
Mobil Charlie masuk ke parkiran dan berhenti. Charlie dan Hansel keluar dari dalam mobil bersama-sama. Hansel menyampaikan rasa terima kasihnya pada Cahrlie. Atas pembelajaran yang ia terima.
"Kau ingin masuk dulu?" ajak Hansel.
"Sepertinya, lain waktu saja. Aku harus kembali dan cepat istirahat karena besok ada rapat penting."
"Terima kasih dan hati-hati," kata Hansel.
"Ya," jawab Charlie.
Charlie membuka pintu mobil hendak masuk dalam mobil. Namun, matanya tertuju pada sebuah mobil yang tidak asing. Mobil itu adalah mobil Adiknya, Keily. Kening Charlie langsung mengernyit, ia memalingkan wajah menatap Hansel.
"Hans," panggil Charlie.
"Ya?" jawab Hansel segera, ia menatap Charlie yang seperti sedang bingung.
"Sepertinya aku tidak jadi pulang. Ingin memastikan satu hal dulu," kata Charlie.
"Apa ada sesuatu?" sahut Hansel yang juga penasaran.
Charlie menutup kembali pintu mobilnya. Ia mendekati mobil yang diduga mobil milik Keily. Hansel yang juga penasaran mengikuti Charlie di belakang Charlie.
"Kau kenal pemilik mobil ini?" tegur Hansel melihat Charlie mendekati sebuah mobil.
"Ya. Jika tidak salah ingat. Ini mobil Adikku, Keily."
"Apa? Keily? untuk apa dia ke daerah sini?" heran Hansel.
"Itulah, aku juga tidak tahu. Apa yang dia lakukan di sini," jawab Charlie, mengintip kaca mobil Keily. Lalu menyelisik sekitar.
Tidak beberapa lama, Charlie mendengar suara tawa Keily. Ia memalingkan wajah dan melihat dua orang berjalan menuju arahnya dari kejauhan. Segera Charlie menarik tangan Hansel untuk bersembunyi ke sebuah mobil di belakang mobil milik Keily. Charlie penasaran, adiknyan dengan siapa dan sedang apa?
"Ada apa?" bisik Hansel.
"Adikku datang, bersama seseorang yang tidak aku kenal. Ayo kita lihat bersama, siapa dia. Berani-beraninya," bisik Charlie setengah emosi.
Hansel diam mengikuti kemauan Charlie. Ia dan Charlie menunggu Keily dan orang yang dianggap asing oleh Charlie mendekati mobil Charlie. Mata Hansel melebar ia terkejut jika laki-laki asing yang bersama Keily adalah sahabatnya, Marc.
"Marc," gumam Hansel kaget.
"Siapa?" tanya Charlie lagi.
"Itu Marc, dia teman sekamarku."
__ADS_1
"Teman sekamarmu?" tanya Charlie lagi.
Hansel mengangguk, "Hah... bisa-bisanya. Tunggu, sepertinya wajahnya tidak asing. Aku pernah melihatnya, di suatu tempat. Di mana, ya?" ucap Charlie menimang -nimang.
Charlie terus berpikir mengingat di mana ia pernah melihat Marc. Seketika ia melebarkan matanya karena mengingat sesuatu. Sesuatu hal yang membuatnya menjadi lebih kesal.
"Sial!" sentaknya kesal.
"Hei, kau kenapa?" tanya Hansel bingung tidak mengerti.
"Itu dia laki-laki gila yang minum bersama beberapa perempuan di bar. Dan, aku melihat dia juga berciuman dengan salah satu dari mereka. Laki-laki penipu wanita, kan?" jawab Charlie.
Hansel kaget, "Kau yakin? tidak salah lihat, kan?" tanya Hansel lagi. Ia kaget mendengar penjelasan Charlie.
"Meski aku sering melihat Marc pulang diantar perempuan, aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. Karena dia hanya mengatakan jika perempuan-perempuan itu adalah teman. Apa benar dia seperti apa yang dikatakan Charlie?" batin Hansel berpikir.
"Tidak salah lagi, Hans. Aku akan robek mulutnya itu," geram Charlie yang langsung berjalan hendak menghampiri Marc dan Keily.
"Tu-tunggu, Charlie. Bisakah kau bicara baik-baik dengannya? kau tak berbiat memukulnya, kan?" sela Hansel menghadang jalan Charlie.
Charlie menatap tajam pada Hansel, "Minggir, atau kakiku akan kupatahkan."
Hansel menepi, ia tidak bisa lagi menghadang Charlie. Charlie terlihat sangat kesal. Hansel hanya bisa mengikuti Charlie yang berjalan mendekati Keily dan Marc.
Marc mengantar Keily ke parkiran. Keily hendak pulang karena sudah terlalu lama bertamu di apartemen Marc. Mereka berjalan bersama menuju parkiran sembari mengobrol.
"... terima kasih, Kei. Kau sudah mau mengantarku," kata Marc tersenyum manis.
"Bukan hal besar, Marc. Aku hanya kebetulan lewat saja," jawab Keily.
"Ya, tetap saja. Jika tidak ada kau, entah jadinnya akan seperti apa."
"Lebih baik kau ubah gaya hidupmu. Jangan seperti ini lagi. Masih banyak pekerjaan lain, kan?" kata Keily mengingatkan.
"Aku rasa akan sulit. Karena tidak semudah itu mencari uang, kan? kau punya pekerjaan tetap di kantor. Sedangkan aku? aku hanya pekerja kasar yang tidak punya masa depan. Aku juga tidak ingin merepotkan temanku," keluh Marc dengan wajah sedihnya.
Keily ikut sedih, "Berusahalah, Marc. Kau juga bukan laki-laki yang bodoh. Kau bisa manfaatkan kepandaianmu, bukan hanya tubuhmu. Ini hanya saranku saja. Aku tidak ingin hal seperti tadi terulang kembali dikemudian hari. Pekerjaan istimewamu ini sungguh beresiko," ucap Keily.
Marc mengambil napas dalam lalu mengembuskan napasnya perlahan. Ia tahu benar apa maksud perkataan Keily, tetapi ia juga tidak bisa begitu saja melepaskan apa yang sudah menjadi kebiasaannya selama bertahun-tahun itu.
Keily menggandeng tangan Marc, "Tidak apa-apa, Marc. Aku yakin kau bisa. Suatu saat kau bisa melepaskan tali yang menjeratmu ini," kata Keily menghibur Marc.
"Aku tidak bisa apa-apa saat ini. Jika aku berlebihan membantunya, Kakak akan tahu dan bisa marah besar. Kakak tidak akan suka jika aku berteman dengan laki-laki yang merupakan pekerja malam. Maaf Marc," batin Keily.
__ADS_1
"Terima kasih sudah selalu memberiku semangat dan dukungan, Kei. Kau perempuan yang sangat baik. Semoga kau bisa dapatkan laki-laki yang pantas untukmu," jawab Marc, mendoakan yang terbaik untuk Keily.
Keily tersenyum, "Kau juga," jawab Keily.
Mereka sudah sampai di parkiran. Keily melepas tangannya dari Marc. Keily berpamitan untuk pulang.
"Aku pulang dulu ya. Lain kali saja berkenalan dengan temanmu itu," kata Keily.
"Oh, ya. Terima kasih sekali lagi. Hati-hati," jawab Marc.
Keily hendak melangkah membuka pintu mobil, Marc menggapai tangan Keily dan mencium tangan Keily. Keily memalingkan wajah karena terkrjut, ia menatap Marc dan tersenyum. Marc mendekat, ia ingin mencium Keily. Belum sampai keinginanya tersampaikan, Charlie dan Hansel datang.
"Oh, begini kau dibelakangku?" ucap Charlie, berdiri tidak jauh dari Keily dan Marc.
Keily dan Marc kaget, mereka menatap arah suara bersamaam dan terkejut. Keily tidak menyangka bertemu Charlie. Sedangkan Marc bingung, tidak mengenali Charlie karena belum pernah bertemu dengan Charlie sekalipun.
"Kau, siapa?" tanya Marc. Ia melihat Hansel di samping Charlie, "Hans..." sapanya.
"Tidak perlu tahu siapa aku. Kau yang siapa? beraninya kau ingin mencium adikku dengan mulut kotormu itu. Dasar laki-laki brengs*k!" maki Charlie kesal.
"Apa?" sahut Marc kesal karena dimaki Charlie.
"Apa kau tuli? kau kira aku tidak tahu? kau pekerja malam, kan? kau pemuas wanita! laki-laki liar sepertimu jangan pernah menyentuh adikku," sentak Charlie penuh emosi.
"Kakak, sudah cukup. Jangan mengatainya lagi," sela Keily mendekati Charlie.
Hansel terkejut mendengar perkataan Charlie dan reaksi Marc yang seakan membenarkan perkataan Charlie. Meeasa dipermalukan, Marc pun langsung pergi. Ia tidak tahan lagii mendengar makian Charlie di depan sahabat baiknya sendiri.
"Marc..." panggil Keily melihat Marc pergi.
"Cukup, Kei. Kau sudah membuatku kesal. Kau akan dapatkan hukumanmu. Ayo pulang," ajak Charlie yang langsung menarik kasar tangan Keily.
"Tapi, Kak..." kata Keily, Ia meronta ingin melepaskan diri dari Kakaknya.
"Tidak ada tapi-tapi. Ayo pulang," jawab Charlie bersikeras membawa Keily pulang.
Hansel berdiri di tempat, ia melihat Charlie yang memaksa Keily masuk dalam mobil. Tidak lama Charlie menghampiri Hansel dan bicara.
"Hans, aku pulang dulu mengurus adikku. Mobilku biarkan di sini, besok aku akan ambil. Tolong sampaikan pada temanmu, untuk tidak menemui adikku lagi."
"Ya," jawab Hansel.
Charlie langsung membuka pintu mobil dan masuk, lalu menutup kasar pintu mobil itu. Tidak lama mobil yang ditumpangi Charlie dan Keily melesat jauh meninggalkan Hansel. Hansel menghela napasnya kasar. Ia segera berjalan pergi meninggalkan parkiran untuk menemui Marc.
__ADS_1
...*****...