanpa kendala.


*****


Marc sudah menempati apartemen yang baru. Karena ia tidak mengerti maksud dari Hansel dan kebingungan. Ia menghubungi Hansel, meminta Hansel datang untuk menjelaskan. Tidak punya pilihan, Hansel datang ke apartemen baru yang di tempati Marc, lalu memceritakan semuanya.


"... begitulah," kata Hansel.


"Pamanmu benar-benar gila, Hans." jawab Marc. "Untung saja atasanmu berhati baik. Sampai-sampai memikirkan aku yang merupakan temanmu," imbuh Marc menerangkan.


"Maaf sudah menyusahkanmu, Marc. Aku harap kamu memang baik-baik saja, dan tidak terlibat apapun dengan urusan yang rumit ini." kata Hansel sedikit sedih.


"Tidak apa-apa. Aku bersyukur kau dan atasanmu memikirkanku juga. Terima kasih, ya." ucap Marc tersenyum.


"Tinggallah baik-baik di sini. Beliau juga menyediakan mobil untuk kau gunakan. Kau tidak perlu lagi pergi untuk bekerja sementara waktu ini. Pergi jika kau ingin pergi, tetapi tidak untuk waktu yang lama. Aku tidak bisa dua puluh empat jam berada di sampingmu. Kau juga harus bisa melindungi diri sendiri, Marc. Apa kau memahami ucapanku?" jelas Hansel.


"Aku paham. Bukankah tadi sudah dijelaskan juga di telepon. Yah, meskipun orang yang menjelaskan awalnya adalah dia," kata Marc.


Orang yang dimaksud Marc adalah Charlie. Semenjak kejadian itu, Marc merasa canggung pads Charlie. Perkataan Charlie memang tidak salah, Marc juga sadar akan posisi dan tempatnya. Ia harus berterima kasih karena saat ketahuan bersama Keily, Charlie tidak langsung menebas lehernya.


"Kau masih canggung, ya. Charlie sebenarnya bukan orang sejahat itu, Marc. Mungkin iya sedikit, di waktu tertentu dia akan menjadi seorang yang menyeramkan lebih dari dugaan kita." jelas Hansel. Berusaha menghibur Marc, sahabatnya.


"Aku mengerti. Oh, ya. Kau tadi bicara soal kau pindah dan tinggal bersama CEO. Apa itu juga sebagai bentuk perlindungan atasan kepada bawahannya? atau ada tujuan lain? kau tidak sedang bermain api, kan?" sindir Marc, membuat wajah Hansel merona.


Sejauh ini Marc tidak mengetahui apa-apa soal hubungan Hansel dan Micheline. Jangankan Marc, Hansel sendiri pun tidak tahu apa status pasti antara dirinya dan Micheline. Jika hanya sekedar teman, apa yang mereka lakukan lebih dari teman. Mereka berpelukan, berciuman bahkan bercumbu. Jika sepasang kekasih, nyatanya Micheline masih enggan menerima Hansel dan terus meminta Hansel berusaha, juga bersabar menunggu. Menunggu entah sampai kapan, menunggu seuatu yang entah pasti atau tidak.


Marc menatap Hansel, "Hei, kau tidak menjawabku dan hanya diam melamun dengan wajah merah seperti tomat. Ekspresi macam apa itu, Hans?" kata Marc.


"Jangan bahas lagi. Intinya beliau yang menawarkan ini. Ah... mungkin juga ini bisa kita sebut perintah juga. Kau kan tahu, perintah harus di jalankan. Suka ataupun tidak," jawab Hansel.


Marc mengangguk, "Baiklah. Apa pun keputusanmu, aku sebagai temanmu akan mendukungmu. Kau juga harus terus waspada dan berhati-hati, Hans. Jangan sampai terjadi apa-apa padamu. Aku tidak ingin kau cidera atau mengalami sesuatu hal yang sulit. Hubungi aku jika butuh sesuatu. Ok," ucap Marc.

__ADS_1


Hansel tersenyum, "Terima kasih, temanku. Kau yang terbaik," kata Hansel menepuk bahu Marc. "Kau istirahat saja. Kau apsti lelah kan karena harus berkemas mendadak tadi. Jangan lupa makan makananmu, ya. Aku harus pergi," pamit Hansel.


"Ya, pergilah. Hati-hati di jalan. Sering-sering telepon dan berkunjung. Agar aku tidak mengkhawatirkanmu," pinta Marc.


"Itu pasti. Aku tidak akan pernah melupakanmu," jawab Hansel.


Setelah itu Hansel pergi, ia meninggalkan Marc seorang diri di apartemen yang baru. Melihat Hansel melangkah semakin jauh, Marc langsung menutup pintu apartemennya dan menikmati makan malam yang dibawakan oleh Hansel.


*****


Di parkiran, Micheline menunggu Hansel di dalam mobil. Hansel membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil. Pandangan matanya langsung bertemu dengan padangan Micheline.


"Apa sudah selesai?" tanya Micheline.


Hansel mengangguk, "Sudah," jawab Hansel pelan.


Micheline menatap Hansel, "Hei, kau kenapa? apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu? kenapa kelihatan sedih begitu?" tanya Micheline.


"Sakit? kau terluka?" sentak Micheline kaget.


Hansel menggapai tangan Micheline dan menempelkan tangan Micheline di dadanya. "Di sini," katanya.


Micheline membuka semua kancing kemeja Hansel dan melihat tidak ada luka atau apapun. Micheline bernapas lega karena sudah memastikan Hansel baik-baik saja tanpa luka.


"Kau tidak ingin mengobatiku?" tanya Hansel memelas.


"Caranya? aku tidak bisa melihat lukamu, apa itu luka dalam?" jawab Micheline.


"Peluk aku," jawab Hansel, meminta dipeluk Micheline.


Micheline mengangkat sebelah alisnya, "Kau mulai lagi," gumamnya yang langsung memeluk Hansel.

__ADS_1


Hansel mendekap erat tubuh Micheline, "Jangan tinggalkan aku, El. Aku dan hidupku tergantung padamu," bisik Hansel.


Micheline mengusap rambut Hansel, "Tidak akan. Menurut saja apa yang aku perintahkan. Semua demi kebaikanmu," jawab Micheline.


Micheline semakin mengeratkan pelukan dan menepuk-nepuk punggung Hansel lembut. Setelah puas berpelukan, Micheline mengajak Hansel untuk pergi dan segera makan karena perutnya sudah sangat lapar. Mereka pun pergi meninggalkan lokasi mencari restorant untuk dapat menikmati makan malam.


*****


Charlie makan malam bersama Keily. Charlie menceritakan masalah Hansel pada Keily. Charlie merasa kesal karena ucapannya ditentang oleh Micheline. Ia meluapkan semuanya pada Keily. Dan Keily hanya diam menedengar Kakak kesayangannya berkeluh kesah.


"Bukankah dia perempuan gila," kata Charlie.


Keily mengangguk, "Ya. Dia memang gila. Sejak kapan Kak Micheline itu sehat," jawab Keily.


"Benar, kan? kau juga berpikir sama denganku, kan. Hah... menyebalkan sekali!" kesal Charlie, "Dia memerintahku seenaknya. Tanpa aku sadari, aku pun takut dengan tatapan tajamnya dan langsung mengikuti perintahnya tanpa ragu."


"Dia kan CEO, Kak. Wajar saja memerintah bawahannya," kata Keily.


"Ya. Aku tahu itu. Apalah aku yang hanya seorang kepala Sekretaris dibandingkan dia yang seorang CEO. Tapi... aku sangat kesal dia bertindak gila dan semaunya seperti itu." keluh Charlie yang sudah setengah mabuk.


"Ya, ya, ya... lupakan saja. Pikirkan hal baik saat ini," kata Keily menghibur Kakaknya.


"Apa masalahnya benar seserius itu, ya? jika Kakak saja sampai kesal begini, berarti Kak Micheline sudah tidak bisa digoyahkan lagi. Mereka ini selalu saja begini. Mereka yang terlibat aku yang menjadi korban harus mendengarkan keluhan," batin Keily mengomel.


Ponsel Keily berdering, panggilan dari Jason. Keily menerima panggilan dan bicara dengan Jason. Ternyata Jason dan Jesslyn datang untuk bertemu. Ini kesempatan Keily untuk mendekatkan Kakakknya dengan Jesslyn. Ia pun meminta Jason dan Jesslyn menunggu diapartemen Charlie dan mengakhiri panggilan. Keily membayar tagihan, ia segera memapah Charlie yang setengah sadar pergi kembali pulang ke apartemen.


"Hah, beruntung sekali ada Kak Jesslyn datang. Selamat bersenang-senang, Kak. Jangan salahkan aku, ya. Aku akan menculik Jason dan membawanya ke apartemnku." batin Keily.


Keily dan Charlie sudah ada di dalam mobil. Keily menatap Kakaknya dan mengusap wajah Kakaknya. Tiba-tiba Keily merasa sedih saat ia melihat beberapa bekas luka yang ada di tubuh Kakaknya itu. Mengingatkannya kembali akan masa-masa sulit keduanya bertahan hidup.


"Terima kasih, Kak. Aku harap Kakak selalu dalam perlindungaan-Nya dan selalu sehat. Aku senang Kakak mau berkeluh kesah padaku seperti ini. Hiduplah bahagia, jangan lagi mempersulit hidupmu." ucap Keily lirih. Keily segera mengemudikan mobil Charlie pergi meninggalkan parkiran.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2