My Sexy CEO

My Sexy CEO
MSC 98 - Mereka Adalah Keluarga


__ADS_3

Perhatian!


Dalam cerita mengandung unsur dewasa. Seperti 21+, kekerasan fisik, darah, kata- kata umpatan dan lain-lain. Diharapkan pembaca bijak dalam menanggapi isi bacaan. Terima kasih.


*****


Pintu terbuka, Hansel terkejut saat melihat Erthalah yang membuka pintu rumah tersebut. Ertha tersenyum, menyapa Hansel dan Micheline.


"Micheline, kami sudah menunggumu sejak tadi. Ayo masuklah. Kau juga, Hans." kata Ertha.


Micheline dan Hansel masuk. Meski bingung, Hansel berusaha mengerti situasi dan kondisi saat itu. Ia mengikuti langkah kaki Micheline yang terus berjalan menyusuri dalam rumah yang asing baginya.


Hansel melihat Micheline mendekati seseorang, seorang perempuan paruh baya yang disampingnya berdiri seorang laki-laki muda. Ada juga di sana. Hansel memalimgkan wajah menatap Ertha, seakan ingin menanyakan sesuatu.


"Hans... kemarilah," panggil Micheline. Yang dijawab anggukan oleh Hansel. Hansel pun segera berjalan mendekati Micheline.


Micheline menatap Hansel, "Kenalkan, ini adalah Bibiku. Dia adalah sepupuku, mereka istri dan putra pamanku, Alfonzo. Bibi, Albert, dia Hansel Feliks, calon suamiku. Sekaligus keponakan dari Bibi Ertha, juga sepupu Luky." kata Micheline memperkenalkan.


Hansel terkejut, ia pun menatap Micheline bingung. Di hadapanya ads seorang yang diperkenalkan Micheline sebagai seorang Bibi dan sepupu. Lebih mengejutkan lagi, mereka adalah anggota keluarga Alfonzo. Belum hilang rasa bingungnya karena keberadaan Ertha dan Luky di rumah tersebut, kini ada lagi hal yang membuatnya bingung.


"Nanti aku jelaskan," kata Micheline tersenyum.


Hansel mengangguk, ia mengulurkan tangan memberi salam pada Julie dan Albert, sembari menyapa. Hansel tersenyum, menatap keduanya orang asing di hadapannya.


"Duduklah, Nak. Senang bertemu denganmu," kata Julie. "Bibimu banyak bercerita tentangmu," imbuhnya.


Hansel mengangguk, "Ya. Terima kasih," jawab Hansel.


Mereka semua duduk, Ertha menyajikan teh dan kudapan di atas meja. Lalu bergabung untuk duduk. Ertha duduk di samping Luky, putranya.


"Kau pasti bingung. Kenapa kami semua ada di sini, kan?" ucap Julie yang hanya ditanggapi anggukan pelan Hansel sebagai jawaban.


Julie tersenyum, "Seperti yang sudah Eline katakan tadi. Aku adalah Bibinya, dan dia adalah putraku, Albert. Kami berdua hidup berkat pertolongan Eline. Jika saat itu Eline tidak ada, mungkin saja kami memang sungguh-sungguh tiada. Bahkan demi kami, dia rela hidup menderita selama ini. Aku secara pribadi meminta maaf, untuk apa yang terjadi, atas sesuatu yang membuatmu tidak nyaman karena Alfonzo." jelas Julie.


Hansel menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan napas perlahan, "Jujur saja, ini membuatku bingung. Namun, aku mencoba memahami semuanya. Dari yang kudengar dari Eline, bibi dan Albert sudah meninggal karena kecelakaan. Karena itu pamannya menyalahkan dan menaruh dendam pada Eline, atas kematian istri dan anak satu-satunya. Apa bibi tahu, suami bibi begitu berambisi ingin mrnghancurkan keponakannya sendiri?" keluh Hansel pada Julie.

__ADS_1


"Maaf..." kata Julie menunduk, Julie merasa malu dan sedih.


"Hans, tenanglah. Ini bukan salah bibiku. Ini salahku, ok. Akulah yang meminta bibi dan Albert diam bersembunyi. Dan tidak menampakan pada paman. Jika kau ingin bertanya atau menyalahkan seseorang, akulah orang yang sepatutnya kau salahkan. Maaf, Hans. Aku tidak bisa bicara soal ini darimu sejak awal." jelas Micheline menatap Hansel dengan tatapan mata memelas.


Hansel menghela napas, "Ya, sudahlah. Aku tidak mempermasalahkannya lagi." gumam Hansel.


Micheline tersenyum, "Umh, sebenarnya... Bibi Ertha dan Luky, ku kirim ke sini untuk menemani bibiku dan Albert. Aku juga minta maaf, karena tidak memberitahu padamu di mana bibi dan sepupumu ku kirim waktu itu. Aku hanya mengatakan mereka akan aman dan pasti akan nyaman," ucap Micheline.


"Ya, tidak apa. Terima kasih sudah berbaik hati pada bibi dan saudara sepupuku, El." jawab Hansel.


"Tidak masalah. Mereka adalah keluarga. Keluargamu adalah keluargaku juga, begitu sebaliknya. Pada dasarnya, konflik dalam keluarga kita sama, kan? apa kau menyadarinya? tanya Micheline pada Hansel.


Hansel diam sejenak mikirkan, "Benar juga. Apa yang kualami, Micheline pun juga mengalami. Kami sama-sama mengalami rasa sakit yang sama dari seseorang yang dekat dengan kami, paman kami sendiri. Mungkin karena inilah kami dipertemukan. Untuk bisa saling menyayangi dan mengasihi," batin Hansel.


"Hans..." panggil Micheline, melihat Hansel hanya diam tersenyum menatapnya.


"Ah, iya?" jawab Hansel setengah kaget.


"Apa kau baik-baik saja? kenapa melamun?" tanya Micheline.


Mereka pun bebincang-bincang. Banyak hal dibahas pada pertemuan pertama Hansel dengan bibi dan saudara supupu dari Micheline. Setelah kejadian enam bulan sebelumnya, Ertha dan Luky memutuskan untuk tidak menemui Ergy dan meminta segera dikirim pergi. Micheline pun akhirnya mengantar Ertha dan Luky menemui Julie dan Albert. Mengenalkan sepasang mama-mama habat tersebut satu sama lain. Luky dan Albert juga cukup akrab sampai akhirnya mereka mejadi teman dekat sekarang.


Saat mereka asik berbincang, tiba-tiba saja pintu luar rumah digedor keras oleh seseorang. Dan tidak lama pintu terbuka paksa, sekelompok orang asing yang tidak dikenal. mereka menyeramkan, tubuh mereka kekar dan terlihat menakutkan seperti tukang pukul.


"Apa-apan kalian," sentak Micheline.


"Hahaha... diam kau jala*ng! kami hanya ditugaskan membereskan semua orang yang ada di sini." kata seseorang yang diperkirakan Michiline adalah ketua kelompok tersebut.


"Perintah, siapa?" tanya Hansel mulai emosi.


"Cih! seseorang yang sudah ingin mati saja masih suka banyak bertanya dan bicara! Ayo kalian serang saja, habisi semua orang yang ada di sini." perintah seseorang itu lagi.


"Siapa mereka, El?" tanya Hansel berbisik.


"Siapa lagi, jika ada yang berniat membunuhku. Itu pasti atas perintahnya," jawab Micheline berbisik. " Bersiaplah, Hans. Kita tidak boleh lengah," imbuh Micheline.

__ADS_1


"S*al! situasi kita sangat tidak memungkan, El. Kita kalah jumlah," gumam Hansel.


"Kita pasto bisa, Hans setidaknya kita bisa melimdungi diri dan kedua bibi," gumam Micheline juga.


"Benar-benar, anj*ng-anj*ng busuk!" batin Micheline mengumpat.


Micheline melihat sekeliling. Ruang tengah telah dikepung sekitar delapan orang yang sudah siap meringkus Hansel, Micheline dan yang lainnya. Julie dan Ertha ketakutan. Albert dan Luky berusah melindungi Mama mereka masing-masing.


"Sayang sekali, kau cantik dan harus berakhir tragis. Bagaimana jika kau bersenang-senang denganku dulu, jal*ng?" kata seseorang yang berdiri dibelakang orang-orang yang mengepung.


"Tutup mulutmu, br*ngs*k! beraninya kau memanggil perempuanku dengan kata yang kotor seperti itu," sentak Hansel naik darah. Ia amat tidak menyukai ucapan seseorang itu.


"Banyak bicara, cepat bereskan semuanya!" perintahnya.


Sekelompok orang yang mengepung mulai bergerak, dan menyerang. Hansel dan Micheline menyerang balik sebagai bentuk pertahanan. Perkelahian tidak terhindarkan. Bahkan Albert dan Luky pun ikut bertarung demi melindungi mama-mama mereka.


...*****...


**Yuk, follow ig author


ig: dea_anggie


Jangan lupa like setiap episodenya ya..


Bagi-bagi Hadiah dan votenya juga..


Semakin banyak hadiah semakin rajin author update lho..


Ayo... ayo... kasih semangat dan dukungan buat author..


Terima kasih semuanya...


Bubaiii~~~ sampai jumpa di episode selanjutnya..


Salam hangat dari author~~🙂**

__ADS_1


__ADS_2